MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 37. Mual & Pusing


__ADS_3

 


Lyvia masih sibuk dengan laptopnya, saat Adrian pulang dari dinas malam. Dia sengaja membawa pekerjaannya kerumah, untuk segera di selesaikan sebelum rencana pengunduran dirinya.


 


"Belum tidur sayang....?" tanya Adrian. terlihat wajah Lyvia yang hanya disinari cahaya dari laptopnya dalam ruangan yang remang.


Melihat kedatangan suaminya, Lyvia segera menutup laptopnya untuk mengakhiri pekerjaannya.


 


"Mas....kok gak dengar suara mobilnya...?" jawabnya yang ganti bertanya.


"Sudah malam...kenapa belum tidur...?" tanyanya Kembali.


"Aku sengaja menunggu Mas, sambil menyelesaikan pekerjaanku." jawabnya sambil membantu Adrian menyiapkan baju ganti.


"Kapan rencananya kamu akan resmi mengundurkan diri...?"


"Minggu depan Mas..."


"Harus ke kantor pusat...?" tanyanya lagi.


"Iya...." jawabku singkat.


"Baiklah...tunggu aku ada waktu, biar aku sendiri yang antar." pinta suaminya.


"Iya... terserah Mas saja..." jawab Lyvia yang masih berkutat dengan baju-baju Adrian.


"Mas sudah makan ...?"


"Sudah....tadi ngumpul-ngumpul di cafenya Prima skalian makan malam." jawabnya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


 


Lyvia kembali mematikan lampu utama yang tadi sempat dinyalakan oleh suaminya.


"Sini...." kata Adrian yang sudah merentangkan tangannya.


Lyvia segera mendekati suaminya. Dipeluknya tubuh Lyvia dalam dekapannya. Saat-saat seperti itulah yang mereka rindukan. Saat bisa saling berpeluk melepas rindu.


Saat-saat yang hanya bisa mereka nikmati berdua. Jauh dari semua pekerjaan yang melelahkan. Jauh dari hal-hal yang rumit tentang kehidupan.


Setiap ada waktu luang, mereka selalu isi dengan kerinduan, harapan dan doa semoga segera diberikan momongan.


Ingin rasanya segera mewujudkan keinginan mama untuk segera memberinya cucu. Hampir berjalan lima bulan mereka menikah, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan pada Lyvia.


Segala upaya sudah dilakukan, selain memang rutin berbagi rasa, mereka juga sudah periksa ke dokter. Hasilnya semua bagus.


Mungkin karena memang, Allah belum memberinya kepercayaan. Meskipun kadang risih dengan pertanyaan 'sudah isi belum...?' tapi Lyvia tetap berusaha dan berdoa.


***


"Via....sayang, sudah subuh...." panggil suaminya membangunkan Lyvia.


"Iya Mas....sampai gak dengar adzan subuh, kepalaku sedikit pusing" jawabnya sembari memijat pelipis matanya.


Lyvia segera menuju ke kamar mandi, dia ingin segera mandi dan berganti pakaian.


Hooeeeekkk.....hoooeekk...


Badannya menggigil setelah kena guyuran air pertama. Padahal dia sudah memakai air hangat.


Rasa mualnya semakin menjadi setelah dia coba untuk guyuran kedua. Dia jongkok meringkuk menahan dingin dengan lutut dalam pelukannya.


Hooeeeekkk.....


Adrian yang menunggunya untuk sholat subuh berjamaah, segera berdiri mendekati pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tok tok tok.....


"Sayang....kamu tidak apa-apa...?" tidak ada jawaban dari dalam.


Bibir Lyvia rasanya keluh, tidak sepatah katapun bisa dia ucap.


"Via......?" dicobanya kembali untuk memanggil. Dan masih belum ada jawaban.


Adrian membuka paksa pintu kamar mandi. Dilihatnya Lyvia masih meringkuk dengan lutut dalam pelukannya.


Adrian segera menyambar handuk untuk mengeringkan rambut dan badan istrinya.


Dengan telaten dia basuh seluruh tubuh Lyvia pakai minyak kayu putih.


Merasa badannya hangat, Lyvia segera kembali mengambil air wudhu dan jamaah sholat subuh bersama suaminya.


Usai sholat, Adrian memegang tangan istrinya yang masih terasa dingin.


"Kamu kenapa sayang....?"


"Gak tau mas....masuk angin kali, kedinginan kena AC mungkin..." jawabnya.


 


"Kalau cuma karena AC, bukannya tiap hari kita pakai AC...?" tanyanya lagi.


"Iya Mas... mungkin karena memang badanku yang kurang fit." jawabnya sambil melipat mukena yang dia kenakan.


 


Adrian mengelus rambut istrinya. Diciumnya kening Lyvia dengan lembut.


"Sekarang kembalilah berbaring, jaga kesehatanmu...jangan bikin aku khawatir..."


Lyvia mengangguk, mengagumi perhatian suaminya. Adrian memang sosok yang tegas namun penuh perhatian dan penyayang.


Dia menurut apa kata suaminya untuk kembali ke ranjang. Tidak untuk tidur, tapi sekedar rebahan, karena pandangannya berkunang-kunang.


 


"Lyvia mana Nak....?" tanya Mama saat melihatku turun sendiri menuju meja makan.


"Adrian suruh buat rebahan kembali Ma...agak kurang enak badan." jawabnya kepada Mama.


 


Adrian membuatkan susu hangat, komplit dengan roti tawar selai kacang kesukaan Lyvia.


 


"Kamu sarapan dulu, biar Mama yang antar ke kamar..." pinta Mama yang ingin mengambil alih nampan di tangan Adrian.


"Gak usah Ma... ingat lutut Mama, buat naik turun tangga..." jawab Adrian.


"Mama gakpapa Adrian...." jawab Mama memaksa ingin melihat kondisi menantunya.


"Kalau Mama mau lihat Via, ayo biar adrian bantu naik tangga." ajak Adrian kemudian.


 


Dengan tangan kiri membawa nampan dan tangan kanan memapah Mama naik ke lantai dua.


 


"Via....kamu gakpapa sayang...?" tanya Mama khawatir.


"Gakpapa Ma....Via cuma agak pusing." jawabnya sembari mencoba untuk duduk.


"Sayang...minum dulu susumu selagi hangat." pinta Adrian yang menyodorkan segelas susu untuk istrinya.

__ADS_1


 


Tapi baru saja mau dia terima gelas dari Adrian, Lyvia tiba-tiba merasa mual.


Heeggkkk....


 


"Taruh dulu saja Mas...perutku masih gak nyaman." jawabnya.


"Sebaiknya ajak istrimu periksa Adrian..." saran Mamanya. Didalam hati Mama berharap semoga mualnya kali ini karena dia sedang ngidam.


"Gakpapa Ma....buat rebahan sebentar juga paling sembuh, seperti hari-hari kemarin." jawab Lyvia


"Ya sudah...kamu istirahat Mama tinggal ke bawah."


"Iya Ma.... terimakasih Ma..."


 


Adrian mengantar Mamanya kembali ke lantai satu.


Lyvia yang termenung sendiri, dia berfikir kenapa akhir-akhir ini dia bisa pusing seperti ini. Padahal dari dulu tidak pernah punya riwayat sakit kepala.


Adrian Kembali ke kamar dan menghampiri istrinya.


"Apa mau Mas antar ke dokter...?" tawarnya.


"Gak usah Mas...biar via rebahan dulu saja."


Adrian duduk diranjang sebelah Lyvia rebahan. Terlihat adanya kekhawatiran di mata suaminya.


Lyvia segera memeluk pinggang Adrian dan mencoba untuk memejamkan mata berharap pusing yang dia rasakan hilang.


Akhirnya.... dia bisa memejamkan matanya, entah berapa lama Lyvia bisa tidur kembali. Adrian yang tidak bisa bergeser dari tempat duduknya, tetap berdiam diri menemani istrinya tidur.


 


"Kenapa sayang....?" tanya Adrian yang menyadari pergerakan istrinya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Lyvia turun dari ranjang, dia merasakan mual kembali.


 


Lyvia menuju almari untuk mengambil handuk kecil, sebelum menuju ke kamar mandi.


Brrruuuukkk.....!


Diambilnya barang yang terjatuh dari rak lemari paling atas.


Lyvia kelihatannya memikirkan sesuatu.


 


'Bukannya ini jatah pembalutku untuk bulan lalu ya...tapi kenapa masih utuh...?' gumamnya sendiri.


'Apa aku.....' tambahnya lagi.


 


Dia tidak bisa berfikir lebih lama lagi, karena rasa mual yang semakin kuat. Dengan menahan mual, dia berlari ke kamar mandi dan dia muntah kan semua isi perutnya.


Lyvia keluar dari kamar mandi menuju kedepan almari, dia kembalikan barang yang tadi terjatuh ke tempatnya semula.


Dia juga berharap apa yang dia fikirkan menjadi kenyataan. Karena memang dari bulan lalu dia sering merasakan mual dan pusing.


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------

__ADS_1


~ ---------------------------------


__ADS_2