
"Saya terima nikah dan kawinnya Kania Prastika binti Almarhum Purwo Raharjo dengan mas kawin tersebut tunai...."
Terucap rentetan prosesi akad nikah Kania yang berjalan dengan lancar dan khidmat.
"Bagaimana para saksi...? sah....?"
"Sah....!" seru para saksi dan undangan yang hadir.
"Alhamdulillah....." ucap Pak Naib yang dilanjutkan dengan do'a Walimatul 'Ursy.
Kebahagiaan tersirat di senyum yang tersungging di bibir mereka. Kebahagiaan yang sama yang dulu pernah Lyvia rasakan.
6 tahun sudah Kania menjalin hubungan dengan Dani. Dan selama 6 tahun itu bukan tanpa halangan. Banyak jalan terjal yang mereka alami. Hingga berakhir di pelaminan.
Sejak Dani diterima bekerja di sebuah perusahaan yang ada di Singapore, kedua pihak keluarga meminta agar pernikahan mereka segara dilangsungkan.
Lagi pula memang usia mereka sudah waktunya untuk segera melepas masa lajang. Dan hari ini lah bukti dari keseriusan mereka.
"Selamat ya sayang....semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah, Warahmah..." kata Lyvia kepada adiknya, disaat acara telah usai.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Lyvia. Gadis kecil yang selalu dia goda ketika gemas itu sekarang sudah dewasa, dan akan menghadapi hiruk pikuknya kehidupan berumah tangga.
"Kak Via nangis....?" tanya Kania sambil mengusap air mata di pipinya.
"Enggak sayang....ini air mata bahagia .."
Kakak beradik itu saling berpelukan.
"Kak Via....Kak Adrian, terimakasih untuk semuanya...Nia tidak tahu bagaimana bisa membalas semua kebaikan kakak..." ucap Kania dengan cucuran air mata pula.
"Nia, Dani....tugas kakak sudah selesai, sekarang semua tanggung jawab sepenuhnya ada di tanganmu Dani... tolong jaga dan sayangi dia seperti kami menyayanginya..." ucap Lyvia kepada kedua adiknya itu.
"Iya kak....pasti, aku akan jaga dan sayangi dia sebagai mana Ibu dan kak Via menyayanginya." jawab Dani yang menguatkan hati Lyvia.
Ibu mencermati percakapan mereka, percakapan dua saudara yang tak terpisahkan sejak kecil.
'Alhamdulillah Ya Allah...Engkau karuniakan kepada kami, dua putri yang Sholehah, yang saling menyayangi satu sama lain...' do'a Ibu dalam hati.
'Seandainya Bapak masih ada...betapa bahagianya Pak, kita bisa melihat anak kita tumbuh sehat dan bahagia seperti sekarang...' bisik Ibu kembali.
Air mata yang tadi menggenang di pelupuk mata, gini sudah mulai tumpah membanjiri kedua pipinya.
"Ibu...."
Lyvia dan Kania, dua wanita itu memeluk Ibu yang telah berjuang melahirkan dan bersusah payah membesar kan mereka ketika ditinggal pergi ayahnya untuk selama-lamanya.
Ucapan syukur tak henti-hentinya terucap dari bibir seorang perempuan hebat yang sangat mereka sayangi dan hormati itu.
"Alhamdulillah ... Ibu bangga kepada kalian berdua, tetaplah jadi saudara yang saling menguatkan, saling mendukung dan saling menghormati satu sama lain..." kata Ibu dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
"Tentu Ibu....semua ini berkat bimbingan ibu..." kata Lyvia.
Dia cium tangan dan pipi ibu berkali-kali.
"Jangan pernah ada pertengkaran diantara kalian, terutama kamu Kania...jangan pernah lupakan apa yang pernah kakak kamu lakukan, dia satu-satunya yang ada di saat kamu membutuhkan, bantu juga kakakmu jika dia membutuhkanmu..." lanjut Ibu kemudian.
"Iya Ibu..." jawab Kania.
kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Lyvia.
*****
"Bunda....Tante Kania mau kemana...?" tanya Al yang melihat Tantenya sedang berkemas.
"Tante Nia...mau ikut Om Dani tugas ke luar negeri."
Tak terasa, jawaban Lyvia membuat Ibunya menitikkan air mata kembali.
Saat ini lah hal yang tidak bisa Ibu hadapi. Kedua putrinya sudah dipersunting kekasihnya dan dibawa keluar dari rumah ini.
Hari - harinya pasti akan sepi nanti. Tidak ada lagi canda dan gelak tawa mereka.
"Ibu.... Ibu kenapa...?"
"Ibu belum bisa membayangkan, betapa sepinya hari-hari Ibu nanti...." jawabnya dengan tatapan mata kosong.
"Kania memang jauh....tapi tetap dekat di hati kita Bu, Ibu jangan khawatir...Via akan sering-sering jenguk Ibu..."
"Iya Yang Ti....Al akan tidur dirumah Yang Ti setiap hari..." celetuk Al, yang gini mulai tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mandiri.
"Ibu....Kania mohon izin, mohon doa restu Ibu, semoga kami bisa menjalani hari-hari yang baik di Singapore nanti..." kata Kania memohon izin.
"Ibu...maafkan Dani yang belum bisa membahagiakan Ibu, Dani hanya membutuhkan restu Ibu untuk membawa Kania bersama Dani..." ucap Dani menambahkan.
"Iya Nak.... do'a Ibu selalu bersama kalian..."
Keharuan kembali muncul di ruangan itu.
"Nia akan selalu hubungi ibu nanti..."
Ibu hanya mengangguk kan kepala nya. Bibirnya terasa keluh melepas kepergian mereka.
"Pesawat jam berapa Dan....?" tanya Adrian
"Jam 11 Mas...."
"Ini sudah jam 8, mau berangkat sekarang ?" tanyanya kemudian.
"Iya Mas..."
Semua ikut mengantar kepergian pengantin baru yang baru dua Minggu berlangsung itu.
Lagi-lagi suasana perpisahan, terlihat kembali di raut wajah mereka.
"Ibu....sudah, jangan ada air mata lagi ya, lepas kepergian Kania dengan senyuman." bisik Lyvia.
Ibu menurut apa yang Via katakan. Sudah tidak ada air mata lagi, yang ada hanya senyuman yang mengembang.
__ADS_1
"Hati-hati sayang....segera kabari kami sesampainya kalian di Singapore ya...?"
"Pasti kak...."
"Tante ..jangan lupa oleh-olehnya ya...?" celetuk Al lagi.
"Oleh-oleh ... Tante lama tinggal di luar negeri sayang, nanti kalau Ayah sama Bunda ada waktu, Al ajak maen ke rumah Tante ya..."
kata Kania.
"Boleh ya Bun....?"
"Boleh lah....nanti kita pasti maen ke rumah Tante di luar negeri..."
"Yeeeeee..." ucapnya girang.
"Hati-hati ya Nak...." peluk Ibu saat itu.
"Ibu juga...jaga kesehatan ya Bu..." balas Nia.
"Kak...nitip ibu ya, Nia pergi dulu..."
"Iya sayang...."
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam...."
Lambaian tangan mengikuti kepergian Kania dan Dani.
"Da da om...Tante..." teriak Al dari jauh.
"Da sayang..."
Sepanjang perjalanan pulang, Ibu masih terdiam melihat ke luar jendela.
"Ayah....Al boleh temani Yang Ti ya...?" pinta Al kepada Ayahnya.
"Iya sayang...tapi janji gak boleh nakal, gak boleh ngrepoti Yang Ti." jawab Ayahnya.
"Enggak ayah...Dek Al kan pintar, anak Sholeh..." jawab Yang Ti yang melihat Al hanya menganggukkan kepalanya ketika mendengar nasehat Ayahnya.
Mereka harus mengizinkan Al berlama-lama dengan Ibunya. Karena hanya Al yang bisa menghiburnya saat ini.
"Al jadi bobok rumah Yang Ti...?" tanya Lyvia sesampainya di rumah Ibu.
"Iya Bun...Al mau temani Yang Ti.. "
"Ya sudah...Bunda sama ayah pulang dulu ya, nanti besok Bunda kesini lagi, ingat pesan Ayah..."
"iya Bunda..."
"Ibu....Via pulang dulu ya..."
"Iya Nak....hati-hati di jalan ya Nak..."
Itulah hal terberat yang dirasakan semua Ibu yang ada di dunia ini, berat saat melepas kepergian putri-putrinya yang mulai jatuh cinta dan dipinang pria pujaan hatinya.
~ --------------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------------
~ --------------------------------------