
Sesampainya dirumah, Prima sudah menunggu. Prima sudah membicarakan soal rencananya hari ini kepada Mama Adrian.
"Assalamu'alaikum....sudah lama Bro...?" sapanya kepada sahabat nya itu.
"Wa'alaikumsalam...kok baru pulang...?" jawab Prima yang balik bertanya.
"Iya...Via harus dirawat di Rumah Sakit, jadi aku mengantarnya dulu..."
"Kenapa denga Lyvia Nak...?" tanya Mama sedikit panik.
"Gakpapa Ma... Lyvia cuma kecapekan, dia kena Typus." jelasnya
"Bawa Mama besuk Adrian, Mama juga ingin kenal sama keluarganya." pinta Mama.
"Iya Ma...besok kita kesana, sekarang aku mau mandi dulu, dan kita bereskan dulu lalat yang satu itu." katanya sambil berlalu.
"Apa yang akan kau lakukan Nak...?" tanya Mama cemas.
"Tidak ada Ma... Adrian hanya ingin dia jujur." jawabnya dari dalam kamarnya.
Prima hanya tertawa mendengar gerutu Adrian.
"Makanya jadi orang jangan kelewat ganteng...pusing kan loo..." ledeknya.
Selagi menunggu Adrian, prima mengirimkan pesan singkat kepada Maya untuk memberitahukan dimana mereka akan bertemu.
"Prima...jaga Adrian, jangan sampai dia melakukan hal tidak diinginkan..." pinta Mama yang mulai khawatir.
"iya Ma....jangan khawatir, serahkan semua kepadaku." jawabku meyakinkan.
Maya merias diri secantik mungkin, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan calon mertua dan suaminya.
"Aku harus bisa mengambil hati Adrian kali ini..." obrolnya sendiri.
Saking bersemangatnya, dia sudah hadir terlebih dahulu ditempat yang telah ditunjukkan oleh Prima.
"Selamat malam Ibu.... apakah sudah melakukan reservasi....?" tanya salah seorang pegawai di restoran itu. Memang Prima memesan tempat yang agak privasi. Dan harus melalui reservasi terlebih dahulu untuk memesannya.
"Iya....saya undangan atas nama Bapak Adrian...." jawabnya
"Baiklah tunggu sebentar...." tak berapa lama setelah meneliti datanya, pelayan itu mengantar tamunya ke tempat tujuan.
"Silahkan Ibu....apa ada yang akan anda pesan terlebih dahulu...?" tanyanya lagi sebelum berlalu.
Maya memesan segelas orange juice untuk menemaninya menunggu disana. Isi gelas ditangannya sudah hampir habis, namun Adrian dan Mamanya belum nampak datang.
"Itu dia..." tunjuk Prima pada Adrian dan Mamanya. Mereka berjalan menuju meja yang telah di booking oleh Prima.
Sebelumnya, Prima sudah memperdengarkan rekaman pembicaraannya dengan Maya tadi siang.
"Sialan loo....pandai juga kamu bersandiwara..." komentarnya waktu itu.
__ADS_1
"Nak Maya....sudah lama menunggu...?" sapa Mama. Maya bangkit menyambut kedatangan mereka.
"Lumayan Ma.... silahkan..." dia mempersilahkan untuk duduk. Tak berapa lama makanan yang dipesan sudah datang.
Mereka menikmati makan malam sambil berbasa-basi. Adrian yang dari tadi hanya terdiam, sudah tidak sabar ingin mengakhiri ini semua.
"Nak Maya... apa Nak Maya tau kenapa kami mengundangmu kemari...?" tanya Mama Adrian.
"Tidak Ma... mungkin ada yang akan Mama bicarakan...?" jawabnya yang balik bertanya.
"Baiklah... sebelum nanti Mama ingin mendengar sendiri dari bibir Nak Maya, Mama mau tanya...apa Nak Maya benar-benar mencintai anak Mama...?"
Maya sangat girang dengan pertanyaan Mama Adrian. Menurutnya ini sebuah sinyal untuk merestui hubungan mereka.
"Tentu saja Ma.... Mama tau sendiri bagaimana perjuangan Maya, jauh-jauh Maya ke sini hanya untuk Adrian Ma..."
'Pandai sekali wanita ini bersandiwara, selain lidahnya tangannya juga ikut berbicara.' gumam Prima yang memperhatikan tingkah Maya, tangannya meraih tangan Adrian. Tapi Adrian acuh dan menghindar darinya.
"Iya.... Mama tau, namun cinta tidak harus di bumbui dengan kebohongan...." jelas Mama Adrian. Maya mulai bingung dengan pernyataan Mama barusan.
Apa maksud Mama....?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Maya. Kali ini dia gugup, wajahnya merah padam menahan sesuatu.
"Maya... sekarang Mama minta bicaralah pada Adrian, katakan apa yang terjadi padamu, seperti yang kamu katakan ke Mama beberapa hari yang lalu." sambungnya lagi.
Maya masih terdiam, keringat dingin mulai terasa di tengkuknya. Jadi mama ingin aku mengatakan tentang diriku yang sudah tidak suci karena ulah anaknya....?
Bahkan aku sempat mengatakan kalau aku hamil...?
Tidak tidak...mampuslah aku kali ini...?
"Maya...!" suara Adrian menahan emosi.
"Sekarang kamu jujur, kamu katakan sendiri di hadapan Mama dan Prima sebagai saksinya, atau cukup aku saja yang bicara?"
Maya mengumpulkan sisa keberaniannya untuk bicara.
"Iya Ma...memang Maya sudah tidak suci lagi, bahkan Maya sudah mengandung anak Adrian..." jawabnya dengan derai air mata.
Prima yang hanya terdiam menyaksikan dan merekam video ini ikut geram melihat ulah Maya. Adrianpun demikian, saking gemasnya dia mengacak sendiri rambutnya.
Suasana nampak hening seketika, Mamapun merasa heran dengan sifatnya yang pantang menyerah.
"Yesss... kelihatannya mereka percaya dengan aktingku" pikir Maya dalam hati.
__ADS_1
"Kalau kamu bukan perempuan, sudah habis kamu ditanganku..." umpat Adrian geram.
"Maksud kamu apa Adrian...kamu akan lepas tanggung jawab begitu saja..."
"Kenapa kamu masih saja belum jujur...? Sekali lagi aku katakan, ceritakan yang sebenarnya dan aku akan memaafkanmu...atau aku yang bercerita tapi kamu akan tanggung akibatnya....!"
'Bercerita apa...tau apa dia tentang sandiwara yang aku buat...?' gumamnya dalam hati.
"Prima....putar rekaman percakapan kalian..." Maya membelalakkan matanya. Prima ternyata menjebaknya.
Sebelum rekaman itu dia putar, Maya berjongkok dan memegang tangan Mama Adrian.
"Ma... maafkan Maya, Maya khilaf...semua Maya lakukan demi untuk mendapatkan Adrian, Maya sangat mencintainya Ma..."
Mama menenangkan tangisan Maya.
"Berdirilah Nak... Mama salut atas kejujuranmu, Mama juga sudah memaafkanmu. Tapi kalau untuk merestui kalian berdua, Mama belum bisa, Mama kembalikan lagi pada Adrian... Mama pasti akan merestui siapapun yang menjadi pilihan Adrian..." tangis Maya semakin menjadi.
"Sialan lo prima...!" umpatnya dalam hati.
"Maya...pulanglah, sebelum kemarahanku tak terbendung..." ancam Adrian.
"Kenapa....apa semua karena wanita itu?"
"May... hubungan kita sudah berakhir, sejak kamu menghianatiku...jadi tidak ada hubungannya dengan dia. Kau adalah masa laluku dan masa depan ku bersamanya." tegas Adrian.
"Maafkan Mama ya... Mama tidak bisa membantumu... Mama doakan kamu dapat jodoh yang lebih baik dari Adrian." kata Mama dengan sikap keibuannya.
"Semuanya sudah selesai Ma...ayo kita pulang..." ajak Adrian kepada Mamanya.
"Adrian....!" panggil Maya, namun Adrian tetap berlalu begitu saja.
"Berdirilah May...jangan buat dirimu lebih malu lagi..." ditengoknya Lelaki yang berdiri disampingnya.
"Prima....! bedebah kau....!" makinya pada Prima.
"Maaf May...aku hanya ingin melihat sahabatku itu bahagia. Dan aku akan pastikan kalau kamu sudah mengosongkan penginapan itu besok."
Maya hanya terdiam melihat kepergian Prima.
"Dan satu lagi...semua ini bukan kesalahan siapa-siapa...tapi kesalahanmu sendiri. Tanpa aku rekampun, lambat laun pasti akan terungkap juga..."
Prima segera pergi meninggalkan tempat itu. Sebelumnya juga Adrian & Mamanya lebih dulu kembali. Karena mereka membawa mobil sendiri-sendiri.
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
__ADS_1