MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 39. Hari Terakhir Bekerja


__ADS_3

 


"Siang Ibu...ada yang mau dipesan...?" tanya seorang pegawai rumah makan, yang melihatku langsung menuju kasir ketika datang.


"Iya Mbak....saya mau pesan paket ayam bakar untuk nanti siang bisa...?"


"Bisa Bu....mau pesan berapa paket...?" tanyanya kembali, sambil mencatat pesanan Lyvia.


"35 paket ya...minta tolong ditambahkan potongan buah, bisa...?"


"Bisa sekali Bu....mau diambil atau kami antarkan kemana...?" tanyanya lagi.


"Sebentar Mbak...." Lyvia mengeluarkan secarik kertas kartu nama yang menunjukkan alamat kantornya.


"Dikirim ke alamat ini ya...? nanti sekitar pukul 12 siang untuk makan siang." kata Lyvia menerangkan.


"Baik Ibu...ini resinya, bisa dibayar sekarang atau nanti pada waktu pengiriman..."


"Saya bayar sekarang ya Mbak...?" kata Lyvia menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


 


Lyvia Kembali ke mobil setelah menyelesaikan pesanannya.


"Sudah sayang....?" tanya Adrian yang dari tadi menunggu di mobil.


 


"Sudah suamiku sayang...." jawabnya gemas sambil mencubit hidung Adrian.


 


Sepanjang perjalanan Adrian masih terdiam, sebenarnya dia memikirkan perubahan yang terjadi pada Lyvia dan reaksi Mamanya.


 


"Sayang ...kamu mau Mas antar cek up dokter kemana...?" tanyanya memecah kesunyian.


"Nanti saja Mas...setelah aku pulang kita bicarakan..." jawabku sambil membalas chat group dari kantor pusat.


"Oya Mas....nanti pulang kerja, kita mampir ke rumah Ibu ya ...aku kangen..." pintanya.


 


Adrian hanya mengangguk sembari melihat ke arah istrinya. Lyvia membalasnya dengan kedipan mata nakalnya.


Adrian gemas dengan sikap manja istrinya. Tangannya refleks mengelus rambut Lyvia.


 


"Aku takziah dulu ya Yang... mungkin menunggu sampai prosesi pemakaman selesai, hubungi Mas kalau sudah waktunya pulang..." pesannya waktu menurunkan istrinya di depan dealer.


 


"Siap Ndan, eeemuuuaacchhhh...." jawabnya singkat. Dikecupnya bibir suaminya sebelum meninggalkan tempat itu.


***


"Semangat pagi Mbak Via...." sapa mereka yang masih berkumpul untuk menungggu breafing pagi dengan Pak Hari.


"Semangat pagi...." jawab Lyvia seraya mengangkat telapak tangannya untuk melakukan toz satu persatu.


Itulah yang mereka kagumi dari sosok Lyvia. Dikatakan atasannya tapi dia membaur dengan semua staf. Bahkan yang paling bawah strukturnya sekalipun.


Lyvia selalu memberikan reward bagi sales-salesnya yang berprestasi. Dia juga memberikan penghargaan kepada mereka yang disiplin atau tidak pernah membolos kerja.


Bahkan...dia sering alokasikan pendapatan vie owner dari luar yang seharusnya menjadi hak dia, untuk kepentingan bersama.


Lyvia yang selama ini memimpin, selalu memberikan suasana kekeluargaan dalam pekerjaan.


Dan sebentar lagi sosok itu akan pergi dari tempat ini. Mereka berharap penggantinya nanti bisa lebih baik dari Lyvia. Minimal ada sosok Lyvia lagi disini.


 


"Semua sehat....?" tanyanya masih dengan melakukan toz.


"Alhamdulillah.... sehat luar biasa..." jawab mereka hampir serempak.


"Ok.... semangat ya...."

__ADS_1


 


Lyvia pergi ke ruangannya. Dia menyiapkan berkas-berkas yang akan digunakan untuk serah terima ke kantor pusat besok.


Di ruang meeting, Pak Hari memberikan breefing pagi yang rutin dilakukan sebelum para sales keluar menjemput bola.


 


"Semangat pagi....." sapanya ketika memasuki ruangan.


"Pagi Bu...."


 


Lyvia meminta waktu sebentar kepada Pak Hari. Dia memberikan tambahan motivasi untuk mereka. Dia juga memberikan informasi untuk segera berkumpul di kantor pada jam makan siang.


Breafing selesai, semua sales keluar untuk saling berlomba mencapai target penjualan.


"Bu Lyvia beneran akan keluar dari pekerjaan...?" tanya pak hari.


 


"Insha Allah begitu Pak...saya akan fokus dengan program kehamilan. Karena sudah hampir lima bulan saya belum dikaruniai anak..." jawab Lyvia.


"Sebenarnya anak-anak merasa keberatan dengan pengunduran diri Bu Lyvia. Tapi...tidak ada yang bisa mereka lakukan, karena itu merupakan hak Anda..." kata Pak Hari panjang dan lebar.


"Iya Pak....saya nitip ya Pak, semoga apa yang sudah kita bangun akan lebih berkembang nantinya."


"Aamiin....Insha Allah Bu..." jawab Pak Hari yang akhirnya berpamitan untuk menemui konsumen.


 


Lyvia meminta beberapa office boy untuk membersihkan dan menata ruang meeting kembali, setelah selesai digunakan untuk breafing pagi.


 


"Selamat siang Mbak....mohon maaf, kami dari rumah makan ayam bakar, mau mengirimkan pesanan Ibu Lyvia." kata seorang kurir restoran yang menghampiri Santi di counternya.


"Apa sudah ada pembayaran...?" tanya Santi memastikan.


"Sudah lunas Mbak..." jawabnya sembari mengeluarkan resi dan menyerahkan 35 paket ayam bakar plus dengan buah potongnya


 


Tok...tok ... tok....


 


"Ya....silahkan...." jawab Lyvia dari dalam.


"Siang Bu....ada kiriman paket makan siang dari rumah makan ayam bakar..."


"Oya....sudah dikirim ya...jam berapa ini, kok cepat sekali..." tanya Lyvia kembali.


"Sudah hampir jam 12 mbak..." kata santi sambil melirik jam tangannya.


"Baiklah...minta tolong ditata di ruang meeting ya...." pinta Lyvia.


"Baik Bu...., Saya permisi dulu..."


 


Santi dibantu dengan Diana dan Mira menata makan siang di ruang meeting di lantai dua.


Mereka tidak ada yang mengetahui kalau makan siang kali ini adalah makan siang bersama untuk terakhir kalinya dengan Lyvia.


Memang.... Lyvia selalu mengadakan evaluasi akhir bulan plus makan-makan, jadi tidak ada yang curiga sedikitpun tentang pamitnya Lyvia hari ini.


Begitupun dengan Diana dan Mira, meskipun mereka tau kalau Lyvia akan mengundurkan diri tapi tidak untuk hari ini.


 


"Sampaikan Bu Lyvia... kalau semua sudah hadir..." kata Pak Hari kepada salah satu pegawainya.


 


Tapi belum sempat dia menuju ruangnya, Lyvia sudah terlebih dahulu hadir disana.


 

__ADS_1


"Selamat siang semuanya....apa sudah kumpul semua...?"


"Siang Bu....semua sudah berkumpul." jawabnya kompak


"Silahkan duduk...." semua kembali duduk ketika Lyvia sudah menempati tempat duduknya.


 


Pak Hari sebagai yang dituakan di sini, ia mulai memimpin meeting kali ini. Sesudah panjang lebar pak hari memberikan evaluasi.


Lyvia mendengarkan dengan seksama. Hingga akhirnya tiba waktunya dia untuk berbicara.


"Teman-teman yang saya hormati dan saya banggakan....bersama ini saya sampaikan bahwa mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir kalian berkumpul mengadakan evaluasi akhir atasan bersama saya......" katanya mengawali pembicaraan.


Diana dan Mira yang mendengar hal itu semakin galau, ternyata apa yang dia takutkan akhirnya menjadi kenyataan.


 


"Assalamu'alaikum....bersama ini...saya atas nama pribadi mengucapkan terimakasih atas kebersamaan kita selama 3 tahun terakhir ini...." tambahnya lagi.


 


Diana sudah mulai tak kuat dengan kata-kata selanjutnya.


 


"Dan saya juga memohon maaf, apabila selama kepemimpinan saya ada salah baik yang saya sengaja ataupun yang tidak saya sengaja....." sambungnya lagi.


 


Kali ini Mira sudah terlebih dahulu menitikkan air mata.


"Bagi saya....kalian adalah teman, sahabat, partner dan keluarga yang baik bagi saya."


Entah siapa yang mulai, tangis Diana dan Mira pecah saat itu.


Mata Lyviapun mulai berkaca-kaca. Dia tak sanggup mengatakannya lagi.


 


"Pada intinya.... tetaplah semangat, terus berjuang, bawa nama baik dealer dan bikin dirimu berharga dengan bisa membanggakan orang tua.... demikian yang bisa saya sampaikan, sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya... wassalamu'alaikum..." katanya sebagai penutup.


 


Lyvia juga meminta untuk bersikap lebih baik kepada penggantinya nanti.


Sedikit rasa haru yang tercipta membuat mereka takut untuk kehilangan. Lyvia mencairkan suasana dengan bercanda dan berinteraksi secara Langsung.


Waktunya menyantap makan siang telah tiba. Namun tiba-tiba perut Lyvia merasa mual ketika membuka tutup nasi box di hadapannya.


Dia berlari menuju wastafel di dekat mushola dan memuntahkan semua yang sudah dia cemil pagi tadi.


 


"Mbak Via kenapa....?" tanya Diana yang mendekatinya. Namun lagi-lagi Lyvia tidak menjawabnya. Tapi hanya melambaikan tangannya tanda tidak paham.


"Mbak sudah periksa...?" tanyanya lagi.


"Belum Din..." jawabnya


"Jangan-jangan Mbak Via hamil Mir..." bisiknya pada Mira .


 


"Apa Mbak Via sudah cek kehamilan...?" tanya Mira memberanikan diri.


Lyvia hanya melongo mendengarnya. Dia baru ingat, akan membeli test peck beberapa hari yang lalu.


"Insha Allah nanti Din...." jawabnya lagi


Mereka kembali melakukan makan siang. Kecuali Lyvia yang mual ketika melihat nasi.


Dia hanya ngemil buah yang ada di paket boxnya.


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------

__ADS_1


__ADS_2