
"Sayang....berapa hari kita akan menginap di rumah Ibu...?" tanyanya ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Ibu.
"Kita....? biar aku dan Al saja, kamu boleh pulang..." jawabnya acuh.
"Tidak...aku akan ikut tinggal..." ucapnya tak kalah acuh.
Mereka memang sama-sama keras kepala, yang satu jaim berusaha menghindar dan yang satu kekeh ingin mempertahankan.
"Terserah Mas saja..."
"Assalamu'alaikum Yang Ti..."
"Wa'alaikumsalam....cucu Yang Ti...masuk sayang..."
Kedatangan pangeran kecil itu disambut dengan hangat oleh orang-orang terdekat Lyvia. Bahkan tetangga juga saling bertanya kabar tentang kesehatan Lyvia.
"Subhanallah....tampan sekali putramu Lyvia...." kata salah seorang tetangga yang menyapanya.
"Tentu saja...lihat induk dan jagonya cantik dan ganteng begini..." puji seorang lagi.
Tidak ada yang tidak memuji ketampanan putranya.
"Iya Bu.... ganteng, mirip dengan ayahnya... hidungnya mancung, bibirnya juga manis..." komentar yang lain.
Lagi-lagi mereka memuji wajah tampan Albiansyah dikaitkan dengan wajah tampan Adrian.
"Siapa dulu Ayahnya...." bisiknya pada Lyvia.
"Iihhh....jadi besar kepala...." sungut Lyvia pada suaminya.
Hari-hari mereka lalui seperti biasa, begitu rapi bahkan tidak terlihat ada celah keretakan antara mereka berdua.
"Mbak Via mesra sekali ya Bu... semoga nanti Kania juga dapat suami seperti Mas Adrian, udah ganteng, pinter, romantis lagi..." puji Adiknya ketika melihat Lyvia mencium punggung tangan Adrian ketika mau berangkat bekerja.
'kamu saja yang tidak tahu Kania...betapa aku sangat merindukan hari-hari seperti itu yang sebenarnya bukan sikap kepura-puraan seperti ini....' bisiknya dalam hati.
"Ibu....nanti Via titip Al sebentar ya...?"
"Kamu mau kemana...?"
"Via mau kerumah teman, Via ingin mencari informasi tentang pekerjaan..."
"Kerja...?? apa Adrian tahu tentang hal ini..?" tanya ibu heran.
"Tidak...dia belum tahu, tapi Via mohon Ibu jangan bilang dulu..."
"Kenapa Via... Ibu tidak mau dengan bekerja malah bikin rumah tangga kalian jadi renggang..."
'Ibu tidak tahu...belum bekerja saja rumah tangga Lyvia sudah diujung tanduk, itulah kenapa Lyvia ingin bekerja kembali...' gundahnya dalam hati.
__ADS_1
"Via ...mulai merasa jenuh di rumah Bu..."
"Hhhhmmmmm....ya sudah, tapi Ibu harap kamu segera minta izin suamimu ketika nanti kamu diterima."
"Tentu Bu...."
'kalau tidak, aku duluan yang akan dia tinggalkan lagi bu....' kata hati Lyvia.
Pagi itu, setelah baby Al menyusu dengan kenyang, Lyvia pergi ke BANK swasta tempat dimana temannya Bekerja.
"Selamat siang Ibu, ada yang bisa kami bantu...?" tanya satpam.
"Maaf...apa bisa bertemu dengan Ibu Riyanti...?"
"Baik...dengan Ibu siapa...? atau mungkin sudah ada janji...?"
"Dengan Lyvia, iya saya sudah ada janji bertemu Beliau hari ini."
"Baik silahkan ikut dengan saya..."
Lyvia mengikuti satpam tersebut menaiki tangga di lantai dua menuju ruangan Riyanti.
Tok...tok...tok....
"Selamat siang Ibu, ada Ibu Lyvia ingin bertemu.." katanya meminta izin.
"Iya... silahkan masuk..." jawabnya dari dalam.
"Ibu Lyvia... silahkan..."
"Terimakasih Pak..."
"Siang Ibu...mohon maaf, saya mau menanyakan perihal lowongan kerja yang pernah Ibu tawarkan kepada saya, apakah hal itu masih berlaku...?"
"Kamu ngomong apa Via...biasa saja ach..." jawab Riyanti yang sekarang menjabat sebagai Direktur di BANK Swasta ini.
"Ahhahahahaha....."
Mereka tertawa bersama seperti dulu ketika masih makan dan tidur sekamar. Riyanti adalah teman seangkatan Lyvia ketika masih di bangku SMK.
Dia sering menginap di rumah Lyvia karena jarak ke sekolah dengan rumahnya lumayan jauh.
"Katakan padaku....kenapa kamu ingin bekerja lagi...? bukankah sudah enak menjadi istri tampan tuan Adrian...?" ucapnya yang sebenarnya bisa aku benarkan jika keadaannya tidak seperti sekarang.
"Ssstttt....Adrian belum tahu hal ini, karena aku mulai jenuh berdiam diri di rumah..."
"Hhhhmmmmm....lalu kira-kira, nanti kalau aku terima kamu masuk bekerja di sini, apa Adrian akan mengizinkanmu...?"
"Aku usahakan mendapatkan surat izin darinya..."
"Ahahahhahaha..... uuppppsss..." lagi-lagi tawa mereka riuh.
"Ya sudah....besok kamu siapkan berkas-berkas ini, dan bawa langsung kesini..." katanya sambil memberikan selembar kertas berisi syarat-syarat yang harus dia penuhi.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu...aku akan siapkan persyaratannya..."
"Loo...kok buru-buru..."
"Iya ....aku tidak mau mengganggu pekerjaan Ibu Direktur" pujinya.
"Aahhahah....bisa saja kamu, jangan lupa aku tunggu besok jam 9 ya..."
"Insha Allah....saya akan datang tepat waktu..." jawabnya sambil menjabat tangan sahabatnya itu.
__ADS_1
Setelah menyampaikan maksudnya, Lyvia segera pamit dari tempat itu.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam.... hati-hati Lyvia..."
"Iya, terimakasih banyak..."
Lyvia sempat mampir ke sebuah toko foto kopi, untuk menyalin beberapa lembar KTP dan berkas lain yang tertera di dalam kertas yang diberikan Yanti kepadanya.
"Itukan mobil Lyvia...ngapain dia di sana..?" tanya Adrian sendiri, yang tidak sengaja melihat mobil Lyvia terparkir di sebuah ruko tempat foto copy.
Dia menyaksikan gerak-gerik istrinya dari jauh, dia kembali ke dalam mobilnya dengan membawa beberapa lembar kertas lengkap dengan map dan amplop coklat berpita.
"Apa isi kertas-kertas itu dan untuk apa...?" pikiran Adrian tidak tenang, mengingat kondisi rumah tangganya saat ini, dia takut kalau Lyvia mengumpulkan berkas persyaratan perceraian.
"Prim...." panggilnya mengagetkan Prima yang sedang duduk manis di meja kerjanya.
"Apa....bikin kaget aja..."
"Tadi...aku lihat Lyvia, di sebuah ruko tempat foto copy..."
"Kenapa dia...? masih cantik kan...? atau bahkan lebih cantik...?" goda Prima.
"Prim...aku serius..."
"Iya kenapa...? aku juga serius ini..."
"Dia keluar membawa beberapa lembar kertas foto copy lengkap dengan map dan amplop coklat...."
"Terus kenapa....?"
"Aku takut kalau berkas-berkas itu dia perbanyak untuk pergi meninggalkanku..." ucapnya setengah berbisik.
"Aaahhh...terlalu drama kamu, ditanya dulu jangan tergesa-gesa menyimpulkan..."
"Tapi untuk apa dia foto copy...?"
"Ya....siapa tahu akan dia gunakan untuk keperluan apa gitu..."
Adrian masih berfikir bagaimana caranya dia bertanya agar tidak menyinggung perasaannya nanti.
"Adrian...?" panggil Prima yang merasa ada keseriusan pada wajahnya.
"Hhhhmmmmm...."
"Apa sudah separah itu kesalah pahaman antara kalian....?"
"Entahlah Prim...yang jelas, Lyvia terlihat sangat benci kepadaku, tapi dia berpura-pura romantis ketika di hadapan Ibunya." jawabnya.
"Kalau begitu...aku rasa masih bisa diperbaiki..." ucapnya penuh percaya diri.
"Aku gak tahu Prim...aku hanya bisa pasrah, aku sudah berusaha... tapi jika memang itu kehendak yang Kuasa, aku tidak bisa apa-apa..." ucapnya terdengar ada keputusasaan di sana.
"Sabar Bro...kita cari solusi dan jalan keluarnya..."
Entah bagaimana caranya, yang jelas Prima diam-diam ingin membantu Adrian menyelesaikan masalah rumah tangganya.
~ ----------------------------------------
~ ----------------------------------------
__ADS_1
~ ----------------------------------------