
Lyvia masih di kamar, sebentar lagi riasan wajahnya selesai. Hari ini dia begitu cantik dengan kebaya warna creamy, serasi dengan kulitnya yang putih.
"Mbak Via cantik sekali ya...ini baru lamaran, coba nanti kalau pas nikahan pasti lebih cantik..." puji seorang perias.
Lyvia hanya tersenyum, sebenarnya dia gugup sekali hari ini. Tangannya terasa dingin. Ini baru langkah pertama menuju gerbang berikutnya. Tapi hatinya sudah berdegup kencang.
"Lyvia.... sudah selesai...?" tanya Ibu yang berdiri di ambang pintu.
"Sudah Bu... cantik sekali Mbak Lyvia ya Bu...?" Jawab perias itu memberikan info.
"Siapa dulu Ibunya...!" komentar Ibu yang diiringi gelak tawa mereka.
Di luar sudah rame, banyak tetangga dan kerabat yang hadir. Rekan-rekan kerja Lyvia juga ada di sana. Bahkan keluarga Adrian juga sudah hadir.
"Terimakasih, mari silahkan duduk" sapa Ibu kepada para tamunya.
Selesai menyambut tamu, Ibu ke dalam untuk menjemput putrinya.
"Ayo sayang...kamu sudah siap...?"
"Apa... mereka sudah datang Bu...?" Lyvia bertanya balik.
"Sudah....ayo, Bismillah...."
Lyvia bangkit, ia berjalan diiringi Ibu dan Adiknya menuju ruang depan. Semua mata terpana melihat kecantikan gadis itu. Terdengar bisik-bisik memuji parasnya yang menawan. Tak terkecuali dengan Adrian.
"Subhanallah.... betapa indah Karunia-Mu Ya Robb..." gumamnya dalam hati.
Kebaya yang dikirim Hendy memang sangat pas menyesuaikan lekuk tubuh Lyvia. Memperlihatkan bagian-bagian yang menonjol. Sejak selera makannya sudah kembali normal, Lyvia mengembalikan berat badannya seperti semula. jadi kini badannya kembali padat berisi.
Begitupun dengan Adrian, dia mengenakan setelan jas yang warnanya senada dengan kebaya Lyvia. Selain tampan dia mempunyai postur tubuh yang ideal. Tidak bosan mata memandang sepasang kekasih ini.
Lyvia masih merunduk, belum punya keberanian untuk memandang pria pujaan hatinya. Berbeda dengan Adrian yang tidak mau melepaskan pandangannya dari bidadari cantik di depannya.
Terdengar MC sudah mulai membacakan rentetan acara. Sambutan demi sambutan baik dari pihak Adrian & Lyvia sudah berlangsung satu persatu.
Hingga akhirnya tiba pada titik yang dinanti. Ungkapan pernyataan dari calon mempelai pria dan dijawab oleh calon mempelai wanita.
Adrian berdiri, menghadap ke arahnya begitu juga dengan Lyvia.
"Lyvia Maharani..... sudah begitu banyak hal yang kita lalui bersama, Kita tau tidak mudah untuk bisa sampai disini, butuh perjuangan & kekuatan yang besar. Bukan karena egoku, bukan pula karena sebatas nafsu, tapi semata-mata karena ke takutanku kepada Allah, serta Sunnah yang
diajarkan Baginda Rasulullah...
Bismillahirrahmanirrahim... Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Lyvia Maharani bersediakah kamu menjadi pendamping dalam hidupku....?"
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim....dengan izin Allah dan memohon restu dari Ibu, saya Lyvia Maharani, bersedia menerima Novel Adrian Maulana sebagai pendamping hidup saya..."
Adrian tersenyum mendengar jawaban kekasihnya. Simple, padat dan jelas. Dia mulai menyematkan cincin pertunangan mereka. Acara dilanjutkan dengan do'a dan salam penutup.
Alhamdulillahirobil'alamin....semua mengamini do'a untuk kami, yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Acara formal sudah hampir selesai, kini tinggal acara ramah tamah.
"Gimana rasanya...sudah plong...?" goda Prima pada Lyvia.
"Belum lah....ini baru perjalanan, nanti kalau sudah masuk gerbang, lebih gugup lagi dia..." jawab Adrian yang ikut-ikutan menggodaku.
Lyvia hanya tersenyum tanpa suara.
"Sayang dari tadi diam saja, gak lagi sariawan kan...??" Adrian mulai menggodanya lagi.
"Apaan sih Mas..."
Para tamu masih menikmati hidangan yang disuguhkan. Mama dan Ibu juga terlihat akrab. Dalam acara tadi, Mama juga menyinggung tentang kapan pernikahan akan dilaksanakan. Dan sudah ditentukan 2 bulan kedepan kami akan melangsungkan pernikahan.
"Mbak Via.... selamat ya...." ucap rekan-rekan kerja Lyvia yang hadir.
"Alhamdulillah... terimakasih sudah hadir..."
"Iya Mbak....kami permisi pamit dulu...."
"Sudah Mbak..." jawab mereka bersamaan.
Lyvia kembali mendekati calon suaminya yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Mas.... sudah pada makan...?"
"Iya... sebentar lagi sayang, masih banyak yang mengantri..."
"Tidak... sudah sepi, ayo...pada makan dulu.." jawab Lyvia mempersilahkan Adrian dan teman-temannya untuk makan.
***
Usai acara Lyvia memasuki kamarnya, dia berganti pakaian dan membersihkan riasan wajahnya. Diluar masih banyak kerabat dari Ibunya. Hari ini mereka menginap disini.
Kania masih asyik membuka parcel hantaran yang dibawa keluarga Adrian.
"Kak Via...sini dech, ini enak sekali..." katanya sambil menunjukkan sesuatu.
"Iya... Kakak udah pernah cicipi, cake buatan Bibi semua enak..."
Ibu terlihat sibuk mengemas cake, kue, dan jajanan tradisional kedalam kotak snack, oleh-oleh hantaran dari keluarga besar Adrian itu untuk dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangga sekitar.
"Tidur sana...makan mulu, bulet tu perut..." ledek Lyvia pada Kania yang mencoba satu persatu makanan di depannya.
__ADS_1
"Gak lah Kak...kan dikit..."
"Iya...dikit ini, dikit itu.... dikit-dikit akhirnya menjadi buncit..." Lyvia senang menggoda adiknya satu ini, kalau lagi ngambek lucunya minta ampun.
"Iya iya....Kak Via gak mau incip-incip dulu...?" katanya sambil memaksa menyuapkan cake ke arah mulutnya.
"Enggak - enggak....kakak udah gosok Gigi, emang kamu makan melulu..." jawab Lyvia menghindari tangan adiknya.
Via berlari menuju ke kamarnya, Kania tertawa geli melihat Kakaknya yang panik.
Lyvia duduk dipinggir ranjang, diraihnya ponselnya yang berdering. Nampak di layar handphonenya siapa yang memanggil. 'My Hubby'
("Hallo sayang... sudah sampai rumah kah...?") jawab Lyvia mengangkat telepon dari Adrian.
("Alhamdulillah sudah sayang...kamu lagi ngapain...?") tanyanya balik.
("Eehhhmmm... ngapain ya...lagi kangen sama kamu...") goda Lyvia
("Hhhhmmmmm....tadi saja diem seribu bahasa, sekarang berani menggoda. Lihat aja nanti, aku hukum kamu...")
Lyvia tertawa mendengar pertanyaan Adrian.
("Rasanya aku tak sabar menunggu 2 bulan lagi....")
("Mas.... jangan bikin aku BaPer achh...")
("Beneran sayang... seandainya dua bulan bisa disingkat jadi 2 hari...") katanya berandai-andai.
("Dua bulan bukan waktu yang lama Mas...")
("Ya sudah... istirahat ya, jangan terlalu capek. Tenaganya disimpan untuk menghadapi perjuangan 2 bulan kedepan")
("Iya sayang....kamu juga, jaga stamina..")
("Kalau aku mah jangan ditanya, mau tiga kali sehari atau satu jam sekali juga bisa...") goda Adrian.
("ahahhahah.... ada-ada saja, memangnya minum obat 3 kali sehari...")
("Kalau begitu...kamu memilih yang satu jam sekali kah...??")
("Tau ach....") jawab Lyvia yang merasa malu dengan obrolannya.
("Istirahatlah sayang... Love u....")
("Love u too...) jawab Lyvia mengakhiri telephonnya.
Lyvia merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia merasa lega acara hari ini berjalan lancar. Sudah tidak terdengar lagi suara orang berbincang di luar. Bahkan suara receh Kania juga sudah lenyap dari telinga. Mungkin mereka sudah kembali ke kamarnya masing-masing.
Entah berapa lama Lyvia menerima panggilan dari Adrian. Sampai tidak sadar kalau keadaan di luar sudah sepi. Ia rebahkan tubuhnya dan mencoba menikmati tidur malamnya.
~ ---------------------------
__ADS_1
~ ---------------------------
~ ---------------------------