
Bukan hanya Kania, Danipun sebenarnya merasakan hal yang sama. Dia memendam rindu yang dalam kepada istri dan calon buah hatinya.
Jauh-jauh hari, Dani mengajukan cuti agar bisa menemani istrinya dalam persalinan nanti.
"Kapan hari perkiraan kelahiran anakmu Dani ?" tanya atasan Dani saat dia mencoba mengajukan cuti pulang ke Indonesia.
"Insha Allah akhir bulan depan Pak."
Itu terjadi sekitar akhir bulan yang lalu, dan hari ini sudah hampir akhir bulan dimana hari perkiraan lahir putranya sudah dekat.
Danipun merasa resah, takut jika pengajuan cutinya tidak di setujui. Dan kesalahannya adalah menyampaikan hal itu kepada istrinya. Hingga membuat Kania sedikit takut melewati hari di saat melahirkan nanti.
Sebenarnya Dani tidak bermaksud membuat istrinya resah, tapi hal itu dia lakukan sekedar antisipasi kalau pengajuan izinnya tidak di setujui.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari luar telah membuyarkan lamunannya.
"Ya."
Seorang pria tampan masuk menyampaikan sesuatu, dia Fery sekretaris Dani.
"Maaf Pak...ada surat dari kantor pusat untuk Bapak." katanya sembari menyerahkan sebuah amplop coklat yang bertuliskan perusahaan dimana tempat dia bekerja pada kop suratnya.
"Terimakasih Fer."
"Sama-sama Pak, saya permisi."
"Iya, silahkan."
Perlahan dia buka dan mulai mengeja kalimat demi kalimat yang tertulis di dalamnya. Dani mengulangi dan mencermati kembali isi dari surat tersebut.
'Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah kabulkan permintaan hamba.' Syukurnya dalam hati.
Kebahagiaan yang dia rasakan saat ini, tidak bisa digambarkan lagi dengan kata-kata. Sebentar lagi dia akan melepaskan kerinduannya selama 6 bulan yang lalu.
"Fery."
"Iya Pak."
Pria tampan asli Singapore itu langsung berdiri dan bersikap sopan ketika mendengar namanya di panggil.
"Aku akan menemui pimpinan pusat, jika ada yang ingin bertemu, kamu agendakan dulu saja."
"Baik Pak."
Kurang lebih 30 menit perjalanan, Dani sampai di kantor pusat. Segera dia menuju ke lantai dua, dimana ruangan ownernya berada.
"Silahkan ditunggu sebentar, biar saya sampaikan." kata sekretarisnya.
"Baik, terimakasih, saya tunggu."
Tak berapa lama, sekretaris cantik itu keluar kembali.
"Silahkan Pak, Beliau sudah menunggu"
"Terimakasih banyak."
__ADS_1
Dani adalah salah satu dari sekian banyak putra bangsa yang berhasil meniti kariernya di negara tetangga. Bukan karena tidak laku di negara sendiri, tapi karena dia ingin berkembang lebih baik.
"Selamat Dan, proyek yang kamu pegang, kali ini berhasil seratus persen." Sambut beliau ketika memasuki ruangannya.
Tidak hanya dia dan atasannya yang ada di sana, tapi ada beberapa dewan komisaris yang ikut tersenyum gembira mendengar pernyataan pimpinannya saat itu.
"Apa itu benar Pak ?" Setengah tidak sadar dia lontarkan pertanyaan itu
"Benar Dan, ini surat keputusannya."
Dani mengambil dan membacanya kembali. Sama seperti saat dia menerima surat izin cuti tadi.
"Alhamdulillah, ini benar-benar di luar perkiraan saya Pak." Ucapnya bahagia.
"Dan sebagai penghargaan dari perusahaan, kami akan memberikan bonus dua setengah persen dari total tender yang kamu tangani."
"Subhanallah, terimakasih banyak Pak."
Inilah salah satu kuasa-Nya, jika Allah sudah berkehendak maka semua berjalan sebagaimana mestinya.
Hari ini lengkap sudah kebahagiaan Dani, dua target sekaligus telah dia raih. Keberhasilan dalam karier dan izin cuti satu bulan khusus untuk menyambut kelahiran putranya.
Mungkin ini yang orang tua sering bilang, 'anak membawa rezeki'.
Hari ini hari pertama izin cutinya, Dani segera terbang dari Singapore ke Indonesia. Perjalanan udara memakan waktu hampir dua jam.
***
Sementara itu di Indonesia, Kania masih gelisah karena belum mendapat jawaban dari Dani perihal kepulangannya.
Sengaja Dani tidak memberi kabar, agar menjadi sebuah kejutan untuk istrinya tercinta.
"Sayang, habiskan susumu, keburu dingin tidak enak."
"Iya Bu, itu apa Bu ?" tanyanya menunjuk ke arah box yang tergeletak di dekat meja ruang tengah.
"Itu beberapa perlengkapan bayi yang dibelikan Kak Via kemaren."
"Alhamdulillah, Kak Via sudah banyak sekali membelikan perlengkapan bayi Bu."
"Itulah Kakakmu, kalau sudah punya keinginan, suka-suka dia."
Pagi itu obrolan mereka tentang Lyvia. Kakak sekaligus Putri sulungnya yang selama ini selalu menjadi tumpuan keluarga.
"Siapa Bu ? kelihatannya ada tamu ?" tanya Kania ketika terdengar deru mobil memasuki halaman rumahnya.
"Entahlah, yang jelas bukan mobil Lyvia." jawab Ibu yang hafal betul suara mobil putri sulungnya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Ibu dan Kania bersamaan.
Spontan mereka berdua berdiri dan setengah berlari menuju pintu depan. Rasanya suara itu tidak asing lagi di telinga mereka. Rasa penasaran membuat Kania lupa bahwa dia hamil besar.
Benar dugaannya, seorang yang selama ini di nanti akhirnya datang juga.
"Mas Dani." Panggilnya sembari berlari meraih tubuh suaminya yang dengan sigap merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Ibu tersenyum haru melihat putri dan menantunya saling melepas rasa rindu.
"Kenapa Mas tidak kasih kabar kalau pulang ?" tanyanya manja.
"Bukan kejutan namanya jika Mas kasih kabar sebelumnya."
"Apa kabar Nak ?" sapa ibunya menyela pembicaraan mereka.
"Ibu, Alhamdulillah sehat Bu." jawabnya sembari meraih tangan ibu mertuanya.
"Alhamdulillah, Ibu turut bahagia kamu bisa pulang."
"Alhamdulillah, atas doa ibu dan Kania, Dani dapat cuti satu bulan. Setelah Dani memenangkan proyek yang Dani kerjakan."
Cerita Dani panjang kali lebar. Banyak hal yang saling mereka ceritakan. Hingga lupa rasa letih yang tadi sempat melanda.
"Mas sudah makan ?"
"Belum sayang."
"Mau Nia ambilkan sekarang ?"
"Nanti saja, Mas mau mandi dan istirahat terlebih dahulu."
Ibu membiarkan mereka berdua untuk saling melepas rindu. Enam bulan bukan waktu yang singkat untuk mereka yang sedang sayang-sayangnya.
"Sini, Mas kangen."
Dani memeluk istrinya dan menjatuhi ciuman bertubi-tubi di wajahnya.
"Katanya capek, istirahat dulu sana." Pinta Kania.
Sebagai laki-laki normal, dia sangat rindu akan kebutuhan biologisnya. Tapi melihat perut istrinya yang semakin besar membuat nyeri ulu hatinya.
Namun sebagai istri yang baik, Kania wajib menawarkan kepada suaminya 'apakah dia menginginkannya hari itu'.
"Mas."
"Iya sayang."
"Kalau Mas menginginkannya, Nia siap."
"Bener nich ?"
"Iya." pada dasarnya bukan hanya Dani yang merindukan kehangatan tapi Nia juga.
"Iya, Mas jadi ingat, ada yang bilang, kalau istri sudah hamil tua, sering-sering ditengok, biar lebih lancar waktu kelahiran nanti." candanya menggoda.
"Apaan sih, mana ada peraturan begitu ?" ucapnya malu. Dia cubit mesra pinggang suaminya.
"Auuu....aku balas nich."
Canda tawa yang tadinya menimbulkan gemuruh seisi ruangan, gini telah hening tanpa suara. Bukan karena penghuninya sedang tertidur, tapi lebih memilih aktivitas tanpa suara yang lebih intensif dari hati ke hati.
~ --------------------------------
~ --------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------