
"Lyvia...Mama mau ke pasar sama Bibi, Via mau pesan apa...?"
"Apa aja Ma....jajan pasar yang manis-manis..." jawabku manja.
Mama memang sayang banget dengan Lyvia. Meskipun statusnya anak menantu, tapi Lyvia sudah seperti anak kandungnya sendiri. Maklum Mama cuma punya satu putra 'Adrian'.
"Ya sudah... Mama berangkat dulu ya, ada yang belum Mama belanjakan untuk persiapan tujuh bulananmu besok."
"Iya Ma....perlu Via antar..." tawarku yang pasti akan dapat penolakan dari Mama.
"Eeiii.... tidak, biar Pak To yang antar...kamu harus banyak istirahat, simpan tenagamu untuk persiapan kelahiran...." jawab Mama tegas. Lebih tegas dari seorang polisi.
"Hehehheh.....iya Ma, tapi kan masih lama...masih tiga bulan lagi..."
"Tiga bulan itu cepat Via...." kata Mama sambil mengelus rambutku, tapi sekarang lebih halus dari seorang guru.
"Mari Nyah...." kata Pak To membukakan pintu mobilnya.
"Da Mama...."
Mama membalas lambaian tangan Lyvia.
"Kadang...dia bersikap seperti anak kecil yang merindukan induknya. Terutama akhir-akhir ini, dia begitu dekat denganku..." kata Mama Adrian yang mulai bercerita kepada Bibi di dalam mobil.
"Mungkin Mbak Via rindu pada Ibunya Nyah..."
"Mungkin juga Bi... kemaren Adrian pulang terlalu larut, Via nyusul ke kamarku. Dia minta ditemani...tapi tidak biasanya dia jadi penakut..."
"Kalau itu...bawaan orok juga bisa lo Nyah..."
"Iya juga ya Bi...."
Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki pasar tradisional. Mama dan Bibi membeli beberapa sayuran dan buah tujuh rupa untuk acara tujuh bulanan kandungan Lyvia.
Tak lupa...bibi mengingatkan jajan pasar permintaan Lyvia, sekalian mereka juga pesan tujuh macam jajan pasar sebagai pelengkap acara besok.
Kalau hari ini cukup denga Kue Bikang, lemper dan mendud kesukaan menantunya.
***
Sedangkan di rumah, Lyvia masih menyiapkan seragam kerja suaminya.
Semalam Adrian pulang agak larut, entah apa yang dia kerjakan di kantor, sampai-sampai Via harus nyusul Mamanya tidur di kamar bawah karena takut sendirian di kamarnya.
"Mas....."
"Iya sayang...."
"Hari ini, Mas pulang malam lagi gak...?"
"Enggak sayang....Mas usahakan untuk pulang lebih awal ya..."
Lyvia mengangguk, dia pergi meninggalkan kecupan di kening istrinya.
"Mas tidak sarapan dulu....?"
"Nanti saja di kantor, Mas buru-buru sayang..."
Ada acara apa sebenarnya, kenapa akhir-akhir ini dia kelihatan lebih sibuk dari biasanya.
'Biarlah...aku tidak mau terlalu banyak tanya, cari aman saja menghindari salah paham...lusa ada kegiatan rutin ibu-ibu Bhayangkari, mungkin dia bisa mendapatkan informasi dari sana.' begitu fikirnya.
Din....din....din....
Lyvia menyambut kedatangan Mamanya, tentu yang dia ambil cuma oleh-olehnya saja. Karena Mama melarang dia membawa barang bawaannya.
"Biar Pak To saja...." begitu beliau melarangku.
Mamapun melarang Lyvia untuk ikut sibuk di dapur.
"Sayang... Mama cuma minta, kamu duduk manis di sini, kalau perlu sesuatu bilang sama Bibi, biar diambilkan..."
Huuuffff.... itulah kira-kira larangan yang Mama berikan.
Karena jenuh berdiam diri, akhirnya Lyvia kembali ke kamarnya. Dia rebahkan tubuhnya hingga akhirnya tertidur pulas.
Entah berapa lama dia tidur, sampai-sampai tidak mengetahui kedatangan suaminya. Hanya belaian tangannya di pipi yang membuatnya terbangun.
"Mas... astagfirullah, aku ketiduran...sudah jam berapa ini Mas...?"
__ADS_1
Adrian tersenyum melihatku sontak terkejut. Dia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah polos istrinya.
"Masih sore sayang....baru jam 3."
Lyvia melihat ke arah jam dinding. Benar saja, memang baru jam 3, ternyata dia menepati janjinya untuk pulang lebih awal.
"Mas mau aku bikinkan sesuatu...?"
"Tidak....aku hanya ingin memandangmu saja...."
Lyvia sedikit heran dengan gombalan suaminya kali ini. Ada raut wajah berbeda tersirat disana.
Lyvia terdiam...dia mencoba mencari makna dibalik pandangan suaminya.
'Ada apa denganmu Mas...?'
'Kenapa kamu memandangku seperti itu...?'
'Tatapan matamu membuatku takut, takut akan kehilanganmu....?'
Melihat istrinya yang diam penuh pertanyaan, Adrian meraihnya dan mendekapnya erat di dalam pelukannya.
"Mas...." Lyvia mencoba memberanikan diri.
"Hhhhmmmmm....."
"Apa...ada masalah....?" tanyaku kemudian.
"Tidak sayang...aku, aku... hanya takut kehilanganmu..."
'Ngomong apa ini...? Kenapa tiba-tiba dia bilang seperti itu...?'
"Mas ini ...bicara apa...?" tanyaku sambil kusingkirkan tubuhnya dariku.
"Gakpapa...Mas lagi banyak fikiran saja..."
Lyvia takut untuk bertanya lebih lanjut, suatu saat nanti pasti dia ceritakan sendiri, mungkin ini ada kaitannya dengan pekerjaan.
"Mas mandi dulu...habis itu sholat ya...biar fikirannya tenang..." nasehatku.
"Mas mau berendam sebentar di buthtup..."
"Sebentar kalau begitu, biar Via siapkan air hangat...."
Dia memperhatikan setiap gerak yang ku lakukan. Hari ini sikapku lebih keibuan menghadapinya.
Entah apapun permasalahannya, yang jelas dia sedang membutuhkan perhatian
"Sudah Mas...Via tinggal dulu ya..."
Adrian melanjutkan lamunannya sambil menikmati air hangat yang terasa memijat tubuhnya.
"Ya Allah....apa yang tadi aku lakukan, aku hampir menghianatimu Lyvia...."
Dia mengingat kembali kejadian tadi siang ketika masih di kantor, yang membuatnya galau sampai saat ini.
*Flash back on
Kring...kring....kring...
Sebuah nomor yang belum dia kenal.
Adrian : "Halloo..."
Sofia : "Hallo Mas...ini Sofia..."
Adrian. : "Ohh...ya Sof, ada apa...?"
Sofia. :. "Apa...kita bisa ketemu...? ada yang
ingin aku sampaikan..."
kuiyakan ajakannya untuk bertemu di rumahnya.
"Ada apa Sof...?"
"Mas....aku bingung harus mulai dari mana...? tapi yang jelas, aku membutuhkan bantuanmu...karena hanya Mas yang aku kenal saat ini..." katanya mengawali cerita.
"Katakan saja...apa yang bisa aku bantu..."
"Mas...aku tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa."
__ADS_1
"Sebentar lagi aku mau melahirkan, sedangkan aku sudah tidak punya uang sedikitpun....bahkan aku belum membelikan satu lembar kain untuk kelahiran anakku nanti...tabunganku habis untuk makan dan periksa selama aku disini..."
Adrian masih mendengarkan maksud dan tujuannya.
"Mas ...aku hanya punya sertifikat peninggalan nenekku, jika digadaikanpun...aku tak tahu apa aku sanggup untuk membayar cicilannya..."
"Lalu ....apa yang bisa aku lakukan...?"
"Aku ingin pinjam uang darimu Mas, dan aku menitipkan surat ini kepadamu sebagai jaminan."
Adrian menghela nafas panjang.
"Sebenarnya aku malu mengatakan ini, tapi aku bingung...kepada siapa lagi aku minta tolong..."
"Maaf Sofia...kalau boleh aku tahu, dimana suamimu...?"
Belum lagi dia jawab pertanyaanku, tapi tangisnya sudah pecah. Air matanya mengalir tak terbendung.
"Aku tahu suatu saat kamu pasti akan menanyakan hal ini...."
Dia kumpulkan kekuatan untuk mulai bercerita.
"Aku...pergi darinya Mas, sebenarnya aku hanyalah istri kedua...sejak pernikahanku, aku tidak pernah bahagia hidup bersamanya...
bahkan selama itu aku menyesali perbuatanku meninggalkanmu hanya demi menuruti egoku....
hingga suatu hari, istri pertamanya mengetahui kalau aku hamil, dan belum sempat aku ceritakan kehamilanku pada suamiku, dia sudah menjebakku tidur dengan lelaki yang dia sewa karena takut aku akan menguasai hartanya jika aku punya anak nanti...
suamiku yang mengetahui hal itu, marah besar dan menyiksaku...bahkan dia menuding kalau anak yang aku kandung bukanlah darah dagingnya..."
ceritanya panjang lebar... sungguh diluar dugaanku.
Aku sudah lama melupakannya... aku pikir dia sudah hidup bahagia dengan keluarganya.
"Achh....maaf, jadi malah cerita yang memalukan, sampai lupa belum aku buatkan minum..." katanya sambil mencoba berdiri dan menghapus air matanya.
"Tidak usah Sof....aku sudah banyak minum di kantor..."
Saat Sofia akan kembali ke kursinya, tiba-tiba kakinya terasa terkilir, langkahnya terhuyung dan hampir jatuh.
Adrian dengan sigap menangkapnya dan jatuh ke dalam pelukannya.
Mereka sempat bertatap mata, bahkan ada getaran aneh yang dirasakannya Sofia.
"Ahh....maaf..." Katanya sambil melepaskan diri dari pelukan Adrian.
Tapi ternyata kakinya benar-benar terkilir dan membuatnya kesakitan ketika mau berdiri tegak.
"Aaauuuu......"
"Sini biar aku bantu...."
Adrianpun menggendongnya bermaksud membantunya untuk duduk di kursi. Sofia dengan nyaman merangkul leher Adrian.
Wajah mereka begitu dekat ketika Adrian membungkukkan badannya untuk meletakkan Sofia di kursi.
Sofia merasakan hembusan nafasnya. Leher Adrian masih terkunci di tangannya.
'Ya Tuhan....kau begitu tampan Adrian, bahkan lebih tampan dari ketika dulu masih bersamaku....' gumam Sofia dalam hati.
Sofia tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Tanpa disadari, dia ***** bibir Adrian yang sedikit terbuka.
Entah setan apa yang sedang merasukinya. Adrian hanya diam diperlukan seperti itu, hingga bayangan istrinya muncul dan dia memundurkan tubuhnya dari Sofia.
"Maaf....aku, aku terbawa suasana..." kata Sofia.
"Achh...sudahlah, simpan surat berharga ini...aku akan bantu biaya persalinanmu nanti dan aku juga akan belikan perlengkapan bayi untukmu..."
Adrian melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Maaf....aku harus segera kembali..."
pamitnya meninggalkan luka manis di bibir Sofia.
*Flash back off
~ ------------------------------------
~ ------------------------------------
__ADS_1
~ ------------------------------------