MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 76. Bijaksananya Suamiku


__ADS_3

 


Kali ini selain Pamannya yang menggantikan Alm. Ayah Lyvia, Adrian juga berperan sebagai penanggung jawab segala sesuatu yang terjadi di keluarga besar Lyvia.


"Ibu ada sedikit tabungan yang bisa digunakan untuk menambah biaya pernikahan Kania nanti..." kata Ibunya kepada Lyvia.


"Ibu... Lyvia juga ikut bertanggung jawab atas biaya pendidikan Kania, sampai dia dipersunting pria idamannya, jadi ibu tidak usah memikirkan biaya...sebagai suami Lyvia, Adrian yang akan menanggung semuanya...." kata Adrian tegas.


"Terimakasih Nak...tapi Ibu tidak mau merepotkan Nak Adrian..."


"Tidak merepotkan Bu... bukankah Adrian juga putra Ibu..."


 


Ibu sempat menitikkan air mata bahagia mendengar pernyataan putra menantunya itu.


 


"Ibu... dengarkan Adrian, kita pikirkan dulu untuk acara pertemuan keluarga besok, biarkan Lyvia yang mencukupi semua kebutuhan Ibu untuk menyambut kedatangan Dani dan keluarganya, baru setelah itu kita bicarakan lagi untuk pernikahan Kania." kata Adrian lagi.


"Kalau untuk pernikahan, mungkin masih agak lama Kak...Dani masih mau menyelesaikan pendidikannya, dan Nia habis wisuda nanti Nia akan mencari pekerjaan untuk kesibukan Nia nanti..." sambung Kania.


"Baguslah...kakak akan selalu mendukungmu, selama itu baik untukmu...lakukan, tapi ingat meskipun kalian sudah dalam ikatan pertunangan, bukan berarti kalian bebas melakukan apa saja..." nasehat Adrian.


"Iya Kak..."


 


Lyvia yang dari tadi belum mengutarakan pendapatnya, hanya tersenyum mendengar penuturan suaminya.


'Alhamdulillah....Ya Allah, engkau telah mengirimkan Imam yang tepat untuk hamba...' puji Lyvia dalam hati.


Selesai pembicaraan, mereka berpamitan untuk segera kembali ke rumah, karena Al tidak bersama mereka.


 


"Hati-hati ya Nak...."


"Iya Bu...besok Via ke sini sama Al, skalian berangkat bareng Mas Adrian ke kantor Bu.." kata Lyvia.


"Iya sayang... Ibu juga kangen sama Al..."


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam..." balasnya sambil melambaikan tangan.


 


Sesampainya di rumah, Al sudah tidur di kamar Oma.


"Biarkan saja... jangan dibangunkan..." kata Mama yang melarang Lyvia untuk membawa Al ke kamarnya.


 


"Ayo sayang....kita bikinkan adek untuk Al.." bisik Adrian menggodanya.


 


Lyvia mencubit pinggang suaminya.


"Aauuu....sakit sayang..."


Lyvia Kembali ke kamarnya, sesekali dia tengok ke bawah. Memastikan apakah putranya akan rewel atau tidak.


 


"Kenapa....? serahkan saja semua sama Mama, dijamin aman..." bisik Adrian yang memeluknya dari belakang.


 


Dia menggiring istrinya untuk kembali ke kamarnya.


"Makasih ya Mas..." ucap Lyvia yang kini sudah bersandar di dada bidang suaminya.


 


"Makasih untuk apa sayang...?"


"Terimakasih untuk perhatian Mas kepada keluarga Via...."


"Sayang....sejak kita berkomitmen untuk menjalin hubungan berdua, sejak saat itulah tanggungjawabmu beralih kepadaku..." jawabnya bijak.


"Kenapa....?" tanya Adrian yang melihat istrinya menengadahkan wajahnya.


"Boleh jujur gak...?" kata Lyvia.


"Apa...?"

__ADS_1


"Tapi jangan besar kepala..."


"Hhhhmmm...memang aku seperti itu...?"


"Aku bangga punya suami seperti mas..." puji Lyvia.


"Seperti apa maksudnya....?"


"Pengertian dan Bijaksana seperti Mas.....Mas bisa menjadi orang tua yang tepat untuk Al, bisa menjadi kakak yang baik untuk Kania, bisa menjadi kepala rumah tangga yang bijaksana untuk kedua keluarga besar kita dan bisa menjadi suami yang hebat untukku..." jelasnya panjang kali lebar.


"Masak sih....kok baru nyadar ya...." ucap Adrian berlagak pilon.


"Is..is...is..." komentar Lyvia yang gemas dengan jawaban suaminya.


"Eh..eh... tunggu memuji berarti harus membayar.." ucapnya.


"Ha...siapa yang memuji dan siapa yang membayarnya...?" tanya Lyvia.


"Barusan...kamu kan yang memuji..."


"Terus...siapa yang membayar...?"


"Ya kamu lah..."


"Kok gitu..."


"Ya harus gitu dong..."


"Itu namanya mau menang sendiri sayang..."


"Gak mau nih...."


"Gak mau lah...."


"Ya sudah...kalau begitu, biar aku yang kasih hukuman..."


 


Adrian menggelitiknya tanpa ampun. Canda mereka malam itu berakhir dengan kidung rindu penghantar tidur.


Saling memberi dan saling menerima, melepaskan kerinduan yang pernah sempat tertunda.


*****


 


"Assalamu'alaikum sayang...." sapa Lyvia kepada putranya.


 


Al berlari menghambur ke pelukan Lyvia.


 


"Bagaimana tidurnya sama Oma ... nyenyak...?"


"Iya bunda, bunda pelgina lama..."


"Ahahhahah....cuma sebentar sayang, Bunda pulang dedek Al sudah bobok..." terang Lyvia.


"Ayah....!" teriaknya sembari melompat ke pelukan ayahnya.


"Aaauuuu....jagoan Ayah, sudah harum..."


"Adek udah mandi yah...tadi sama Oma.." jawabnya menggemaskan.


"Sudah sarapan....?" tanya Adrian lagi.


"Balu minum cucu..."


 


Lyvia tersenyum sendiri mendengar percakapan mereka.


 


"Oma....bunda sama dek Al, minta izin ke rumah Yang Ti ya...." kata Lyvia yang ditirukan putranya.


"Iya sayang....dek Al gak boleh nakal di rumah Yang Ti ya...? nurut sama Bunda.."


"Oke Oma..."


"Kok oke jawabnya...?" tanya Via.


Al paham kalau Bundanya menggelengkan jari telunjuknya menghadap ke atas, berarti apa yang dia lakukan belum benar.


"Iya Oma..." ulangnya kembali.

__ADS_1


 


Dia memperhatikan Ayahnya sarapan, dan belajar mengikutinya memakai sendok dan piringnya sendiri.


 


"Mau menginap berapa hari sayang...?" tanya Mama.


"Mungkin tidak menginap Ma... nanti Mas Adrian jemput sepulang kerja, hari ini cuma mau bantu Ibu untuk persiapan lamaran Kania..."


"Kapan acaranya sayang...?"


"Besok malam Ma...pagi Via berangkat bareng Mas Adrian ngantor, nanti sorenya Mama biar dijemput sama Mas Adrian saja....?" jelasnya.


"Iya Nak.... Mama tidak bisa bantu apa-apa, Mama cuma bisa hadir saja..."


"Iya Ma....gakpapa, lagipula semua sudah dikerjakan kerabat dan tetangga sekitar rumah, do'a Mama yang kita harapkan..." jawab Lyvia.


"Oma....dedek Al berangkat dulu ya..." pinta Lyvia kepada putranya untuk berpamitan dengan Oma.


"Iya...." kata Al yang masih bingung untuk menirukan.


"Lo kok iya..." tanya Via.


"Belangkat dulu Oma..." sambungnya.


"Iya sayang....hati-hati di jalan ya..." jawab Oma gemas.


"Assalamu'alaikum...."


"Asaaikum...." tirunya lagi.


"Wa'alaikumsalam...." jawab Mama sambil melambaikan tangannya.


"Da da Oma...." balas Al membalas lambaian tangan Oma.


 


Semakin lama Al semakin tumbuh dengan kecerdasannya.


"Kita mau kemana Ayah...?" tanyanya yang melihat sekeliling jalan raya.


 


"Mau kemana hayoo tebak...?" tanya Ayahnya.


"Ikut kelja sama Ayah..." celotehnya tak henti-henti.


"Bukan sayang....kita mau kerumah Yang Ti..." jawab bundanya.


"Holee...ketemu sama Aunty ya Bun...?" tanyanya kembali.


"Iya sayang ..."


"Ada om juga...?" katanya lagi, semakin dijawab rasa ingin tahunya semakin besar.


"Om belum ada Nak...mungkin besok Om datangnya..."


"Kenapa besok..."


 


Lyvia tersenyum gemas dengan celoteh putranya. Dia cium pipi gembul dan perut Al bergantian.


 


"Ayah gak kelja...?" tanyanya kembali kepada Ayahnya.


"Kerja sayang...."


"Telus....adek Al ditinggal kelja..."


"Iya sayang, nanti Ayah jemput sepulang kerja ya..."


"Tu....kita sudah sampai di rumah Yang Ti..." kata Lyvia sembari menunjuk rumah Ibunya.


 


Adrian menurunkan istri dan putranya, dia langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.


"Dada Ayah...."


"Daaaa....."


Al masih melambaikan tangannya sampai mobil ayahnya tidak terlihat oleh mata mungilnya.


~ ------------------------------------

__ADS_1


~ ------------------------------------


~ ------------------------------------


__ADS_2