
Mendengar Adrian kembali ke kotanya, Maya segera pergi untuk menyusul Adrian ke kotanya.
Maya memboking sebuah kamar di salah satu Hotel ternama di kota itu. Dia Boking untuk 1 Minggu pertama.
Siang itu, tanpa sepengetahuan Adrian, Maya bertamu ke kantornya.
"Selamat siang Pak...bisa saya bertemu dengan Bapak Adrian...?" tanyanya kepada seseorang yang berada di post jaga depan.
"Mohon maaf dengan Ibu siapa..? atau apakah anda sudah membuat janji...?" tanyanya kembali kepada Maya.
"Belum...sampaikan saja, saya Maya kerabatnya dari jauh."
"Baik, silahkan menunggu sebentar. Akan saya sampaikan." jawabnya sembari berdiri menuju ruang Adrian.
Beberapa menit kemudian, laki-laki tadi kembali menemui Maya.
"Maaf Bu...Pak Adrian sedang ada dinas luar."
"Apakah beliau keluar kota...?"
"Oh...tidak, beliau meninjau lokasi yang sedang mengadakan acara promosi & lounching produk baru kendaraan roda dua."
*Flash nack on
Ya...hari ini adalah hari dimana Lyvia mengadakan promosi penjualan yang sudah dia rencanakan jauh-jauh hari.
Adrian memang sudah mengutus 2 stafnya sebagai formalitas untuk mengamankan lokasi. Tapi kali ini, dia ingin melihatnya sendiri bagaimana Lyvia bekerja.
("Hallo Prim....ada acara kah siang ini...?") dia hubungi Prima via sambungan telepon.
("Tidak ada...aku ingin kangen-kangenan sama istriku di rumah")
("Halahhhh....tunda dulu kangennya, aku ada perintah dinas.")
("Siap Ndan... laksanakan")
("Segera merapat")
Perintahnya dan segera menutup telfonnya.
Prima segera beranjak menuju ruangan Adrian. Tak terpikir olehnya, tugas apa yang akan dia perintahkan untuknya.
'Tok tok tok....
"Masuk..."
"Siap Ndan... laksanakan perintah..."
"Ikut saya ke lokasi promosi Lyvia..." jawab Adrian sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Sialan....aku kira perintah dinas apa...!" gerutunya bercanda.
Adrian tertawa terbahak mendengar umpatan sahabatnya itu.
Mereka berangkat tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada Lyvia. Dengan maksud ingin memberinya sedikit kejutan.
Sudah 2 hari, sejak kepulangannya dari Sarangan, Adrian belum sama sekali menghubungi pujaan hatinya itu.
*Flash back off
Kembali pada Maya
"Apa kira-kira beliau kembali ke kantor...?" tanyanya kemudian.
"Saya kurang tau, tapi kemungkinan tidak."
__ADS_1
"Maaf...boleh saya tau lokasi yang Beliau tuju...?"
Pria itu memberinya secarik kertas, berupa brosur produk yang lengkap dengan lokasi acara promosi
Karena belum paham betul dengan peta kota itu, Maya memanfaatkan aplikasi di internet untuk membantunya menunjukkan jalan.
***
*Sedangkan di lokasi promosi
Lyvia berdiri di dekat tenda pajangan unit. Kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. Pandangan nya tertuju pada panggung yang sedang berlangsung hiburan.
"Via... selamat ya, acara hari ini berjalan lancar..." sapa seseorang yang mendekat ke arahnya.
"Ehh...Mas Ferry, terimakasih mas...semoga apa yang sudah kita keluarkan akan berdampak positif dengan pendapatan."
°Feryan Admadja
Dia adalah Manager Periklanan & Promosi dari Kantor Pusat. Kedatangannya hari ini memantau promosi selama acara berlangsung.
"Aamiin....saya yakin kamu pasti bisa." komentarnya menanggapi jawabanku.
"Sudah hampir 1 th ini dealer yang kamu pegang selalu unggul dalam penjualan, jujur saya salut dengan perjuanganmu." pujinya pada Lyvia.
"Bukan saya mas...tapi kita bersama, semua ikut ambil bagian dalam kemajuan dealer ini." jelas Lyvia sesuai dengan kenyataan yang ada.
"Via...boleh saya bertanya sesuatu...?" sambungnya lagi dan pertanyaan kali ini terdengar sedikit privasi.
"Ya Mas....?"
"Ee....tapi maaf, sebelumnya kamu jangan salah paham, apa kamu belum punya pacar..?"
Lyvia tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Tidak...saya pikir belum, karena jujur...aku......."
'Ehhheeeemmmm....!!!
Belum sempat melanjutkan pertanyaannya, Feryan & Lyvia menoleh ke arah suara tersebut.
"Mas Adri..." bisiknya pelan hampir tak terdengar.
Adrian dan Prima berjalan dari area parkir menuju lokasi dimana Lyvia berdiri.
Dia sempat mendengar percakapan Via dengan rekan kerjanya.
"Via... bagaimana acaranya...?"
"Pak Adrian, Alhamdulillah lancar Pak... terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk hadir..." jawabku, menghormati kedatangannya.
"Pak Prima...silahkan Pak..." sapa Lyvia, mempersilahkan semua tamunya untuk duduk.
"Iya... terimakasih."
Sikapku yang sopan dan tutur kataku yang santun membuat Prima tersenyum-senyum.
Lyvia memang agak canggung dengan kedatangan Adrian. Tapi dia bersikap demikian, tidak lain karena menghormati posisinya di depan anak buahnya.
Percakapan mereka hanya seputar acara hari ini. Feryan yang dari tadi ingin mengambil perhatian Lyvia, sesekali dia memuji gadis itu di depan banyak orang, termasuk Adrian.
Adrian lebih banyak diam kali ini. Merasa terintimidasi, dia bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Sudah hampir malam...apakah kamu tidak akan pulang terlebih dahulu...?" tanyanya pada Lyvia.
"Eh...iya pak, memang saya akan pulang terlebih dahulu..."
"Iya Via...lebih baik kamu pulang dahulu, biar disini saya yang handle." kata Ferry menyambung pembicaraan kami.
Acara hari ini memang mendapat izin sampai pukul 22.00 wib. Tapi karena Via sudah aktif mulai dari pagi, dia perlu pulang untuk membersihkan badannya yang mulai lengket.
"Apa perlu saya antar ...?" tawar Ferry.
"Terimakasih mas...saya bawa mobil sendiri..." jawab Lyvia menolak tawaran Ferry.
"Mana kunci mobilmu...?" tanya Adri menyela pembicaraan mereka.
"Ini...kenapa Pak...?" jawab Lyvia, sambil menunjuk kan kunci mobilnya.
Diambilnya kunci itu dari tangan Lyvia.
"Bawa pulang mobilku, biar aku antar Lyvia dengan mobilnya." kata Adrian sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Prima yang masih terduduk.
"Siap Ndan...." jawabnya
Setelah berpamitan, Adrian menarik tangan Lyvia menjauh dari tempat itu. Semua mata memandang heran pada mereka. Terutama Feryan, banyak pertanyaan yang belum terjawab olehnya. Dan lagi, belum sempat dia nyatakan perasaannya. Tapi sudah ada laki-laki yang membawanya pergi.
Prima hanya tersenyum melihat sikap sahabatnya itu. Belum lama mereka pergi, Prima dikagetkan dengan kedatangan Maya.
Prima mengenal gadis itu. Dia perempuan yang pernah Adrian kenal kan padanya 1 tahun yang lalu. "Kenapa dia ada disini...?" tanyanya dalam hati.
"Mas Prima...apa kabar...? apa mas Adrian ada bersamamu...?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah baik, Adrian...dia baru saja kembali." jawab Prima singkat.
Prima kurang suka dengan perempuan ini. Dan kelihatannya ada gelagat kurang baik pada dirinya. Tapi prima mencoba untuk berbaik hati, dia ingin tau apa sebenarnya yang dia kerjakan disini.
"Sejak kapan kamu ada di kota ini...?"
"Baru tadi pagi..." jawabnya singkat
"Ada acara kah...?" tanyanya lagi.
"Iya mas...aku ada keperluan disini..."
Setelah banyak berbincang-bincang, Prima memutuskan untuk menemani Maya menyaksikan acara tersebut. Tidak mau Maya terlalu banyak tanya, yang mengakibatkan kerugian pada sahabatnya.
"Oya mas...boleh saya minta no HP Adrian..?" kata Maya yang merasa Prima sudah akrab dan nyaman ngobrol bersamanya.
"Boleh...." Prima mengambil Ponsel di kantongnya, sengaja Prima mengeluarkan Ponsel kantornya yang habis batrei.
"Maaf May...batrei phonselku habis." ditunjukkannya kepada Maya.
Maya yang sedikit kecewa, kembali berjalan menyusuri bazar di Lapangan dengan Prima yang masih mengikuti.
~ ------------------------
__ADS_1
~ ------------------------
~ ------------------------