
Lyvia terbangun mendengar adzan subuh. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Diluar masih sepi, belum ada kegiatan apapun.
Ditengoknya kamar Adrian, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
*Tok...tok...tok...
"Mas...sudah subuh." Dia coba untuk membangunkannya.
"I...iya...sayang." terdengar ada sahutan dari dalam. Lyvia kembali ke kamarnya untuk sholat subuh. Begitupun dengan Adrian yang segera mandi dan menjalankan dua rekaatnya.
Via masih di dalam kamar, berkutat dengan barang bawaannya. Berangkat ke sini tanpa membawa apapun, kini dia pulang bagasi penuh dengan barangnya.
• Sateeeeeeee !
• Nasi Peceeellll, Gorengan, Peyeekkk !
• Buuuuuurrrrrrr Yammmm !
Terdengar riuh teriakan pedagang menjajakan dagangannya. Rutinitas pagi mereka sudah dimulai. Aku keluar kamar, perutku terasa lapar mendengarkan teriakan mereka.
Kulihat Adrian sedang berdiri di depan mini bar. Ia menyeduh 2 gelas capuccino sebagai teman nongkrong pagi ini. Aku bergegas mendekatinya.
Kulingkarkan tanganku di pinggangnya.
"Mas....aku lapar." pintaku yang masih bergelayut manja.
"Pengen makan apa pagi ini ?" tanyanya sembari menundukkan kepala. Kini kedua tangan Adrian berada di pinggangku. Dan tanganku yang semula dipinggangnya, sudah beralih melingkar di lehernya.
"Aku pingin nasi pecel." bisikku setengah berjinjit. Karena memang tinggi badanku cuma sebatas dadanya.
"Gak pingin sate kelinci."
"Eeehhhmmmmm.....dikit, tapi lebih pingin nasi pecel."
Adrian hanya tertawa mendengar jawabanku.
Dia panggil pedagang nasi pecel dan sate kelinci ke Villanya.
"Nasi pecel 2 ya Bu ? sate kelinci juga 2 porsi tanpa lontong."
"Hhhmmmm... Mas, banyak amat...siapa yang makan ?" tanyaku heran
"Nanti juga habis sendiri." jawabnya sambil mencicipi gorengan yang dijajakan ibu penjual nasi pecel.
Benar apa kata Adrian, 2 porsi nasi pecel dan 2 porsi sate kelinci tanpa lontong sudah ludes berpindah tempat.
"Tu kan...tinggal tusuk sama daun pisang doang ?" yang disindir hanya nyengir.
"Laper apa doyan ?"
"Dua-duanya." jawab Lyvia dengan mulut penuh dan tinggal 1 tusuk terakhir.
"Via...kita pulang hari ini, apa besok ?"
"Hari ini Mas...aku sudah lama absennya."
"Baiklah, sebelum pulang kita beli oleh-oleh untuk Mamaku ya ?" pinta Adrian.
Mereka telah selesai berkemas. Dan segera melanjutkan perjalanan pulang. Sebelumnya mereka mampir ke pasar wisata untuk membeli buah & sayuran segar sebagai oleh-oleh Mama dan Ibunya di rumah.
***
Empat jam perjalanan, kini mereka sudah memasuki kota kecilnya. Baru 3 hari tidak bertemu Ibu, rasanya sudah kangen sekali.
"Via." panggil Adrian memecah kesunyian.
__ADS_1
"Iya."
"Kita mampir dulu ke rumahku ya ?"
Apa ? apa aku sudah siap ? ketemu calon mertua ? apa yang akan aku katakan ?
Fikiran itu merasuki ruang kosong dalam hatinya. Dan itu membuatnya sedikit takut. Entah apa yang dia takutkan.
"Kok diam....kenapa ? gugup ya ?"
"Eng.... enggak kok, gakpapa...iya kita mampir dulu kerumah Mas." jawabku sedikit terbata-bata.
'Tenang Lyvia....aku yakin kamu bisa...yang penting PeDe dan tetap pada prinsip kesopanan.' bisiknya dalam hati menenangkan jiwanya.
"Ayo turun." kata Adrian membuyarkan lamunanku.
Lyvia mengikuti adrian. Tangannya penuh menenteng belanjaan oleh-oleh untuk calon mama mertua.
"Assalamu'alaikum." sapa Adrian yang sudah disambut oleh mamanya di depan pintu. Ia mencium tangan Mamanya. Hal yang sama dilakukan Lyvia.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mamanya.
"Ma....kenalin, ini Lyvia teman sekaligus menantu untuk Mama."
Lyvia hanya tersenyum mendengar candaan Adrian.
"Masuk sayang...kalian pasti capek." dirangkulnya Lyvia untuk diajak masuk kerumahnya.
Baru beberapa menit, Lyvia sudah akrab dengan Mama Adrian.
"Iya sayang... panggil tante 'Mama', sama seperti Adrian memanggil Mama."
Lyvia tersenyum malu.
Dia bersihkan buah dan sayuran yang tadi dibelinya di pasar wisata. Ia simpan sayuran di dalam kulkas dan ditatanya buah untuk dihidangkan di meja makan.
Mama Adrian yang mengetahui kepulangan anaknya, sudah menyiapkan makan siang. Via juga membantu untuk menatanya di meja makan.
Adrian menenteng travel bag menuju kamarnya. Ditengoknya kekasih dan mamanya asyik bercengkrama menyiapkan menu makan siangnya hari ini.
Lyvia yang santun memang pandai mengambil hati seseorang. mereka langsung akrab dengan sedikit canda-canda.
"Mungkin memang inilah salah satu cara membahagiakan mama, dengan membawakan menantu sebagai teman ngobrolnya." gumam Adrian dalam hati.
"Mas sudah selesai kemas-kemasnya ?" sapanya, menyadari ada yang sedang memperhatikan di ambang pintu.
"Sini Nak...sudah siang, kita makan dulu." kata mama menyambung ucapan Lyvia.
Adrian menghampiri mereka berdua. Via membantu mengambilkan Nasi untuk Mama dan Adrian. Baru setelah itu dia taruh untuk nya sendiri.
Tidak satupun yang bersuara disana. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.
"Via...apa kamu sudah memikirkan masak-masak untuk menjalin hubungan dengan Adrian ?"
Tanya Mama memecah kesunyian.
"I...iya Ma...jika memang sudah menjadi takdir Via berjodoh dengan Mas Adri, Insha Allah Via ridho dan akan menjaga hubungan ini dengan baik." jawab Via setengah terbata-bata.
__ADS_1
Adrian hanya tersenyum mendengar jawaban Lyvia.
"Adrian....lalu kira-kira kapan kamu akan melamar Lyvia ?" kini gantian Adrian yang jadi sasaran pertanyaan mama.
*Uhuuukkkk....uuhhuuukkk... uuhhuuukkk...
"Mas....minum dulu." kusodorkan air putih untuk meringankan batuknya.
Mungkin Mas Adrian kaget dengan pertanyaan mama. Sampai-sampai dia keseleg disaat suapan terakhir makan siangnya.
Lyvia tidak berharap banyak. Menjadi istri seorang polisi memang tidak mudah. Semua ia serahkan pada Yang Kuasa.
Apalagi diusianya yang sekarang jika memang ada yang berniat baik untuk meminangnya, akan ia terima. Sudah bukan waktunya lagi untuk berpacar-pacaran.
"Secepatnya Ma...tapi butuh proses dan banyak yang harus dipersiapkan untuk menjalani pernikahan." jawabnya tegas.
"Mama hanya bisa memberikan do'a & restu Mama pada kalian...semua Mama serahkan pada kalian berdua yang menjalani."
Selesai makan, mereka berbincang-bincang diruang tengah. Banyak yang mereka ceritakan. Terutama Mama, Mama banyak bercerita tentang masa kecil Adrian dan Alm. Papanya.
Sedangkan Adrian, dia sibuk dengan Handphonenya. Dari raut wajahnya seperti ada yang dia fikirkan. Entah apa yang terjadi, mungkin banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Ingin rasanya Lyvia minta izin untuk diantarkan pulang. Tapi melihatnya masih dengan mimik muka yang tegang, Lyvia tidak berani mengganggu.
*Brrraaaakkkk....
Lyvia menoleh ke sumber suara. Terlihat Adrian meletakkan Handphone sedikit agak keras, atau mungkin sengaja dibanting.
"Sayang....kamu mau saya antar pulang sekarang apa mau menginap dulu saja ?"
Tanya Adrian, karena merasa sedang kuperhatikan.
"Saya...pulang dulu saja mas, tapi kalau mas masih sibuk, biar aku pesan ojol saja."
"Mama tidak izinkan, biar Adrian antar pulang, kemaren dia yang jemput, sudah jadi tanggung jawab dia untuk antar kamu sampai kerumah."
Kata Mama ketika mendengar aku akan pesan ojol.
"Iya Ma...ini mau diantar Mas Adrian."
Kuambil tas ku yang tadi masih di meja makan. Kuhampiri lagi mama untuk berpamitan.
"Mama....Via pamit dulu ya ? Insha Allah besok Via main lagi, Mama jaga kesehatan ya ?" pintaku, karena saat kami bercanda tadi Mama sempat mengeluhkan badannya yang sedikit nyeri.
"Iya Nak...kamu juga hati - hati ya ?"
Kucium punggung tangan mama.
"Adrian antar Via dulu ya Ma ?"
"Iya Nak.... hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
salam Via & Adrian yang hampir bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." jawab mama sambil melambaikan tangan, yang kubalas juga dengan lambaian.
~ --------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------
~ --------------------------------