
Pagi yang cerah, sinar mentari menghangatkan tubuh Lyvia yang sedang berjemur di taman belakang untuk mengurangi rasa mualnya.
Hari ini hari terakhir dia masuk kerja. sebelum menyerahkan surat pengunduran diri dan serah terima jabatan ke kantor pusat, dia harus menyiapkan berkas-berkas laporan perusahaan.
"Sayang...kamu masuk kerja hari ini...?" tanya Adrian yang menyusul istrinya melakukan senam ringan di taman belakang.
"Iya Mas...." jawabnya masih dengan gerakan-gerakan senam ringan.
"Mau Mas antar apa bawa sendiri...?" Lyvia menghentikan gerakannya. Dia melihat ke arah suaminya. Dihapusnya peluh yang membasahi pipinya.
"Katanya Mas akan pergi hari ini...?"
Tanya Lyvia. Karena semalam adrian pamit kalau hari ini akan ada acara outbound dengan teman-teman kantornya.
"Gak jadi sayang....karena ada salah satu teman Mas yang Ibunya meninggal, jadi kita harus hormati itu..." jawab Adrian.
"Mas akan takziah nanti...?" tanyanya kemudian.
"Iya sayang... makanya mas bisa skalian antar kamu ke tempat kerja." jawabnya.
Lyvia melanjutkan gerakannya lagi. Adrian tergerak untuk menggodanya. Dia peluk istrinya dari belakang mengikuti gerakan istrinya.
Tapi ketika kepalanya disandarkan di pundak Lyvia, Adrian malah menggigitnya lembut.
"Massss....! gangguin saja..." gerutunya.
"Memang gak boleh gangguin istri sendiri...?" tanyanya memelas. Dia mendekat dan mengulangi hal yang sama.
"Jorok ahh....aku kan berkeringat Mas..."
Elaknya ketika Adrian Kembali mendekatinya.
Lyvia mendorong tubuh suaminya. Dia duduk berselonjor melemaskan otot-otot kakinya.
"Aku mandi dulu ya...?" kata Adrian sembari masuk ke dalam rumah.
Lyvia masih duduk ditempat sambil mengeringkan keringatnya. Dia mengambil phonselnya dan mengetik sesuatu.
(~ Pengumuman
Diberitahukan kepada seluruh karyawan/karyawati, untuk berkumpul di kantor pukul. 12.00 wib, dalam rangka evaluasi akhir bulan.
Demikian kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
Lyvia Maharani)
(Diana :
Siap Mbak....👌)
(Mira :
Ok Mbak Via...👍)
(Santi :
Iya Bu Lyvia...🙏)
Itulah pesan yang dia kirimkan di group tempat dia bekerja.
Lyvia masih memandangi handphonenya, satu persatu penghuni group itu membalas Pesan WhatsApp dari Lyvia.
__ADS_1
Melihat bagaimana cara mereka menuliskan pesan jawaban, terlihat perbedaan karakter dari masing-masing orang.
'Aku pasti akan merindukan kalian...' gumamnya dalam hati.
Lyvia beranjak dari tempat duduknya, karena dirasa tubuhnya sudah kering dari keringat.
Kring...kring...
("Hallo Mas....ada apa...?") jawab Lyvia yang heran dengan suaminya.
("Lekas mandi sudah siang...") katanya.
'Hhhhmmmmm.... cuma sini sana aja pakai telfon segala....' gumamnya sendiri.
Lyvia berjalan pelan, sedikit mengendap untuk mengagetkan suaminya. Lyvia ingin mengagetkan dengan caranya yang lembut.
"Iya sayang...." bisikku di telinganya. Adrian sempat terlonjak kaget, karena posisi duduknya yang membelakangi pintu membuatnya tidak mengetahui kedatangan istrinya.
Adrian membalasnya dengan cubitan kecil di pinggang istrinya.
"Mandi sana....bau asem....!" katanya lagi
"Iya-iya mas....aku mandi, mau ikut...?" godanya.
"Hhhhmmmmm....mulai dech...." jawabnya menirukan kata-kataku kalau lagi kalah berdebat dengannya.
"Kata-kata itu milikku...." gerutu Lyvia. Bibirnya yang manyun membuat Adrian tergoda untuk menggigitnya.
Melihat suaminya beranjak dari tempat duduknya, Lyvia segera menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi.
***
"Iya Ma...." jawabku sembari memeluk dan mencium pipi Mama.
"Kok Mama aja yang dicium, aku enggak...!" protes Adrian kepada istrinya
"Sini......" jawabnya seraya melambaikan tangan ke arah Adrian.
Adrian mendekati istrinya, menyodorkan pipinya di dekat wajah Lyvia.
'Eeemmmuuahhhh ....
"Makasih sayang...." dibalasnya ciuman itu dengan kecupan lembut di kening Lyvia.
Bahagia rasanya bisa membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Hanya waktu sarapan seperti inilah mereka bisa intensif untuk berkumpul.
Lyvia jadi ingat sama Ibu dan Adiknya. Ingin sekali dia berkunjung kesana. Dia akan mengajak suaminya untuk kerumah Ibunya.
"Mas....nanti sebelum ke kantor bisa antarkan aku ke restoran ayam bakar perempatan depan ya...?" kata Lyvia di sela-sela acara sarapan paginya.
"Kenapa Nak.... Via pengen makan ayam bakar...?" tanya Mama.
"Bukan Ma....Via mau pesan untuk acara makan siang nanti di kantor, buat perpisahan sama anak-anak kantor." jawabnya sambil menahan sesuatu.
Lyvia berlari ke wastafel dekat pintu keluar ke taman belakang. Lyvia memuntahkan suapan pertama sarapannya.
Mama yang melihat hal itu segera mendekati menantunya.
"Via..... kenapa sayang...?" tanya Mama sambil memijat tengkuk leher Lyvia.
Lyvia hanya menggelengkan kepalanya. Dia sendiri masih heran, sakit apa yang dia derita saat ini.
"Kenapa sayang....?" tanya Adrian panik. Karena tadi dia merasa istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Bibi...minta tolong bawakan air putih hangat..." kata Mama.
"Ini Bu....apa perlu saya ambilkan minyak angin...?" kata Bibi menawarkan.
"Enggak Bi....Via gak kuat dengan baunya." jawab Lyvia yang masih terduduk lemas.
Kulit putihnya nampak pucat terlihat dari wajahnya
Berbeda dengan Adrian, sebagai seorang Ibu... Mama bisa merasakan bahwa ada yang tidak biasa dari menantunya itu.
Mama melihat perubahan dari tubuh Lyvia. Sikapnya juga berubah sedikit sensitif. Tapi Mama masih diam saja, beliau menjaga perasaan Lyvia.
Takutnya kalau beliau salah tebak, akan jadi menyakiti hati menantunya.
'Biarkan dia sendiri yang mengabarkan hal baik itu padaku...' bisik Mama dalam hati.
Lyvia meneguk air putih hangat yang diberikan bibi padanya.
"Ayo... lanjutkan sarapanmu sayang..." pinta Adrian.
Dia hanya menjawabnya dengan lambaian tangan. Ia malah beralih mengambil jeruk untuk mengurangi rasa mualnya.
"Sayang...kamu kan belum makan...?"
Kata adrian sembari mengambil jeruk yang masih di tangan Lyvia.
"Maaf mas....aku gak enak makan..." rengeknya.
"Sudah Nak... jangan dipaksakan, makan saja sesukamu, yang membuat kamu nyaman, yang penting perut terisi... jangan dibiarkan kosong apalagi sampai gak makan." jawaban Mama membuat adrian membelalakkan matanya.
Adrian sendiri merasa heran, Mama bukannya khawatir tapi malah terlihat senang.
"Kamu akan tetap ke kantor...?"
"Iya Mas...aku sudah kasih pengumuman untuk meeting siang ini." jawabnya masih dengan mulut penuh makanan.
Mama yang memperhatikan sikap Lyvia, semakin yakin kalau menantunya itu telah berbadan dua. Dia tidak bisa menelan nasi, tapi lahap menyantap buah.
"Via.... kalau boleh Mama sarankan, pergilah ke dokter... minimal ada nutrisi pengganti nasi." kata Mama memberikan nasehat.
"Iya Ma...nanti Via ke dokter..." jawabnya menenangkan hati Mamanya.
"Ayo berangkat sayang...." apjak Adrian.
Lyvia bangkit dari duduknya, dia teguk minumnya yang masih tersisa.
"Hati-hati ya nak....jangan terlalu capek..." Pinta Mama sebelum berangkat kerja.
"Iya Mamaku sayang...." jawabnya sambil menyambar satu buah apel di meja.
Adrian menggelengkan kepalanya melihat Lyvia berlalu mendahuluinya.
"Ssssttttt......"
Mama memberikan kode dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir, pertanda untuk diam ketika melihat Adrian akan melarang Via melakukan sesuatu.
Melihat kode yang diberikan Mamanya, Adrian hanya mengangkat bahunya, bingung dengan apa maksud Mamanya.
~ -----------------------------
~ -----------------------------
~ -----------------------------
__ADS_1