MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 65. Ya Allah... Selamatkan Anakku....


__ADS_3

Lia dan Adrian menyusuri lorong rumah sakit. Setelah berjalan mencari tempat yang di informasikan oleh Bibi, mereka akhirnya menemukan Mama dan Bibi sedang duduk di ruang tunggu.


 


"Ma.... bagaimana keadaan Lyvia ?"


"Prima...Lia, terimakasih kalian datang Nak... Mama belum tahu keadaan Via, Dokter sedang memeriksanya." kata Mama diiringi suara tangisnya.


"Mama yang sabar ya...?" kata Lia.


"Tentu sayang....kasian Via...." Mama tidak bisa melanjutkan kata-katanya, hanya suara tangis yang keluar dari mulutnya.


 


Ceklekkk.....


Prima segera berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.


"Bagaimana keadaan Lyvia dok ?"


"Apakah anda suaminya ?"


"Bukan...saya kakaknya."


Mama ikut berdiri dibantu Lia dan melangkah mendekati mereka berdua.


"Saya Ibunya Dok...bagaimana keadaan putri saya..."


"Maaf Bu...ada yang harus saya sampaikan, apakah saya bisa berbicara dengan suaminya..."


 


"Ee... suaminya sedang dinas keluar Jawa Dok...saya yang bertanggung jawab atas diri pasien." kata Prima menerangkan.


"Baiklah Bapak....mari ikut saya ke ruangan sebelah kanan."


 


Prima menggandeng Mama mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.


"Silahkan Ibu, Pak."


"Iya, terimakasih Dok."


Dokter membuka lembaran hasil pemeriksaan Lyvia yang diberikan oleh suster.


 


"Bapak....menurut hasil pemeriksaan hari ini dan data dari pemeriksaan bulanan, hari perkiraan lahir Ibu Lyvia masih kurang lebih 6 Minggu ke depan."


"Usia kandungan Ibu Lyvia untuk bulan ini memasuki Minggu ke 31, tapi mengingat kondisi yang beliau alami sekarang, kami team dokter memberikan saran agar bayi yang ada dalam kandungan segera diangkat." kata dokter memberikan keterangan.


"Astagfirullah.... bagaimana ini Prim ?"


"Mama sabar dulu ya."


"Dokter ... apakah dengan operasi sebelum waktu HPL bisa menyelamatkan Ibu dan bayi yang ada dalam kandungannya ?"


"Kita bantu do'a sama-sama, semoga semua berjalan lancar...karena jika kita biarkan dan menunggu sesuai HPL akan beresiko besar terhadap bayi dalam kandungan, jika kita sudah bisa melakukan tindakan terlebih dahulu, kita bisa memantau kesehatan Ibu dan bayinya."


"Baiklah Dok...lakukan apapun yang terbaik menurut team medis."


"Baiklah kalau begitu, kami akan persiapkan segala sesuatu, silahkan Bapak menandatangani surat persetujuan ini."


 


Prima membaca dengan seksama isi surat persetujuan dari pihak rumah sakit.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim."


'Ya Allah....atas izinMu aku mengambil tindakan ini, aku mohon selamat kan Ibu dan bayi yang ada dalam kandungan Lyvia.' bisik prima dalam hati.


 


"Ma....maaf jika prima mengambil keputusan ini..." ucapnya kepada Mama setelah meninggalkan ruang dokter.


"Tidak Nak...kamu telah mengambil keputusan yang tepat, seharusnya Adrian yang ada disini."


 


Masih sama seperti tadi, Mama tidak bisa menahan air matanya. Prima yang sudah seperti putra kandungnya sendiri, segera memeluk dan menenangkan Mama untuk bersabar.


 


"Prim....apa tidak sebaiknya kita hubungi Ibunya Lyvia ?"


"Iya Ma... sebaiknya memang begitu, biar prima jemput saja kerumahnya."


"Nak....tapi Mama mohon, jangan sampaikan perihal Adrian kepada beliau... Mama takut kalau beliau akan marah."


"Prima paham Ma...Apa yang harus Prima lakukan... sebaiknya Mama istirahat terlebih dahulu, biar Lia dan Bibi yang menunggu."


"Tidak Nak... Mama juga akan menunggu disini." ucapnya kekeh.


 


Prima segera melajukan kendaraannya menuju rumah Lyvia. Dalam perjalanan dia mencoba menghubungi Adrian. Nada dering tersambung, tapi tidak ada jawaban.


 


"Siitttt....kemana kamu Adrian, angkat telfonku !" gerutunya sendiri.


 


Tok...tok...tok...


 


"Assalamualaikum...." Prima mengetuk dan mengucapkan salam hampir tiga kali tapi belum ada tanda-tanda mereka membukakan pintu.


 


Dia melirik jam tangannya, sudah hampir jam 11, mungkin mereka sudah tidur.


"Wa'alaikumsalam...." Ibu keluar membukakan pintu ketika Prima mulai akan pergi meninggalkan rumah itu.


 


"Maaf Bu... Prima mengganggu istirahat Ibu."


"Nak Prima.... tidak Nak, ada apa malam-malam begini, mari silahkan masuk Nak."


"Ibu, saya sebagai perwakilan dari keluarga Adrian ingin memberitahukan bahwa pada saat ini Lyvia membutuhkan do'a dan support Ibu, Ibu kami mohon ikut saya ke rumah sakit, karena kondisi Lyvia yang kurang stabil, jadi malam ini dia harus menjalani operasi caesar." jelasnya panjang lebar.


"Astagfirullah....iya Nak, sebentar Ibu siap-siap."


 


Sesampainya di rumah sakit, pemandangan yang menyesakkanpun terjadi. Dua srikandi itu saling berpelukan, saling menguatkan dan saling support untuk kesembuhan putri tercintanya.


Sudah lebih dari dua jam, belum ada tanda-tanda dokter keluar dari ruang operasi. Mereka masih menunggu dengan harap-harap cemas.


Prima berdiri meninggalkan kerumunan empat srikandi yang menunggu di ruang tunggu.


Dia mencoba menghubungi Adrian untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


Tuuutt.... ttuuutt....


(Adrian : "Hallo Prim....ada apa malam-malam begini ?")


(Prima : "Ada apa...ada apa...! emana saja kamu dari tadi tidak angkat telfonku !")


(Adrian : "Aku baru pulang...tadi handphone aku silent.")


(Prima : "Enak-enakan kamu tidur dengan wanita lain, sedangkan istrimu sendiri berjuang antara hidup dan mati !")


(Adrian : "Jaga bicaramu Prim....aku tidak pernah tidur dengan wanita lain, tapi....ada apa dengan Lyvia ?")


(Prima : "Apa kamu masih peduli dengan keadaannya...jika ya, pulanglah...dia sedang dalam penanganan dokter, berjuang untuk melahirkan buah hati kalian.")


Nada bicara Prima yang tadinya meninggi gini sudah mulai reda, setelah mendengar penegasan dari Adrian kalau tidak ada wanita lain baginya.


(Adrian : "Besok urusanku sudah selesai, dan aku akan segera kembali Prim.")


(Prima : "Baguslah...jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.")


kata Prima menyudahi obrolannya.


Ooeeekkk....ooeeekk....


Suara itu, suara tangis seorang bayi dari ruang operasi. Tapi suaranya lirih hampir tak terdengar.


Sontak mereka berdiri dan memperhatikan pintu ruang operasi yang masih belum bergerak terbuka.


Ceklekkk....


Seorang dokter keluar dari balik pintu penghubung ruang operasi.


"Keluarga Ibu Lyvia."


"Iya...kami sus." jawab mereka hampir bersamaan.


 


"Alhamdulillah.... operasi berjalan lancar, bayinya juga sehat, tapi kami harus lakukan observasi lebih lanjut."


 


Bersamaan dengan itu seorang suster membawa bayi Lyvia ke ruang khusus bayi, setelah dilakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini.


 


"Lalu... bagaimana dengan Ibunya Dok ?" tanya Mama cemas.


"Alhamdulillah.... Ibunya juga dalam kondisi stabil, tapi masih belum sadarkan diri."


"Apakah kami boleh melihatnya ?"


"Silahkan... untuk babynya di ruang khusus bayi, bisa dijenguk satu persatu...kalau ibunya nanti setelah kami pindahkan ke ruang perawatan."


"Terimakasih Dok." kata Prima yang saat ini berperan sebagai kepala keluarga.


 


Mereka berjalan menuju ruang khusus baby.


Prima satu-satunya Imam disitu, dia melantunkan suara adzan di telinga sebelah kanan.


Sesuai ajaran Islam ketika bayi yang baru lahir perlu di adzankan untuk mengusir setan. Adzan dikumandangkan di telinga sebelah kanan baik pada bayi laki-laki maupun perempuan. Adzan juga bermanfat untuk menanamkan benih keimanan dalam hati bayi sejak kecil.


~ ----------------------------------


~ ----------------------------------

__ADS_1


~ ----------------------------------


__ADS_2