
Subhanallah....betapa gantengnya kamu Nak... hidungmu mancung, bibirmu manis persis seperti Adrian..." bisik Prima.
"Adrian... Ibu belum melihatnya dari tadi, apakah Adrian ada di ruang operasi bersama Lyvia...?" tanya Ibu yang baru menyadari ketidak beradaan Adrian.
"Ibu....maaf kalau saya lancang mengadzani putra Adrian, karena saat ini Adrian sedang tidak ada ditempat, Adrian sedang melakukan dinas keluar Jawa. Insha Allah lusa dia sudah kembali..."
"Tidak apa-apa Nak....maaf, ibu tidak tahu..."
Mama yang mendengar penjelasan Prima, sontak terkejut dan segera mendekatinya untuk mengetahui kebenarannya.
"Prima...apa yang Mama dengar tadi benar, kalau Adrian bisa segera pulang...?"
"Iya Ma...tadi sebelum putranya lahir, Prima sempat menghubunginya, besok setelah urusannya selesai, dia segera terbang kembali ke kota ini."
"Alhamdulillah.... Mama senang mendengarnya..."
"Mas....Mama, Ibu....Via sudah dipindahkan ke kamar perawatan." kata Lia yang ikut suster membantu pemindahan Lyvia dari ruang operasi ke kamar perawatan.
Mereka segera berhamburan menuju kamar Lyvia.
"Sampai kapan dia akan segera sadar Sus...?"
"Kita tunggu kurang lebih 2 jam Bu...kalau lebih dari 2 jam belum sadarkan diri, segera hubungi Dokter..."
"Baiklah... terimakasih Sus..."
Keletihan terlihat di raut wajah Mama.
"Ma.... Mama belum tidur sama sekali, Mama istirahat dulu, biar Ibu yang menggantikan menunggu Lyvia..."
"Gakpapa Nak... Mama ingin melihat Via bahagia ketika membuka matanya..."
"Nak Prima betul Bu... Ibu istirahat dulu, nanti saya kabari kalau Lyvia sudah terbangun.." kata Ibu membenarkan ucapan Prima.
"Baiklah...biar Bibi yang menemani Ibu besan disini, Lia...kamu juga harus pulang Nak...kasian putramu di rumah."
Akhirnya Mama pulang bersama Prima dan istrinya.
'Alhamdulillah Ya Allah....telah Engkau permudah jalan hidup kami...' ucap Mama yang tak henti-hentinya bersyukur dalam hati.
*****
Sementara itu di sebrang pulau jawa, Adrian bersiap untuk kembali ke kotanya.
"Mas.... terimakasih banyak atas bantuannya, sehingga aku bisa berkumpul lagi dengan keluarga terutama dengan suamiku..." ucap Sofia sebelum Adrian meninggalkan kota itu.
"Sama-sama Sofia....Bapak, Ibu, Mas Bari...saya pamit dulu, mohon doanya untuk kesembuhan istri saya..." pamitnya kepada keluarga besar Sofia.
"Tentu Nak...kami sangat berterima kasih atas semua pengorbanan Nak Adrian..." kata Ibu Sofia.
"Iya Mas...saya sebagai suami Sofia merasa malu setelah menelantarkan Sofia selama ini..." imbuh suami Sofia.
"Tidak apa-apa Mas, kita manusia memang banyak salah, begitupun dengan saya saat ini...maka dari itu, saya akan segera pulang untuk menyelesaikan permasalahan saya sendiri..." jawabnya
"Maafkan Sofia ya Mas...karena Sofia, keluarga Mas Adrian jadi salah paham...eh... ngomong-ngomong, ada apa dengan Lyvia Mas...?"
"Semalam Prima menghubungiku, Lyvia masuk rumah sakit, bayi kami harus diangkat karena suatu hal yang terjadi pada Ibunya..."
"Ya Allah...semoga Ibu dan bayinya sehat Mas..." doa Sofia untuk kesembuhan Lyvia.
Adrian segera menuju Bandara, setelah memesan tiket secara online sebelumnya.
__ADS_1
Dia tinggalkan hiruk pikuk permasalahan yang membuatnya menghadapi masalah sendiri dalam rumah tangganya.
*****
Hingga subuh tiba, Lyvia masih belum sadarkan diri. Dokter sudah memeriksa kondisi kesehatannya.
"Sudah saya periksa, ditunggu ya Bu... semoga Ibu Lyvia segera sadar..." kata Dokter saat itu.
Pagi itu, Mama sudah berada kembali di rumah sakit bersama Prima, setelah mendapatkan kabar dari Bibi kalau Lyvia belum sadarkan diri.
"Sayang...bangun Via, putramu menunggumu...dia ingin merasakan gendonganmu..." ucap Mama lirih nyaris tak terdengar.
'Lyvia sadar Ma...Via mendengar ucapan Mama, tapi via tidak bisa membuka mata...' kata hati Lyvia.
Tiba-tiba ada setitik air keluar dari ujung mata Lyvia.
Ibu mengusap lembut pipi Lyvia yang basah.
"Bangun Nak...jangan buat kami takut..."
"Prima...panggil dokter nak, Lyvia menitikkan air mata..."
Tak berapa lama, Dokter memeriksanya kembali.
"Maaf Pak...boleh saya bicara sebentar...?"
Prima segera beranjak menuju ruang dokter, untuk mendapatkan informasi tentang Lyvia.
"Terimakasih Dok... bagaimana kondisinya saat ini Dok...?"
Dengan telaten dokter menjelaskan bahwa Lyvia saat ini sedang dalam keadaan koma.
"Kami hanya butuh do'a dan support dari keluarga, semoga masa kritis ini segera berlalu..."
"Terimakasih atas informasinya Dok..."
Sengaja dokter tidak memberitahu kan hal tersebut kepada Ibu dan Mamanya, karena mengingat usia mereka rawan sekali shock dan tidak bisa menerima keadaan.
"Prima... bagaimana Nak, apa kata Dokter...?"
"Ma... Ibu, yang sabar ya...kita support terus dan bantu do'a, supaya Lyvia bisa melewati masa kritisnya."
"Maksud kamu...apa Via sekarang dalam kondisi koma...?" tanya Mama.
"Iya Ma...."
"Astagfirullah..." Ibu yang mendengar hal itu, tersentak kaget hingga membungkam mulutnya sendiri.
"Mama...Prima tinggal dulu ya, nanti Prima akan kembali lagi setelah membereskan pekerjaan kantor..."
"Iya Nak... Terimakasih banyak Nak..."
"Iya Ma....jangan lupa segera hubungi Prima, mengenai perkembangan Lyvia..."
__ADS_1
Siang itu prima masih berkutat dengan tugas negaranya. Sampai detik ini, belum ada kabar tentang perkembangan kesehatan Lyvia.
("Hallo sayang....") jawab prima ketika istrinya menelfon.
("Mas....bagaimana keadaan Lyvia...?")
("Lyvia koma sayang...dan sampai saat ini belum ada kabar baik tentangnya...")
Jawaban suaminya membuat Lia menangis. Bagaimanapun dia harus banyak bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan. Jika dia berada pada posisi Lyvia, mungkin dia tak akan sanggup menghadapinya.
Selesai membereskan pekerjaannya, Prima akan kembali lagi ke rumah sakit, sebelum seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk...."
"Prim..." ucapnya lirih.
"Adrian...." panggil Prima setengah berbisik.
Tapi prima tidak mau berbasa-basi dan membuang waktu, mereka segera berangkat menuju rumah sakit.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari kedua bibir mereka.
Ceklekkk....
"Ibu..." Adrian bersimpuh di kaki Ibu Lyvia.
"Adrian... berdirilah Nak..."
"Maafkan Adrian Bu...Adrian tidak bisa menjaga Lyvia..."
"Sudahlah...yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa, memohon agar Lyvia segera diberi kesembuhan..."
Adrianpun berdiri mendekati ranjang istrinya.
"Sayang maafkan Mas... Mas janji, tidak akan pergi meninggalkanmu lagi..."
Adrian memegang erat tangan Lyvia. Dia mengusap pipi Lyvia yang mulai basah dengan air mata.
'Kau pulang Mas...tapi jika kepulanganmu hanya akan menambah perih dalam hatiku, pergilah ...aku tidak mengharapkan kau kembali...' bisik hati Lyvia.
"Dok.... bagaimana keadaannya, kenapa air matanya mengalir...?" tanya Adrian kepada Dokter yang kebetulan memang waktunya jam pemeriksaan.
"Gakpapa Pak...itu wajar, sebenarnya di alam bawah sadarnya dia bisa mendengar dan merespon dengan keluarnya air mata."
Adrian memahami keterangan yang dokter berikan.
'Ya Allah...ampuni aku, aku telah membuat orang yang aku sayangi menderita...'
"Ibu...dimana putraku...?"
"Ada di ruang khusu baby Nak..."
"Lalu Mama....?"
"Mama pulang, diantar pak To..."
Adrian mohon izin untuk menengok bayinya.
'Subhanalloh....putra Ayah begitu ganteng...'
Setelah puas dengan menggendong bayinya, Adrian kembali ke ruang perawatan Lyvia untuk berpamitan kepada Ibu dan meminta Prima mengantarkannya pulang bertemu Mamanya.
~ --------------------------------
~ --------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------