MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 55. Tujuh Bulanan


__ADS_3

Lyvia belum mendapatkan suaminya di kamar, dia masih berada di kamar mandi. Padahal sudah lama sekali dia berendam, sampai-sampai Lyvia mengalah dan mandi di kamar mandi Mamanya.


Tok...tok... tok....


 


"Mas....apa Mas perlu bantuan...?" suara Lyvia menyadarkan lamunannya.


"Ohh... tidak sayang, Mas hampir selesai..."


 


Dia bilas badannya di shower dan diraihnya handuk yang disiapkan Lyvia.


Adrian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.


"Mas lama sekali mandinya..." tanya Lyvia heran.


 


"Biar rontok semua dosa di tubuh Mas..." jawabnya membuat Lyvia lebih heran lagi.


"Ngomong apa sih...dari tadi ngelantur saja.."


 


Diraihnya tubuh Lyvia dalam pelukannya.


"Gakpapa ...Mas cuma suka menggodamu.."


'Senyum itu...senyum itu yang selalu membuatku kangen...senyum itu yang membuatku takut kehilanganmu Mas...' bisiknya dalam hati.


 


"Ayo kita turun Mas... Mama sudah menunggu untuk makan malam..."


 


Adrianpun turun dengan menggandeng istrinya.


 


"Rian...besok kamu ambil cuti kan...?" tanya Mama


 


"Iya Ma....besok Adrian cuti, anak-anak besok juga pada kesini... tapi mungkin malamnya, kebetulan besok Sabtu jadi sekalian bisa malam Mingguan disini."


 


"Iya... acaranya besok mulai dari jam 6 pagi, bapak-bapak membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan dengan acara tradisi brojol dan siraman." terang Mama.


"Iya Ma....Adrian nurut aja, Adrian mah mana tahu acara begituan..."


 


'Memang ada yang gak beres dengan suamiku. Tidak biasanya dia jawab acuh seperti itu, apalagi dengan Mamanya....' gumam Lyvia dalam hati.


Sejak keberadaannya di meja makan, Lyvia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia hanya mencerna percakapan kedua orang yang dia sayangi ini.


 


"Via...jangan tidur terlalu malam ya Nak, jaga kesehatanmu..."


"Iya Ma...."


 


Dia bantu Mamanya membersihkan meja makan sebelum akhirnya kembali ke kamarnya.


Adrian masih di ruang kerjanya, ketika Lyvia sudah tidak bisa menahan kantuknya.


***


Tepat pukul 3 dini hari, Lyvia terbangun. Dia tidak mendapati suaminya di ranjang.


'Kemana Mas Adrian....?' bisiknya dalam hati.


Lyvia mencoba mendekati ruang kerja Adrian. Terdengar dia sedang menghubungi seseorang.


'Jam segini....siapa yang dia telefon...?'


 


("Baiklah lusa aku bisa...kalau besok aku masih ada acara...")


("Ya sudah, segera tidur...sudah larut, gak baik untuk kesehatan...")


 

__ADS_1


Itu yang samar-samar Lyvia dengar. Dia sedang memperhatikan seseorang dan memintanya untuk tidur, sedangkan dia sendiri masih terjaga.


'Ya Allah...kenapa hatiku tiba-tiba terasa sakit, siapa yang dia hubungi malam-malam begini....' gejolak dalam hati Lyvia.


Aku harus tetap tenang, positif thinking Lyvia.


Ceklekkk....


Adrian terlihat kaget, ketika Lyvia membuka pintu ruangannya.


"Sayang....kenapa bangun...?" tanya Adrian sembari meletakkan handphonenya dan mendekati Lyvia.


'Bismillah.....jangan jutek Lyvia...' pinta Lyvia dalam hati.


 


"Mas sendiri kenapa jam segini belum tidur....?" tanya Lyvia berusaha manja.


"Mas masih ada sedikit pekerjaan...sini, Mas gendong biar bisa lekas bobok..."


 


Lyvia menurut, seperti biasa dia bergelayut manja di leher suaminya.


 


'Aku ikuti permainanmu Adrian...jangan pernah sakiti aku, atau kau akan merasakan lebih sakit dari yang aku rasakan...'


'Huusss....jangan bicara begitu tetap positif thinking Lyvia...' dialog hati Lyvia.


 


Adrian meletakkan kembali istrinya di ranjang. Lyvia membelakangi suaminya dan Adrianpun tertidur memeluk Lyvia dari belakang.


***


Lyvia tidak bisa memejamkan matanya, entah apa yang dia fikirkan, sampai akhirnya adzan subuh terdengar di telinganya.


Lyvia melepaskan pelukan Adrian. Dia pergi mandi dan sholat subuh sendiri. Sengaja tidak dia bangunkan suaminya.


 


"Sayang....mana suamimu, dia harus siap... sebentar lagi pak Ustadz datang...."


"Masih tidur Ma...semalam Mas Adrian tidur jam 4 pagi."


 


 


"Mbak Via...bersiap saya rias dulu..." kata Mbak Yayuk, perias pengantin sebelah rumah.


"Lyvia....biar Mama yang bangunkan Adrian, kamu ikut Mbak Yayuk di kamar tamu ya..."


 


Lyvia mengangguk, menyetujui permintaan Mama.


Dengan wajah geram, Mama pergi ke kamar Adrian.


 


"Adrian..... Adrian.....! apa yang kamu lakukan, sudah siang..." kata Mama sedikit mengeraskan nada bicaranya.


"Astagfirullah....sudah subuh, Lyvia mana Ma...?"


"Ini sudah hampir pagi...lekas bersihkan dirimu, sebentar lagi pak Ustadz datang."


 


Adrian bergegas mandi dan sholat subuh meskipun dilihatnya sudah pukul 05.30 wib.


Dengan mengenakan jas koko yang sudah disiapkan Lyvia sebelumnya, dia menyusul istrinya ke lantai bawah.


 


"Lyvia dimana Ma....?"


"Masih di rias di kamar tamu..." jawab Mama sedikit kesal.


 


Adrian menuju ruang tamu, di sana sudah ada beberapa tamu yang hadir. Mama dan Ibu mertuanya juga sudah berkumpul dengan para undangan jama'ah pengajian ibu-ibu.


Acara sudah dimulai, diawali dengan pengajian yang dipimpin oleh Pak Ustadz.


Usai pengajian, pembawa acara meminta untuk calon ayah membawa calon ibu ke tempat prosesi siraman.


Adrian menjemput Lyvia yang telah selesai di rias.

__ADS_1


"Ayo Mbak Via...sudah waktunya keluar..."


"Iya Mbak....boleh kasih saya beberapa lembar tisu...?" pintanya kepada Mbak Yayuk.


 


"Ayo tersenyum jangan menangis...dari tadi lempeng aja wajahnya..." kata Mbak Yayuk menghiburku, sambil menyisipkan beberapa tisu di tanganku.


 


Adrian datang menjemputku ketika kami sudah bersiap untuk keluar.


"Ayo Mas Adrian... digendong istrinya..." kata Mbak Yayuk.


Adrian mulai menggendong istrinya, Lyvia pun mengikuti rentetan acara dengan baik.


"Sayang....kamu cantik banget hari ini..." bisik Adrian.


Namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibir cantik istrinya. Wajahnya masih tegang, pandangannya kosong. Entah apa yang sedang dia fikirkan.


Adrian mendudukkan istrinya di kursi pelaminan yang sudah disediakan. Tangis Lyvia pecah ketika prosesi sungkeman dilaksanakan.


Mama... yang sudah mulai dekat dengannya, bisa merasakan makna dari tangis Lyvia. Kali ini tangisnya bukan tangis kebahagiaan, tapi lebih ke tangis yang tertahan.


Acara selanjutnya Siraman.


Lyvia masih berlinangan air mata ketika Mama, Ibu dan suaminya bergantian menyiramkan air bunga mawar kepadanya.


Usai siraman, Lyvia berganti baju dan melanjutkan dengan prosesi jenang brojol. Hal ini dimaksudkan agar kelahiran jabang bayi tidak rewel dan tanpa kendala.


Ketika acara ramah tamah, para undangan di suguhkan dengan keahlian Mama dan Ibunya dalam berjualan rujak dan dawet. Itu juga bagian dari tradisi yang harus dilestarikan.


Adrian yang dari tadi mendampingi Lyvia, sudah mulai resah karena dering handphonenya yang tak henti-hentinya berbunyi.


 


"Kenapa gak diangkat Mas....?" Tanyaku setengah berbisik.


"Gakpapa sayang....gak penting..."


 


jawaban Adrian membuat kepala Lyvia pusing. Kelihatan sekali kalau dia sedang menahan amarah dan menahan tangisnya.


 


"Mbak Yayuk...." panggilnya.


"Ya Mbak...."


"Apa saya sudah boleh ke kamar....? kepalaku pusing..."


"Iya .... gakpapa Mbak, jangan dipaksakan... Mbak Via istirahat dulu saja..."


 


Lyvia tidak menjawab apa-apa, dia berlalu menuju kamarnya.


"Sayang....sayang...kenapa...?" tanya Adrian mengikuti.


 


"Gakpapa....aku cuma sedikit pusing..."


"Biar Mas antar ke kamar..." katanya sambil memegang lengan Lyvia.


"Gak usah...Mas temani para tamu saja." elakku sambil kutepis tangannya.


 


Adrian menghentikan langkahnya, dan memandangi kepergian Lyvia sampai tak terlihat di balik pintu.


Adrian mengintip handphonenya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Sofia.


'Ada apa lagi ni orang...? tidak tau apa kalau aku lagi sibuk...' gerutunya dalam hati.


Hingga acara usai, Lyvia tidak keluar dari kamarnya. Hanya Mama, Ibu dan Adrian yang mewakili menghantarkan kepulangan para tamu.


 


"Adrian....coba lihat Lyvia, apa dia sudah makan tadi ...?" tanya Mamanya.


 


Adrianpun bergegas menuju kamarnya. Tapi Lyvia memejamkan matanya. Wajahnya kelihatan merah merona, matanyapun terlihat sembab. Kelihatannya dia habis menangis.


Adrian hanya mengelus wajah Lyvia, dia tidak berani membangunkannya. Pandangan matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya.


~ -----------------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------------


~ -----------------------------------


__ADS_2