
"Pagi Ma....pagi Bi...." sapa Lyvia yang melewati mereka di dapur, menuju ke ruang loudry untuk mencuci pakaian dan popok Al.
"Pagi sayang..." sambut mama.
Diluar masih terlihat gelap, Namun wajah Lyvia pagi ini sudah nampak terang dan segar dengan rambut basah tergerai.
Mama dan Bibi mulai berbisik, saling pandang dan saling tersenyum bahagia.
"Kelihatannya...Nyonya akan dibuatkan cucu lagi, biar lebih ramai..." komentar bibi waktu itu.
"Kelihatannya begitu Bi....kita tunggu aja bagaimana wujud pejantannya..." bisik Mama kepada Bibi.
"Iiihihihihihixixixixixxiiii....." mereka sempat tertawa ngikik dan membuat Lyvia curiga.
"Ma...Bi...ada apa...?"
"Eehhh...gak papa sayang, ini bibi mau ngupas kunyit keliru jahe..." jawab Mama asal.
Bibipun mengiyakan ucapan Mama. Lyvia tahu kalau mereka sedang berbohong. Dia hanya menggelengkan kepala mengomentari percakapan mereka.
"Bunda... dede' Al nyariin..." kata Adrian menuruni tangga sambil menggendong putranya.
"Sini-sini.... sebentar Oma cuci tangan dulu...."
Mama menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Lengannya sempat menyenggol tangan bibi memberi kode untuk melihat penampilan Adrian pagi itu.
"Betul kan kata saya ... pejantannya juga basah..." bisiknya kepada Bibi.
Bibi hanya tertawa kecil sembari melirik Adrian yang sibuk menimang putranya.
"Ahh... Nyonya ada-ada saja..." percakapan mereka yang menimbulkan suara tawa kecil di dapur.
"Uuhhh....cucu Oma, pagi-pagi sudah segar, boboknya nyenyak ya semalam..."
Seperti biasa...Oma mengajak Al untuk menikmati sinar matahari pagi.
Adrian menyusul istrinya yang sedang menjemur pakaian di belakang.
"Ada yang bisa Mas bantu...?" tanyanya menggoda.
"Ahahahha...sejak kapan Mas bantu menjemur pakaian...?" balas Via meledek.
"Sejak pandangan mata ini tidak bisa lepas darimu..." gombalnya lagi.
"Berati sempat pernah lepas dong....?" ucapnya yang membuat Adrian mati kutu.
"Hhhhhmmmmm....gak ngegombal lagi dech..." komentarnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Lyvia sempat tertawa lepas melihat tingkah aneh suaminya. Adrian mendekati Lyvia dia peluk istrinya dari belakang yang sedang menjemur baju terakhir di tangannya.
"Aku suka kamu yang seperti ini...selalu ceria dan menikmati hidup..." bisiknya mesra.
"Udah ahh...." jawabnya singkat sambil berlalu membawa keranjangnya kembali ke kamar.
"Sayang.... masih jutek saja..." Lyvia tak menyadari kalau Adrian mengikutinya.
Ceklik...ceklik...
"Mas.... kenapa dikunci..." tanyanya melotot.
"Aku perlu waktu intensif dengan kamu..."
"Sudah siang, Mas gak kerja..."
"Suka-suka aku lah..."
__ADS_1
Dia menggoda istrinya, yang digoda pun semakin lama semakin merasa risih.
"Iya...iya...iya... Mas maunya gimana...?
"Kembali lah seperti Lyvia yang dulu..." pintanya.
"Apa...Adrian sendiri bisa jadi Adrian yang dulu... yang selalu perhatian dan siaga untuk Lyvia...?" tanyanya kembali.
"Aku akan buktikan itu...."
Ucapan Adrian diikuti dengan gerakan intim kepada Lyvia.
"Mas...udah ahh, udah siang..."
"Aku tidak akan lepas, kalau kamu belum janji...."
Lyvia mengernyitkan dahinya.
"Janji apa....?"
"Janji jangan pernah jutek lagi dan ....."
"Dan apa...?"
"Pergilah ke dokter kandungan untuk berkonsultasi..."
"Buat apa....?"
"Buat dirimu nyaman saat bersamaku...jangan sampai disaat lagi asyik-asyiknya kamu cegah aku seperti semalam..." bisiknya lagi.
"Hhhhmmmmm...."
"Kok Hhmmm....janji dulu..."
"Iya janji..." jawabnya geram.
"Nah gitu dong.... senyumnya mana...?"
"Udah ahh sana udah siang..."
"Senyum dulu...."
"Garing amat senyumnya..."
*****
Adrian segera berangkat ke kantor dan beraktivitas seperti biasa.
"Ma...Al sedang tidur, Via tinggal ke dokter dulu ya..."
"Ke dokter...via sakit...?"
"Enggak Ma...Via mau konsultasi mengenai program Keluarga Berencana..."
"Alhamdulillah.... jadi kalian sudah...." komentar Mama sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Iiihhh.... Mama apaan sih..." ucapnya sembari tersenyum malu.
"Mama ikut senang Via...biar rumah ini selalu terpancar kebahagiaan..."
"Aamiin...." jawabku mengamini do'a Mama.
"O ya...kalau begitu, bawa Al ke box kamar bawah aja, biar Mama bisa pantau kalau dia terbangun..."
Kebetulan memang box baby Al ada 2, yang satu Mama yang belikan, yang satunya lagi kado dari Yang Ti...jadi Al bisa tidur di Boxnya kalau pas lagi di lantai bawah.
Seperti yang disarankan suaminya, Via segera berkonsultasi dan mengikuti anjuran dokter.
Selesai dari dokter, dia sempatkan untuk ke supermarket membeli beberapa keperluan Al yang sudah menipis.
"Selamat siang Bunda Cantik...." sapa Mbak Lia yang kebetulan ada di situ juga.
"Mbak Lia.... sendirian saja, mana kakak Gibran...?"
"Lagi di kantor ikut Papanya....kamu juga sendiri...?"
"Iya Mbak...Al sedang tidur tadi pas Via pergi..."
"Habis ini mau kemana...?"
__ADS_1
"Gak kemana-mana Mbak, langsung mau pulang..."
"Ikut aku sebentar yuk..." ajak Lia
"Kemana....?"
"Udah...ikut saja..." paksanya kemudian.
Lyvia mengikuti saja ajakan Lia, toh sudah lama mereka tidak pergi-pergi. Semenjak pikirannya kacau perihal Adrian, Lyvia lebih banyak mengurung diri di rumah.
"Kita ke kantor dulu ya...." kata Lia setelah mereka membayar belanjaannya.
"Mbak Lia naik apa...?"
"Jalan kaki...biar sehat..."
Supermarket yang aku tuju memang tak jauh dari kantor Mas Adrian dan Prima, jadi mbak Lia cuma jalan kaki ke tempat itu.
Akhirnya mereka pergi bareng menuju kantor Adrian.
"Hallo kakak Gibran, nakal gak sama Papa...?" sapa Mbak Lia setelah menjumpai putranya di ruangan Prima
"Enggak Ma...kakak jiban pintel bantuin Papa..." jawabnya masih dengan bahasa yang belum fasih.
"Hai... Nyonya Adrian ada disini...?" sapa Prima.
"Iya Mas... kebetulan tadi ketemu Mbak Lia di supermarket."
Adrian juga muncul dari balik pintu ruangan Prima.
"Sayang....kok sudah sampai sini, baru saja Mas mau jemput..."
"Tadi habis dari dokter, kebetulan ketemu Mbak Lia di supermarket..." katanya menjelaskan.
"Dari Dokter....kamu sakit Via...?" tanya Lia.
"Eng...enggak Mbak, cuma konsultasi program Keluarga Berencana."
"Eeehhhmmmm....ada yang udah gak betah berlama-lama ya..." ledeknya
Akhirnya mereka keluar ke sebuah restoran seafood yang sudah di booking oleh Prima.
"Kita mau ngapain kesini Mas...?" tanya Lyvia yang kebetulan cuma berdua membawa mobil Lyvia.
"Gibran ulang tahun ke 2 hari ini..." jelas Adrian
"Lah...kok Mas gak bilang, mana kita gak bawa kado lagi..."
"Mas juga baru tahu sayang....gakpapa nanti kadonya menyusul..."
"Mas duluan, biar aku telfon Mama dulu...nanti Mama nyariin..."
"Mas udah telfon Mama sayang...ayo turun."
Adrian memang sempat telfon ke rumah, ketika handphone Lyvia tidak bisa dihubungi. Bermaksud untuk memberitahukan kalau dia akan jemput untuk makan siang atas undangan Prima.
Via mengikuti langkah Adrian, tangan Adrian mesra menggenggam tangan Lyvia.
"Selamat datang Tante..Om..." sapa Lia yang sudah duluan masuk.
"Happy birthday kakak Gibran ...maaf Tante gak tahu, jadi Tante belum bawa kado ini..."
"Gakpapa Tante..."
"Nanti kadonya menyusul ya..." sambung Adrian.
Acara yang sederhana, sekedar makan-makan bersama dan menyenangkan Gibran putranya.
~ -------------------------------------
~ -------------------------------------
~ -------------------------------------
__ADS_1