MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 60. Persalinan Sofia


__ADS_3

 


Lyvia....ibarat bunga sudah habis madunya dihisap kumbang jantan. Namun bunga itu masih ranum meskipun tanpa madu.


 


Sapanya yang santun dengan senyum yang selalu mengembang. Memikat setiap mata yang memandang.


 


"Subhanallah....Nyonya Adrian, semakin cantik saja...." sanjung para Ibu-ibu yang hadir.


"Pak Adrian ganteng, Bu Lyvia juga cantik...pasti nanti dedek bayinya juga cakep..." sambung yang lainnya.


 


Adrian junior yang masih dalam kandungan, menjadi primadona setiap mata yang memandang.


Banyak ungkapan do'a dan kasih sayang tercurah melalui elusan setiap tangan yang menyapa.


'Sayang....disini banyak yang menyayangimu Nak... tumbuhlah dengan sehat, jadilah anak yang kuat...' ungkapnya dalam hati.


Tangan Lyvia tak henti-hentinya mengusap lembut perutnya.


Dia ikuti kegiatan hari ini dengan lancar.


Tidak sedikitpun tersirat rasa gundah dihati, semua sirna dengan kegembiraan hari ini.


***


Sedangkan di kantor Adrian sempat kaget ketika pintu ruangannya diketuk seseorang dan Sofia yang ada di balik pintu itu.


 


"Mas...maaf aku hanya mengantarkan sarapan..."


"Sofia...aku minta maaf, tapi aku mohon pulanglah...istriku sedang berada di sini mengikuti agenda rutin bulanan, aku tidak mau dia salah paham..."


"Iya Mas....aku akan pergi, tapi aku mohon jangan cegah aku untuk memberikan perhatian lebih kepadamu, ini semata-mata sebagai tanda terimakasihku karena kau sudah membantuku..."


 


Adrian tidak bisa mengatakan apa-apa mengenai hal itu. Sofia segera berpamitan sebelum mendapatkan jawaban darinya.


Namun diluar dugaan, Sofia terduduk di ambang pintu sambil memegang perutnya.


"Sofia....kamu kenapa...?"


"Aacchhh....perutku, sakit sekali Mas..."


Adrian kebingungan, dia memanggil salah satu stafnya untuk membantu membawanya ke rumah sakit.


Dia tak henti-hentinya mengaduh ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Sabar Sofia.... sebentar lagi sampai..."


Beberapa perawat membantunya ketika mobil Adrian memasuki ruang UGD.


"Apakah Bapak suaminya...?" tanya seorang perawat kepada Adrian.


 


"Maaf...bukan Sus..."


"Kalau begitu mohon tunggu di luar, biar kami memeriksanya terlebih dahulu."


"Adrian....." panggil Sofia.


"Ya...."


"Jangan tinggalkan aku...."


 


Namun Adrian tetap melangkahkan kakinya keluar ruang pemeriksaan tanpa menghiraukan permintaan Sofia.


Adrian masih tertegun di ruang tunggu, menunggu hasil pemeriksaan dokter.


Kring....kring...


°Prima°


Nama itu nampak dilayar handphonenya.


Adrian : "Hallo Prim..."

__ADS_1


Prima : "Dimana...?"


Adrian : "Aku.... aku di rumah sakit,


kelihatannya Sofia mau melahirkan..."


Prima : "Dirumah sakit....Ya Allah Adrian, apa


kamu tidak sadar kalau istri kamu


sedang berada disini..."


Adrian : "Iya Prim....aku tahu, tapi bagaimana


aku bisa kembali, sedangkan dia


sedang membutuhkan aku disini.."


Prima : "Jadi benar...kamu lebih memikirkan


dia dibandingkan istrimu sendiri...?"


Adrian : "Bukan begitu Prim...kamu tidak


mengerti ....? Ini begitu rumit,


biarkan aku menyelesaikannya


terlebih dahulu..."


Prima : "Rumit...karena kamu sendiri yang


membuatnya menjadi rumit...."


Tut...tut...tut... Prima menutup sambungan teleponnya.


"Hallo Prim...hallo....!"


Terlambat, mungkin dia lebih marah dibandingkan hari kemarin.


"Hhhhuuuuufffff....." Dia menghela nafas panjang.


Ceklekkk....


 


"Apa Bapak suaminya...?"


"Bukan Dok....saya saudaranya, suaminya sedang berada di luar Jawa..."


"Lalu kepada siapa saya mengkonfirmasi keadaannya...?"


"Maaf Dok....saya yang bertanggung jawab atas biaya persalinannya, jadi dokter bisa sampaikan bagaimana keadaannya kepada saya..." terangnya.


"Baiklah Pak...mari ikut saya ke ruangan sebelah."


 


Adrian mengikuti langkah dokter menuju ruangannya.


 


"Jadi begini Pak Adrian...Ibu Sofia sedang mengalami kontraksi, kita tinggal menunggu sampai pembukaan komplit untuk membantu persalinannya...tapi saat ini tensinya sedikit tinggi dan detak jantungnya juga lebih cepat, hal itu tidak memungkinkan beliau untuk bersalin secara normal..."


"Lalu bagaimana Dok...?"


"Kita tunggu dulu Pak...sampai pembukaan komplit, semoga semua kembali stabil...tapi jika hal itu tidak terjadi, maka kita harus mengangkat bayinya...."


"Maksudnya operasi Dok...?"


"Iya Pak..."


"Lakukan saja bagaimana baiknya menurut Dokter...saya hanya bisa membantu biaya persalinannya."


 


Tok...tok...tok...


 


"Dokter.... pasien atas Ibu Sofia, sudah mengalami pembukaan komplit dan Alhamdulillah kondisinya stabil..."


"Baiklah...kita bantu persalinannya..."


 

__ADS_1


Adrian menunggunya dengan sedikit rasa cemas.


'Ya Allah.... lancarkan persalinannya, biar aku bisa segera mempertemukannya dengan suami dan orang tuanya....' gumamnya dalam hati.


Hampir 2 jam, Adrian mondar-mandir di depan ruang bersalin.


Ooeeekkk....ooeeekkk....


Terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin.


"Selamat Pak...bayinya sudah lahir, perempuan berat 31 kilo." kata suster


 


"Lalu... bagaimana keadaan Ibunya Sus..."


"Sebentar ya Pak....dokter masih menanganinya... Ibu Sofia masih belum sadarkan diri..." jelas suster.


"Astagfirullah.... Sus....lakukan yang terbaik untuknya..." pinta Adrian.


"Kami usahakan Pak...mohon bantu do'a.."


 


Adrian mengacak rambutnya sendiri.


'Kenapa jadi serumit ini, selamatkan dia Ya Robb..' bisik hati Adrian.


Suster membawa bayinya ke ruang khusus untuk perawatan bayi. Adrian melihatnya dari balik kaca.


'Kasihan kamu Nak...semoga ayahmu segera sadar dan mengakuimu sebagai darah dagingnya...' batinnya dalam hati.


***


Sementara itu, Lyvia yang sudah menyelesaikan acaranya, bermaksud kembali ke ruangan Adrian.


Namun dia tidak mendapati suaminya di sana. Hanya ada satu rantang berisi nasi rendang komplit tergeletak di meja.


 


"Pak Anton....maaf, apa anda melihat mas Adrian...?" tanyanya kepada salah satu staf disana.


"Loo....ini Bu Lyvia, la yang dibawa Pak Adrian tadi siapa...?" tanyanya balik.


"Maksudnya gimana ya Pak....?"


"Iya....tadi Pak Adrian minta dibantu membawa seorang wanita yang mau melahirkan untuk dibawa ke rumah sakit, saya fikir tadi Bu Lyvia..."


"Ohh...iya Pak, mungkin itu sepupu kami yang mau Melahirkan, biar saya hubungi Mas Adrian, terimakasih...."


 


Lyvia kembali terduduk di sofa ruangan Adrian. Rasanya dia sudah tidak bisa berfikir apa-apa.


Apalagi ketika dia coba hubungi nomor handphone suaminya, namun tidak ada jawaban disana.


'Prima' sebuah nama yang terlintas di dalam benaknya. Namun lagi-lagi dia harus kecewa, karena Prima sedang tidak ada di ruangannya.


Lyvia memesan taksi online untuk mengantarnya kembali pulang kerumah. Kepalanya semakin pusing, dia ingin merebahkan tubuhnya sebentar.


Dia tidak ingin terlalu larut dalam suasana, 'aku tak mau anakku ikut merasakan sakit meskipun aku sendiri merasa hatiku lebih sakit...'


Namun... semakin dia berusaha melupakan semakin sakit dirasakan.


"Via.... Mama kira siapa...? Adrian tidak pulang bersamamu...?" tanya Mama yang melihat ada sebuah mobil memasuki halamannya.


 


"Tidak Ma.... Mas Adrian masih repot..." jawab Lyvia sedikit berbohong.


 


Lyvia memohon izin untuk mandi dan berganti pakaian.


Dia rebahkan tubuhnya meskipun matanya tidak terasa kantuk.


'Ranjang ini....yang dulu sangat hangat, kini terasa dingin...'


'Apakah malam ini kamu tidak akan menemaniku lagi Mas...? Sampai kapan aku harus merasakan hal ini...? apa lagi yang akan terjadi padaku kali ini...?'


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2