MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 48. Lalat-lalat Berkeliaran


__ADS_3

 


*Lima bulan kemudian


 


Perut Lyvia sudah kelihatan membuncit. Rasa mual dan muntah yang dulu menghantuinya setiap pagi, kini sudah tidak dia rasakan lagi.


Semua makanan sudah bisa masuk sekarang. Meskipun Lyvia menambah porsi makannya, tapi tidak begitu terlihat perubahan pada tubuhnya.


Masih tetap kelihatan sexy, kecuali perutnya yang buncit. Meskipun begitu, bagi Adrian itulah sexy yang sebenarnya.


 


"Sayang...Mas berangkat dulu ya...?" pamitnya seraya mencium kening dan perut istrinya.


 


Sekarang menjadi kebiasaan baru bagi Adrian, mencium perut Lyvia dan mengajaknya berbicara.


Apalagi ketika bayi dalam perutnya memperlihatkan reaksinya. Hal itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Adrian.


Hari-hari Lyvia hanya berdiam diri di rumah, menonton TV atau membaca novel kegemarannya di aplikasi NovelToon.


Terkadang dia suka berkebun bersama Mama, sekedar untuk mencari keringat.


Atau mungkin juga pergi kerumah Ibu untuk menghilangkan rasa jenuh. Tidak jarang juga dia keluar untuk berbelanja bersama Mamanya.


Namun...entah kenapa hari ini dia ingin sekali masak masakan kesukaan Adrian. Dia ingin memberinya kejutan dengan mengirim makanan kesana.


Akhir-akhir ini Adrian jarang makan siang di rumah. Dia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih awal.


 


"Mbak Via mau ngapain...?" tanya bibi yang melihatku memakai celemek di dapur.


"Bibi....bantu Via masak kesukaan Mas Adrian, biar Via kirimkan ke kantornya."


"Siap Non...." jawab Bibi penuh semangat.


 


Simple saja, dengan bahan yang tersedia di kulkas dia bikin cah kangkung, capcay dan gurami asam pedas kesukaan suaminya.


Lyvia segera berganti pakaian setelah menyiapkan menu makanannya di rantang susun untuk Adrian.


***


Sementara itu dikantor, Adrian sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang dia kerjakan.


Sesekali terlihat dia keluar membawa map untuk diserahkan ke ruangan sebelah.


Brrruuuukkk.....


 


"Ohh....maaf, saya.... sengaja...." ucapnya terhenti saat memandang siapa sosok pria tampan yang dia tabrak.


"Hheeehhhh....." Adrian menghela nafas panjang. Dengan sikap masih acuh dia ambil berkasnya yang terceceran di lantai.


"Oohh...Mas Adrian, maaf maksud saya tidak sengaja."


 


Adrian berlalu begitu saja, dia memasuki ruangan.


"Abi, kamu sendirian...kemana Prima ...?" tanya adrian.


"Baru keluar Ndan..." jawab staf yang ada di ruangan Prima.


 


"Ya sudah...kamu revisi dan cek berkas ini kembali, setelah itu kirim ke ruanganku..." perintahnya.


"Siap Ndan...." jawab seorang anggota yang bernama Abimanyu.

__ADS_1


"Oh....Mas Adrian disini, maaf ya...tadi saya tidak sengaja. Saya buru-buru mau ketemu kakak saya." kata seorang gadis yang tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangan yang sama dengan ruangan yang di tuju Adrian.


"Mutia....Mutia...." panggil Abimanyu setengah berbisik.


"Apa ada yang rusak dengan kertas-kertas tadi...?" lanjutnya tanpa menghiraukan panggilan kakaknya.


"Mutia....." panggilnya lagi.


"Saya siap dihukum kalau sampai merusakkannya Mas...." celotehnya berkali-kali.


 


Adrian yang dari tadi hanya terdiam, akhirnya menjadi sedikit geram. Karena jalannya dihalangi olehnya di depan pintu.


 


"Lain kali ajari adikmu ini sopan santun dan jangan lupa ajari dia etika untuk keluar masuk ke rumah orang atau kamu aku pindahkan karena membuat onar..." kata Adrian kepada Abimanyu.


 


Mutia menyingkirkan tubuhnya setelah Adrian mengibaskan tangannya tanda untuk bergeser.


Dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mutia yang masih bengong karena kakaknya dimarahi oleh pria tampan itu.


 


"Apa-apaan ini, apa maksudnya....kenapa berani-beraninya dia marahin kakak...." katanya kasar.


 


Mutia belum tahu siapa yang dia hadapi, pikirnya hanya seorang polisi yang pangkatnya sama dengan kakaknya.


 


"Kamu yang apa-apaan....karena ulahmu hampir saja kakak di mutasi." jawab Abi sedikit membentak.


"Kok aku.... memangnya siapa dia, bukankah dia sama pangkatnya dengan kakak..." katanya ketus.


"Dia atasan kakak Mutia...dua tingkat diatas Pak Prima pimpinan kakak..." jelas Abimanyu tak kalah marahnya dengan Adrian.


"Apa.....!" komentarnya kaget.


 


 


"Apa maksudmu....?" tanya Abi yang seolah mendengar gumamannya.


"Maksud apa....? tidak apa-apa...?" jawabnya gugup.


"Awas kalau kamu macam-macam...!" ancam kakaknya.


 


"Terus apa yang kamu lakukan disini...?" tanyanya kemudian.


"Aku bete kak....aku dipecat..." jawabnya lesu.


 


"Itu karena ulahmu yang tidak bisa membawa diri, harusnya kamu bisa belajar dari apa yang sudah terjadi." nasehat kakaknya.


"Hhhhuuhhhhh....kakak sama saja dengan semua orang." jawabnya sambil berlalu dari tempat itu.


 


Abimanyu menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.


Katika melewati ruangan Adrian, timbul niat jahatnya untuk menggoda. Dengan alih-alih ingin memohon maaf.


Tok...tok...tok....


 


"Masuk...."

__ADS_1


"Selamat siang Pak Adrian..."


 


Adrian menghentikan kegiatannya, dan melihat apa yang akan diperbuat oleh gadis ini.


 


"Ada apa...?"


"Saya mau minta maaf atas kesalahan saya, saya harap bapak mau memaafkan saya...." katanya sedikit merayu, sambil mendekat ke arah meja di dekat Adrian.


"Saya sudah memaafkan...asal kamu tidak mengulangi perbuatanmu lagi." jawabnya.


"Tidak-tidak....saya anggap Bapak belum memaafkan saya jika Bapak tidak mau menerima ajakan makan siang saya hari ini."


 


Dia mendekat dan berusaha bersimpuh di dekat kursi Adrian.


Adrian semakin geram dengan sikapnya. Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.


 


"Silahkan keluar atau saya akan mengeluarkanmu secara paksa...!"


 


Mutia berdiri dan berjalan menuju pintu yang sudah terbuka. Tapi entah sengaja atau tidak dia sengaja, kaki kirinya terantuk kaki kanannya sendiri.


Dia jatuh ke arah Adrian dan secara refleks Adrian menangkapnya. Bersamaan dengan itu, Lyvia datang mengantarkan makan siang.


Mutia yang mengetahui Lyvia datang, malah sengaja membuat adegan itu lebih dramatis.


"Oh...kakiku, maaf Mas Adrian..." katanya sambil merangkak menyusuri dada dan bahu adrian untuk mencoba berdiri tegak.


 


"Sudah mesra-mesranya....?" suara Lyvia yang mengagetkan Adrian.


"Sayang....sejak kapan kamu disitu...?"


"Sejak kalian berpelukan..." jawabnya ketus.


 


'Iyyeeesss.....! ' gumam Mutia dalam hati.


"Maaf....saya permisi dulu..." kata mutia sambil berlari meninggalkan tempat itu.


 


"Hei....tunggu sebentar....!" panggil Adrian, tapi Mutia tetap berlalu tanpa menghiraukan panggilannya.


 


Begitupun dengan Lyvia yang berbalik akan meninggalkan tempat itu, namun Adrian mencegahnya dengan menarik tangan Lyvia.


 


"Mau kemana....?"


"Bukannya Mas lebih memilih memanggilnya kembali....?" jawab Lyvia jengkel. Kali ini air matanya ikut protes dengan adegan tadi.


"Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan mudah terpengaruh oleh apa yang kamu lihat...?" kata Adrian mencoba menjelaskan.


"Tapi aku melihatnya sendiri Mas... bagaimana dia memelukmu...?" protesnya lagi.


"Tapi kamu tidak tau kan...apa yang terjadi...?"


 


Lyvia terdiam, memang dia tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi dan tidak mau tahu. Bahkan dia tidak bisa membayangkan kejadian mesra yang sebelumnya terjadi.


~ -----------------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------------


~ -----------------------------------


__ADS_2