
Rasa jenuh membuatnya mondar-mandir ke depan ke belakang, duduk kembali di ruang tengah dan mencari-cari Chanel yang klik di hati.
Matanya melotot, tertuju pada salah satu chanel TV yang menayangkan wisata kuliner.
'uuhhh....rujak cingur, kayaknya enak itu...coba kalau ada Bibi di rumah...'
'Sabar Via....tahan...'
'Ayo Via...penuhi keinginanmu, apa kamu mau anakmu nanti ileran...? Iiihhh.... amit-amit....'
Itulah kira-kira dialog dalam hatinya.
Bibi pergi sebelum jadi membuatkan rujak untuk Lyvia. Mama dan Pak To juga belum kembali. Siapa yang bisa dia mintai tolong untuk membelikan rujak cingur untuknya.
Dia raih handphonenya, dia tunjuk salah satu nomor yang ada di kontaknya.
'Kania...tapi, jam segini dia masih di sekolah...' pikirnya.
Tuuutt....Tut....Tut...Tut...
Lyvia mencoba menghubungi suaminya, tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba membuka aplikasi online, tapi tidak ada menu yang dia inginkan.
Huuuffff...sementara memang harus bersabar.
'Sabar ya Nak... mungkin Ayah sedang sibuk, hingga gak sempat angkat telepon dari Mama...' gumamnya sambil dia elus perutnya sendiri.
Tak lama setelah dia melupakan tentang rujak cingur, handphonnya berdering.
'My Hubby' yang terlihat di layar handphonenya.
Lyvia : "Hallo Mas..."
Adrian : "Ya...Hallo sayang..."
Lyvia. : "Ada apa Mas....?"
Adrian : "Kok ada apa...? bukannya tadi telfon
Mas..."
Lyvia. : "Hehehehe....iya Mas..."
Adrian : "iya kenapa...?"
Lyvia. : "Via...pengen makan rujak cingur.."
Adrian : "Gampang kan... tinggal minta saja
sama bibi..."
Lyvia. : "Bibi gak ada Mas...tadi bibi izin
dijemput sepupunya karena Mbah
Kungnya sakit.."
Adrian : "Terus...."
Lyvia. : "Terus...gak ada yang bisa belikan..."
Adrian : "Hhhhmmmmm....ya sudah nanti
Mas belikan..."
Lyvia. : "Makasih Ayah....jangan lupa
sekalian dawet cincaunya ya Yah..."
Uhhhh.... akhirnya, kesampaian juga makan rujak cingurnya.
"Sabar ya Nak... sebentar lagi Ayah pulang bawa yang kamu inginkan..." katanya sambil mengelus perutnya.
***
Adrian memasuki sebuah warung, yang sudah terlihat antrian panjang dari jauh.
"Bu...rujak cingur dan dawetnya dibungkus 2 ya ..."
"Oh...Mas Adrian, tumben sendirian...tunggu sebentar ya Mas, ngantri..." jawab Ibu penjual rujak cingur.
Memang adrian belum pernah kesini sendiri, kalau gak sama Prima ya pastinya sama Lyvia.
Adrian masih berdiri terpaku memainkan Handphonenya.
"Adrian....."
__ADS_1
Dia sedikit kaget ketika seseorang memanggil namanya.
Adrian mencari arah sumber suara. Seorang wanita melambaikan tangan kepadanya.
Adrian sempat mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya dia mendekati wanita itu.
"Sofia....."
ucapnya setelah dia dekati wanita yang tadi memanggilnya.
Dia benar-benar Sofia...teman dekatnya ketika masih SMA dan berlanjut sampai di bangku kuliah.
Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menerima pinangan juragan kaya di kampung halaman Ibunya.
Sofia duduk sendiri di salah satu kursi yang ada pada warung makan itu. Setelah sekian lamanya tidak bertemu, tidak ada yang berubah darinya.
Hanya sedikit terlihat kurus dan perutnya membuncit.
'Buncit....? bukan...dia hamil...tapi kelihatannya usia kandungannya lebih tua dibanding istrinya...' komentarnya dalam hati.
'Tapi....mana suaminya...kenapa dia sendiri...?'
"Apa kabar......?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Lamunanku buyar setelah mendengar sapaannya.
"Ba...baik, kamu sendiri apa kabar...?" jawabku sedikit gugup.
"Yah.... beginilah, seperti yang kamu lihat....kamu sendirian, istri kamu mana...?"
katanya, seolah mencari-cari siapa yang bersamaku.
"Dia di rumah, barusan telfon kepingin makan rujak cingur..." terangnya.
"Kamu sendiri....?" tanyaku ingin tau.
'Kenapa dia menjawabnya seperti itu...?'
'Setelah sekian lama tidak terdengar kabarnya... apakah dia tidak bahagia dengan pernikahannya...?'
'Ingin sekali aku bertanya...aachh... tidak semestinya aku ikut campur...' dialog hatinya.
"Sudah lama kamu kembali kesini...?" tanyaku kemudian.
"Yah....belum lama juga sich, sekitar sebulan yang lalu..." jawabnya.
"Apa kamu masih menempati rumahmu yang dulu...?"
"Iya... setelah nenekku meninggal, rumah itu kosong dan sekarang aku yang tempati."
"Lalu orang tua kamu....?" achh... pertanyaan ku terlalu kepo.
"Ceritanya panjang Adrian....semua tidak seperti yang aku bayangkan, aku kadang iri dengan kalian..." ungkapnya sedikit panjang kali ini.
Adrian mengernyitkan keningnya, mencerna kata-kata Sofia 'iri dengan kalian' dengan siapa yang dia maksud...?
"Maksudnya....?" tanyanya ingin tahu lebih lanjut.
"Ya Adrian...aku iri dengan kemesraan kalian berdua, kamu dan istrimu...." Dia menghela nafas panjang.
"Memangnya...kamu sudah mengenal istriku...?"
"Aku pernah bertemu kalian berdua di klinik bersalin, bahkan aku sempat berbincang dengan istrimu...."
Adrian berfikir sejenak...'mungkin wanita ini yang dimaksudkan Lyvia waktu itu...?'
"Adrian....aku sekarang sendiri, tidak ada tempatku untuk mengadu...." matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Aku tak mampu berkomentar apa-apa, Dia mulai menitikkan air matanya. Dia genggam tanganku yang sedang bersimpuh di meja.
"Aku mohon...bantu aku jika aku membutuhkanmu...."
Adrian masih terdiam, dia biarkan tangan itu menggenggam tangannya.
"Mas Adrian... pesanannya sudah siap..." kata Bu Zaenab pemilik warung makan ini. Beliau teman sekaligus langganan Mama, jadi hapal betul denganku.
Adrian segera menarik tangannya dari genggaman Sofia.
"Maaf...aku kembali dulu..." jawabku sambil beranjak dari tempat dudukku.
"Berapa Bu....?"
"Tiga puluh lima..."
Dia keluarkan satu lembar uang seratus ribuan.
"Kembaliannya buat bayar pesanan ibu itu saja..." katanya sambil menunjukkan yang dia maksud.
Mendengar itu, Sofia berdiri mengejarnya.
"Adrian....tunggu...."
Adrian mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya.
"Ya...."
"Boleh aku minta kontakmu...?"
Adrian mengeluarkan satu lembar kartu nama, diserahkannya kepada Sofia.
"Terimakasih...." katanya penuh harap.
Adrian berlalu dari tempat itu dan langsung menuju ke rumahnya. Lyvia pasti sudah menunggunya.
Sepanjang perjalanan pulang, Adrian masih memikirkan pertemuan singkatnya dengan Sofia tadi.
'Apa yang bisa aku lakukan...?'
'Semua sudah berubah, Adrian yang sekarang bukanlah Adrian yang dulu...'
'Memangnya....apa yang dia fikirkan, kenapa harus minta bantuan kepadaku...? Lalu dimanakah suaminya....?'
Itu yang belum sempat dia tanyakan tadi... itulah alasan kenapa dia berikan kartu nama yang diminta Sofia tadi. Siapa tahu dia memang benar-benar perlu bantuan.
'Dia berfikir dari sisi kemanusiaan....tapi dari sisi hatinya...hati....? Apa aku masih ada hati dengannya...? '
'Ach tidak....aku sudah punya Lyvia, wanita yang aku kejar selama ini... meskipun hubungan kita berawal dari persahabatan, namun hanya dia yang mengerti hatiku.'
"Hhhhaaaaa..... terimakasih banyak Ayah, eemmuuaacchhh...." ucapnya girang, sebagai gantinya dia cium suaminya berkali-kali.
"Hhhhmmmmm....kalau ada maunya saja, nyosor duluan..." komentar Adrian.
Lyvia memindahkan makanan yang dibawa Adrian ke dalam piring. Merekapun mulai menyantapnya.
"Gak antri Mas...?"
"Antrilah....panjang lagi...."
Memang warung makan itu sudah terkenal dengan rujak cingur dan dawetnya yang endest.
Warung itu juga tidak sepi oleh pengunjung, apalagi disaat jam istirahat. Antrinya pasti panjang dan lebar.
~ -------------------------------
~ -------------------------------
__ADS_1
~ -------------------------------