
("Semangat pagi sayang... bagaimana pagimu kali ini...?") tanya Adrian melalui sambungan telepon.
("Pagi juga....aku bosen di rumah Mas, aku ingin masuk kerja...")
("Tidak tidak....aku tidak mengizinkanmu.")
("Tapi aku sudah terlalu lama bolos mas..")
("Sayang, mereka juga tau kalau kamu sakit")
("Iya mas....")
("Jangan banyak fikiran, istirahat yang cukup, tetap dirumah aku akan mengajakmu jalan biar gak bosen") pesan Adrian sebelum mengakhiri telephonnya.
Hari ini Lyvia terlihat lebih semangat dari biasanya. Guyuran air hangat telah menyegarkan tubuhnya. Sudah beberapa hari selama di rawat, dia hanya membasuh badannya dengan handuk basah.
Rasanya seperti mendapatkan seteguk air setelah tidak minum berhari-hari.
"Via kamu sudah mandi Nak... cantik sekali anak Ibu..." sanjung Ibunya.
"Memangnya aku gak cantik Bu...!" protes Kania yang mendengar sanjungan Ibunya.
"Cantik....anaknya Ibu semua cantik-cantik..." Ibu memeluk kedua putrinya.
"Ibu sudah masak kesukaanmu, ayo kita makan dulu."
Lyvia memang nampak kurus, matanya terlihat sedikit cekung. Lehernya juga lebih jenjang dari biasanya. Maklum beberapa hari selera makannya berkurang.
Lidahnya baru bisa merasakan enaknya makan setelah beberapa hari pasca keluar dari rumah sakit. Tapi hal itu tidak mengurangi penampilannya yang anggun.
"Kak Via tumben dah rapi, mau kemana...?" tanya Kania yang kagum dengan penampilan Kakaknya pagi ini.
"Mau tau aja..." jawab Lyvia
"Hhhmmm....pelit" gerutu Kania.
"Via jadi mau pergi hari ini...?" ganti ibu yang bertanya.
"Iya Bu...bentar lagi paling Adrian jemput."
"Memangnya kamu sudah benar-benar vit...?" tanya Ibu memastikan.
"Insha Allah...Via kuat Bu, sudah enakan gak pusing lagi"
Pucuk dicinta ulampun tiba...tak berapa lama terdengar suara mobil Adrian memasuki halaman rumahnya. Via menyambutnya ke depan.
"Cepet banget mas...mandi gak tadi..." ledeknya.
"Enak saja...mandi lah..." dicubitnya hidung Lyvia. Di tatapnya sejenak gadis yang ada di depannya itu.
"Kenapa...Mas...? aku jelek ya...? kelihatan kurus...?" tanyanya memberondong.
"Kamu nampak cantik hari ini..."
"Memang hari-hari yang lalu aku gak cantik...?" jawabnya cemberut.
Adrian tersenyum melihat bibir monyong Lyvia.
"Seperti apapun kamu selalu terlihat cantik dimataku..."
"Is is is...... gombal" Lyvia mencubit pinggang Adrian.
__ADS_1
"Sakit sayang....sini aku balas..." ditariknya tubuh mungil Lyvia ke dalam pelukannya.
Adrian membalasnya dengan kecupan di kening Lyvia. Lyvia menengadahkan wajahnya, matanya yang terpejam membuat Adrian ingin berlama-lama disitu. Tanpa aba-aba dia naikkan kecupannya ke level yang lebih tinggi, berupa ciuman di bibir.
Lyvia yang kaget segera membuka matanya, takutnya kalau Ibu atau Kania tiba-tiba datang kedepan. Melihat kekasihnya gugup dan sedikit berontak, Adrian segera melepaskan pelukannya. Lega rasanya....
"Morning kiss sayang..." Lyvia hanya tersenyum. Pipinya merona karena malu.
"jangan diulangi lagi...kalau ketahuan Ibu atau Kania, malu kan...?" protes Lyvia.
Adrian semakin tertawa geli melihat polah lucu kekasihnya.
"Lyvia....ajak Nak Adrian sarapan dulu..."
Terdengar teriakan Ibu dari dalam. Mereka berdua mendekati Ibu untuk berpamitan.
"Terimakasih Bu...baru saja Adrian sarapan, Via sudah sarapan...?" tanya Adrian pada Lyvia.
"Sudah Mas...."
"Kalau begitu, kami segera berangkat Bu...nanti keburu siang.."
"Iya...hati-hati di jalan ya...."
Sepanjang perjalanan, tangan Lyvia tidak lepas dari genggaman Adrian.
"Mas.... kebiasaan dech, bahaya nyetir dengan satu tangan." nasehat Lyvia.
Yang dinasehati hanya terdiam dan fokus dengan kemudinya.
Adrian sempat melepaskannya ketika membutuhkan tenaga kedua tangannya. Namun diraihnya kembali tangan Lyvia dalam genggamannya.
***
"Kemana saja...yang penting bisa melihatmu tersenyum..."
"Tu kan...kumat lagi gombalnya..." Adrian hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
Selang 2 jam perjalanan, Adrian membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah Ruko yang bertuliskan *Mahkota Jewelry*. Lyvia turun mengikuti langkah Adrian.
"Selamat pagi Pak....ada yang bisa kami bantu....?" sapa seorang pegawai disana.
"Saya mau bertemu dengan Pak Hendy, bisa...?"
"Maaf Pak... dengan Bapak siapa...? atau mungkin sudah buat janji dengan Beliau...?"
"Belum... sampaikan saja, Adrian mau ketemu."
"Baik Pak... silahkan menunggu sebentar."
Lyvia yang belum mengerti maksud kedatangannya disini, hanya diam dan memperhatikan percakapan mereka berdua. Dalam hati dia bicara 'oh...mau ketemuan sama temannya...'
Tak berapa lama seseorang turun dari lantai dua. Perawakannya yang modis dengan kulit putih dan kaca mata sebagai penghias, lebih terlihat ayu dibanding dengan kata tampan.
"Hei....tampan, apa kabar...?" sapa pria itu kepada Adrian.
"Alhamdulillah...baik..."
__ADS_1
"Mari mari.... silahkan masuk, kita ngobrol di ruanganku saja...." ajaknya.
Adrian mengerlingkan matanya tanda aku diminta untuk mengikutinya.
"Kamu sendirian..." tanya pria itu yang belum menyadari keberadaanku.
"Tidak...aku dengan seseorang..." pria itu menoleh dan memperhatikanku.
"Kenalkan...ini Lyvia calon istriku..." sambung Adrian.
"Ohh....maaf, aku tidak memperhatikanmu...." Dia ulurkan tangannya untuk menjabat tanganku sambil memperkenalkan diri.
"Cantik sekali....kalian cocok, tampan & cantik." pujinya pada kami.
Pria yang akrab disapa dengan panggilan 'Hendy' ini ternyata seorang Disainer sekaligus pemilik galery perhiasan ini.
"Seperti yang aku utarakan beberapa hari yang lalu..." kata Adrian kepada temannya itu.
"Oke...sudah aku siapkan." Hendy menelfon seseorang.
*Tok tok tok....
"Ya...." seseorang masuk dan menyerahkan sesuatu kepada bossnya.
"Ini....ini koleksi terbaru saya, kamu tinggal pilih mana yang klik di hati, ini di lapisi mas Murni 24 karat" kata Hendy menerangkan produknya.
"Sayang...sini dech, kamu pilih sendiri mana yang kamu suka..."
"Kok aku....Mas saja, apapun pilihan Mas, Via pasti suka." jawab Lyvia dengan rendah hati.
"Uuuuuuhhhhhh.....so sweett....jadi gemes lihatnya." komentar Hendy.
"Ya udah... kita ngikutin ahlinya saja ya.." kata Adrian yang menyerahkan kembali kotak perhiasan itu pada Hendy.
"Gimana nich...mau pilih yang mana...?"
"Aku mau yang terbaik dari koleksimu yang paling baik..."
"Oke deh...aku yang pilih ya, eeehhhmmm...aku rasa cocok yg ini dech, ini lebih pas dengan jari manis kekasihmu, coba dicoba dulu..." pinta Hendy.
"Gimana sayang...kamu suka...?"
"Iya... sederhana tapi terlihat elegant."
"Amazing....good, itu dia tujuannya..."
Setelah menentukan pilihan, Hendy mengajaknya untuk menuju butiknya.
"Ini kebaya yang sudah aku siapkan untuk acara lamaran, kalau untuk resepsi pernikahan masih on proses. Sini Lyvia...biar dipastikan dulu ukuran tubuhmu."
Lyvia menurut, seorang penjahit wanita datang dan membantunya untuk fitting baju.
"Cantik sekali....Adrian kamu pintar memilih..." pujinya lagi.
"Oya ...Adrian, Via, ini model dan warna kebaya untuk keluarga mempelai berdua" Lyvia kagum dengan keterampilan tangannya. Semua jahitannya halus dan rapi.
"Komentar dong say....ada yang kurang gak dengan desain ekke....?"
"Sempurna ...semua rapi dan halus, saya suka..." jawabku memuji.
Setelah menentukan pilihan, Adrian menyerahkan kartu debetnya untuk menyelesaikan administrasi. Tinggal menunggu barang yang di pesannya datang besok.
~ --------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------
~ --------------------------------