
Hari ini adalah hari yang spesial untuk Lyvia. Hari yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Semua orang sibuk untuknya. Semua orang meluangkan waktu & tenaga demi kebahagiaannya.
Hari ini adalah hari dimana dia akan jadi Ratu sehari. Sejak pukul 03 dini hari Lyvia terbangun. Ia laksanakan sholat tahajud & dilanjutkan dengan sholat hajat. Memohon agar acara nanti berjalan lancar.
Selesai sholat subuh, ia bergegas mandi. Penata rias sudah siap dengan segala peralatannya.
4 jam sudah penata rias berkutat dengan wajah Lyvia.
"Via... sarapan dulu ya, biar Ibu suapin." Lyvia menoleh ke arah Ibunya.
"Nanti saja Bu..."
" Gakpapa sayang.... Ibu ingin menyuapimu, sebelum Ibu serahkan kamu pada suamimu."
Lyvia menerima suapan dari Ibunya. Hatinya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Namun ia berusaha menahannya agar jangan sampai tumpah.
Ia ingat akan Almarhum Ayahnya. Seharusnya ia bisa berbagi kebahagiaan yang kini ia rasakan. Sejak kepergian Ayahnya, tidak sedetikpun Lyvia meninggalkan Ibunya. Apapun keluh kesahnya hanya Ibu yang menjadi tempat curhatnya.
Namun hari-hari selanjutnya dia akan meninggalkan tempat ini, tempat dimana dia dibesarkan, tempat yang penuh kenangan masa kanak-kanaknya.
Lyvia kecil Ibu sudah dipinang orang dan ia harus turut apa kata suaminya.
'Syurga ada di telapak kaki Ibu, namun kunci Surga seorang istri berada ditangan suami.'
itulah pesan Ibu kepada Lyvia beberapa hari yang lalu.
"Adrian jaga putri kecil Ibu, sayangi dan lindungi dia lebih dari ibu menyayangi nya..."
begitu pula dengan Adrian, ibu menitipkan ku padanya.
Lamunannya berakhir ketika seseorang mengabarkan sesuatu.
"Bu....mobil jemputan untuk mempelai sudah datang..."
"Baiklah..."
Lyvia beranjak dari tempat duduknya, penata rias merapikan kembali riasannya. Perasaan Lyvia tak karuan. Rombongan iring-iringan keluarga mengikuti laju kendaraannya.
Para undangan sudah banyak yang hadir, hampir semua kursi undangan penuh. Adrian & keluarganya juga sudah berada di aula gedung bhayangkara bersama dengan saksi kedua belah pihak dan paman Lyvia sebagai wali pengganti Ayahnya.
Dari balik layar Lyvia mendengarkan prosesi akad nikah.
~"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Lyvia Maharani binti Alm. Purwo raharjo alal mahri tuqim adwat sholat wadhahab antara khmst waeishrun jaram hallan"
~"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq"
"SAH....!"
__ADS_1
"SAH.........!"
"Alhamdulillah......" serentak para undangan yang hadir mengucapkan hamdalah"
Adrian mengucapkan akad nikah dengan lancar dan sempurna. Lyvia di boyong keluar di dampingi Ibu, saudari dan pendamping pengantin wanita, Ia disandingkan dengan suaminya. Untuk diabadikan saat menerima buku nikah dan Mahar.
Dan sekarang...Prosesi pernikahan secara militer yang telah ditunggu telah tiba. Prosesi inilah yang di idam-idamkan sebagian besar perempuan. Suatu kebanggaan tersendiri bisa bersanding dengan abdi negara.
Lyvia berjalan beriringan, tangan kanannya memeluk erat lengan Adrian. Langkahnya begitu gemulai, senyumnya mengembang. Begitupun dengan Adrian, Ia begitu gagah mengenakan seragam lengkap dengan atributnya.
Semua mata tertuju pada kedua mempelai. Tidak hanya sekali ini Lyvia dan Adrian jadi pusat perhatian. Parasnya yang Cantik & anggun memang pantas bersanding dengan seorangpun perwira tampan dari keluarga Polri ini.
Rentetan acara Prosesi Pedang Pora berlangsung dengan sempurna. Bak Raja & Ratu berjalan memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga.
Hentakan kaki, gemerincing pedang senada dengan genderang tambur yang mewarnai indahnya pendengaran. Membuat merinding bulu kuduk.
Adrian & Lyvia berdiri dikelilingi barisan prajurit, mereka mengucapkan janji suci. saling pandang, saling mengagumi satu sama lain. Tangan Lyvia di pegang erat dalam genggaman Adrian. Seolah menunjukkan pada dunia kalau 'inilah belahan jiwaku'.
Prosesi pernikahan diakhiri dengan melemparkan buket bunga, sebelum akhirnya mereka duduk di pelaminan. Diana....salah satu stafnya di kantor yang mendapatkan buket bunga itu. Dia berlari ke pelaminan, di peluknya Lyvia.
Tidak ada para undangan yang tidak terharu melihatnya. Bahkan ada yang tidak sadar menitikkan air mata.
Meskipun melalui rentetan acara yang bisa di bilang cukup rumit, tapi Lyvia bersyukur karena acara berjalan lancar. Sesi foto bersama keluarga, sahabat, teman dan keluarga besar bhayangkari pun telah selesai dilaksanakan.
Cukup lama Lyvia & Adrian berdiri, menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Buruan Gasss...biar cepet nyusul kayak saya..." goda Prima & istrinya
"Mbak Via... selamat ya, semoga SAMAWA.." ucap rekan-rekan kerjanya.
Kebahagiaan yang terpancar kali ini benar-benar murni dari lubuk hatinya yang paling dalam. setelah sekian lama mengalami naik turun perjalanan cinta, kini berakhir di pelaminan juga.
Lyvia terlihat kelelahan karena berdiri begitu lama. Melihat istrinya sedikit gontai waktu berjalan menuju mobil, dengan sigap Adrian menggendongnya.
"Aaaakkkk...mas, turunkan..." pinta Lyvia
"Kenapa....?"
"Malu tau..." elak Lyvia sedikit memberontak.
"Jangan melawan...atau kamu mau aku menghukummu semalaman...?"
Sebenarnya Lyvia merasa nyaman berada dalam gendongan adrian. Dia sandarkan kepalanya di dada bidang suaminya ini. Tangannya melingkar erat di lehernya. Inilah awal dia nikmati hari-harinya yang baru bersama pujaan hatinya.
"Apakah kau bahagia sayang....?" bisik Adrian.
__ADS_1
"Sangat...." jawab Lyvia yang masih bersembunyi di dekapan dada bidang Adrian.
"Habis ini...berapa kali kamu akan memberikan kewajibanmu untukku...?" tanyanya seolah menggoda.
"Sepuasmu Mas ..." jawabnya tak kalah menggoda.
"Love u sayang...." katanya lagi.
"Love u too..." balasnya tak kalah mesra.
***
"Sayang...apa kamu tidak kasian sama aku....?" rengek Adrian di pagi pertamanya bersama Lyvia.
"Kenapa yank....??" tanya Lyvia yang pura-pura tidak paham maksud suaminya.
"Kemaren kamu bilang akan memberikan kewajibanmu sesuka hatiku...mana...?"
Didekatinya suaminya itu...dibelai mesra pipinya.
"sabar ya sayang....kalau sudah waktunya pasti akan terjadi..." jawabnya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Semalaman Adrian belum menyentuh pengantinnya. Mereka masih terjaga hingga pagi. Di rumah Lyvia masih banyak keluarga & kerabat jauh yang menginap. Jadi mau gak mau Adrian masih harus berpuasa.
Dan hari ini, mereka masih harus berlelah-lelah untuk mengikuti penutupan acara yang akan dilanjutkan dengan boyong pengantin kerumah Adrian.
"Waduh.... pengantin baru kok lemas, dapat berapa ronde nich...atau malah belum sama sekali....?" ledek Prima yang sudah hadir di rumah Lyvia untuk menjemput rombongan besan.
"Sialan loo....emang kelihatan ya kalau masih harus puasa...? Aaahhhhh SD lu...!" jawab Adrian.
"Hahahahhahahh....bener kan dugaanku, SD apaan...?"
"Setengah Dukun....!" kelakar Adrian.
Prima terkekeh mendengar jawaban Adrian.
"Tenang aja broo...bentar lagi pulang kandang, puas-puasin mainnya..." godanya lagi. Tangan Adrian mendarat di dahi prima.
Memang benar kata prima, Adrian ingin segera acara ini selesai dan memboyong pengantin nya kerumah. Dia tidak sabar untuk menjalankan Sunnah Rasul. Dia ingin segera memberikan kado terindah untuk Mamanya. kado yang telah lama dinanti-nantikan. yaitu seorang cucu yang lucu-lucu.
~ ----------------------------------
~ ----------------------------------
~ ----------------------------------
__ADS_1