MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 8 Minggu Ceria


__ADS_3

 


"Selamat pagi Bu." Lyvia menyapa Ibunya yang sedang sibuk di dapur. Dia sudah menyelesaikan rutinitas paginya. Ditengoknya Kania masih asyik bermain air dengan bunga-bunga di halaman depan.


"Pagi sayang....tumben pagi-pagi sudah rapi, wangi lagi...mau kemana ?"


 


Lyvia hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibunya.


 


"Ah ibu.... seperti tidak pernah muda saja." hoda Kania yang tiba-tiba nongol dari depan.


"Ibu masak apa hari ini...wangi banget, bikin lapar." ucap Lyvia mengalihkan pembicaraan.


"Eeeee....kak Via, ibu tanya kok gak di jawab ?" protes Kania.


"Udah ahh...mandi sana, kotor semua tu badan." makiku pada Kania.


 


Kania berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Aku bantu ibu yang asyik menata sarapan pagi di atas meja.


 


"Bu." kataku membuka pembicaraan.


"Kenapa sayang ?" tanya ibu heran.


"Via mau minta izin, buat jalan hari ini."


"Kemana Nak ? sama siapa ?" tanya ibu sedikit kepo.


 


Karena biasanya anak gadisnya ini pergi begitu saja, cukup berpamitan kalau ada acara. Tapi kali ini kelihatannya lain. Ada sedikit privasi dalam ucapannya.


 


"Belum tau mau kemana...tapi kalau ibu tidak mengizinkan, Via juga gak jadi jalan kok." sambungnya malu-malu.


"Kamu sudah dewasa Nak...sudah bisa menentukan mana yang baik dan mana yang kurang tepat, ibu selalu mendoakan apapun yang terbaik untuk mu."


 


Kata-kata ibu, seolah-olah sudah paham kemana arah pembicaraan ku. Via mulai menceritakan siapa yang datang bertamu semalam. Dan pagi tadi setelah sholat subuh Adrian mengirimkan pesan untuk mengajak nya jalan.


*Flash nack on


Adrian : ("Semangat pagi sayang....bangun sudah subuh.")


Lyvia. : ("Pagi juga...iya, baru saja selesai.")


Adrian : ("Kamu ada acara pagi ini ?")


Lyvia. : ("Gak ada... di rumah saja.")


Adrian : ("Jalan yuk.")


Lyvia. : ("Kemana ?")


Adrian : ("Kemana saja...yang penting jalan.")


Lyvia. : ("Iya.")


Adrian : ("aku jemput jam 8 ya.")


Lyvia. : ("Iya.")


Adrian : ("sampai ketemu nanti ya.")


Lyvia. : ("Iya.")


Adrian : (" Lyvia !"😡)


Lyvia. : ("Iya.")


Adrian : ("Iya iya iya iya....awas kamu ya, lihat saja nanti. Aku akan menghukummu.")


Via hanya senyum-senyum sendiri membaca WA dari Adrian. Lyvia tidak pandai merangkai kata apalagi membalas chat romantis dari seorang pria. Makanya tidak ada jawaban yang dia tuliskan selain "iya"


*Flash back off


***

__ADS_1


 


Kania kembali ke meja makan untuk bergabung dengan ibu dan kakaknya sarapan. Mereka berdua sedang asyik menikmati hidangan di depannya.


 


*Ting tong...Ting tong...


 


"Kelihatannya ada tamu." kata Kania yang belum sempat memindahkan nasi ke piringnya.


"Eehhmmm....biar aku saja yang buka." Lyvia mendahului berdiri dan berjalan menuju ruang depan. Karena dia sudah lebih dulu menghabiskan sarapan nya.


 


Ibu dan Kania terlihat saling pandang. Ada senyum tersungging di bibir mereka. Kania mengorek informasi dari ibunya, apa yang membuat kakaknya semangat kali ini.


 


"Assalamu'alaikum..."


 


Lyvia membelalakkan mata ketika dilihatnya apa yang Adrian pegang.


 


"Wa'alaikumsalam...." Jawabnya, menerima sesuatu dari tangan Adrian.


 


Sekuntum 'Mawar Jingga' ...hal yang selalu dilakukan Adrian dulu ketika mereka masih duduk di bangku SMP.


Namun kali ini berbeda....kalau dulu yang dia kasih hanya sekuntum bunga kertas warna jingga, hari ini Lyvia benar-benar menerima sekuntum 'Mawar Jingga' asli. Entah darimana dia mendapatkan bunga mawar warna jingga kesukaannya.


 


"Gak disuruh masuk nih." Kata Adrian yang masih berdiri di ambang pintu.


"Eh ...iya, silahkan masuk... tunggu sebentar ya ?"


"Gak usah buru-buru, santai saja."


 


 


"Sarapan dulu Nak, ayo....ibu masak agak banyak hari ini."


"Terimakasih Bu, saya baru saja makan."


 


jawabnya halus.


Terlihat Lyvia masuk ke ruang tamu. Penampilan nya yang casual membuatnya semakin cantik dan smart. Adrian mengagumi ciptaan Tuhan yang dihadiahkan untuknya ini.


Mereka segera berpamitan, sebelum sinar matahari mulai terik.


Dengan sikapnya yang romantis, Adrian membukakan pintu mobil untuknya.


Lyvia hanya terdiam menikmati perjalanannya. Entah mau kemana Adrian membawa dia pergi.


 


"Lyvia."


"Iya." jawabnya singkat


"Tu kan iya lagi...kenapa diam saja, kamu tidak suka aku ajak jalan ?"


"Tidak."


"Tidak bagaimana maksud mu ?"


"Maksudku...aku lebih suka naik motor, sebab lebih asyik rasanya."


"Tadinya aku juga mau bawa motor...tapi aku gak mau kalau bidadari ku kepanasan."


"Gombal." gumamku.


"Eits....jangan salah, gombalku dari kain sutra loo." jawabnya


"Halahhhh... meskipun kain sutra tetap aja gombal."

__ADS_1


"Hahahahahh..... ternyata si cantik yang pendiam ini bisa galak juga ya."


 


Sudah 3 kali Adrian meledeknya dan 3 kali pula cubitan kecil Lyvia mendarat di pinggangnya.


Tapi untuk yang keti kalinya tangannya langsung ditangkap oleh Adrian. Digenggam erat dan dikecupnya tangan Lyvia.


Jantung Lyvia berdegup kencang. Ingin sekali dibiarkannya. Tapi semakin lama semakin membuat gemuruh dihati Lyvia.


 


"Lepaskan, bahaya mengemudikan dengan satu tangan."


 


Adrian hanya tertawa kecil, dia tidak memenuhi permintaan Lyvia. Bahkan menggenggam nya lebih erat di pangkuannya.


Kali ini cubitan Lyvia mendarat di paha Adrian.


 


"Aduh.....sakit sayang." keluh Adrian, dan kali ini tangan kirinya beralih mengelus ujung kepala nya dengan lembut.


"Kita mau kemana sebenarnya ?" tanya Lyvia kemudian.


"Nanti juga tau...kita akan kemana."


 


Sepanjang perjalanan Lyvia memperhatikan pria yang ada disampingnya.


"Lelaki ini...tak kusangka aku bisa dekat lagi dengannya." gumam Lyvia dalam hati.


Adrian menatap sekilas wajah Lyvia dan kembali fokus pada kemudi. Sesekali tangannya usil mencubit hidung Lyvia.


Lyvia mengalihkan pandangannya keluar, setelah Adrian menghentikan laju mobilnya. Terlihat hamparan kebun strawberry yang mulai ranum memohon segera dipetik.


Tak terasa perjalan kita sudah sampai di 'Sarangan'. Udaranya yang sejuk membuatku ingin berlama-lama disana.


 


"Turun yuk..." pintanya sambil membukakan pintu mobilnya. Diraihnya tangan Adrian. Mereka berjalan bergandeng tangan menyusuri perkebunan itu.


 


Adrian mengambilkan ku wadah dan gunting untuk memetik buah yang sudah ranum. Belum puas rasanya dengan panen kali ini, tapi adrian mengajak ku untuk melanjutkan perjalanan.


 


"Aku laper, kita makan dulu ya...kamu mau makan apa ?"


"Ehhmmmm....kalau gak salah dulu diujung jalan dekat danau ada ikan bakar enak sekali." pinta Lyvia


"Kamu masih ingat, dulu kita pernah kesini satu kelas ?" kata Adrian sembari meraih tangan ku lagi digenggaman.


 


Diingatnya kembali kenangan masa lalu. Memang Lyvia pernah ketempat ini bersama rombongan sekolah. Dan warung ikan bakar yang dia maksud sekarang sudah menjadi Rumah Makan yang besar. Jauh lebih bagus, bersih dan rapi.


Adrian memesan beberapa menu andalan restoran tersebut.


"Banyak banget Mas....apa kamu mampu menghabiskan nya sendiri ?"


Yang ditanya hanya memandang wajah Lyvia dengan senyum nya yang manis. Lyvia merasa risih dengan tatapan Adrian.


"Kenapa ?" tanya Lyvia bingung.


"Coba ulangi lagi pertanyaan mu ?"


"Apa ? yang mana ?" kata Lyvia


"Mas...baru kali ini aku dengar kamu memanggilku Mas."


"Kenapa....gak suka ?'


"Gapapa sayang.... apapun yang keluar dari bibirmu akan menjadi berkah bagiku."


"Tu kan...kumat gombalnya, sudah ach...makan dulu keburu dingin nanti." kataku menyudahi debat kami.


Memang semua sudah berubah, tapi rasa masakan ini masih seenak yang dulu. Adrian menikmati makanannya. Udara yang dingin, pemandangan yang langsung ke danau membuat nyaman dan meningkatkan nafsu makan.


~ -----------------------------


~ -----------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------


__ADS_2