MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 72. Titik Terang


__ADS_3

 


Masih sama seperti tadi, Adrian memperhatikan istrinya yang duduk di ruang tengah menyusui putranya.


 


Al begitu nyaman dalam dekapan Ibunya, tidak menunggu waktu lama, dia sudah tertidur pulas.


Lyvia jadi salah tingkah ketika tanpa sengaja mata mereka saling memandang, dia mengalihkan pandangan dan menggeser duduknya karena merasa risih diperhatikan.


 


"Apa yang kau lihat....?" tanyanya sambil menutupi dadanya ketika Adrian tidak berkedip sama sekali.


"Aku melihat bidadari surga berada di depan mataku..."


"Aku tidak mempan dengan gombalanmu..."


"Ingat sayang....gombalku terbuat dari kain sutra, yang bisa memikat siapapun yang melihatnya..."


"Termasuk perempuan yang kau labuhi sampai kau pergi dari rumah....?"


 


Deg...


 


"Salah lagi dech...." gerutu adrian, sambil mengacak rambutnya sendiri.


 


'kenapa kau begitu santai menanggapi sindiranku Adrian...? apa memang aku yang sudah salah sangka selama ini...?' pikirnya dalam hati.


 


"Assalamu'alaikum....."


 


Terdengar pintu diketuk dan ada suara seorang pria mengucapkan salam.


 


"Wa'alaikumsalam...."


 


Adrian beranjak dari tempat duduknya, menengok siapa yang datang.


Sedangkan Lyvia pergi ke kamarnya untuk menidurkan putranya.


 


"Prima, Lia....masuk...." kata Adrian mempersilahkan.


"Aku tidak hanya berdua Adrian..." jawabnya, sambil menunjukkan siapa yang datang bersama mereka.


"Sofia, Mas Bari...." ucapnya heran.


"Apa kabar mas..?" sapa Sofia dan suaminya.


"Alhamdulillah....baik..." jawabnya.


"Beneran baik...?" ledek Prima sambil tertawa lepas.


"Tapi ada acara apa ini...? kok kalian datang ke kota ini...?" tanya Adrian yang masih dibuat bingung.


 


Hari ini memang dia izin tidak masuk kerja. karena Prima menghubunginya, meminta untuk menemani menemui tamu yang akan berkunjung ke kota ini. Tapi siapa tamu itu, Adrian sendiri tidak tahu.


 


("Jangan kemana-mana, nanti aku jemput kerumah...") cuma itu yang Prima sampaikan, tanpa menyebut siapa yang akan dia bawa.


"Bengong aja... tidak dipersilahkan masuk nich...?" goda Prima.


"Ohh...maaf, mari silahkan masuk..."


"Ada tamu rupanya....?" sapa Mama.

__ADS_1


"Mama....sehat Ma...?"


"Alhamdulillah....sehat sayang, semakin sehat karena tiap hari joging bersama Al..."


 


Mereka tertawa bersama.


 


"Sofia....apa kabar Nak...?" sapa Mama yang sebenarnya sudah mengetahui akan kedatangannya siang ini.


"Alhamdulillah....baik Ma..."


"Syukurlah...mana anak kalian...?"


"Ada di Palembang bersama neneknya, oya Ma...kenalin ini Mas Bari, suami Sofia..."


 


Mereka saling bertanya kabar satu sama lain.


"Akhirnya kalian datang juga, Mama sudah tidak sabar menanti kehadiran kalian..."


 


"Hhhaaaa.....maksud Mama..? Mama sudah tahu kedatangan mereka...?"


 


Mama hanya tersenyum mendengar pertanyaan Adrian.


 


"Lyvia mana Ma...?" tanya Lia.


"Ada dikamarnya, sedang menidurkan Al..." jawab Adrian.


"Kamu panggil dia Nak..."


 


Adrian bergegas menuju kamarnya.


"Sudah..."


"Ayo kebawah, ada Prima dan Lia disana.."


"Ohh....ya...."


Adrian menarik tangan Lyvia dan menggandengnya menuju ruang tamu dimana Mama, Prima dan Lia berkumpul.


Lyvia menyalami semua tamunya, dia pun berkenalan dengan Sofia dan Bari suaminya.


"Tapi... apakah kita pernah bertemu sebelumnya...?" tanya Lyvia yang merasa tidak asing dengan perempuan itu.


 


"Eehhhmmmm...iya, di klinik bersalin Mam & Kids"


"Ooohh...iya benar, Mbak yang menyapaku waktu itu..."


"Iya...betul..."


"Mas ingat...? ini mbak yang pernah aku ceritakan waktu itu...tapi, apa Mas sudah mengenalnya sebelumnya...?"


 


Mereka terdiam dan hanya saling pandang, akhirnya Prima yang angkat bicara.


"Maaf...kalau saya lancang mengatur pertemuan ini..." katanya mengawali.


 


"Lyvia...Sofia inilah wanita yang diantarkan Adrian pulang ke Palembang, Sofia ini juga yang sudah Adrian bantu menyelesaikan masalahnya." katanya lagi.


 


'Jadi perempuan ini yang mereka bilang mantan pacar Adrian di SMA dulu...' terkanya dalam hati.


 

__ADS_1


"Maaf Lyvia...aku sebenarnya kasihan melihat Adrian menderita karena kamu diamkan selama ini, tapi jujur aku juga penasaran dengan kepergiannya waktu itu.."


 


Lyvia masih diam memperhatikan cerita Prima yang panjang kali lebar.


 


"Maka dari itu, aku pergi mencari tahu hal yang sebenarnya...aku ingin mendapatkan kebenaran, aku tidak mau rumah tangga kalian berantakan karena suatu hal yang belum jelas kebenarannya..."


 


Masih belum ada komentar dari seorangpun disana, hanya keterangan Prima yang mereka dengarkan.


 


"Lyvia....Sofia ini korban fitnah, maaf...istri pertama Mas Bari yang takut akan kehilangan kemewahannya selama ini karena keberadaan istri kedua...dan kembalinya Sofia ke kota ini dalam keadaan putus asa, sehingga Adrian yang mengantarkan sekaligus mendampinginya secara hukum untuk mendapatkan kan keadilan..."


 


Lyvia masih mendengarkan dengan seksama. Prima menghentikan pembicaraannya dengan meminum seteguk air yang disuguhkan Bi Inah untuk membasahi kerongkongannya yang mulai kering karena banyak bicara.


 


"Benar Bu Adrian...saya atas nama suami Sofia memohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Mas Adrian, sehingga kami bisa berkumpul bersama layaknya keluarga." imbuh suami Sofia.


"Iya Lyvia... Alhamdulillah, Mas Bari sudah terbuka hatinya untuk menerima kembali aku dan anaknya, semua berkat bantuan Adrian." Tambah Sofia menjelaskan.


"Jadi...pada intinya, aku pergi karena tugas sayang..dan tidak ada apa-apa antara aku dengan Sofia, meskipun semua orang tahu, kalau dulu kita pernah dekat..." ucap Adrian menegaskan.


 


Entahlah...apa lagi yang ada di benak Lyvia saat itu, belum ada satu kalimatpun keluar dari bibirnya.


 


"Via....apa kamu masih akan tetap membiarkan suamimu sendirian digigit nyamuk setiap malam...??" goda Prima.


"Lyvia....Adrian adalah suami yang Sholeh, dia tidak pernah terlena dengan keindahan dunia, di matanya hanya ada kamu..." kata Sofia meyakinkan.


"Jujur....ketika aku dalam keadaan stres dan putus asa, aku sempat berfikir untuk menggoda Adrian, tapi betapa malunya aku saat itu...Adrian menolak ku bahkan dia berbesar hati mau menolong ku..." imbuhnya lagi, kali ini dengan berlinang air mata.


"Dan... kedatangan kami ke kota ini, selain untuk bersilaturahmi, saya atas nama pribadi dan istri saya tidak mau permasalahan ini berlarut-larut, kami mohon maaf jika kesalah pahaman ini membuat keluarga Mas Adrian retak..." terang Mas Bari meyakinkan.


"Sayang....katakan sesuatu...?" pinta Adrian.


"Gakpapa Mas, Mbak...saya juga minta maaf karena telah su'udzon terhadap Mbak..." ucapnya.


 


Sofia mendekat dan memeluk tubuh Lyvia.


Hari itu menjadi awal dimana Lyvia mulai mengembangkan senyumnya kembali. Kedatangan Sofia, menambah daftar baru keluarga dalam hidupnya.


 


"Terus....nasib Mas bagaimana...?" goda Adrian.


"Apa....?"


"Kok apa...?"


"Tau ach..."


 


Pipi Lyvia merah merona mendengar pertanyaan Adrian yang memang sengaja menggodanya.


 


"Aduuhhh.... kelihatannya ada yang berbuka berkali-kali nich, setelah puasa sekian bulan..." ledek Prima yang membuat mereka semua tertawa.


 


'Terimakasih Ya Allah....' tak henti-hentinya Mama mengucap syukur.


"Sudah Yuk...kita makan dulu, Mama sudah siapkan menu spesial untuk kalian semua..."


Lyvia pun mempersilahkan mereka untuk merapat ke meja makan. Bibi dan Mama masak khusus hari ini. Mungkin memang Mama sudah ada kontak dengan Prima untuk acara hari ini.


~ -------------------------------------

__ADS_1


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------


__ADS_2