MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 56. Handphone Siapa....??


__ADS_3

 


"Mas berangkat sayang...." pamitnya setelah sarapan pagi bersama.


 


Seperti biasa, Lyvia mencium punggung tangan Adrian dan Adrianpun membalas dengan kecupan di keningnya.


Entah kenapa ada perasaan ngilu di hati Lyvia. Kebiasaan yang tadinya membahagiakan, kini berubah menjadi kehampaan. Seolah-olah ada sandiwara yang sedang dia mainkan.


Hati seorang istri bisa merasakan perubahan yang terjadi pada suaminya. Meskipun Adrian terlihat biasa saja, namun ada hal yang dia sembunyikan.


 


"Via....usia kandunganmu sudah lewat dari tujuh bulan, apa kalian sudah belanja perlengkapan untuk bayi ...?" tanya Mama membuyarkan lamunanku.


"Belum Ma.... kelihatannya Mas Adrian masih sibuk, jadi belum sempat kami belanja." jawabku sambil menyelesaikan mencuci piring bekas sarapan.


"Ingatkan lagi Nak...siapa tahu dia lupa, atau menunggu kamu ajak..."


"Iya Ma..."


 


'Bagaimana dia bisa lupa Ma...bukankah dulu dia yang getol ingin membelanjakan semua keperluan anaknya...entah apa yang membuat dia harus melupakan hal ini...' keluh Lyvia dalam hati.


Lyvia pergi ke kamarnya, langkahnya begitu tak bersemangat.


Dia sudah harus banyak bergerak agar punya stamina yang bagus untuk persiapan melahirkan.


Melahirkan bukan hal yang mudah untuk wanita. Tapi bisa mengandung dan melahirkan adalah suatu kepuasan tersendiri bagi seorang Ibu.


Belum sempurna hidup seorang wanita, jika dia belum bisa menjadi seorang Ibu. Lyvia harus mengajarkan hal yang baik untuk putra-putrinya kelak.


Dan hal itu dimulai sejak dini, sejak mereka masih dalam kandungan.


Selesai mengepel lantai kamar dan membersihkan kamar mandi, Lyvia mulai membersihkan ranjangnya, dia ganti spreinya dengan yang bersih.


Klotaakkk....


Ada sesuatu yang jatuh dari balik sprei yang dia ganti.


"Handphone siapa ini....apa mungkin handphone Mas Adrian, tapi kenapa aku baru melihatnya..." gumam Lyvia sendiri.


Lyvia mencoba membuka layar handphone itu.Tapi HP ini terkunci oleh kata sandi, Lyvia tidak bisa membukanya.


'Acchh...biarlah, daripada aku makin sakit hati...' fikirnya.


Tak berapa lama setelah dia selesai merapikan ranjangnya, handphone itu berbunyi.


Ada panggilan masuk, tapi kontak itu tak bernama. Rasa penasaran membuat Lyvia menggeser tombol hijau.


 


("Hallo...Mas Adrian...") sampai disitu Lyvia masih mendengarkan dan mengingat-ingat, suara seorang wanita...tapi siapa pemilik suara itu.


("Apa Mas repot...?? kalau Mas repot, biar nanti aku saja yang ke kantor...")


 


Wajah Lyvia merah padam mendengar ucapan wanita itu.


 

__ADS_1


("Hallo Mas... Mas...kok diam saja, lagi ada tamu ya...ya sudah gakpapa, nanti aku tunggu sepulang Mas kerja ya...")


 


Nada wanita itu kelihatan kalau mereka memang saling mengenal dan sudah terbiasa bertemu.


'Siapa dia....kenapa hatiku sakit sekali mendengat ucapannya...?'


Emosi Lyvia memuncak, jika dia tidak ingat bagaimana caranya menjaga kehormatan seorang istri perwira, mungkin dia sudah pergi meminta pertanggung jawaban kepada Adrian di kantornya.


'Sabar Lyvia... apapun itu, kamu lebih berkuasa atas suamimu, ingat jaga emosi demi bayi yang ada di kandunganmu...' percakapan dari sisi baik Lyvia.


Lyvia meletakkan kembali handphonenya. Dia hanya menaruhnya di meja rias.


Yang dia lakukan sekarang duduk santai mendengar lantunan ayat suci dengan headphone yang di taroh di telinganya.


'Dengarkan sayang....kamu hanya boleh mendengar kan hal-hal yang baik, jangan dengarkan mereka yang tidak baik.


***


Sofia...yang tadi menghubungi Adrian menggunakan handphone khususnya. Dia merasa heran, kenapa tidak ada jawaban dari Adrian.


 


"Apa Mas Adrian sedang sibuk ya...? tapi ini kan jam makan siang...aku coba kirim kesana saja ach..."


 


Hari ini Sofia memasak rendang lengkap dengan sambala ijo dan lalapannya. Ini menu kesukaan Adrian.


Dulu...ketika mereka masih menjalin hubungan, mereka sering makan ke rumah makan padang berdua.


Secara tidak langsung Sofia akan mengembalikan ingatan masa lalu mereka, dengan harapan bisa menarik kembali hati Adrian yang sempat lama hilang.


"Maaf Pak ....saya mau bertemu dengan Bapak Adrian, apa beliau ada di ruangan nya...?"


 


"Ada Bu....maaf dengan Ibu siapa...?"


"Saya Sofia...."


"Baik Ibu....silahkan mengisi data tamu terlebih dahulu..."


 


Sofia melenggang menuju ruang Adrian setelah mendapatkan izin dari post jaga.


Tok... tok...tok....


 


"Ya masuk...."


 


Ceklekkk....


 


"Siang Mas....apa aku mengganggu...?" sapanya yang baru melongokkan sebagian tubuhnya.


 

__ADS_1


Adrian kelihatan gusar, dia merasa tidak enak hati. Karena ada Prima di ruangan itu, mereka sedang membahas sesuatu.


Melihat Adrian masih terdiam, Sofia segera masuk dan menutup pintunya.


"Mas kenapa....aku telfon tadi kok diam saja...?" cerocosnya yang belum menyadari keberadaan Prima di ruangan itu.


 


"Maaf....aku sedang ada pekerjaan..." jawabnya gugup sembari mengayunkan tangannya sebagai kode kalau mereka sedang tidak berdua.


 


Sofia menengok ke arah Prima dan Primapun masih duduk manis dengan senyumnya yang manis pula.


 


"Apa kira-kira saya mengganggu...?" tanya Prima yang merasakan ada gelagat kurang baik antara mereka.


"Oh... tidak, tunggu....eee...Sofia apa ada yang ingin kamu sampaikan...?"


 


Perkataan Adrian yang terbata-bata membuat kecurigaan Prima kian besar.


 


"Tidak Mas....saya cuma mampir, kebetulan saya tadi masak banyak, jadi saya kirimkan untuk Mas makan siang..." katanya sambil manaruh rantang makanan itu di meja.


"Oh...ya, terimakasih banyak..."


"Baiklah....kalau begitu saya permisi dulu mas..." pamitnya kemudian.


 


Adrian mempersilahkan, dia sempat melirik Prima yang hanya diam mematung memperhatikan tingkah mereka.


Terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan kehadiran wanita itu.


'Adrian...kenapa kamu selalu bermain api, jika hal itu terjadi lagi...siapa yang susah, pasti aku lagi yang kena...' bisiknya dalam hati


Dia hanya menggelengkan kepalanya setelah melihat kepergian Sofia.


Prima masih berdiri mematung menunggu sahabatnya yang sedang mengantarkan kepergian tamunya dari balik pintu.


Dia tahu bagaimana Adrian. Dan dia juga tahu semua perempuan yang pernah singgah di hati sahabatnya itu.


Lyvia....memang bersahabat dengan kami sejak SMP, dan kami berpisah ketika SMA. Karena Lyvia lebih memilih melanjutkan ke SMK waktu itu.


Dan di SMA itulah Adrian mengenal Sofia, gadis pindahan dari Palembang yang bersekolah di kota ini bersama neneknya.


Hubungan mereka aman-aman saja, hingga ke jenjang bangku kuliah. Namun suatu ketika Sofia harus kembali ke kampung halamannya di Palembang. Dia memilih menerima pinangan juragan kaya dari kampungnya dan meninggalkan Adrian.


Itulah sepenggal kisah Sofia yang diingat Prima. Gadis itu juga sempat membuat mood Adrian tidak bagus waktu itu.


'Tapi.... bagaimana bisa kemudian dia kembali dalam keadaan hamil dan menggoda sahabatnya.....? dimana suaminya...? dimana keluarganya...? ini tidak bisa dibiarkan....'


Diam-diam Prima mengamati perubahan emosi Adrian. Meskipun bukan menjadi urusannya....tapi jika terjadi sesuatu, dia juga yang akan turut terlibat di dalamnya.


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2