MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 43. Permintaan DeBay


__ADS_3

 


"Waaaahhhh....menu special nich..." komentar Adrian yang melihat hidangan nasi liwet komplit di meja.


"Iya Mas.... mumpung dedek bayi yang minta, Bibi masakin khusus buat dedek bayi" jawab Bibi yang masih sibuk menyiapkan air putih hangat di gelas Lyvia.


"Makan yang banyak sayang...biar sehat.."


 


Kata Adrian sambil mengelus perut Lyvia yang masih rata.


 


"Iya Ayah...biar sehat dan endud ya... Bundanya..." jawabnya sembari mengacak rambut Adrian.


 


Mereka mulai menikmati menu makan malam pilihan Lyvia. Begitupun dengan Lyvia.


Sejak aksinya yang tidak doyan nasi hampir sebulan yang lalu, ini kali pertama dia nikmati nasi itu dengan sebutan nasi liwet.


Satu suapan lolos memasuki mulut dan terus mengalir kedalam melalui tenggorokannya.


Suapan kedua, dia hanya menyendok potongan telur. Adrian yang memperhatikan sikap istrinya, masih mengikuti gerak tangan Lyvia menyuap makanannya.


Sebenarnya Lyvia sudah mulai eneg.


Tapi demi menghormati dan menghargai Bibi yang susah payah memasak untuknya, jadi tidak mungkin dia akan memuntahkannya sekarang.


Mama dan Ibunya menyadari kalau Lyvia sudah mulai tidak nyaman dengan makannya.


"Sayang....jangan dipaksakan..." kata Mama yang melihat Lyvia minum setiap satu suapan.


"I...iya...Ma..." jawabnya sambil berlalu meninggalkan ruang makan.


Dia berlari menuju kamarnya. Dia muntahkan semua isi perutnya. Sampai mulutnya terasa masam.


 


"Sayang..." panggil adrian yang menyusulnya ke kamar.


"Mas....maafkan aku ya, karena aku suasana makan malam jadi kacau." katanya memelas.


"Kamu ini ngomong apa sich..!"


 


Dipeluknya Lyvia dalam dekapannya. Adrian mengecup lembut kening istrinya.


Lyvia hanya bisa menangis, karena merasa sudah mengecewakan semuanya.


"Turun lagi yuk...." pintanya pada Adrian.


"Yakin....? gak tiduran saja di kamar...?"


Lyvia menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Adrian untuk turun kebawah.


Mereka semua sudah berpindah tempat ke ruang tengah.


"Mas....Via mau buah per saja..."


"Ya sudah...biar Mas ambilkan, kamu pergi duduk dulu sama Mama."


 


"Sayang.... bagaimana keadaanmu...?" tanya Mama yang langsung menyambutku untuk duduk disampingnya.


"Udah mendingan Ma....maafin Via ya Ma..?" jawabnya.


"Minta maaf kenapa....? sayang, hal seperti itu sudah biasa terjadi...jadi jangan dipaksakan ya..."

__ADS_1


"Dulu Ibu juga harus bedrest waktu mengandungmu..tapi di kehamilan kedua, ibu tidak merasakan apa-apa, ngidam juga enggak..." cerita ibunya.


"Apa semua orang mengandung harus tersiksa begitu ya Bu...?" celetuk Kania. Sadar kalau yang dia omongkan salah, dia bungkam sendiri mulutnya.


"Gak boleh ngomong kayak gitu...bisa mengandung itu anugerah, dan impian semua wanita untuk bisa melahirkan keturunannya." nasehat Ibu pada Kania.


"Sayang....ini buah pernya sudah Mas kupas, tinggal suap..."


 


suasana ramai kembali.


 


"Oya Nak.... Ibu sekalian mau pamit, besok lain kali kami menginap lagi..." kata Ibu yang memang rencananya mau pulang sore tadi dengan Kania.


"Jangan ...besok saja, biar Adrian yang antar...ini sudah malem Bu, Kania nginap di sini dulu ya..." pinta Mama.


 


Akhirnya setelah dibujuk, Ibu dan Kania masih tinggal untuk menginap semalam lagi.


 


"Mas......." panggilnya.


 


Lyvia sudah menuju kamarnya terlebih dahulu, bersamaan dengan Mama dan Ibunya istirahat juga ke kamarnya. Sedangkan Adrian masih melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja.


 


"Lhoo...kok belum tidur....?" tanya Adrian sambil berjalan ke kamar mandi.


"Kenapa sayang...?" tanyanya setengah berbisik.


"Aku kangen....." rengeknya.


 


Lyvia menempatkan kepalanya di tempat favoritnya, di bawah lengan Adrian. Sejujurnya Adrian juga kangen dengan istrinya.


Tapi dia masih takut kalau apa yang dia lakukan akan menyakiti bayi yang ada di kandungan istrinya.


***


Hari ini Ibunya pulang kerumah. Tinggal Mama, Bibi dan Lyvia yang asyik membuat makanan pengganti nasi untuk cemilan Lyvia.


Tapi cemilan yang dibuat kali ini cemilan berat, cake dan puding kesukaan Lyvia.


Mama memang pandai menyenangkan hati menantunya ini, tidak mau nasi pudingpun jadi.


Bibi juga tak mau kalah, dia bikinkan cake kesukaannya. Tapi tidak semua cake dia suka. Lyvia lebih suka karamel dan banana cake.


Lyvia menikmati irisan buah yang disiapkan Bibi untuknya, sembari menunggu puding yang masih belum beku di dalam kulkas.


Ibu memperhatikan Lyvia yang begitu lahap menyantap buah dan sayur.


 


"Cucu Mama ini kelihatannya suka yang seger-seger ya...?" goda Mama pada Lyvia.


"Kata orang kalau gak doyan daging, atau sukanya buah-buahan, anaknya cewek ya Ma...?" tanya Lyvia ingin tau.


"Sayang....cewek cowok gak masalah, yang penting sehat..." jawab Mama sambil mengelus rambut Lyvia.


 


Lyvia banyak tersenyum hari ini. Dan hari-hari berikutnya, tidak boleh ada tetesan air mata. Karena kata orang itu bisa berpengaruh dengan psikis babynya.


 

__ADS_1


"Mbak Via.... Handphonenya bunyi itu di meja makan" kata Bibi yang baru saja menaruh cake di meja makan.


"Oya... terimakasih bi..." jawabnya sembari berjalan dari dapur menuju ruang makan.


("Halloo Din... ada apa dek...?") kata Lyvia yang menghubungi balik setelah dilihat ada dua kali panggilan tak terjawab dari Diana.


("Hallo Mbak...barusan ada undangan buat Mbak Via dari kantor pusat.") jawabnya.


("Undangan apa Din...?") tanya Lyvia penasaran.


("Sebentar....izin buka ya Mbak...?")


("Iya...gakpapa, buka aja...")


 


Lyvia masih menunggu, begitu rumitkah pembungkus undangan itu...sampai dia harus menunggu beberapa waktu.


 


("Hallo Mbak Via....") terdengar lagi suara Diana dari balik gagang telepon.


("Iya sayang....apa isinya...")


("Mengundang Anda Nona Lyvia Maharani, dalam rangka ucapan terimakasih dan penerimaan penghargaan...") terangnya.


("Oya....kapan itu Din, karena rencananya memang besok Mbak Via mau ke kantor pusat...")


("Lusa Mbak.... sekalian lusa saja Mbak Via kesananya.") saran Diana lagi.


("Iya Din, terimakasih ya...biar nanti Mas Adrian mampir untuk ambil undangan nya...")


("Siap Mbak....eh, Mbak Via apa kabar ini..? DeBay nya gak rewel kan...?")


("Alhamdulillah....sehat sayang, sudah mendingan sih...baru latihan makan nasi lagi...")


("Wahhh....jadi vegetarian dong, gakpapa mbak...yang penting sehat...")


("Makasih sayang....salam buat semua ya..") katanya sebelum menutup sambungan teleponnya.


 


'Undangan dari kantor pusat, penghargaan seperti apa yang akan aku terima...?' bisiknya dalam hati.


 


("Assalamu'alaikum...Mas, Mas lagi dimana...?") tanya Lyvia yang menghubungi suaminya.


("ini lagi dijalan, mau kembali ke kantor, baru pulang ada kunjungan di kabupaten S..kenapa...?") jawabnya.


("Berati melewati depan dealer dong...?")


("Iya....")


("Boleh minta tolong mampir sebentar Mas...? aku dapat undangan dari kantor pusat, minta tolong ambil sekalian ya mas...?")


("Iya...aku temui siapa...?") tanyanya lagi.


("mas temui Diana ya...")


("iya sayang..."


 


Adrian memang selalu membuat Lyvia tersenyum bahagia. Tak pernah terbayangkan olehnya, Adrian yang dulu jail dan suka menggodanya, sekarang menjadi belahan jiwanya yang selalu ada disaat dia butuhkan.


~ ------------------------------


~ ------------------------------


~ ------------------------------

__ADS_1


__ADS_2