MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 27. Hari yang Melelahkan


__ADS_3

 


Hari ini lagi-lagi Lyvia harus membolos. Setelah absen dan briefing pagi, dia minta izin untuk menjalani tes kesehatan. Salah satu syarat untuk berkas-berkas pernikahan.


 


Adrian sudah menunggunya di luar. Lyvia segera memakai blazernya dan berangkat menuju klinik yang telah ditentukan.


"Apa yang harus aku siapkan Mas...?"


"Siapkan diri saja untuk menghadapi kejantananku nanti..." goda Adrian menjawab pertanyaan Lyvia. Lyvia terlihat manyun dan cubitan kecil mendarat di lengan Adrian. Adrian menangkap tangan nakal itu dan dikecupnya penuh kasih sayang.


 


"Via...."


"Eeehhmmm...." Lyvia memutar tubuhnya 45° , dipandangnya pria tampan di sampingnya itu.


"Terimakasih sudah hadir dalam hidupku." Lyvia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Adrian meraih tangan kanan Lyvia lagi. Kali ini tidak hanya di iciumnya punggung tangan itu tapi disimpan ke dalam genggamannya.


"Mas.... lepasin udah mau nyampe..."


 


Adrian mencium tangannya lagi sebelum melepaskannya.


Lyvia mengantri sebentar sebelum akhirnya dipanggil.


"Selamat pagi.... untuk persyaratan pernikahan..." seorang perawat membaca berkas yang kami bawa. Beberapa pertanyaan dilontarkan kepada kami. Setelah menjalani madical cek up dan suntik imunisasi untuk calon mempelai wanita, dan mendapatkan surat keterangan sehat, kami melanjutkan pemberkasan ke kantor desa dan KUA.


 


"Gimana rasanya tadi disuntik...?" tanya Adrian aneh.


"Rasanya ya gak sakit lah...cuma seperti di gigit semut..."


"Iya....secara jarumnya kecil yang, coba nanti kalau aku yang suntik, pasti teriak-teriak minta ampun..." godanya pada Lyvia.


"Apaan sich....Prima dua..." jawabnya sambil memukul lengan Adrian.


"Aduh...apaan Prima...?" tanyanya kurang paham dengan maksud kekasihnya.


"Otak mesum..." mendengar itu mereka sama-sama terkekeh.


Lyvia menggeliat, mencari letak punggungnya yang nyaman.


"Kenapa sayang....?" tanya Adrian.


"Punggungku rasanya tegang mas...linu semua badanku ..."


"Kenapa lagi...jangan bikin aku khawatir ah...lusa kita sidang pra nikah loo.." tanya adrian cemas.


"Gakpapa mas...cuma tanda-tanda mau dapet mungkin..." Adrian mengusap anak rambut Lyvia.


"Kita mampir kantor dulu ya...ini Prima WA, katanya ada persyaratan yang kurang..."


"Iya Mas..." jawab Lyvia.


 


Mereka berdua menuju ruang Prima.

__ADS_1


"Hallo Prim...apa yang kurang...?"


"Hallo....hai Via...ini pas foto kalian ukuran 4x6 masih kurang 2"


"Oh ...ini aku masih ada sisa Mas..."


Memang adrian yang meminta prima untuk membantu persiapan pernikahannya.


Prima juga yang back up gedung, upacara bataliyon dan resepsi pernikahan mereka. Bahkan sampai cateringpun Prima yang atur.


 


"Ada lagi....?" tanya adrian.


"Oya....sore ini jam 4, kalian foto prewedding tema alam.


"Ok...habis ashar kita ke lokasi."


"Mas Prima kenapa gak buka jasa EO saja...udah profesional banget nich." kata Lyvia yang dibalas dengan cubitan oleh Prima.


"Huuuu....kalau bukan karena si ganteng ini, mana mau saya rempong begini...yang mau enak siapa...? yang rempong saya..."


 


Adrian tertawa lepas mendengar gerutu sahabatnya itu.


 


"Kita mau kemana lagi Mas....?" tanya Lyvia yang merasa kakinya sudah pegal seharian mondar-mandir.


"Kenapa sayang...kamu capek...?"


"Ya sudah...kita pulang dulu ya, istirahat sebelum nanti kita foto prewed.


 


Lyvia mengiyakan ajakan Adrian. Entah karena lelah atau memang rasa kantuk yang tak tertahan. Dia tertidur di mobil waktu perjalanannya pulang.


Adrian membawanya pulang kerumahnya, kebetulan Mama hari ini sedang pergi ke tempat kerabatnya di luar kota. Jadi Lyvia bisa istirahat sebentar dengan tenang.


Lyvia terbangun ketika merasakan tubuhnya seperti melayang.


"Mas....ini kita dimana...?" tanya Lyvia, masih dalam gendongan Adrian.Dia merasa asing dengan kamar yang ditempatinya.


Kamar ini begitu luas, dua kali lipat dari kamar Lyvia. Ditata sangat rapi, bersih dan wangi.


"Ini kamarku dan nanti akan menjadi kamarmu juga." jawab Adrian setelah meletakkan Lyvia di ranjangnya.


Memang, selama mereka dekat tidak pernah sekalipun Lyvia masuk ke kamarnya. Lyvia memandang kagum, ternyata si tampan ini tidak hanya menjaga kebersihan tubuhnya tapi juga kebersihan sekitarnya.


 


"Tidurlah sebentar, tidak ada orang di rumah... Mama sedang keluar kota, Bibi juga ikut menemani. Nanti aku bangunkan Ba'da Ashar." kata Adrian sambil meninggalkan kecupan di kening Lyvia.


 


***


Lyvia terbangun, dia keluar dari kamar. namun tidak menemukan Adrian di mana-mana. Ia ambil phonselnya untuk menghubungi Adrian, tapi ternyata Adrian sudah meninggalkan pesan sebelum dia pergi.


 

__ADS_1


("Sayang....aku kembali ke kantor sebentar, kalau lapar sudah kusiapkan makanan di meja makan, aku usahakan pulang tepat waktu")


 


Adrian memang meninggalkan Lyvia tertidur sendiri di kamarnya. Ada hal yang mesti dia selesaikan di kantor. Dia kembali sebelum jam 15.00 wib.


Ketika memasuki kamarnya, Adrian tidak menemukan calon istinya di ranjang. Ternyata dia sudah bangun dan sekarang terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Dia duduk di sofa yang ada di dekat jendela kamarnya. Penerangan yang redup membuat Lyvia tidak mengetahui kedatangan Adrian, keluar dari kamar mandi ia hanya mengenakan handuk yang membalut tubuhnya.


Lyvia melorotkan sedikit handuknya untuk memakai bra. Ketika dia berada di depan kaca, sontak dia terkaget. Dilihatnya ada seseorang yang sedang mengamatinya.


 


"Aaaaaaaaa.......!" teriaknya sembari lari masuk kembali ke kamar mandi. Adrian tersenyum dan mendekati pintu kamar mandi.


"Kenapa sayang.....?"


"Kenapa mas gak bilang kalau sudah di rumah." protesnya pada Adrian.


"Memangnya kenapa...? toh nanti aku juga melihatnya." goda Adrian yang membuat bibir Lyvia tampak manyun.


 


Lyvia keluar dari kamar mandi dengan sedikit menggerutu.


"Kamu makin cantik kalau lagi marah." rayu Adrian agar kekasihnya itu tersenyum.


"Sudah makan....?" tanya Adrian.


"Belum...."


"Makan dulu yuk...jangan buat dirimu lapar"


Adrian sempat memesan menu makan siang melalui aplikasi online sebelum dia pergi meninggalkan Lyvia.


Adrian & Lyvia berangkat ke lokasi prewedding. Sesampainya disana Lyvia langsung di bawa keruang rias.


"Sudah siap...." kode dari fotografer, ia memberikan arahan gaya. Mereka melakukan beberapa gaya.


Pemotretan berlangsung selama 2 jam untuk sesi pertama dan di lanjutkan lagi untuk 2 jam untuk sesi yang kedua, selesai sampai pukul 22.00 wib.


Hampir tengah malam mereka baru sampai rumah. Lyvia sudah terlelap dalam perjalanan pulang. Adrian memandang wajah Lyvia yang sedikit kusut. Dibelainya rambut Lyvia, ada rasa kasian untuk membangunkannya. 'apa aku bawa pulang kerumah saja ya...?' gumamnya dalam hati.


 


"Sayang.... sudah sampai, kamu mau pulang kerumah apa pulang kerumahku saja..?" tanya adrian memberikan pilihan.


"Pulang kerumah saja Mas....ini sampai mana...?" tanya Lyvia kembali sedikit bingung.


"Sudah sampai depan rumahmu sayang..." jawab Adrian sambil menunjuk ke arah rumah.


 


Sebelum turun Lyvia mendekatkan tubuhnya ke arah Adrian, spontan dikecupnya bibir kekasihnya itu dan ia segera turun masuk rumah menuju tempat favoritnya di atas ranjang. Belum sempat ia memejamkan mata, Adrian telfon sekedar mengucapkan "selamat malam".


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------

__ADS_1


__ADS_2