
"Maira...ingat pesan Bunda, jangan pulang sebelum Bunda jemput. Atau jika pulang lebih awal minta tolong Pak satpam untuk menghubungi Bunda." pesan Lyvia pagi itu ketika mengantar putrinya ke sekolah.
Dia sudah catat nomor handphonenya di kotak pinsil Maira.
"Begitulah ceritanya Bu...jadi saya mohon ada pemberitahuan dari pihak sekolah saat anak-anak pulang lebih awal, agar kami orang tua bisa meluangkan waktu untuk menjemput." saran Lyvia kepada pihak sekolah, agar kejadian yang menimpa putrinya tidak terulang lagi.
"Baik Ibu Lyvia, terimakasih atas sarannya. Ini benar-benar informasi penting bagi kami dan kami akan sampaikan saat rapat dewan guru untuk membuat group di masing-masing kelas." jawabnya.
Lyvia sangat lega, karena apa yang dia lakukan ditanggapi dengan baik oleh pihak sekolah. Disamping itu, apa dia lakukan bukan hanya untuk keselamatan putrinya, tapi juga semua siswa di sekolah itu.
Maira masih begitu polos. Usianya terlalu dini untuk mengetahui kerasnya kenakalan anak-anak di luar sekolah.
"Masak apa hari ini Nak ?" tanya Mama yang sudah mendapatiku di dapur membantu Bibi, sepulang dari mengantar Maira.
"Ma...ini tadi Maira pesan minta dibikinkan Sup tom yam."
"Ini apa ?" tanya beliau menunjuk bungkusan daun pisang yang masih tergeletak belum tersentuh.
"Ikan asap Ma... biar Bibi masak pedas nanti."
"Wah... harus ada sayuran hijau ini, buat lalapan." komentar Beliau.
"Siap Nyah...ini, ada daun singkong, ketimun juga ada." sahut Bibi sembari menunjukkan sayuran yang baru selesai dia bersihkan.
"Adrian paling suka, sayur asap pedas." kata Mama.
"Iya Ma... tadi Mas Adrian yang request."
Memang... sebelum berangkat kerja tadi pagi, Adrian sempat merayu istrinya untuk ke pasar.
"Sayang... kira-kira hari ini kamu ada acara enggak ?"
"Gak ada...memang kenapa Mas ?"
"Kira-kira...ada yang mau kamu beli gak di pasar ?"
"Di pasar ? memang siapa yang mau ke pasar ?"
"Ya... barangkali mau ke pasar."
"Apa sih Mas ? Mas mau dibelikan apa ?"
"Mas lagi pengen sayur pedas ikan asap."
"Astagfirullah...gitu saja muter-muter kayak skuter."
"Eheheheh...love u."
"Hhmmmm....gitu dech kalau ada maunya."
Menu komplit request dari masing-masing penghuni rumah ini sudah siap santap di atas meja makan.
Waktu menunjukkan hampir tengah hari, saatnya Lyvia bersiap menjemput putrinya.
"Ma...Via jemput Maira dulu ya ?"
"Iya Nak... hati-hati di jalan."
Itulah rutinitas Lyvia setiap hari. Pekerjaan ibu rumah tangga lebih berat di banding bekerja di kantoran.
Mulai dari bangun pagi sampai pagi lagi harus siaga...menuju dapur, mempersiapkan sarapan dan sekolah anak-anak juga suami. Siang sedikit membereskan rumah, masak jemput anak-anak.
__ADS_1
Sore menyiapkan makan malam, membantu belajar anak-anak. Malam hari waktunya istirahat, masih harus menawarkan diri 'Mas...mau ibadah gak malam ini ?'
***
Belum jauh Lyvia keluar dari rumah, ada seorang tamu yang mencari.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Ibu...mohon maaf, kediaman Bapak Adrian ?"
"Iya Pak...saya Mamanya, dari mana ya ?"
"Maaf Ibu, saya Pak Jatmiko...wali kelas Albiansyah."
"Iya Pak...ada apa dengan cucu saya ?" tanya Mama cemas.
"Begini Bu...tadi waktu jam istirahat, entah apa yang menjadi pemicunya... anak-anak melerai Al yang sedang berkelahi dengan siswa lain sekolah."
"Astagfirullah....lalu, bagaimana dengan cucu saya Pak ?"
"Jadi... maksud kedatangan saya, ingin memberitahukan kalau sekarang Al berada di rumah sakit, karena ada beberapa luka yang harus ditangani Dokter."
"Ya Allah...Al, sebentar saya hubungi Bundanya dulu Pak, baru saja dia keluar untuk menjemput adiknya sekolah."
"Iya Ibu... silahkan."
Tak berapa lama, Mama pergi ke rumah sakit diantar Pak To. Beliau mengikuti mobil yang dikendarai Pak Jatmiko setelah tadi sempat menghubungi Lyvia.
"Al...kamu kenapa Nak ?" tanya Oma panik.
Dia masih belum siuman, entah apa yang dia rasakan saat ini. Belum banyak yang Oma tanyakan, karena Dokter masih menanganinya.
"Via...Al Via." ucapnya semakin panik, ketika melihat kondisi Al.
"Mama tenang ya...biar Via tanyakan ke Dokter."
Mama mengangguk, namun Via masih harus menunggu dokter memeriksa Al. Via meminta pak To untuk mengantar Maira pulang terlebih dahulu. Rumah sakit bukan tempat yang bagus untuk anak-anak.
"Bagaimana putra saya Dok ?" tanya Lyvia usai Dokter memeriksa putranya.
"Masih belum sadarkan diri, ada benturan keras di kepalanya, semoga tidak terjadi apa-apa. Kami masih menunggu hasil lab. Segera hubungi kami kalau sudah siuman."
"Baik Dok...terimakasih."
Kepergian Dokter dari ruang rawat inap Al, meninggalkan tangis yang mendalam bagi Oma.
Sedangkan Lyvia, hanya bisa mondar-mandir mengamati keadaan putranya.
"Apa Adrian sudah tahu ?" tanya Mama.
"Sudah Ma...dia masih dalam perjalanan."
'Ya Allah...lindungi putraku, ganti sakitnya padaku...' bisik hati Lyvia.
"Ibu Lyvia...maaf, saya pamit dulu...segera hubungi saya tentang perkembangan kesehatan Albiansyah." kata Pak Jatmiko, wali kelas Al yang membawanya ke rumah sakit.
"Baik Pak... terimakasih banyak, maaf sudah merepotkan bapak."
"Tidak apa-apa Bu...sudah menjadi kewajiban saya, kami atas nama pihak sekolah turut prihatin atas kejadian yang menimpa Al, semoga Al segera sadar dan diberikan kesembuhan."
__ADS_1
"Terimakasih support dan do'anya Pak."
"Oya... untuk perlengkapan sekolah Al, nanti biar saya antar kembali ke sini."
"Baik Pak... sekali lagi, mohon maaf merepotkan Bapak."
Lyvia mengantarkan kepergian Pak Jatmiko sampai ke depan pintu ruang rawat inap Al.
"Via... Lyvia !"
terdengar suara Mama berteriak memanggil namanya.
"Iya Ma..."
"Al... jari telunjuknya tadi bergerak."
Tanpa pikir panjang, Lyvia berlari menuju tempat suster jaga.
"Iya Bu ?"
"Sus...anak saya menggerakkan jari telunjuknya." ucapnya tergopoh-gopoh.
"Baik Bu....biar Dokter periksa."
Tak berapa lama, Dokter dan dua asistennya memeriksa kondisi kesehatan Al.
"Bun...."
Terdengar suara parau dari ujung bibirnya yang masih terluka.
"Iya sayang....jangan bicara dulu ?" Lyvia menenangkan putranya.
Dokter memberikan suntikan melalui infus, kesadaran Al semakin membaik.
"Alhamdulillah... tidak ada yang mengkhawatirkan mengenai kondisi kesehatannya. Untuk sementara dia hanya perlu istirahat untuk memulihkan tenaga."
"Terimakasih Dok."
"Sehat ya Nak." dokter mengelus kepalanya sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Assalamu'alaikum..." sapa Adrian yang baru sampai bersama Prima dan 2 orang stafnya.
"Wa'alaikumsalam..."
"Bagaimana keadaannya ?"
"Al baru sadar dari siuman Yah."
Adrian mendekati putranya, dia masih memejamkan mata. Entah tertidur atau sekedar menghindari pertanyaan ayahnya.
"Adrian...kamu tidak akan mengkasuskan kejadian ini ?" tanya Prima.
"Kita tunggu keterangan dari Al dulu...kenapa dia berkelahi."
"Iya... tapi sekedar untuk jaga-jaga, kamu minta hasil visum dokter terlebih dahulu." saran Prima.
Adrian segera menuju ruang dokter dan seperti saran Prima, dia minta hasil visum atas putranya.
~ -----------------------------
~ -----------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------