MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 08. Copy Face


__ADS_3

Orang bilang Al copy face dari Ayahnya. Bukan cuma wajahnya yang mirip, tapi semua yang ada pada Adrian melekat pada Albiansyah.


Bahkan sikap jailnya hampir sama dengan Adrian tempo dulu.


"Jangan terlalu kasar sama anak, ingat...kenapa anak seperti itu, karena kamu sendiri waktu kecil juga seperti itu." itu salah satu nasehat Mama yang selalu Beliau sampaikan kepada Adrian.


Sama seperti Adrian, nakalnya Al wajar sebagaimana nakalnya anak laki-laki. Tidak menyimpang ke hal yang negatif, jika itu terjadi baru kita sebagai orang harus benar-benar bertindak lebih.


Namun di balik kenakalannya, masih ada sisi lembut di hatinya.


"Hei...apa yang kalian lakukan !" bentak Al kepada segerombolan bocah yang menggangu adiknya ketika pulang sekolah.


"Memang kamu siapa ? Sok jagoan bela-belain." ucapnya sembari tertawa mengejek.


"Aku Kakaknya, jadi jangan harap kalian bisa nakalin adikku selama masih ada aku." tegasnya lagi.


Al menampik tangan salah satu dari mereka yang berusaha memukulnya. Bocah itu tersungkur ke belakang dan menahan tangannya yang kesakitan.


"Baru aku tangkis gitu saja sudah jatuh, apalagi kalau aku pukul beneran." gumamnya sedikit menyombongkan diri.


"Kamu tidak apa-apa ?" tanya temannya yang lain.


"Sakit tau ! udah tau ada orang meringis kesakitan, masih saja di tanya !" jawab bocah itu marah.


"Hei...hei...hei...pada ngapain ini, kalian berantem ?" tanya seorang Bapak yang kebetulan lewat di sekitar jalan itu.


"Itu Pak... mereka jailin adik saya, sampai jatuh dan berdarah kakinya." adu Al.


"Ayo lari...cepetan lari..." bisik salah satu dari mereka. Akhirnya mereka berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


"Kamu tidak apa-apa ?" tanya Al kepada adiknya.


"Lutut Maira sakit kak..." ucapnya tersedu-sedu.


"Kenapa Nak ? bisa jalan tidak ? biar bapak obati, rumah bapak ada di ujung jalan sana."


Maira menggelengkan kepalanya.


"Terimakasih Pak...saya boleh menitipkan sepeda saya Pak, biar saya gendong adik saya pulang."


"Iya Nak...putra bapak siapa ya ?" tanya Beliau.


"Saya Al Pak....putra Bapak Adrian."


"Oh...iya-iya, saya kenal pak Adrian. Tidak apa-apa, sepedanya biar Bapak bawa. Bilang sama Ayah, kalau sepedanya ada di rumah Pak Agung di ujung jalan sana." kata Beliau.


"Iya Pak... terimakasih."


'Sopan sekali anak ini, pantesan anaknya Adrian.' ucapnya dalam hati.


Itulah peran orang tua dalam kehidupan keluarga, apapun yang kita ajarkan kepada putra-putri kita, merupakan cermin dari kedua orang tuanya.


Kita sebagai orang tua, tidak perlu harus memukul agar anak menuruti keinginan kita. Tapi cukup dengan menunjukkan hal yang baik yang akan di tiru nanti.


"Sini kakak gendong."

__ADS_1


Al memposisikan punggungnya menghadap ke arah Maira.


"Biar bapak bantu ya ?"


Setelah merasa nyaman, Al berpamitan kepada bapak yang sudah menolongnya.


"Terimakasih Pak...kami pulang dulu."


"Iya Nak... hati-hati di jalan, biar sepedanya bapak simpan dulu."


Cukup jauh Al berjalan sambil menggendong adiknya. Sepanjang jalan dia hanya terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. Dia takut dengan banyak bicara, tenaganya akan habis dan kelelahan sebelum sampai di rumah.


Sedangkan Maira, banyak hal yang ingin dia ceritakan. Tapi melihat kakaknya yang sedang konsentrasi di jalan, dia tidak berani berkata apa-apa, takut kalau kakaknya marah.


"Assalamu'alaikum...Bunda."


"Wa'alaikumsalam..."


Lyvia terkejut mendapati putranya pulang berjalan kaki dengan menggendong adiknya.


"Ada apa ini ? Maira kenapa sayang ?"


"Maira jatuh Bun...tadi waktu di goda anak-anak nakal di jalan." jawab Al.


"Ceritakan pada Bunda, kenapa Maira pulang jalan kaki dan kenapa bisa di gangguin anak-anak nakal." tanya Lyvia sembari membersihkan dan mengobati luka di lutut Maira.


Al meletakkan pantatnya di kursi teras sebelah tempat duduk adiknya. Rasa capek menuntutnya untuk segera membasahi kerongkongannya.


Dia ambil botol Tupperware milik Maira dan dia teguk isinya yang masih separo.


"Tadi Maira pulang lebih awal Bun." ucapnya memulai cerita.


"Tapi...saat dijalan ada anak-anak nakal yang mengejar kami, semua berlari. Tapi Maira tersandung dan jatuh."


"Lalu teman-teman Maira, kemana ?"


"Mereka ketakutan dan tetap berlari, meskipun mereka tahu kalau Maira di ejek anak-anak nakal itu.'


"Ya sudah, lain kali...kalau pulang lebih awal, Maira minta tolong pak satpam untuk hubungi bunda. Atau tunggu bunda jemput di sekolah." pintanya.


"Lalu kakak... sepedanya di taruh mana ?"


"Al titipin kepada bapak yang tadi menolong Maira."


"Kakak tahu rumah bapak itu ?"


"Tahu Bun...beliau kenal sama Ayah, namanya Pak Agung, rumahnya di ujung jalan desa."


"Oh...ya, Bunda tahu. Nanti biar ayah yang ambil sepedanya."


Usai menyelesaikan tugasnya sebagai seorang Ibu disaat anak-anaknya pulang sekolah, Lyvia sedikit bersantai. Al sudah berkecimpung dengan tugas hariannya dari sekolah, sedangkan Maira bobok cantik dengan ditemani Omanya.


Lyvia menghubungi suaminya untuk memberitahukan apa yang barusan terjadi. Dia sampaikan pesan Pak Agung untuk mengambil sepeda Al yang berada di rumahnya.


"Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam Adrian...apa kabar ?"


"Alhamdulillah...sehat Pak."


"Mari-mari, masuk dulu."


Agak lama Adrian bertamu di rumah beliau. Setelah cukup lama berbasa-basi dia sampaikan maksud dan tujuannya datang kerumah.


Awalnya Adrian sempat takut, kalau putranya yang nakal dan akan membuat malu keluarga. Tapi sesuai yang diceritakan Lyvia, pak Agung bahkan memuji sikap sopan putranya. Dia juga begitu sayang dengan adiknya.


"Terimakasih Pak...maaf merepotkan."


"Sama-sama, maaf ini dianggurin."


"Tidak apa-apa Pak, saya pamit dulu... Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Hari ini Adrian pulang agak larut, apalagi dia harus mampir ke rumah pak agung untuk mengambil sepeda Al.


"Malam sekali Mas ?" tanya Lyvia yang membantu suaminya menurunkan sepeda.


"Iya, ada tamu tadi di kantor... anak-anak sudah tidur ?"


"Sudah Mas."


Seperti hari-hari yang lalu, sebagai seorang istri Lyvia menyiapkan segala sesuatu keperluan suaminya.


"Ayah...mau Bunda bikinkan kopi ?" tanya Lyvia yang mendapati suami masih berada di ruang kerjanya.


"Tidak...aku ngantuk Bun, ayo kita tidur."


Adrian menggendong istrinya ke kamar.


"Yah...turunin, ingat umur." kata Lyvia.


"Eits... ngledek, gini-gini masih strong...mau berapa kali, ayok !" candanya malam itu.


"Oya Mas...apa kata Pak Agung tadi tentang Al ?" tanya Lyvia ketika malam mulai larut dan mereka masih terjaga.


"Sama seperti cerita Al sama kamu, dia memang membela adiknya."


"Maira juga bilang begitu Mas."


"Tidak disangka...dibalik sikap juteknya, dia sebenarnya sayang sama adiknya." gumam Adrian


"Mirip siapa ?"


"Kamu lah..." jawabnya tak mau kalah.


"Iya, mirip aku banyak di kamu."


Kidung canda sebelum tidur mengantarkan Adrian dan Lyvia meniti masa-masa indah dulu.


~ -------------------------------

__ADS_1


~ -------------------------------


~ -------------------------------


__ADS_2