MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 06. Senyummu Bahagiaku


__ADS_3

Selang tiga bulan dari kelahiran Dylan putra pertama Kania, Lyvia melahirkan anak keduanya.


Seorang bayi mungil dan cantik telah lahir dari rahimnya. Dokter memastikan bahwa dia bisa melahirkan secara normal karena usia Al sudah memasuki tahun ke-7.


Lengkap sudah kebahagiaan keluarga Adrian. Allah sudah mempercayakan kepadanya untuk mengasuh 2 orang putra dan putri.


°Almaira Qisya Maulana


kali ini giliran Lyvia yang memberikan nama untuk putri cantiknya.


"Cantiknya ponakan Aunty..." puji Kania sembari menggendong putri Lyvia. Kelihatannya ada yang cemburu mendengar ucapan Kania. Seseorang yang sedang duduk di sofa pojok dengan memainkan game di tangannya.


"Kakak Al...sini, lihat adiknya nyariin kakak..." kata Aunty yang melihat perubahan pada mimik wajahnya.


Dengan lemas dia mendekat, tapi masih dengan game menyala pada phonselnya.


"Tu...kan, adiknya cantik ?"


"Al maunya adik cowok Aunty."


"Kan sudah ada Adik Dylan cowoknya."


"Gak asyik...Adik Dylan jauh." gerutunya.


"Kan sama saja, adik Maira juga asyik."


"Tapi gak bisa diajak main mobil-mobilan." ucapnya sambil berjalan kembali duduk di sofa.


Sudah biasa kecemburuan terjadi disaat kelahiran anak kedua. Kita sebagai orang tua yang harus pandai-pandai membimbing mereka.


"Assalamu'alaikum..." sapa Prima sekeluarga


"Wa'alaikumsalam..."


"Kakak Gibran." panggil Al.


"Al..."


"Kita main keluar yuk !"


Al menarik tangan Gibran keluar dari ruangan Bundanya.


"Di dalam gak asyik, semua memuji adik cewekku." celotehnya.


Namanya juga anak-anak, belum mengerti arti dari persaudaraan.


"Selamat Lyvia...dari tadi memperhatikan Al sama Gibran sampai lupa belum kasih selamat."


"Terimakasih Mbak Lia...kapan nih nyusul, Gibran sudah besar lo, waktunya punya adek."


"Pengennya sih gitu, tapi Allah belum kasih."


Lia tak henti-hentinya memuji putri kedua Lyvia. Hidungnya yang mancung dan bulu matanya yang lentik, membuatnya gemas ingin punya anak perempuan.


Benar kata Al...semua cenderung memperhatikan adik barunya. Sedangkan Al dan Gibran asyik bermain di ruang khusus yang Adrian siapkan untuk semua mainannya.


"Gibran...pamit dulu yuk sama Om dan Tante." panggil Mamanya.


"Kakak Gibran mau pulang ?"


"Iya sayang...besok main lagi ya..."


Al mengangguk lemas, sembari bergelayut di pangkuan Ayahnya. Semua tamu pulang satu persatu. Al baru menyadari kalau adiknya benar-benar cantik dan lucu.


"Bunda... ternyata adik Al cantik ya ?"


"Iyalah... kakaknya juga ganteng."

__ADS_1


"Al boleh tidur sama adik bayi gak Bun ?"


"Kakak Al...tidur sama Ayah, kasihan adik bayi nanti kena timpah kaki kakak."


Al menurut dan segera terlelap dalam gendongan Ayahnya.


***


Kring....


K : "Hallo Mas... Assalamu'alaikum."


D : "Wa'alaikumsalam sayang..."


K : "Tumben pagi-pagi begini telfon, ada apa ?"


D : "Pagi ini mas terbang dari Singapore, dua jam lagi jemput Mas di Bandara ya ?"


K : "Iya Mas, kenapa tidak bilang sebelumnya."


D : "Mas juga dapat cutinya mendadak."


Sesuai permintaan suaminya, Kania bersiap menuju Bandara.


"Ibu...nitip Dylan ya, Nia mau jemput Mas Dani ke Bandara."


"Iya Nak... hati-hati di jalan."


Dylan yang sudah mulai belajar jalan, harus selalu dalam pengawasan.


Cuaca sedikit mendung hari ini, Kania sudah menunggu kedatangan suaminya di terminal kedatangan Bandara waktu itu.


Hatinya semakin resah ketika sudah lebih dari 2 jam waktu yang ditentukan. Belum ada kabar sama sekali dari suaminya. Pada layar monitor juga belum ada informasi kedatangan dari tempat suaminya berada.


"Permisi Mbak."


"Maaf...saya mau tanya, untuk kedatangan dari Singapore pukul 08.30 kenapa belum ada informasi ya ?" tanya Kania cemas kepada loket informasi kedatangan.


"Iya Ibu...mohon maaf, jadwal penerbangan dari Singapore pagi ini mengalahkan delay atau penundaan penerbangan dikarenakan cuaca sedang tidak baik."


"Iya Mbak...berapa jam lagi kira-kira saya harus menunggu ?"


"Sekitar 30 sampai 45 menit lagi, silahkan di tunggu di ruang tunggu, nanti akan kami informasikan lebih lanjut."


"Terimakasih Mbak."


Ada perasaan lega di hati Kania, namun dalam hati tidak henti-hentinya dia panjatkan do'a.


'Ya Allah... lindungi dan selamatkan suamiku dalam perjalanannya. Jauhkan dia dari bala Ya Robb.' doanya dalam hati.


Keresahan hatinya membuat perutnya terasa mules. Kania mondar mandir tak tenang menunggu kabar dari bagian informasi selanjutnya.


"Nia."


"Iya." Ia terkejut ketika ada seseorang memanggil namanya.


"Sedang apa di sini ?"


"Rendra...aku, aku sedang menjemput Mas Dani."


"Oh...Dani pulang dari Singapore ?"


"Iya, kamu sendiri ngapain ?"


"Aku juga, dimintai tolong tetangga untuk menjemput saudaranya."


Tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya mengingat-ingat kenangan di masa lalu.

__ADS_1


"Dani sukses ya Nia."


"Alhamdulillah."


"Pilihan kamu sudah tepat Nia, coba kalau dulu kamu memilihku, mungkin hanya penyesalan yang kamu dapatkan."


"Kamu ngomong apa Rendra, tidak boleh bicara seperti itu...itu tidak bisa mensyukuri nikmat namanya."


"Iya Nia...tapi memang itu kenyataannya. Aku tidak bisa membahagiakan istriku, sehingga dia pergi meninggalkanku."


"Pergi...bukankah kalian terlihat mesra waktu itu." Kania ingat saat malam sebelum kelahiran Dylan dia bertemu dengan Rendra dan istrinya.


"Ya...malam itu menjadi malam terakhirku bersamanya, pagi setelahnya dia sudah pergi meninggalkanku."


Kania ikut merasakan kesedihan yang Rendra rasakan saat ini. Entah apa yang sebenarnya terjadi, namun Kania tidak sependapat dengan ucapannya.


"Dra... pertemuan dan perpisahan dua insan di dunia ini, semua atas kehendak-Nya. Jadi tidak pantas jika kita mengeluh."


"Terimakasih atas nasehatnya."


Kania menyudahi obrolannya, ketika ibu menelfonnya.


"Iya bu."


"Kamu tidak apa-apa kan Nak ? kenapa lama sekali ?"


"Tidak apa-apa Bu... pesawat yang ditumpangi Mas Dani mengalami delay, jadi Nia harus menunggu lebih lama lagi."


"Ya sudah Nak.. hati-hati ya.."


"Iya Bu."


Memang untuk yang tidak terbiasa menunggu, pasti ada rasa jenuh. Karena menunggu adalah hal yang paling membosankan.


"Nia....saya duluan ya." pamit Rendra saat yang dijemput sudah datang.


"Oh...ya, hati-hati Ren."


Kaniapun segera beranjak dari tempat duduknya, ketika mendengar informasi kedatangan dari Singapore sudah mulai landing.


"Mas Dani." ucapnya sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Maaf...Mas telat, mau telfon HP Mas lowbat."


"Iya, gakpapa Mas."


"Ayo...sini Mas yang bawa, tidak sabar pengen segera ketemu Dylan."


Dani memegang kendali kemudi, dalam waktu singkat dia sudah sampai di rumah.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...apa kabar Nak ?" sapa Ibu.


"Alhamdulillah...sehat Bu."


Belum lagi dia tanyakan 'dimana keberadaan anaknya', sudah terdengar celotehnya dari belakang Ibunya.


"Pa pa pa pa..." celoteh sembari menggigit semua mainannya di lantai.


Dia lampiaskan kerinduannya kepada putranya. Lelah yang tadi dia rasakan, seakan telah sirna sejak melihat tawa Dylan yang menggemaskan.


~ -------------------------------


~ -------------------------------


~ -------------------------------

__ADS_1


__ADS_2