
"Pagi sayang....."
Kata Adrian yang masih meringkuk di atas ranjang, memandangi wajah polos Lyvia yang tanpa make up.
Entah sejak kapan dia telah membuka matanya.
"Pagi juga Cinta..."
Jawab Lyvia tidak kalah romantisnya. Dua kata yang sama-sama mengandung makna yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Adrian mulai menggerakkan tangannya, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah Lyvia.
"Tak terasa...5 tahun sudah kita bersama, tapi aku belum bisa membuatmu bahagia..." ucapnya lirih.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir manis Lyvia. Hanya senyum yang tersungging dari bibir manisnya.
'Senyum itu yang membuatku tergila-gila...' bisik Adrian dalam hati.
"Apa kamu inginkan sesuatu sayang...?"
"Enggak Mas....aku hanya ingin Mas selalu ada buatku..."
"Mas akan bikin wedding anniversary untuk kita..."
"Gak perlu Mas..."
"Gakpapa sayang.... untuk mengenang kembali proses cinta kita, sampai hadirnya Al yang menambah sempurna kebahagiaan kita..."
Lyvia hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya. Meskipun dia larang juga pasti Adrian akan tetap melaksanakan apa yang dia mau.
Lyvia rapatkan tubuhnya untuk bisa memeluk suaminya. Adrian meraih tubuh istrinya, dia mendekapnya dengan erat.
"Love u sayang...." bisiknya.
"Love u too..."
Tidak ada perempuan yang paling bahagia di dunia ini, kecuali kebersamaan bersama keluarganya dan orang-orang yang dia cinta.
Ceklekkk....
Suara itu membuat mereka menolehkan kepala ke arah pintu.
"Bunda...Ayah....."
Suara merdu itu dari bibir mungil Albiansyah, putra kesayangannya.
"Selamat pagi kesayangan Bunda...."
"Pagi Bunda .."
Di usianya saat ini, Al sudah mulai nyaman tidur terpisah dari orang tuanya. Dia lebih suka tidur di kamar yang Ayah Adrian buatkan di sebelah kamar Oma.
*****
"Via....kamu sehat Nak...?" tanya Mama yang mengamati wajah Lyvia ketika mereka berkumpul di meja makan.
"Via sehat ma...."
"Kok kelihatannya sedikit pucat...?"
"Gakpapa Ma... mungkin karena kecapekan saja..."
Lyvia memang merasakan tubuhnya agak kurang fit.
"Kamu gakpapa sayang....?" tanya adrian panik.
"Gakpapa Mas....cuma sedikit pusing..."
"Ya sudah, habis ini kamu istirahat ya...nanti kita bahas tentang apa yang Mas katakan tadi..."
"Ada apa Adrian...?" tanya Mama yang ingin tahu mengenai pembahasan mereka.
"Adrian mau bikin syukuran anniversary Ma..."
"Oya ... bagus itu, kapan...?"
__ADS_1
"Nanti tanggal 15 Ma..."
"Mama hanya bisa mendoakan, semoga kalian tetap langgeng sampai akhir hayat..."
"Aamiin....Adrian berangkat dulu ya Ma...? sayang jangan capek-capek, segera ke Dokter..."
"Iya Mas..."
"Bunda....Al berangkat dulu ya...?" pamit putranya, Al sudah mulai bersekolah di paud dekat kantor suaminya. Ia berangkat bareng dengan ayahnya, dan pulang dijemput Bunda atau Pak To jika Bunda repot.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Usai menghabiskan sarapannya, Lyvia kembali ke kamarnya. Dia perlu membaringkan tubuhnya sebentar. Matanya berkunang-kunang, kepalanya terasa pusing.
Dia tatap langit-langit di kamarnya, dia ingat-ingat apa yang kurang pada dirinya.
"Astagfirullah...."
Lyvia berlari ke arah almari pribadinya. Dia lihat stock pembalutnya bulan lalu masih utuh. Sedangkan dia sudah lepas KB beberapa bulan yang lalu.
"Sayang...mau kemana...?"
"Via mau ke dokter dulu Ma..."
"Biar pak To antar ya..."
"Gakpapa Ma....Via bisa sendiri, nanti minta tolong Pak To buat jemput Al saja Ma..."
"Iya Nak, hati-hati dijalan ya...."
"Iya Ma.... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Lyvia menghentikan laju kendaraannya di sebuah klinik bersalin langganannya. Siang ini tidak begitu banyak yang antri.
"Selamat Bunda...anda positif hamil, usia kandungan Bunda memasuki Minggu ke 5..."
"Alhamdulillah.... terimakasih Dok..."
Dia simpan hasil tes kehamilan dan surat keterangan dari dokter itu ke dalam sebuah box yang dia hias dengan tangannya sendiri.
'Aku akan berikan ini sebagai kado pernikahan kita nanti mas...' gumamnya dalam hati.
Sementara itu disela-sela kesibukannya, Adrian menyempatkan waktu untuk mempersiapkan pesta anniversary khusus untuk istri tercintanya.
"Adrian ...ini contoh undangan yang kamu minta..." Prima menyerahkan beberapa contoh undangan anniversary.
"Gimana Prim...dekor sudah siap untuk tgl. 15...?" tanya Adrian sembari memilih-milih undangan di tangannya.
"Siap....semua sudah aku handel, catering juga, dan ini daftar undangan...kalau ada yang mau ditambahkan..."
"Siippp....hebat kamu, aku suka cara kerja kamu."
"Sialan loo...."
Ruangan Adrian riuh dengan suara tawa mereka.
Tok...tok...tok...
"Ya...masuk..."
"Siang Ndan, maaf ada paket untuk Bapak Adrian..."
"Oya... terimakasih..."
"Siap, Permisi Ndan..."
"Iya, silahkan..."
Adrian membaca alamat yang tertulis di luar kotak yang terbungkus rapi itu.
"Dari siapa Yan...?" tanya Prima yang penasaran dengan kotak cantik berwarna putih tulang itu.
"Biasa....dari Handy"
"Pantesan kotaknya cewek banget..."
''Hahhahahahhahah......"
__ADS_1
Lagi - lagi tawa mereka memenuhi ruangan.
Handy sudah hapal betul model gaun yang di suka Lyvia, jadi tidak usah repot-repot menuju butiknya, pasti hasilnya memuaskan.
Kring...kring....kring....
"Ngerasa dia...kalau lagi kita omongin..." kata Adrian menunjukkan nama yang tertera di kontak Handphonenya.
A : "Hallo Han..."
H : "Yes....lama banget angkatnya..."
A : "Iya, barusan aku terima paket dari kamu."
H : "Baru mau tanya, gimana...? cocok gak..?"
A : "Kalau aku sih cocok... Lyvia pasti juga
suka."
H : "Ok, Segera kirim balik kalau ada yang
kurang pas ya...?"
A : "Siap..."
H : "Ok....sering - sering kasih job ya..."
A : "Insha Allah ...."
Adrian menyudahi percakapannya dengan Handy.
"Dia kalau gak segera di cut, ngomongnya pasti panjang kali lebar ...." kata Prima yang mendengarkan percakapan mereka.
"Iya... apalagi kalau ketemu langsung, wahh...habis waktu kita dia kuasai sendiri buat cerita..." Komentar Adrian.
"Jadi kangen sama mereka yang punya tingkah konyol, perlu juga nih kita adakan reuni..." usul Prima
"Boleh...kita bicarakan lagi nanti, yang penting acaraku harus sukses besok"
Percakapan mereka melebar kemana-mana, mengingat masa-masa muda di bangku sekolah dan kuliah.
Memang hari-hari itulah hari bebas, yang tidak akan pernah mereka rasakan lagi. Dan sekarang saatnya perjuangan demi anak dan istri.
"Assalamu'alaikum..." sapa Adrian ketika memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam...Ayah..." jawab Al yang seperti biasa bergelayut di gendongan Ayahnya.
"Bunda mana sayang..."
"Ada di belakang bersama Oma dan Nenek, ini apa yah...?" tanya Al menunjuk kotak yang dibawa Ayahnya.
"Ini paket gaun untuk Bunda dan Kakak Al.."
"Bunda.... Ayah pulang..." teriak Al.
"Sayang...ini paket dari Han"
"Lo...cepat sekali Mas..."
"Dia kan gitu orangnya, mensegerakan pesanan..." komentar Adrian.
Lyvia membuka dan mencoba gaun yang dibelikan suaminya itu. Han memang selalu membuat pelanggannya puas.
Gaun ini selain pas di tubuh Lyvia, juga kelihatan cantik sepadan dengan warna kulit putih Lyvia.
"Kamu memang selalu kelihatan cantik dan menarik di mataku..." bisik Adrian yang memeluk istrinya dari belakang ketika sedang berdiri di depan cermin.
"Hhhhmmmmm....rayuannya maut..."
"Gak gombal lagi nih...."
"Udah jadi gombal mau diapain lagi..."
Adrian masih ingin berlama-lama mendekam di leher istrinya.
"Aaauuuu....kebiasaan ya, Mandi sana ....sudah sore"
Dia segera melepaskan dekapannya setelah meninggalkan bekas merah di leher istrinya.
~ -----------------------------------
~ -----------------------------------
~ -----------------------------------
__ADS_1