
Adrian naik ke ranjang dengan pelan setelah berganti pakaian. Dia tidak ingin membangunkan istrinya karena kegaduhannya.
Sebelum tidur, dia kecup pipi Lyvia dengan lembut.
'Singkirkan bibir kotorku dariku Adrian...' tolak hati Lyvia.
Jika saja dia tidak bisa menjaga ketenangan di rumah ini, ingin sekali dia berontak dan lari ke pelukan Ibunya.
Ibu.....Via kangen sama Ibu.....
Via ingin pulang Bu....
Via beruntung ... Masih ada Mama yang sayang Via disini.... (suara hati Lyvia...)
Adrian memeluk Lyvia dari belakang, namun belum sempat Adrian memejamkan matanya, Lyvia menyingkirkan tangan Adrian dari tubuhnya.
Lyvia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Adrian memperhatikan istrinya, namun dia tidak berani menegurnya.
Lyvia menunaikan sholat malam, sholat tahajud dilanjutkan dengan sholat hajat dan sholat tasbih.
Lama sekali dia terduduk di akhir takhiatnya. Dia berdzikir dan bersolawat untuk menenangkan hatinya.
Adrian menunggunya sampai dia tertidur sebelum Lyvia beranjak dari tempatnya.
Lyvia merebahkan tubuhnya di sofa, setelah menunaikan sholat malam dia bisa memejamkan matanya.
Apapun keluhan kita hanya kepada Allah tempat yang tepat untuk mengadu.
Sampai terdengar suara adzan, lagi-lagi Lyvia tidak membangunkan suaminya. Dia menunaikan sholat subuh sendiri dan segera turun beraktivitas seperti biasa.
"Bi....jam berapa semalam Adrian pulang...?" terdengar Mama menanyakan kepulangan Adrian kepada Bibi.
"Malam Nyah...sekitar jam 1 malam..."
Mama tidak berkomentar lagi mengenai jawaban Bibi.
"Lyvia....kamu sudah nampak segar Nak..." Tanya Mama yang mengalihkan perhatiannya kepadaku.
"Via sudah mandi Ma...biar gak tergesa-gesa nanti acara rutin bulanan ibu-ibu Bhayangkara.."
"Adrian mana sayang....?"
"Belum bangun Ma...."
Mama tidak menjawabnya, tapi malah bergegas ke kamar Lyvia untuk membangunkan putranya.
"Adrian....Adrian...."
"Eehhhhhmmmm.... Mama, ada apa...?"
"Ada apa..? apa kamu sudah subuh...?"
Adrian terlonjak dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk sholat subuh sebelum matahari tinggi.
Setelah berpakaian, dia turun ke meja makan. Tapi tidak dia dapati istrinya disana.
"Via kemana Ma....?"
"Ada di taman belakang..."
Adrian menyusulnya, tapi Lyvia yang mendengar suara kakinya segera beranjak dari tempat duduknya untuk kembali kedalam rumah.
"Sayang...." Adrian menahannya ketika mereka berpapasan di depan pintu.
__ADS_1
"Ehhmm....iya Mas..." jawab Lyvia tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa tidak bangunkan Mas...?" tanya adrian yang terlihat lega karena ternyata istrinya tidak sedang marah. Meskipun sebenarnya hati Lyvia menolak keberadaannya.
"Aku tidak mau mengganggu istirahat Mas..." jawabnya sembari berjalan menuju ruang makan.
"Via....tunggu sayang, kamu marah sama Mas...?"
Pertanyaan yang konyol dan tidak perlu dijawab.
'aku marah Adrian...aku marah...tapi apa yang bisa aku lakukan untuk meluapkan kemarahanku...!' cercanya dalam hati.
Adrian yang tidak mendapatkan jawaban darinya, segera mengikuti langkah kaki Lyvia ke ruang makan.
"Apa kamu akan bareng dengan Adrian sayang....?" tanya Mama kepadaku ketika sampai di meja makan.
"Kemana Ma....?" Adrian ganti bertanya sebelum pertanyaan Mama aku jawab.
'Bahkan....jadwal rutin pertemuan ibu bhayangkari setiap bulan saja dia tidak ingat.'
"Loo.... hari ini kan jadwal rutin pertemuan ibu bhayangkari..." kata Mama geram kepada Adrian.
"Oh ya....Ma, biar Via bareng ...."
"Tidak Ma.... Mas Adrian berangkat masih terlalu pagi, Via belakangan saja." jawabku memutus ucapan Adrian.
"Sayang... biasanya kamu senang menunggu di ruangan Mas, sampai acara dimulai..." katanya sambil memegang tanganku.
'Kesenangan itu kurasakan sesaat ketika semua masih terlihat baru Mas... sebelum ada kebohongan diantara kita...' tangis hati Lyvia.
"Tidak apa-apa Mas...Via takut mengganggu jadwal sarapanmu..." jawabku sembari menarik tanganku dari genggamannya.
"Gakpapa Mas...biar nanti Via berangkat sendiri." jawabku menahan sesak di hati.
Aku bicara bukan tanpa alasan Adrian. Karena tadi pagi kulihat ada pesan masuk dari perempuan itu.
("Mas...nanti sarapan bareng ya, aku tunggu dirumah...")
Begitupula kiranya pesan singkat yang terbaca di layar handphonenya.
"Gakpapa....aku akan menunggumu sampai kamu berangkat..." katanya memaksa.
Lyvia tidak menyentuh sarapannya, dia hanya meminum susunya. Dan bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian seragam Bhayangkara.
Tidak ingin membuat Mamanya kecewa, Lyvia menuruti keinginan suaminya untuk berangkat bersama.
"Sayang....."
panggil Adrian memecah suasana hening di dalam mobil.
"Hhhhmmmmm...."
"Apa ada yang mau kamu sampaikan...?" tanya Adrian kemudian.
"Tidak.." jawabku singkat.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja... tidak seperti biasanya..."
"Tidak apa-apa..."
Tidak ada lagi yang bisa Adrian katakan. Dia hanya diam mengikuti istrinya.
Lyvia mengikuti langkah Adrian menuju ruangannya. Seperti biasa dia selalu mengembangkan senyum ramahnya.
Tidak jarang dari mereka yang berhenti sejenak untuk menyapa Ibu muda cantik ini.
'Oohhh.... Lyvia, kamu selalu membuatku jatuh cinta... maafkan Mas sayang, belum waktunya Mas bicara, tapi percayalah Mas tidak mungkin menghianatimu...' gumamnya dalam hati.
Lyvia sadar Adrian sedang menatapnya dari tadi.
'Senyumku selalu tulus Adrian, kutahan amarahku demi kehormatanmu....' gemuruh dalam hatinya.
Selama menunggu waktu, handphone adrian berdering berkali-kali. Namun dia tidak mengangkatnya.
Lyvia berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu tanpa berpamitan.
"Sayang....mau kemana...? bukankah masih ada waktu 30 menit lagi...?" katanya mencegah kepergian Lyvia.
"Tidak apa-apa...biar saya tunggu di gedung bhayangkari saja, biar Mas bisa terima telepon tanpa merasa terganggu keberadaanku..." jawabnya santai sambil berlalu.
"Via....tunggu Via..." Adrian menarik pergelangan tangan Lyvia.
"Ada apa lagi Mas....?" jawab Lyvia menahan gemuruh dalam hatinya.
"Via... tolong jangan perlakukan aku seperti ini...?" pintanya.
"Perlakuan yang bagaimana...?"
'Bukankah kamu yang memperlakukan aku seperti orang lain Adrian...?' jeritnya dalam hati.
"Via... Mas mohon, bersikaplah seperti biasa... jangan diamkan mas seperti ini...?"
"Apa akhir-akhir ini, Mas juga bersikap seperti biasa...?" tanya Lyvia balik.
'Ya Allah...betapa cerdas istriku membaca situasi, maafkan Mas sayang...beri Mas waktu untuk menyelesaikan semua...' kegundahan hati Adrian.
"kenapa diam Mas...? tidak bisa menjawab kan...?" desak Lyvia.
Lyvia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adrian. Tapi Adrian menariknya ke dalam pelukannya.
"Lepaskan Mas ....biarkan aku pergi, aku hanya perlu kejujuran..." berontakku dari dekapannya.
"Sebentar Via.... Mas bisa jelasin..."
"Via...." panggilnya lagi.
Aku pura-pura tidak mendengar panggilannya.
Aku bertemu Mbak Lia ketika melewati ruangan Prima.
"Via...." panggilnya.
Aku habiskan 30 menitku di ruangan Prima. Tak ada hal khusus yang kami bicarakan, tidak juga tentang masalah rumah tanggaku. Biarlah itu menjadi bagian dari kisah hidupku.
Pembicaraan kami hanya berkutat seputar kehidupan perempuan saja, meskipun aku merasa sesekali pandangan Prima tertuju kepada kami. Seperti ada hal yang dia nanti, sebelum akhirnya kami berdua menuju aula pertemuan rutin.
~ ----------------------------------
~ ----------------------------------
~ ----------------------------------
__ADS_1