MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 07. Nano Nano Masa Kecil


__ADS_3

Kedatangan Dani ke Indonesia, tidak lain karena ingin menjemput Anak dan Istrinya kembali ke Singapore. Bahkan dia bermaksud ingin membawa serta Ibu mertuanya.


"Kak Via...Mas Adrian, sebenarnya sudah lama saya ingin sampaikan ini, kami berniat mau mengajak ibu bersama kami ke Singapore, itupun jika Kakak sekalian mengizinkan." kata Dani mengawali pembicaraan.


Lyvia belum berani berkata apa-apa, dia hanya memandang ke arah suaminya.


"Dani...Mas dan Kak Via, tidak mau menghalangi niat baikmu membawa Ibu, namun semua kita kembalikan kepada Ibu, apa beliau mau ikut ke luar negeri." jawab Adrian.


"Iya kak...kalau Ibu sendiri kelihatannya beliau mau ikut serta kami." sela Kania.


"Gakpapa Nia... Kakak juga ikut apa kata Beliau saja, kalau Beliau mau biar ikut serta."


Sebenarnya berat bagi Lyvia mengizinkan Ibunya ke luar negeri. Karena selain faktor usia Beliau yang sudah rentan capek jika bepergian jarak jauh, juga karena rasa rindu yang akan dia derita selama Ibunya pergi.


"Apa kamu sudah menyiapkan segala sesuatunya, kelengkapan surat-surat untuk ibu tinggal di luar negeri ?"


"Belum Mas...ini Dani baru minta izin Mas Adrian dan Kak via terlebih dahulu."


Dani memang orangnya sopan dan selalu mementingkan kepentingan keluarga disamping kepentingan pribadinya.


Kami anak-anak Ibu, mempunyai hak yang sama untuk merawat ibu. Tapi sebagai saudara yang lebih muda, Dani tahu diri dan selalu meminta izin kepada Kakaknya.


Begitupun dengan Adrian, yang selalu menghormati apapun keputusan Ibunya. Dia hanya bisa mendukung apa yang menjadi keinginan adiknya itu.


Disamping itu, dengan kondisi Lyvia yang harus merawat kedua buah hatinya, membuat waktunya sedikit berkurang untuk bisa menjenguk Ibunya. Meski begitu dia tetap sempatkan waktu untuk berkunjung.


"Ya sudah...biar besok Mas bantu uruskan segala keperluan Ibu."


"Iya Mas... terimakasih banyak."


Ibu memberikan persyaratan yang diminta Adrian untuk mengurus surat-surat tinggal di luar negeri.


Hingga tiba saatnya ibu harus benar-benar pergi meninggalkan kampung halaman.


"Ibu pasti akan merindukan kalian." kata Beliau saat berpamitan.


"Ibu...sekarang tekhnologi semakin canggih, kita bisa berbicara bertatap muka setiap hari. " sela Kania menenangkan.


"Adrian...Ibu titip Lyvia ya, jaga anak-anak dengan baik."


"Tentu Bu...Ibu juga jaga kesehatan di sana."


"Mama besan, saya pamit... titip Lyvia, ingatkan jika dia berbuat salah."


"Pasti Bu...saling mendoakan ya Bu, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, agar bisa melihat anak cucu tumbuh berkembang dan bisa mengangkat derajat orang tuanya kelak."


"Aamiin..."


Mereka saling berpelukan dan saling menumpahkan air mata. Drama perpisahan pagi ini terlihat mengharukan.


"Ibu...jangan menangis, bedaknya luntur nanti..." canda Lyvia sembari memeluk dan mencium pipi ibunya.


"Via akan selalu mendoakan ibu, selalu sehat. Dan do'akan Via agar nanti bisa liburan ke luar negeri ke rumah Nia." sambungnya lagi.


"Iya Nak...doa ibu pasti bersama kalian."

__ADS_1


Dari sekian adegan, ada satu yang masih tertinggal. Si ganteng Albiansyah meringkuk berjongkok meneteskan air mata.


"Cucu Eyang yang ganteng, gak boleh menangis. Nanti kalau Ayah dapat cuti, Al liburan ke rumah Aunty."


"Hik hiks...iya Eyang."


Sama seperti yang lain, Ibu memeluk dan mencium pipi cucunya.


Lambaian tangan mengantarkan kepergian Kania sekeluarga kembali pulang ke Singapore.


Belum sehari mereka pergi, rasa kangen sudah membelenggu hati Lyvia. Terlebih Al...yang setiap saat meminta untuk menghubungi Eyangnya.


"Hallo Kakak Al.... Eyang sudah sampai di luar negeri" sapa aunty Nia saat video call dengan Al malam itu.


"Eyang sehat ?"


"Alhamdulillah...sehat sayang."


Lama sekali mereka berbasa basi menceritakan pengalaman pertama berada di luar negeri.


***


Bertahun-tahun Ibu telah menetap di luar negeri. Rumah yang kosong karena kepergian Beliau, sudah ditempati orang bergantian karena di kontrak.


Al sudah tumbuh semakin besar dan sekarang duduk di bangku kelas 7 SLTP. sedangkan adiknya Almaira sudah memasuki kelas 1 SD.


"Kakak...itu punya Maira, Bunda...Kakak ambil mainan Maira." teriak adiknya karena ulah jail Kakaknya.


"Ih...beraninya ngadu, sini...ambil kalau berani."


"Al... kembalikan !"


"Huu....cengeng." ucapnya sembari melemparkan mainan adiknya.


"Al...lekas cuci tangan dan kaki... kebiasaan pulang sekolah pasti gangguin adeknya."


Hari-hari Lyvia diributkan dengan sikap jail Al kepada adiknya. Dia suka menggoda Maira yang sedang asyik dengan mainannya.


Apalagi saat Adrian pulang dari kantor, pasti terjadi keributan ketika adiknya lebih dulu merajuk. Al yang tidak mau kalah selalu menggodanya sampai Maira kembali menangis.


"Aaaaa....Ayah, Bunda...!" tangis Maira pecah.


"Kakak...ada apa lagi ? Kakak gak bosen-bosennya ya godain adik."


Al hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan Bundanya.


Dia tetap asyik dengan pekerjaan di meja belajarnya.


"Kenapa sayang ?"


"Maira dicubit Bun..." ucapnya sembari mengelus lengannya yang memerah.


"Maira terus, Maira terus...Bunda gak tanya kenapa Al cubit Maira !" gerutunya marah dan masuk ke kamarnya.


"Al...Al sebentar, Bunda belum selesai bicara Nak." panggilnya.

__ADS_1


"Kenapa lagi dia Nak ?" tanya Oma yang mendengar teriakan Al dari dalam kamar.


"Biasa Ma... berantem sama adeknya."


Disaat seorang ibu tidak bisa lagi mengatasi kemarahan putranya, saat itulah seorang ayah mulai bertindak.


"Biar Ayah yang tanya." Adrian kembali harus bersabar merayu putranya.


"Kenapa Nak ? cerita sama ayah."


"Maira Yah...dia yang nakal tapi Al yang disalahin."


"Memangnya kenapa dengan adek ?"


"Dia pake pewarna Al tanpa izin, sampai habis belepotan semua di meja."


"Al...adek Maira kan masih kecil, harusnya Kakak yang ajarin supaya adek bisa lebih berhati-hati. Kalau Kakak gak bisa kasih tahu adek, bilang sama Ayah atau Bunda. Biar Ayah atau Bunda yang ajarin, jangan di cubit." nasehat Ayahnya panjang lebar.


Sedangkan Lyvia mendekati Maira, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maira...boleh Bunda tanya ?"


Maira menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Kakak sampai mencubit Adek tadi ?"


"Maira yang salah Bun...Maira pake pewarna Kakak buat mainan."


"Lain kali...adek minta izin dulu sama Kakak, jangan sampai Kakak marah saat mau pakai pewarnanya."


"Iya Bun."


"Sekarang, adek minta maaf sama Kakak."


Adrian yang sedang merayu putranya segera meraih tangan Maira saat gadis kecil itu berjalan mendekat. Pelan tapi pasti kakinya melangkah mendekati Ayah dan Kakaknya.


"Kakak...minta maaf." ucapnya sembari mengulurkan tangannya.


"Kakak..." panggil ayahnya.


"Iya."


"Kakak jangan marah lagi."


"Iya."


"Senyum dulu kak."


"Iya, bawel."


Sebentar-sebentar berantem, sebentar-sebentar baikan. Itulah anak-anak, mereka masih labil. Namun dalam setiap do'anya, Lyvia selalu berharap suatu saat nanti Al bisa menyayangi dan melindungi adiknya.


~ ------------------------------


~ ------------------------------

__ADS_1


~ ------------------------------


__ADS_2