
"Sayang....kita sudah sampai...." bisik Adrian membangunkan tidur istrinya.
"Dimana ini Mas....?" tanya Lyvia sedikit bingung, karena merasa asing dengan tempat ini.
"Ini di klinik khusus penyakit dalam sayang..." jawabnya polos seperti tanpa dosa.
Uppssss....ingin rasanya Lyvia tertawa, ternyata suaminya ini benar-benar polos dan belum bisa mengenali perubahan secara fisik pada istrinya.
Lyvia masih terduduk di jok mobilnya. Dia mengernyitkan dahinya seraya memandangi suaminya.
"Kenapa sayang.... gak usah takut, Mas temani..." bujuknya lagi.
"Mas.... memangnya Via sakit apa...?" tanyanya Kembali.
"Ayolah...biar dokter yang periksa, nanti kita akan tau..." jawabnya lagi.
Kali ini dengan raut wajah yang begitu melankolis. Bibirnya tak henti-hentinya mencium punggung tangan Lyvia.
"Mas....." Lyvia memutar tubuhnya menghadap Adrian. Dipegangnya tangan Adrian. Dipandanginya wajah Adrian dengan penuh kasih sayang.
"Dengerin Via...." katanya kemudian.
"Antarkan Via ke klinik bersalin Mom & Kids di pusat kota." katanya setengah berbisik.
Haaahhhhhh.......
'Aku gak salah dengar nich....?' gumamnya dalam hati.
"Mas....kok bengong....? ayoo...keburu antriannya panjang...." pintanya lagi menyadarkan Adrian.
"Sebentar dech...sayang...kamu hamil...?" tanyanya memastikan.
"Belum tau...makanya ayo kita kesana..."
Adrian segera memutar balik mobilnya dan melajukannya ke arah yang diminta istrinya.
Tak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Antrian sudah panjang, ada yang periksa kandungan ada juga yang memeriksakan babynya.
"Mas mau ikut...?" tawarnya pada Adrian.
"Iya...." jawabnya antusias.
Lyvia turun bersama suaminya menuju loket pendaftaran.
"Selamat siang Ibu...ada yang bisa kami bantu...?" tanya seorang suster jaga disitu.
"Iya Sus...saya mau periksa."
"Baik Ibu...sudah pernah periksa di sini...?" tanyanya kemudian.
"Belum... baru pertama kali..."
Suster jaga mulai mendata identitas lengkap Lyvia. Mulai dari nama, alamat, nama suami, dan no telp yang bisa dihubungi.
Lyvia juga ditanya tentang keluhan yang dirasakan serta kapan haid terakhirnya.
"Silahkan ditunggu sebentar, nanti kami panggil sesuai nomor antrian." kata suster itu seraya menyerahkan nomor antrian kami.
Mereka menemukan tempat duduk kosong yang ada diruang tunggu. Adrian kelihatan tegang. Dan untuk mengurangi rasa tegangnya, dia memainkan Handphonenya.
"Mas kenapa....?" tanya Lyvia yang merasakan tangan Adrian begitu dingin.
__ADS_1
"Gakpapa sayang...Mas sedikit gugup..." jawabnya.
"Kenapa gugup....? bukankah hal ini yang kita nanti-nantikan...?"
"Iya...." jawab Adrian dengan suara sedikit bergetar. Dia kecup kening istrinya.
Sebenarnya Lyvia lebih gugup dan lebih tegang dibandingkan Adrian. Ini pertama kali baginya. Rasanya masih sangat dini.
Lyvia menyandarkannya kepalanya di bahu suaminya. Sebelum terdengar suster memanggil namanya.
"Nyonya Novel Adrian Maulana....!"
Lyvia segera berdiri menuju ruangan pemeriksaan. Adrian mengekor di belakangnya.
"Saya boleh ikut masuk Sus....?" tanya Adrian yang ingin mengikuti proses pemeriksaan istrinya.
Lyvia tersenyum mendengar pertanyaan suaminya.
"Silahkan Bapak..." jawabnya ramah.
Dokter memeriksa Lyvia dengan teliti. Dia juga memberikan beberapa pertanyaan.
Suster jaga membantu memeriksa tes urine Lyvia. Adrian memperhatikan serangkaian pemeriksaan yang dilakukan istrinya.
"Silahkan Ibu...." kata Dokter mempersilahkan Lyvia untuk duduk.
"Bagaimana Dok...apa hasil dari pemeriksaan istri saya..." tanya adrian tidak sabar.
"Ini yang pertama kalinya ya Pak...?" jawab Bu Dokter menggoda adrian yang kelihatan tidak sabar.
Dokter membuka amplop hasil pemeriksaan.
"Selamat ya Pak...Bu Lyvia, anda positif hamil, kandungan Ibu memasuki Minggu ke empat" kata Dokter memberikan keterangan.
"Untuk three semester pertama, pasti ada rasa mual, pusing, itu biasa..nanti lama-lama akan hilang dengan sendirinya." terangnya.
"Ini saya berikan vitamin dan penambah darah, dan ingat... karena ini yang pertama dan masih terlalu muda...maka Bu Lyvia jangan terlalu capek..." terangnya lagi.
"Iya Dok.... terimakasih banyak."
"Dan untuk daftar pemeriksaan rutin, sudah tertera di dalam buku ini, nanti bisa dipelajari lagi..."
Begitu keluar dari klinik, Adrian sedikit lebay. Dia gendong istrinya menuju mobil.
"Mas....turunin, malu ach..." Lyvia menepuk-nepuk punggung suaminya.
Adrian menurunkan istrinya setelah dekat dengan mobilnya.
"Silahkan masuk Nyonya Novel Adrian Maulana..."
"Norak ach...." jawab Lyvia sambil mencubit dada Adrian.
"Aauuuuu....." Adrian memasuki mobilnya dengan memegangi dadanya yang masih terasa sakit karena cubitan Lyvia.
Mereka segera pulang, tak sabar ingin menyampaikan kabar baik ini kepada Mama.
Lyvia terlihat semakin manja kepada suaminya. Sepanjang perjalanan pulang, kepalanya menyender di bahu Adrian.
"Ma.......Mama..... Mama....!" teriakan Adrian yang menggemparkan isi rumah.
Mama yang sedang duduk di ruang tengah segera berdiri. Begitupun dengan Bibi yang ikut berlari dari dapur.
"Adrian kenapa Nak....?" tanya Mama yang heran melihat putranya menitikkan air mata.
__ADS_1
Adrian memeluk Mamanya erat. Lyvia hanya tersenyum menahan tangis.
"Ada apa Lyvia....??" tanya Mamanya Kembali.
"Sebentar lagi adrian akan jadi Ayah Ma..." jawabnya lirih. Mama mengucapkan selamat kepada putranya, beliau menciumnya berkali-kali.
"Sini sayang...." pinta Mama kepada Lyvia.
Mama langsung memeluk menantunya itu dengan penuh rasa sayang.
Diciumnya Lyvia berkali-kali.
"Selamat ya Nak.... terimakasih telah memberikan kado terindah untuk Mama..."
Lyvia terharu dengan suasana tersebut. Tak terasa air matanya mengalir deras di pipinya. Betapa berharganya kebahagiaan ini baginya. Semoga akan selalu begini selamanya.
"Selamat Mas Adrian...Bibi ikut senang mendengarnya..." kata Bibi.
"Terimakasih banyak Bi...."jawabnya sambil memeluk Bibinya.
Bibipun menangis diperlakukan sedemikian oleh anak majikannya itu.
"Alhamdulillah....Bibi masih diberi umur panjang untuk melihat Mas Adrian bahagia, dulu Mas Adrian kecil yang Bibi asuh, sekarang bibi juga akan membantu mengasuh Mas Adrian junior..." kata Bibi yang masih dalam pelukan Adrian.
"Mbak Via.... Bibi ikut senang, semoga Mbak Via sehat terus sampai lahirnya jabang bayi..."
"Aamiin.... terimakasih Bi...."
Lyvia ingin berbagi kabar gembira ini kepada Ibu, Adik dan keluarganya di rumah.
Adrian janji akan mengajaknya berkunjung. Tapi hal itu tertunda karena kondisinya yang masih lemah.
Hooeeeekkk.... hooeeeekkk....
"Via.... istirahatlah di kamar...." pinta Mama menghawatirkan kondisi menantunya.
Adrian membawa istrinya ke kamar. Dia menyiapkan air hangat di bathtub untuk mandi istrinya.
"Segeralah mandi....sudah hampir Magrib."
Lyvia menurut apa kata suaminya.
Adrian memperlakukan istrinya bagaikan seorang ratu. Apapun yang ia minta akan dipenuhi olehnya.
Dia merebahkan tubuhnya di ranjang dan meminta suaminya untuk menemani.
"Mas......."
"Apa sayang...."
"Aku kangen sama Ibu...kapan antar aku untuk berkunjung...?" rengeknya.
"Iya...pasti setelah kondisimu membaik." jawab Adrian sembari mencium keningnya.
"Tapi aku kan baik-baik saja Mas...." protesnya.
"Via...nurut apa kata dokter, tetap bedrest selama masih terasa pusing dan mual."
"Iya ...iya...." jawabnya dengan bibir sedikit monyong.
Entah kenapa, kepalanya semakin berat hari ini. Adrian yang menemaninya tidur, merasakan hembusan nafasnya semakin teratur.
"Sayang....sudah minum vitaminnya...?"
"Sudah..." jawabnya singkat
Dia mulai memejamkan matanya, rasa kantuk membuatnya terlelap dalam mimpi.
~ --------------------------------
~ --------------------------------
~ --------------------------------
__ADS_1