MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 15. Kecemburuan Adrian


__ADS_3

 


Sepanjang perjalanan pulang, Lyvia hanya terdiam. Pandangan matanya tertuju keluar.


 


Merasa tidak tahan dengan perlakuannya, Adrian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


 


"Kenapa berhenti....?" tanya Lyvia bingung.


 


Adrian menyondongkan tubuhnya mendekati Lyvia. Tangan kirinya merangkul leher Lyvia, sedangkan jari tangan kanannya mengelus wajah Lyvia dari kening turun ke hidung, bibir dan mendarat di dagunya.


Wajah mereka begitu dekat. Hembusan nafas Adrian bisa ia rasakan, sehingga membuat pipi Lyvia merona karena malu.


 


"Via....jawab pertanyaanku dengan benar..." pinta Adrian yang kelihatan menahan amarah.


"I...iya...."


 


Dipandanginya wajah gadis itu, dalam hati ia ingin tertawa. Geli rasanya melihat Lyvia gemetar ketakutan.


 


"Kenapa selama acara tadi kamu panggil aku 'Pak'...? kenapa selama acara kamu seolah-olah tidak mengenalku...? kenapa selama acara kamu lebih memperhatikan pria itu dibandingkan denganku...?"


 


Lyvia hanya bisa memejamkan mata. Dengan sedikit keberanian dia mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.


 


"Aku...aku...aku hanya ingin menghormatimu, aku tidak memperhatikan siapa-siapa...aku bersikap biasa saja..." jawaban Lyvia terdengar gugup.


"Aku tidak mau kamu terlalu dekat dengan pria itu...!" tegas Adrian.


"Memangnya apa kamu masih peduli...? kemana kamu beberapa hari ini...? Aku tau kalau kamu sibuk, tapi sesibuk apakah kamu sehingga tidak bisa meluangkan sedikitpun hanya untuk sekedar mengirim pesan...?" protes Lyvia diiringi derai air mata.


 


Ya Allah.... ternyata aku telah menyakitinya, padahal tidak ada maksud sedikitpun untuk mengabaikannya.


Diraihnya gadis itu dalam pelukannya. Dikecupnya ujung rambut Lyvia, ia hapus air matanya dengan ibu jarinya.


 


"Maafkan aku...aku tidak bermaksud menyakitimu." diciumnya bibir Lyvia dengan lembut.


"Aku terlalu takut kehilanganmu, itulah kenapa aku tidak rela kamu terlalu dekat dengan laki-laki lain." tegasnya lagi.


"Jangan menangis lagi, ayo tersenyum..." Lyvia hanya mengangguk dan mengembangkan senyum manisnya.


 


Diciumnya lagi bibir gadis itu, kali ini ada balasan dari Lyvia.


 


"I Love u...." bisiknya


"Love u too...."


 


Adrian melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang. Sebelumnya dia mampir untuk mengisi perut mereka yang lapar.


Suasana sudah kembali seperti biasa. Sesekali dia bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya itu.


Sesampainya dirumah, Adrian mampir sebentar ke rumah Lyvia.


Dia sedang berbincang diruang tamu dengan Ibu, sedangkan Lyvia langsung berlari ke kamar mandi.


 


"Mas mau aku antarkan apa mau bawa mobilku saja...?" bidadari pemilik suara itu sudah terlihat fress dan wangi.


"Kalau kamu masih kangen sama aku, mending ikut aku pulang..." godanya.


"Ya sudah, Bu...Via antar mas Adri pulang dulu ya...?" pamitnya memohon izin ibunya


"Iya Nak... hati-hati dijalan, salam buat Mamanya Nak Adrian..."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam... Insha Allah saya sampaikan Bu..." jawab Adrian.


 


Dalam perjalanan, Adrian banyak menggoda Lyvia.


"Jadi benar...kamu masih kangen sama aku kan...?? nyatanya tidak rela aku pulang sendirian."


"Mas....bukan begitu, aku gak mau merepotkan mu besok pagi..."


"Aku senang kamu repotkan...ngaku saja, kalau kangen..." godanya lagi, kali ini diikuti dengan tangannya yang usil mencubit pinggang Lyvia.


"Aauuuuu....apaan sich, siapa juga yang kangen..." gerutuku setengah berbisik.


"Ahhahahahahahhaha......"


Tak berapa lama, kami sudah memasuki halaman rumah Adrian.


"Mas...kok dimasukkan, sudah malam aku langsung pulang aja..."


"Memangnya siapa yang mengizinkanmu pulang...?" jawaban adrian yang membuat Lyvia membelalakkan mata.


"Aku yang kangen...jadi kamu harus menemaniku sebentar..."


"Tapi......"


"Baru jam 8, masih sore...." katanya sambil menarik tangan Lyvia.


 


"Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumsalam...Via, apa kabar Nak... Mama kangen. Kenapa lama gak maen...?" Jawab Mama Adrian, padahal baru 2 hari yang lalu Lyvia maen kerumah ini.


"Tu kan...bukan cuma aku yang kangen..." bisik Adrian


"Mama...baru 2 hari yang lalu Via maen, masak sudah kangen...?"


"Mama maunya tiap hari ketemu kamu Nak..." jawaban Mama bikin pipi Lyvia merah merona.


 


Sama dengan yang Adrian lakukan dirumah Lyvia tadi, kali ini Lyvia yang asyik ngobrol dengan mama diruang tengah. Sedangkan Adrian sibuk membersihkan diri di kamar mandi.


***


Terdengar suara Adrian menelfon prima yang tadi ditinggalkannya di lokasi Promosi.


("Ok, aku dirumah...")


Mereka sudah menutup telfonnya. Adrian menghampiri kami dan duduk diantara mama & Lyvia.


 


"Geser dikit dong...." kata Adrian, namun Lyvia tidak bergerak sama sekali.


"Ihh...ni anak, banyak tempat kosong juga..." gerutu Mama.


 


Tangan kiri Adrian merangkul pundak Mamanya, sedangkan tangan kanannya melingkar di pinggang Lyvia.


 


"Kalian sudah makan....?" tanya Mama, yang sesekali terlihat menguap


"Sudah Ma..." jawab Lyvia.


"Mama capek... istirahat dulu Ma..." kata Adrian sambil mencium pipi Mamanya.


" Iya... Mama sudah gak kuat kantuk, maklum faktor U, Mama tinggal ke dalam ya...?"


"Iya Ma....Via juga pamit ya Ma...sudah malem, besok via maen kesini lagi..."


"Loo...kenapa buru-buru...?"


"Gak Ma...Mama istirahat dulu aja, Via nanti pulangnya Adrian yang anter..." sela Adrian sambil menarik Lyvia untuk duduk kembali di sisinya.


 


Mama hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. 'maklum anak muda...' bisiknya dalam hati. Mama yakin Adrian bisa menjaga diri.


 


"Mas....udah malem, gak enak sama Mama, apalagi dilihat tetangga...masak cewek ngapel kerumah cowok." rengeknya memohon.


 

__ADS_1


Adrian tidak mendengar apa yang Lyvia katakan. Dia membalas nya dengan mendekatkan tubuhnya dengan Lyvia. Kepalanya disandarkan ke bahu gadis itu.


 


"Sudah aku bilang, aku kangen...." bisiknya pada Lyvia.


 


Lyvia merasa geli dengan hembusan nafas Adrian.


Dia mencoba sedikit bergeser. Namun tenaganya tidak cukup kuat dibanding dengan adrian. Kini Adrian menguncinya erat dalam pelukannya.


Lyvia hanya bisa pasrah. Bahkan dia yang bersandar di dada Adrian. Adrian bisa merasakan aroma wangi rambut Lyvia. Tangannya yang usil meraba-raba pipi dan bibir Lyvia.


 


"Mas...." protesnya karena risi dan geli diperlukan seperti itu.


 


Namun rengekan Lyvia diterima lain oleh Adrian. Dia merasa tertantang oleh suara manja Lyvia.


Ditariknya dagu Lyvia, dipandanginya wajah cantik didepannya itu. Bibir Adrian mendarat di kening, mata, pipi dan gini sudah turun ke bibir Lyvia.


Lyvia menikmatinya, dia membalas ciuman itu. Lebih lembut dan lebih bergairah. Nafas mereka kian memburu. Tangan Adrian mulai nakal mengelus setiap jengkal rambut, leher pundak dan turun ke dada Lyvia.


Tidak seperti waktu itu, kali ini tidak ada perlawanan dari Lyvia. Tangan Lyvia mengunci leher Adrian. Adrian semakin tertantang dengan permainan itu.


Satu....dua...tiga....Kancing Baju Lyvia lepas satu per satu. Tangan Adrian sudah berpindah yang tadinya diluar sekarang mulai menyusup kedalam. Bagai menemukan harta karun, diremasnya gundukan itu dalam genggamannya.


Mata mereka sama-sama terpejam, menikmati desiran gairah yang mengalir dalam darahnya. Pelan tapi pasti, bibir Adrian mulai berpindah ke leher dan pundak Lyvia. Tangannya turut turun meraba pusar dan melingkarkannya di perut Lyvia.


Hingga akhirnya bibir Adrian mendarat di belahan dada Lyvia, ditinggalkannya kissmark pada gundukan sebelah kiri.


"Mas....." bisiknya


Adrian tidak memperdulikan rengekan Lyvia. Dia menikmati apa yang ada di depan matanya. Beralih dari kiri ke kanan, diremas dan dikecupi bergantian.


*Din din din ...


Suara klakson menyadarkan mereka. Adrian kenal dengan suara klakson itu. Itu klakson miliknya, pasti Prima yang datang.


 


"Sssiiiiittttt....." umpatnya, nampak ada rasa kecewa di wajahnya. Karena merasa terbebas, Lyvia segera membenahi baju dan merapikan rambutnya.


 


Pipinya memerah karena malu. Adrian hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Adrian beranjak dari tempat duduknya. Dilihat siapa yang datang.


 


"Malam Ndan.... saya mengantarkan mobil."


"Kenapa tidak kamu bawa pulang saja bodoh....??" jawab Adrian yang sebal karena merasa kedatangannya mengganggu.


"Ada yang ingin aku katakan...aku tadi bertemu Maya di lokasi."


"Apa....Maya....! kamu tidak salah lihat...!"


"Gaklah...mana mungkin aku piikun, bahkan aku yang menemaninya berkeliling melihat bazar." jelas Prima


 


Adrian hanya bengong mendengar penjelasan Prima.


"Mas....aku pulang dulu ya...?"


"Cieee.... pantesan marah-marah ternyata kedatanganku mengganggu ya...?" ledek Prima.


 


"Enggak Prim...aku sudah mau pulang kok.." jawabku dan dicegah oleh Adrian.


"Sebentar sayang...biar aku antar"


"Lah....terus ngapain tadi ku antar mas pulang...?" Lyvia hanya menurut.


 


Prima yang tau diri langsung berpamitan dan dia membawa mobil Adrian pulang kerumahnya. Adrian pun bergegas untuk mengantarkan Lyvia pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, tangan Lyvia tak luput dari genggaman Adrian. Hingga akhirnya Lyvia sampai rumah, turun dan menghilang dibalik pintu rumahnya. Baru dia kembali melajukan mobilnya pulang kerumah.


~ ----------------------------


~ ----------------------------

__ADS_1


~ ----------------------------


__ADS_2