MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 25. Hadiah dari Mama


__ADS_3

 


Seminggu setelah kesembuhan Lyvia. Dia sudah kembali aktivitas seperti biasa. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya sedikit merasa lelah.


"Mbak Via jangan terlalu capek... ingat Mbak Via kan baru sembuh..." kata Diana yang kebetulan berada di ruangan Lyvia untuk melaporkan pekerjaannya selama dia absen. Lyvia meregangkan otot-otot tangannya.


"Iya Din... memang sedikit capek aku hari ini... apalagi besok malam aku ada acara..."


"Acara apa Mbak...perlu bantuan...??" Diana menawarkan tenaganya.


"Gakpapa Din....cuma acara kecil saja..."


"Iya mbak... jangan sungkan, kalau sedang repot dirumah dan kami sendiri tidak ada acara, kami siap membantu." jawab Diana yang berharap mbak Via mau menceritakan hal apa yang membuatnya sibuk.


"Tapi kalau kalian tidak ada acara dan tidak keberatan untuk hadir, secara pribadi aku mengundang kalian..."


"Kapan Mbak...jam berapa...? biar saya sampaikan kepada teman-teman."


"Besok malam, Ba'da Isyak..." jawab Lyvia, senyum mengembang di bibirnya ketika melihat tingkah lucu Diana.


Seperti anak kecil, Diana berlari meninggalkan pekerjaannya.


"Eeehhh....mau kemana...?" tanya Lyvia.


"Kedepan, untuk memberikan pengumuman dari mbak Via, mumpung semua masih pada ngumpul."


"Kan bisa lewat group WA....?"


"Gak ada kuota Mbak....hehhehehh..."


Lyvia menepuk jidatnya sendiri ketika mendengar jawaban Diana.


Tapi langkahnya terhenti di depan pintu.


"ehh... Mbak, apa yang harus aku katakan, jika mereka bertanya ada acara apa...?"


"Hahahaahha.....jawab saja acara makan-makan" kembali Lyvia memperhatikan tingkahnya.


 


Lyvia memang belum mempublikasikan acara lamarannya kepada teman-temannya. Kali ini acara diambil pas malam Minggu, biar dia bisa di rumah tanpa harus izin.


Diana kembali lagi ke dalam untuk menyelesaikan tugasnya.


"Sudah....?" tanya Lyvia.


"Sudah Mbak.....hehehehe..." jawabnya sambil mengacungkan 2 jari manis dan tengahnya.


Selesai dengan laporannya...Diana kembali lagi ke tempat duduknya.


"Diana....?" panggil Lyvia.


"iya Mbak...." Diana menoleh kembali, sebelum dia keluar dari ruangan itu.


"ini buat beli pulsa...."


Lyvia memberikan satu lembar uang 50 ribuan kepada Diana.


"Terimakasih Mbak Via...." ucapkan sebelum meninggalkan tempat itu. Diana sangat senang, disaat budget kuotanya sudah habis, ada rezeki yang tak terduga.


Namun tak berapa lama dia kembali lagi ke ruangan Lyvia.


*Tok tok tok.... terlihat diana muncul dari balik pintu.


"Mbak Via....ada paketan untuk Mbak Via..." Katanya sambil menyerahkan sesuatu.


"Oya....dari mana?"


"Kelihatannya dari sebuah butik Mbak..." jawabnya setelah membaca alamat pengirim yang tertulis di sampul luar.

__ADS_1


"Ok, terimakasih Diana..."


"Sama-sama Mbak...."


Terlihat pada sampul luar memang tertulis pengiriman dari *HENDY'S COLECTION* dan *MAHKOTA JEWELERY*


"Oh...ini ternyata dari pria nyentrik itu." gumamnya sendiri.


Lyvia segera menyimpan paket tersebut. Akan di bukanya nanti setelah sampai di rumah. Lyvia meraih ponselnya dan mengabarkannya kepada Adrian.


*Tuuutt.... Ttuuut....


("Hallo yang...ini aku terima paket dari Pak Hendy...")


("Oya.... sudah kamu cek...?")


("Belum aku buka...nanti saja di rumah, gak enak disini dilihat yang lain.")


("Iya sayang...tunggu aku ya, jangan pulang sebelum aku jemput.")


("Siap Ndan....")


Lyvia menyudahi sambungan teleponnya. Dia melanjutkan pekerjaan dengan bibirnya yang mulai senyum-senyum sendiri. Sejak kehadiran Adrian dalam hidupnya, hari-harinya serasa berwarna. Meskipun harus dibumbui dengan tragedi dan kisah mengharukan.


Menjelang istirahat siang, Adrian pergi ke tempat kerja Lyvia.


"Mbak Via ada...?" tanyanya kepada salah seorang karyawan.


"Silahkan Pak...ada di ruangannya..."


Tanpa harus melaporkan terlebih dahulu siapa tamunya, semua staf yakin kalau Lyvia tidak akan protes ataupun marah kalau tahu siapa tamunya yang datang.


Adrian langsung menuju ruangan Lyvia.


"Sayang...." sapa Adrian yang mengagetkan Lyvia.


"Mas...ada apa..? mengagetkan saja..."


"Ada apa Mas...?" tanya Lyvia sambil membereskan meja kerjanya.


"Gak tau...kita kerumah sebentar yuk..." ajaknya. Dan segera keluar dari tempat kerjanya. Kebetulan memang waktunya istirahat siang.


***


Sesampainya di rumah Adrian, Lyvia bergegas lari ke dalam rumah.


"Mama.....!" Lyvia menghentikan langkahnya ketika melihat ada tamu disana.


"Sayang....sudah datang..."


"Maaf...saya pikir Mama kenapa-napa, jadi panik tadi waktu Mas Adri jemput"


"Sini duduk sini... Mama sengaja memintamu datang, Mama bingung mau pilih yang mana...?"


Mama menyodorkan beberapa set perhiasan untuk Lyvia pilih.


"Ini untuk apa Ma....?"


"Untukmu sayang...hadiah atas pertunangan kalian."


"Ma...ini tidak perlu, Mas Adrian adalah hadiah terindah yang sudah Mama berikan buat Via..." jawab Via yang membuat semua berdecak kagum.


"Via Mama ingin sekali kamu terima ini...dan nanti kalau kalian sudah menikah, Mama ganti yang minta kado dari kalian." Lyvia tersenyum, dipeluknya Mama Adrian.


"Via sayang sama Mama...Mama mau kado apa dari kami...?" tanya Lyvia antusias.


"Tentu saja cucu buat Mama yang lucu-lucu..." jawaban Mama membuat Lyvia tersenyum malu.


"Mama mau minta cucu berapa...?" tanya Adrian menyela pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Berapa saja....yang bikin rumah ini rame."


Adrian yang dari tadi memperhatikan kekasihnya, kini mulai angkat bicara.


"Sayang...turuti aja permintaan Mama..."


bisiknya pada Lyvia. Akhirnya Via menurut dan memilih 1 set perhiasan.


Dibelakang terdengar banyak orang sedang berbincang. Dari belakang juga tercium aroma yang membuat perut keroncongan.


"Wangi sekali....lagi bikin apa Ma...?"


"Lagi pada bikin cake, lihat sana...kamu incip-incip.."


Lyvia menuju dapur belakang. Dilihatnya semua sibuk dengan pegangannya masing-masing.


"Harum sekali...sedang bikin apa Bi...?" sapa Lyvia. Disitu ada Bibi yang biasa membantu pekerjaan Mama sehari-hari ditemani beberapa tetangga dan kerabat Mama.


 


"Mbak Via....sini Mbak, cicipi...ini enak loo...atau Mbak via mau makan, biar Bibi ambilkan...tadi Bibi bikin rendang juga.." tawarnya kepada Lyvia.


"Gak usah Bi...via incip-incip ini saja..."


 


Lyvia mengambil 1 potong cake yang tadi disodorkan bibi padaya.


 


"Enak banget Bi..." sanjungnya dengan mulut penuh cake.


"Ini...bawa kedepan, kasih Mas Adrian.."


 


Lyvia menerima sepiring cake dari bibi.


"Bibi bikin cake macam-macam dan sebanyak ini untuk apa...?" tanyanya heran.


"kok untuk apa...? besok kan acara lamaran Mas Adrian dan Mbak Via..."


"Iya...tapi kok banyak amat..."


"Nyonya yang minta Mbak..." Lyvia tersenyum.


"jangan lupa pudingnya ya Bi...." katanya sambil berlalu.


Dibawakannya sepiring cake untuk Adrian yang sedang berbincang dengan Mama di ruang tengah.


 


"Sayang...incipi dech, ini enak sekali..."


 


Adrian menerima suapan dari tangan Lyvia.


"Kamu gak makan dulu Nak, tadi Bibi juga bikin rendang.."


"Terimakasih Ma....Via masih kenyang, tadi ngerujak di kantor."


"Ingat lo ya....dijaga makannya, jangan terlalu capek juga.


"Tu kan apa aku bilang...." Adrian yang komentar atas nasehat Mama.


Hari ini semua di rumah Adrian, semua orang sibuk menyiapkan hantaran untuk dibawa ketempat Lyvia dalam rangka acara lamaran besok. Mulai dari cake modern dan jajanan tradisional.


~ ----------------------------

__ADS_1


~ ----------------------------


~ ----------------------------


__ADS_2