MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 70. Usaha Yang Sia-sia


__ADS_3

 


Tengah malam itu, Adrian memergoki Lyvia yang sedang membuat surat lamaran dan mempersiapkan berkas-berkasnya.


 


Sengaja Lyvia kerjakan itu tengah malam ketika Adrian sudah terlelap, hanya untuk menghindari pertanyaan darinya.


 


"Sayang....apa yang kamu kerjakan...?" Tanya Adrian mengagetkan. Lyvia gugup dan berusaha membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja.


 


Adrian yang sudah terlanjur tahu apa yang dia lakukan, segera meraih tangan Lyvia.


"Untuk apa ini...?"


"Bukan urusanmu...." jawabnya lirih.


 


"Kamu istriku, jadi apapun urusanmu akan menjadi urusanku juga..."


 


Lyvia hanya diam membisu, tangannya masih sibuk membereskan pekerjaannya.


 


"Via...." direngkuhnya tubuh Lyvia ke dalam dekapan Adrian.


"Katakan...apa yang harus aku lakukan, agar kamu kembali seperti dulu lagi." pintanya


"Tidak ada... cukup sudahi semua, agar kamu bebas keluar rumah..." ucapnya masih dengan nada setengah berbisik, takut kalau sampai Ibu dan Adiknya dengar.


"Kamu keras kepala Lyvia.... berapa kali harus aku bilang, tidak ada yang berubah dari diriku dan aku juga tidak pernah menghianatimu..." jelasnya berulang-ulang.


"Terserah kamu saja....mana aku tahu, itu benar atau bohong..."


"Via...."


"Apa....aku hanya bosan di rumah, aku ingin mencari kesibukan, aku tidak mau berdiam diri dan selalu membayangkan hal buruk yang pernah kau lakukan di luar sana...aku tidak mau itu..."


 


Malam semakin larut, suasana semakin sunyi, Lyviapun semakin mengecilkan suaranya.


Adrian memeluk tubuh istrinya, dia tidak sanggup melihat dan mendengar Isak tangis Lyvia.


 


"Lepaskan Mas....biarkan aku selesaikan pekerjaanku ..." berontaknya.


"Tidak sayang.... tidak ada pekerjaan yang layak untukmu, tidak ada yang boleh menyuruh-nyuruh istriku di luar sana...biarkan aku membahagiakanmu dengan caraku...."


"Kebahagiaan itu hanya sesaat Mas...belum genap 3 tahun pernikahan kita, tapi kamu sudah membuatku sakit bertahun-tahun."


"Sssstttt....jangan bicara lagi, sudah malam, ayo segera tidur....kasihan Al ditinggal sendiri."


 


Adrian memang ingin menghentikan perdebatan mereka. Dia tidak mau hal ini berlarut-larut kalau tidak ada yang mau mengalah salah satu.


Dengan sigap dia angkat tubuh Lyvia ke kamar. Lyvia berusaha berontak, tapi semakin dia bergerak semakin erat Adrian mendekapnya.


 


"Diamlah... tidurlah dengan manis, aku akan menjagamu disini..." bisiknya sembari meletakkan tubuh istrinya di ranjang.


 


'Adrian...kamu memang bijak dan selalu mengalah disaat aku keras kepala, tapi kenapa aku belum bisa menerima hal itu...' gejolak hati Lyvia.


Masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Adrian tidur di sofa yang ada di dalam kamar Lyvia. Tanpa bantal, tanpa selimut...bahkan dia hanya mengenakan celana pendek dan kaos saja.


Lyvia yang meringkuk di dalam bedcover saja merasa kedinginan, apalagi dia yang tanpa selimut sama sekali.


 


"Maafkan aku Mas...." bisiknya setelah tergerak hatinya untuk menempatkan bantal di bawah lehernya dan menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


 


Adrian yang pura-pura terlelap hanya bisa tersenyum melihat perlakuan istrinya.


'aku yakin...di dalam hati kecilmu pasti masih ada cinta dan kasih sayang untukku...' gumamnya dalam hati.


Pagi itu....entah kenapa Adrian bermalas-malasan. Selesai sholat subuh dia kembali tidur di sofa, Lyviapun tidak berani membangunkannya.


 


"Via....Adrian tidak masuk hari ini...?"


"Entahlah Bu....habis subuh dia kembali tidur di sofa..."


"Kamu tidak coba bangunkan Nak...atau dia sakit...?" kata Ibu memintanya untuk ikut sarapan bareng.


"Via rasa tidak Bu... mungkin dia hanya tidak mau Via keluar hari ini." ucapnya lirih.


"Memangnya kenapa...??"


"Semalam ... Via ketahuan bikin surat lamaran pekerjaan..."


"Uuuppppsss....ahahahha...." Kania tertawa mendengar pengakuanku.


"Apaan sih..."


"Habisnya...kakak ada-ada saja dech, udah dibikin enak masih aja cari masalah baru..."


 


'kamu anak kecil tau apa tentang kehidupan Kania....' bisiknya dalam hati.


*****


Sampai tiba waktu yang telah ia sepakati dengan Riyanti, tapi Adrian belum juga pergi meninggalkan rumah ini.


Lyvia gelisah, bagaimana dia akan sampaikan hal ini kepada sahabatnya itu. Padahal ini kesempatannya untuk bisa keluar dari kejenuhan memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.


 


"Via...kamu kenapa...? Al masih tidur...?" tanya Ibu mengagetkannya.


"Iya Bu....Via bingung, bagaimana Via bilang ke Riyanti tentang pengajuan kerja Lyvia..."


"Iya Bu...hari ini jam 9, Via diminta ke kantornya untuk Interview..."


"Lyvia...pergilah, minta izin kepada suamimu...apapun jawabannya kamu harus patuhi Nak, jangan ambil keputusan sendiri.."


 


'Ibu benar...tapi Ibu tidak mengerti apa yang sedang terjadi, mana mungkin Lyvia minta izin Bu...ini jalan satu - satunya agar Lyvia tidak stres berdiam diri di rumah...' bisiknya dalam hati


 


"Kenapa diam....?" tanya Ibu kembali


"Apa mungkin Mas Adrian mengizinkan..."


"Coba saja, bicarakan baik-baik...jangan buat masalah Nak... kebahagiaan dalam rumah tangga selalu tercipta jika ada komunikasi yang baik antara keduanya..."


 


'Tapi komunikasi kami sedang tidak baik Bu..' gerutunya dalam hati.


 


"Ibu akan merestui kepergianmu untuk bekerja kembali, jika Adrian juga mengizinkanmu..." nasehat Ibu kembali.


 


'Ya Allah....bahkan restu Ibu juga tergantung pada restu suamiku...' ucapnya lemas.


'Tapi... tidak ada salahnya aku coba...Toh, jika Adrian benar-benar meninggalkanku, aku membutuhkan pekerjaan ini...' dialog hatinya.


Lyvia berlari menuju kamarnya, Ibu hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.


 


"Mas.... Mas.... Mas Adrian...." panggilnya membangunkan.


 

__ADS_1


Adrian tidak berkutik sama sekali. Via berusaha membangunkannya kembali.


Dia tekan-tekan pipi Adrian dengan ujung jarinya.


"Mas....bangun....kamu tidur apa pingsan...? susah banget dibangunin..."


Lyvia duduk bersila di hadapan suaminya yang masih tidur di sofa kamarnya. Dia menopang kepalanya dengan kedua tangannya, dia pandangi wajah Adrian yang nampak tersenyum meskipun sedang tidur.


'Dalam tidur saja kamu tetap terlihat tampan Mas... kadang aku tidak ikhlas jika ada mata lain yang melihat ketampananmu...' gumamnya dalam hati


 


"Kenapa.... ? setampan itu kah aku, sehingga kau tak mau lepas dari pandanganmu....?" ucapnya mengagetkan Lyvia yang setengah melamun.


 


Sebenarnya Adrian memang sudah bangun.


"Iihhhh....apaan sih, Mas pura-pura tidur ya..." gerutunya.


Adrian duduk dan berusaha mengangkat tubuh Lyvia ke sampingnya.


"Lepas....aku bisa sendiri..."


Adrian menggelengkan kepalanya, betapa keras kepalanya istrinya ini.


Lyvia duduk di samping menghadap ke arah Adrian.


"Mas...."


"Hhhhmmmmm...."


"Apa kamu tidak berangkat kerja...?"


"Tidak..."


"Kenapa...?"


"Karena kamu akan berangkat kerja..."


Lyvia mengerutkan dahinya, dia kurang paham dengan kata-kata suaminya.


"Maksudnya.....?"


"Bukannya hari ini kamu akan masuk kerja...?"


"Apa Mas mengizinkan..."


"Iya...aku izinkan kamu bekerja, dan biarkan aku yang di rumah merawat Al..." jawabnya tenang.


'Ya Allah....jadi begitu maksudnya, aku tidak pernah berfikir sejauh itu...tapi, bagaimana dengan Al kedepannya nanti...'


 


"Tapi aku akan membutuhkan pekerjaan ini, untuk menyambung hidupku, jika kau tinggalkan aku nanti..." ucapku dengan mata berkaca-kaca.


"Apa lagi yang kau bicarakan...? siapa yang akan meninggalkanmu Lyvia...jangan bikin emosiku naik..aku sudah bersabar dan berusaha memperbaiki kesalahanku...." ucapnya pelan tapi penuh penegasan.


 


Lyvia mulai menumpahkan air mata yang dari tadi menggenang di pelupuk matanya.


 


"Kita pulang hari ini, aku tidak mau Ibu berfikir yang macam-macam tentang kita...kita bicarakan lagi nanti dirumah..." katanya sambil pergi meninggalkanku sendiri di kamar.


 


("Assalamu'alaikum Yanti....maaf, aku belum bisa menerima kebaikanmu untuk bergabung di perusahaan yang kamu pimpin, lagi-lagi Ibu dan suamiku tidak mengizinkan....maafkan aku dan terimakasih atas kesempatan yang kamu berikan padaku...🙏 Wassalam...


Salam hangat dariku 'Lyvia' ") ✔️


Sebuah pesan sudah diterima dan dibaca oleh Riyanti, sebenarnya Lyvia ingin langsung menelponnya, tapi rasanya malu dia bicara.


Yanti sudah begitu baik akan memberikan posisi yang tepat untuk Lyvia. Tapi semua usahanya sia-sia.


("Iya Via.... gakpapa, tenang saja...memang sebaiknya begitu, semoga lain kali kamu bisa bergabung dengan kami disini...🥰😘")✔️


("Aamiin....🤲🤲 terimakasih Riyanti 🥰😘")✔️


~ -----------------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------------


~ -----------------------------------


__ADS_2