
Berat rasanya bagi Lyvia untuk membagi waktu. Apalagi kondisi sekarang tidak seperti dulu lagi. Baik tubuh ataupun fikirannya tidak bisa fokus seperti masa muda dulu.
'Masa muda....? emang saya sudah tua...? Hahahaha....' gumamnya, dia tertawa sendiri.
Dulu...dia bisa berjam-jam betah bertatapan dengan komputer. Sekarang... banyak banget yang dia keluhkan.
"Uuuuuuhhhhhh....." Lyvia berdiri dari tempat duduknya. Dia gerakkan tubuhnya menggeliat ke kiri dan ke kanan.
"Kenapa Mbak Via...?" tanya Mira yang melihatku berkacak pinggang keluar dari dalam ruangan.
"Gak tau nih... badan rasanya pegal-pegal.."
"Eeehhhhmmmm....maklum pengantin baru..." goda Diana.
"Baru....udah lama kali, masa baru terus..." jawab Lyvia sembari menggerak-gerakkan lehernya.
Santi hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Memang.... diantara kami, santilah yang paling muda.
Kring...kring....kring...
("Selamat siang... dengan Diana , ada yang bisa kami bantu...?") sapa Diana kepada seseorang yang menghubunginya melalui sambungan telepon kantor.
("Baik Pak ... sebentar saya sambungkan") katanya kemudian.
Diana meletakkan gagang teleponnya dengan ditemani nada tunggu.
"Mbak Via...ada telepon dari Pak Hendra..." katanya menyampaikan pesan dari si penelepon.
"Oke....saya terima di dalam." Lyvia Kembali ke ruangannya.
("Halloo.... selamat siang Pak...?")
("Siang Via...saya minta tolong dikirimkan laporan penjualan dan keuangan tiga bulan terakhir....") pintanya.
Pak Hendra adalah devisi keuangan di kantor pusat.
("Sudah Pak....tadi sekitar jam 10. sudah saya e-mail di akun Bapak.") jawab Lyvia memberikan keterangan.
("Oya...maaf, belum saya cek...ok terimakasih. Biar saya cek dulu...") katanya seraya menutup sambungan telepon.
"Mbak Via...." panggil Diana yang sudah melongokkan sebagian tubuhnya ke dalam ruangannya.
"Ya Din....."
"Boleh saya masuk...?" katanya memohon izin.
"Iya.... masuklah." jawab Lyvia sambil tersenyum manis.
Ternyata Diana tidak sendiri, ada Mira yang mengekor di belakang. Tinggal Santi yang menunggu di counter depan.
Akhir-akhir ini dealer memang agak sepi. Tapi Alhamdulillah masih bisa masuk target bulanan.
"Ada apa ini....? jangan katakan kalian mau demo ...!" canda Lyvia padanya.
"Hehehehe.... enggak Mbak, kita cuma mau tanya..." jawab mereka.
"Kenapa Din....?" tanya Lyvia penasaran.
"Maaf Mbak... langsung saja ya, kami dengar Mbak Via mau keluar dari kantor, apa itu betul...?" tanya mereka lagi.
__ADS_1
Lyvia tersenyum mendengar pertanyaan mereka. Entah darimana wacana itu bocor.
Lyvia hanya menyiapkan semua laporan dan mengirimkannya ke kantor pusat.
Dia belum serah terima, bahkan dia juga belum mengirimkan surat pengunduran diri sama sekali.
"Kalian dengar dari mana....?"
"Maaf Mbak...Saya tanpa sengaja melihat file surat pengunduran diri Mbak Via waktu membantu Mbak Via memasukkan data penjualan..." jawab Diana sambil merunduk.
Diana takut apa yang dia perbuat membuat Lyvia marah padanya.
"Apa yang kalian dengar itu tidak semuanya salah...." jawab Lyvia yang membuat mereka berdua saling berpandangan.
"Aku memang akan mengundurkan diri, tapi nanti setelah semua laporanku selesai...." jawab Lyvia menerangkan.
"Kenapa Mbak...lalu siapa yang akan menggantikan Mbak Via disini...?"
"Gakpapa...memang suami yang memintaku untuk tidak bekerja...." jawabnya lagi.
"Tapi....kenapa secepat ini, bagaimana nanti dengan kami...?" tanya Mira, kali ini dia menitikkan air mata.
"Heiii....kok nangis, Mbak Via kan masih bisa main kesini..." jawabku menenangkan.
"Aku cuma gak mau kalau pengganti Mbak Via tidak seperti Mbak Via...?" katanya lagi.
"Gak boleh gitu ach...harus positif thinking."
"Gak dipertimbangkan lagi Mbak...?" rayunya lagi .
"Lagipula... Mbak Via masih disini loo...masih belum benar-benar keluar, nanti kalau sudah waktunya, Mbak Via akan kumpulkan kalian semua..." tambahnya lagi.
Tangisnya makin menjadi ketika mendengar penjelasan Lyvia. Lyvia mendekati dua rekan kerjanya yang sudah seperti adiknya sendiri itu dan dipeluknya mereka berdua.
"Udah ahhh....kayak sinetron saja pada nangis...." ledek Lyvia.
Mereka berdua saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.
"Yang penting Mbak Via jangan lupakan kami ya ... sering-sering main ke sini..." pintanya.
"Iya....pasti..." jawabku dan kami berpelukan lagi.
***
Lyvia memikirkan kejadian berusan.
'Ternyata sebegitu sayangnya mereka padaku...?'
'Berat rasanya kalau aku harus keluar dari tempat ini...?'
Tiga tahun yang lalu...ketika Lyvia masih menjadi sales, dealer ini hampir ditutup, karena enam bulan terakhir penjualannya selalu dibawah target. Itupun rata-rata hasil dari penjualan Lyvia.
Hingga pada akhirnya Lyvia diminta untuk memegang kendali. Dengan catatan dia harus bisa mengembalikan reputasi dealer itu Kembali.
Dan sekarang, disaat kebangkitan itu sudah dirasakan hasilnya, dia harus pergi meninggalkan semua kenangan pahit manisnya perjuangan.
Tak terasa air mata Lyvia menetes. Pasti dia akan kangen masa-masa itu kembali.
Dan memang harus disadari kalau ini pasti akan terjadi.
__ADS_1
Lamunannya berakhir ketika handphonenya berbunyi. Ada beberapa pesan masuk dari handphonenya.
("Sayang... sudah waktunya pulang, aku jemput sekarang ya....?")
("Iya Mas...ini sudah selesai, aku tunggu ya...miss u...")😘
("Miss u too.....")🥰😘😘
Lyvia yang sudah berkemas-kemas dari tadi, segera keluar dari ruang kerjanya dan menunggu suaminya di ruang tunggu.
Hari ini dia tidak membawa kendaraan sendiri, tapi diantar Adrian. Karena tadi pagi badannya terasa lemas, kepalanya sedikit pusing dan pandangannya juga berkunang-kunang.
Kalau tidak punya tanggungjawab untuk menyelesaikan berkas-berkas nya, dia pasti lebih memilih libur di rumah.
"Santi, belum pulang...? " tanya Lyvia kepada sales counternya.
"Belum Mbak... sebentar lagi."
"Diana sama Mira sudah pulang...?"
"Belum mbak....mereka masih sholat ashar." jawabnya memberi keterangan.
Lyvia masih memainkan handphone di tangannya. Dia duduk sendiri di ruang tunggu. Satu-persatu pegawai disitu berpamitan untuk pulang.
"Mbak Via....saya pamit duluan ya...?" kata Diana dan Mira bersamaan.
"Oya.... hati-hati di jalan" jawab Lyvia.
Mereka pulang berboncengan berdua. karena rumah mereka berdekatan. Tinggal Lyvia dan Santi yang masih sama-sama menunggu jemputan.
Pak Arif yang bertugas jaga malam sudah datang lebih awal.
"Bu Via, Mbak Santi...belum pulang...?" tanyanya kepada kami.
"Sebentar lagi pak...masih menunggu jemputan." jawabku singkat.
"Mbak Santi juga menunggu jemputan..?" tanyanya lagi kepada Santi.
"Iya Pak...." jawabnya.
'Mas Adrian kebiasaan, bilangnya on the way...dari jam empat sampai jam lima belum nyampe juga...!' gerutunya dalam hati.
Jam lima lewat sepuluh menit adrian datang, ketika Lyvia sudah hampir berada pada titik jenuh karena menunggu.
"Santi.... Mbak pulang dulu ya...?" pamitnya pada Santi yang masih menunggu jemputan juga.
Lyvia mendekati mobil yang dia kenal.
"Maaf sayang...aku telat..." kata Adrian membukakan pintu untuk istrinya.
"Gakpapa Mas... aku akan selalu menunggumu..." jawab Lyvia sedikit ngegombal.
Aslinya hatinya sudah mulai ndongkol karena hampir kering kelamaan menunggu. Orang bilang "pekerjaan yang paling membosankan adalah menunggu"
~ -----------------------------
~ -----------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------