
Acara selesai setelah jam makan siang. Adrian dan Lyvia keluar menuju hotel untuk beristirahat sambil menunggu waktu gala dinner.
"Selamat siang Pak...mau boking untuk berapa hari...?" tanya resepsionis di hotel itu.
"Untuk semalam saja Mbak..."
"Baik Pak...boleh saya pinjam kartu indentitasnya..."
Selesai proses boking hotel, mereka menempati sebuah kamar di lantai dua.
"Via mandi ya Mas....lengket rasanya..." ucapnya kepada Adrian.
"Baru jam 1 gak baik mandi siang-siang, ayo ganti pakaianmu dan istirahat sebentar." pintanya.
Lyvia pergi ke kamar mandi sekedar membersihkan diri dan berganti pakaian, begitupun dengan Adrian.
"Sini sayang...." panggil Adrian yang membentangkan kedua tangannya kepada Lyvia.
Lyvia kembali bergelayut manja dalam pelukan suaminya. Adrian mendekap erat tubuhnya hingga membuatnya sesak bernafas.
"Mas....gak bisa nafas...." rengeknya.
Adrian tersenyum memandang wajah istrinya.
"Mas bangga banget sama kamu, bikin Mas makin jatuh cinta..." katanya sambil mencium kening istrinya.
"Jadi kemaren-kemaren gak jatuh cinta..." jawab Lyvia manyun.
Adrian yang gemas dengan sikap istrinya, langsung membawanya ke atas ranjang.
Dia luapkan semua emosional hatinya saat itu. Adrian memperlakukan Lyvia lebih lembut dari biasanya.
Lama sekali rasanya Lyvia tidak merasakan hal itu. Dia menikmati apapun yang Adrian lakukan.
Siang itu suasana hening, tidak terdengar suara apapun kecuali bisikan-bisikan hangat dari kedua bibir mereka.
"Maass...." ucapnya tertahan.
"Iya sayang...." bisiknya
Adrian yang dulu takut karena anak yang ada di kandungan istrinya.
Kini dia sudah berani melakukannya dengan lembut, karena secara diam-diam dia konsultasikan dengan temannya di luar kota yang menjadi dokter kandungan.
"Love u sayang..." bisiknya setelah mereka sama-sama mengakhirinya.
"Love u too..." jawabnya sembari dicium dan dipeluknya erat-erat pujaan hatinya.
***
"Selamat sore sayang....." sapa Adrian yang melihat Lyvia membuka matanya.
__ADS_1
"Sejak kapan Mas melihatku seperti itu..?" tanyanya setelah sadar kalau Adrian terpaku memandang wajahnya.
"Sejak dulu saat kau hadir dalam hidupku..." godanya kepada Lyvia.
"Aaahhh....gombal...." dicubitnya dada Adrian.
"Aauuuu....sakit sayang, masih ingat kan bagaimana gombalku....?"
"Gombalku terbuat dari kain sutera..." kata mereka bersamaan. Yang membuat keduanya saling tertawa.
Kebersamaan ini memang jarang terjadi, Adrian yang selalu sibuk dengan tugasnya, tidak banyak waktu untuk bercengkrama seperti ini.
"Mandi yuk...." ajaknya.
"Mas mandi dulu sana....aku masih PW ...hehehhe..." jawabnya masih dalam dekapan Adrian.
"Kalau kamu begini terus, mana bisa Mas berdiri...." protesnya, karena Lyvia masih mendekap erat lengan Adrian.
"Ahahhahah.....iya-iya...ayo mandi." jawabnya sambil beranjak dari tempat tidurnya.
***
Lyvia selalu kelihatan cantik dengan pakaian apapun yang dia kenakan.
Kemesraan yang dia perlihatkan selalu bikin iri siapapun yang melihatnya. Tangannya memegang erat lengan suaminya.
Dia kembali menemukan Mbak Rifkah dan keluarganya, kali ini mereka yang datang terlebih dahulu.
Abel yang mulai akrab dengannya, kini mulai bergelayut di pangkuan Adrian. Sesekali Lyvia mencubit gemas pipi Abel yang bercanda dengan suaminya.
Mereka menikmati hiburan yang disuguhkan sambil menikmati hidangan yang ada di setiap meja.
"Mbak....aku ke toilet dulu ya...?" pamitnya kepada Rifkah. Karena suaminya asyik bercakap-cakap dengan Mas Anton dan beberapa orang lainnya.
"Iya... hati-hati Via...."
Pria yang dari tadi memperhatikan semua gerakan Lyvia, kini ikut berdiri mengikuti langkah Lyvia.
"Lyvia...." panggilnya setelah melihat Lyvia keluar dari toilet.
"Ya...." dia menoleh dan terlihat Feryan yang memanggilnya.
Ternyata pria itu menunggunya di lorong menuju toilet sampai Lyvia selesai.
"Mas Fery...ada apa...?" tanyanya kaget karena Feryan menariknya ke pojok yang tidak terlihat orang.
"Lama sekali kita tidak bertemu, aku ingin mengutarakan isi hatiku yang belum sempat aku sampaikan..." katanya pada Lyvia
"Maksudnya bagaimana...?" tanya Lyvia bingung.
"Aku mencintaimu Lyvia, sejak lama saat kamu masih jadi sales...aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku, tapi niat itu aku urungkan karena kau diangkat menjadi kepala cabang waktu itu...dan ketika aku sudah satu level di atasmu, aku juga memberanikan diri untuk menembakmu di area promosi yang kau adakan. Tapi kau pergi bersama laki-laki yang sekarang jadi suamimu itu..." jelasnya panjang kali lebar.
Tidak ada kecurigaan di hati Lyvia saat itu. Karena Feryan memang dikenalnya baik dan sopan selama ini.
__ADS_1
"Sudahlah Mas...semua sudah berlalu, aku sudah berkeluarga dan akupun tidak mengetahui hal itu..."
"Tapi kamu tidak tau bagaimana perasaanku...?" rintihnya.
Feryan mulai melangkah mendekati Lyvia, sedangkan Lyvia memundurkan langkahnya untuk menjauh. Tapi sial....semakin dia mundur semakin terantuk ke tembok.
"Maafkan aku..."
"Bukan salahmu Lyvia... seandainya kamu tahu perasaankupun , apa kamu juga akan menerimaku saat itu." tanyanya dengan tatapan tajam.
"Aku...aku tidak tahu..." jawab Lyvia yang mulai gugup dan bingung.
'Ya Allah.... lindungi aku dari hal yang buruk..' do'anya dalam hati.
Tidak disangka, jawaban Lyvia membuat emosi Feryan memuncak. Didorongnya tubuh Lyvia ke tembok.
Dia sempat mengeluh karena kepalanya terantuk dinding. Dia mencengkeram tangan Lyvia dengan kuat.
"Lepaskan aku Mas...apa yang kamu inginkan..." katanya memohon.
Feryan tidak memperdulikan keluhannya. Bahkan dia semakin erat mendekap Lyvia.
"Lepaskan dia...! apa kau tidak mendengar apa yang dia katakan...!" bentak Adrian yang melihat istrinya diperlukan kasar olehnya.
Feryan sempat kaget, bagaimana bisa tiba-tiba laki-laki ini ada disini. Feryan melepaskan cengkeramannya.
Satu tonjokan mendarat di wajahnya.
"Sabar Bung....saya hanya bercanda saja.." katanya sambil mengangkat tangannya.
"Bercanda kamu bilang..." Adrian yang geram mengepalkan tangannya kembali.
Feryan mencoba untuk melawannya, dan terjadilah baku hantam disitu. Lyvia masih terdiam di tempatnya.
Entah apa jadinya kalau Adrian tidak datang pada waktu yang tepat. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada Allah yang telah menggerakkan suaminya menuju tempat itu.
Bibirnya keluh, kakinya rasanya lemas bahkan pandangannya berkunang-kunang, hingga akhirnya kesadarannya berkurang. Lyvia jatuh pingsan karena shock.
"Adrian....sudah, serahkan dia kepada yang berwajib, kita bawa Lyvia ke rumah sakit." teriak Rifkah.
Feryan mulai gusar... tidak disangka sudah banyak kerumunan orang disitu. Adrian melepaskannya dan segera membawa Lyvia ke Rumah Sakit.
Sedangkan Feryan, security telah membawanya ke Polsek terdekat. Pimpinan perusahaan merasa malu dengan kejadian tersebut.
Beliau secara langsung meminta maaf kepada Adrian, karena kurangnya keamanan sehingga hal itu terjadi.
"Kami mohon maaf....dan kami akan menanggung semua biaya Rumah Sakit, sampai Lyvia sembuh..." katanya kepada Adrian.
"Kami juga akan membantu proses pemeriksaan sampai tuntas..." katanya lagi.
"Terimakasih Pak...." jawab Adrian.
Adrian seorang aparat, tapi dengan kejadian yang menimpa istrinya, membuatnya belum bisa berfikir apa-apa saat ini.
~ -----------------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------------
~ -----------------------------------