
Benar apa yang Ayahnya katakan. Tak berapa lama, Om Prima hadir dengan di temani dua orang stafnya.
"Hallo Al...apa kabar ?" sapanya ramah.
"Baik Om." jawabnya singkat.
"Sudah makan siang ?"
"Sudah Om."
"Om mau Al bercerita mengenai kejadian perkelahian yang membuat Al harus oknam di rumah sakit. Boleh Om tahu ?"
"Iya Om...waktu itu, jam pertama sebelum istirahat, saat pelajaran olahraga. Kami semua berada di gelanggang olahraga, bukan hanya sekolah kami saja, tapi ada beberapa sekolah lain yang ada di sana." awal ceritanya.
"Hehem...lanjut."
"Saat jam olahraga usai, semua siswa kembali ke sekolah. Kebetulan saya piket membawa peralatan olahraga bersama dua orang teman saya. Tapi waktu mau keluar dari gelanggang olahraga, ada 6 siswa dari sekolah lain yang menghadang kami." lanjutnya.
"Apa yang mereka lakukan ?" tanya Prima kemudian.
"Salah satu dari mereka bertanya 'siapa yang bernama Al ?' saya jawab 'aku, kalian siapa ?' tapi tidak sampai dijawab, anak itu sudah memukul Al Om." ceritanya kemudian.
"Di bagian mana kamu dipukul ?"
"Awalnya di tampar di pipi sebelah kiri, sampai bibir bawah Al berdarah."
"Lalu ?"
"Lalu...Al balas menamparnya." jawabnya lirih.
"Lalu... bagaimana kelanjutannya sampai Al pingsan ?"
"Iya ... waktu Al balas menamparnya itulah mereka semua mengeroyok Al, dan dua teman Al yang ketakutan berteriak minta tolong, baru mereka menghentikannya dan kabur satu persatu. Setelah itu Al tidak tahu lagi apa yang terjadi."
Prima menghela nafas panjang, dari penuturan Al, belum bisa ditarik kesimpulan apa yang mereka ributkan sampai terjadi insiden tersebut.
"Al tidak kenal siapa mereka ?"
"Tidak Om."
"Dia anak SMP juga ?"
"Iya."
"SMP mana ?"
"Kalau dari seragamnya, itu anak SMP 7 Om."
"Baik...Om harap tidak ada hal yang masih Al sembunyikan, karena Om akan membantu menguak apa yang terjadi, agar kasus serupa tidak terulang lagi."
Al hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang rawat inap.
"Apa dia berkata jujur ?" tanya Adrian kepada Prima.
"Dari mimik wajahnya, tidak ada hal yang dia tutupi."
"Baguslah."
"Kita hanya membutuhkan beberapa info dari saksi, untuk selanjutnya terserah kamu mau berbuat apa ?"
"Iya... untuk sementara kamu lanjutkan dulu saja, aku cuma ingin memberikan efek jera, agar kejadian serupa tidak terulang lagi."
"Iya, aku juga katakan hal yang sama kepada Al."
__ADS_1
Prima dan stafnya melanjutkan tugasnya mengumpulkan data-data.
"Saya permisi dulu Ndan, hari ini ada jadwal untuk memanggil sejumlah saksi." kata salah seorang staf kepada Prima.
"Silahkan."
Mereka berencana akan ke sekolah Al untuk meminta keterangan lebih lanjut.
***
Setelah mendapatkan banyak keterangan dari beberapa saksi yang cenderung membela Al, tiba saatnya memanggil siswa SMP 7 yang dimaksud Al beberapa hari lalu.
"Siapa namamu Nak ?" tanya Prima.
"Hasan Pak."
"Hasan tahu kenapa Bapak panggil kemari ?"
"Tahu Pak."
"Kenapa ?"
"Karena perkelahian saya dengan anak SMP 1."
"Ceritakan dengan benar, kenapa kalian berkelahi ?"
Bocah bernama Hasan itu sudah mulai gugup dan berkeringat dingin.
"Saya hanya tidak mau adik saya di sakiti Pak."
"Maksudnya ?"
"Adik saya Aldi, mengeluh tangannya sakit karena beberapa hari yang lalu di hadang dan dipukul oleh Al."
"Memangnya, apa yang mereka ributkan sampai Al memukulnya ?"
"Saya tidak tahu Pak."
Prima menutup kembali laptopnya, belum bisa dipastikan siapa yang bersalah dalam perkelahian tersebut.
Dua hari setelah Al keluar dari rumah sakit, pihak keluarga dari siswa yang memukul Al, meminta untuk mediasi yang melibatkan pihak sekolah juga.
Prima juga mengundang semua saksi, terutama adik dari Hasan yaitu Aldi.
"Al...apa benar sebelumnya kamu menghadang dan memukul Aldi ?" tanya Om Prima sebagai mediator dalam sidang intern tersebut.
Al melihat bocah bernama Aldi yang mulai ketakutan dengan kesalahannya dalam bicara kepada kakaknya, sehingga menimbulkan perkelahian itu.
"Tidak...saya hanya membela adik saya saat Aldi dan teman-temannya mengganggu adik saya di jalan, hingga membuat adik saya lari ketakutan dan terjatuh sampai lututnya terluka."
"Benar begitu Aldi ?"
"I...iya Pak."
"Aldi ! kamu membuat Kakakmu dalam masalah dan membuat Mama dan Papa menanggung malu !" bentak Mamanya.
"Ibu...mohon bersabar, inilah kehidupan anak-anak...kita sebagai orang tua harus bisa memaklumi dan lebih intensif memperhatikan mereka." kata Lyvia bijak.
"Maafkan kami Ibu Lyvia, kami mohon jangan sampai kejadian ini merenggut masa depan anak kami." bujuknya.
Lyvia tersenyum mendengar permohonannya. Dalam pertemuan kali ini bisa ditarik kesimpulan bahwa konflik mereka sama-sama dipicu karena rasa sayang terhadap adiknya.
Al sempat tersulut emosi ketika Maira di gangguin Aldi dan teman-temannya, sampai harus menggendongnya pulang karena rasa sakit di lutut yang dia rasakan.
__ADS_1
Sedangkan Hasan memukul Al, juga karena tidak terima adiknya dipukul. Begitu Aldi mengadu kepada Kakaknya.
Anak seusia Al memang masih labil. Segala sesuatu mereka putuskan dengan gegabah.
"Bagaimana Pak Adrian ?" tanya Prima sebagai mediator pertemuan dua keluarga ini.
"Kalau saya pribadi hanya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi." jawab Adrian.
Memang dari awal Adrian hanya ingin memberikan efek jera kepada anak-anak, agar jangan bertindak semaunya sendiri.
"Terimakasih banyak Pak Adrian, saya atas nama orang tua, meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Kami janji hal serupa tidak akan terulang kembali."
Mereka saling memaafkan dan saling berjabat tangan. Bahkan karena masalah ini Al dan Hasan semakin dekat.
Sebuah persahabatan yang dimulai dari perkelahian. Hasan sering ke rumah untuk mengajak Al berlatih sepakbola. Kebetulan hobi mereka juga sama. Sama-sama pecinta bola.
"Al...besok pulang sekolah, kita lihat latihan sepakbola kakak senior yuk !" ajaknya.
"Lagi males ah..."
"Enggak bisa... pokoknya aku jemput jam 15.30 wib."
"Hhhhmmmmm...."
"Ingat pukul 15.30 tepat...gak pake molor."
"Iya bawel."
Begitulah keakraban yang terjalin di antara keduanya. Bahkan hampir setiap hari Hasan berkunjung ke rumah Al.
"Assalamu'alaikum...Albi..."
"Wa'alaikumsalam...Hasan, masuk Nak." jawab Lyvia.
"Al ada Bun ?"
"Ada...masuk dulu, biar Bunda panggilkan."
Hasan menunggunya di ruang tamu, sedangkan Lyvia pergi ke kamar putranya.
"Al...ada Hasan di bawah."
"Hasan ? ngapain siang-siang begini Bun ?" ditengoknya jam menunjukkan pukul 13.20wib. Padahal mereka janjian pukul 15.30, masih ada waktu 1 jam untuk beristirahat.
"Temui dulu sana."
"Al masih ngantuk Bun."
"Eh...gak boleh begitu, ayo temui dulu." kata Lyvia sedikit memaksa.
Dengan langkah malasnya, Al berjalan menuju ruang tamu.
"Kamu masih tidur Al ?" tanyanya ketika Al masih lemas terduduk.
"Udah tahu nanya."
"Ixixixixii....maaf, aku jenuh di rumah."
Akhirnya...atas izin Bunda Lyvia mereka pergi ke kamar Al dan melanjutkan diskusi mereka dalam mimpi di atas ranjang.
~ -----------------------------------
~ -----------------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------------