MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 50. Pengakuan Mutia


__ADS_3

 


Adrian masih menikmati makan siang dengan Lyvia di ruangannya. Sesekali dia pandang wajah cantik istrinya. Dia gampang tersulut emosi, tapi juga cepat sekali luluh.


"Mas... pelan-pelan makannya.." kata Lyvia.


"Enak banget sayang...ini yang masak kamu apa Bibi...?" tanyanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Via Mas...ya dibantu Bibi juga...Hehheh..." jawabnya.


 


Lyvia membereskan bekas makanannya dan mengambilkan air putih hangat untuk suaminya.


"Sering-sering ya ...."


"Hhhhmmmm....maunya..."


 


"Jangan pulang dulu, nanti saja bareng Mas sekalian..." pintanya, sebenarnya Adrian cuma ingin Lyvia masih disini menemaninya.


"Tapi Via bawa mobil sendiri Mas..."


"Gampang nanti... ditinggal disini juga gakpapa..." jawabnya sembari merebahkan tubuhnya di sofa.


 


Lyvia kembali duduk dan memainkan Handphonenya.


Kring...kring...


Adrian : "Hallo Prim...."


Prima. : "Hallo....posisi dimana...?"


Adrian : "Masih di kantor"


Prima. : "Lyvia masih bersamamu...?"


Adrian : "Iya....kenapa, ngomong yang


jelas..lagi banyak pulsa ya ...?"


Prima. : "Hahahhah....gak juga sih, kan nanti


ada yang ngisi..."


Adrian : " Siapa.....?"


Prima. : " Kamulah......wkwkwkwkk...."


Adrian : "Buruan...bercanda melulu ni orang..."


Prima : " Biar gak tegang .... barusan Abi


telfon, dia sudah ketemu adiknya.


Mereka dalam perjalanan, sebentar


lagi juga sampai.."


Adrian : "Ok.....atur saja, aku mau segera


terselesaikan."


Prima. : "Siap Ndan..."


Adrian menutup sambungan teleponnya dan kembali memperhatikan istrinya.


"Siapa Mas ....?" tanyanya ingin tahu.


"Biasa....Prima, kebanyakan omong dia..."


*Sementara itu di ruangan Prima


Tok...tok... tok....


 

__ADS_1


"Masuk....."


"Mohon maaf Ndan....mohon izin, Mutia didampingi Papa dan Mama mau menghadap..." katanya meminta izin.


"Ya... silahkan..."


 


Mutia hanya menundukkan wajahnya ketika memasuki ruangan Prima.


Prima sempat memperhatikan wajah gadis itu, ada luka lebam di pipinya. mungkin dia sempat dihakimi dan mendapatkan peringatan kecil dari keluarganya.


 


"Apa Bapak dan Ibu tahu kenapa saya minta untuk ke ruangan saya terlebih dahulu?" tanyanya mengawali pembicaraan.


"Iya Pak...Abi sudah menceritakan tentang apa yang dilakukan Mutia adiknya." jawab Papanya.


"Baiklah Pak... sebenarnya Pak Adrian dan istrinya masih berada di ruangan beliau, tapi saya sengaja meminta Abi untuk ke ruangan saya terlebih dahulu, semua semata-mata karena Abi adalah tanggung jawab saya. Dan saya mohon, sebelum kita menghadap beliau, mohon kerjasamanya untuk kooperatif. Semua demi karier Abi." katanya panjang lebar.


"Baik Pak...kami paham..." jawab Papanya


"Mutia....apa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan...?" tanya Prima.


"Iya Pak..." jawabnya gugup.


 


luka lebam itu nampak jelas di pipinya, ketika dia mencoba mengangkat wajahnya.


"Apa kamu terluka...? " tanya prima mencoba memastikan.


"Ti... tidak Pak..." jawabnya berbohong. sebenarnya dia merasakan perih dan nyeri di pipinya.


 


"Maaf Pak....tadi saya sempat emosi dan hilang kendali, sampai-sampai saya menamparnya..." sela Mamanya


 


Prima hanya mengangguk mendengar penuturan Mamanya Abimanyu.


"Mama kamu saja tidak bisa menahan amarah melihat tingkahmu.... bagaimana kalau orang lain....?" tegur Prima pada Mutia.


 


"Mas.... sebaiknya Via pulang terlebih dahulu, tadi Mama minta dibelikan obat oles... takutnya mau segera dipakai.."


"Tunggu sebentar sayang...Prima minta kita untuk menunggunya sebentar." ucapnya.


"Ngapain....?"


"Ditunggu saja sebentar...."


 


Adrian berdiri menuju pintu yang tadi masih dia kunci dari dalam. Tapi ketika dia membuka pintu, bersamaan dengan rombongan Prima yang sudah berada di luar pintu.


 


"Izin menghadap Ndan..." kata Prima yang mengetahui Adrian membuka pintu.


"Silahkan...." jawabnya.


 


Lyvia masih berada di tempat duduknya ketika mereka semua sudah berada di dalam ruangan Adrian.


Lyvia berdiri, bermaksud ingin pindah tempat duduk.


"Tunggulah sebentar sayang..." bisiknya pada istrinya.


Lyvia duduk di dekat meja kerja Adrian, sedangkan para tamunya berada di sofa. Prima memimpin pers tertutup sore itu.


 


"Saya atas nama orang tua Mutia, mohon maaf jika apa yang dilakukan anak saya sudah diluar batas kewajaran dan telah mengganggu kenyamanan Bapak/ Ibu sekalian."


 

__ADS_1


Itulah sepotong kalimat yang disampaikan orang tua Mutia. Sepanjang pembicaraan tadi, belum ada sepatah katapun keluar dari bibir Adrian.


Lyvia pun hanya mengikuti perkembangan nya.


"Maaf Pak...jika apa yang saya minta membuat bapak dan ibu kerepotan, sebenarnya permintaan saya simple saja...


saya cuma pengen dengar langsung dari yang bersangkutan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan. Karena apa yang dia lakukan sangat berpengaruh terhadap reputasi saya di kantor dan menimbulkan ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Semua staf mengira saya yang merayu dia, bahkan membuat istri saya curiga kalau saya ada main dengan dia." jelasnya.


 


"Selain itu saya juga minta pernyataan hitam diatas putih dari yang bersangkutan, untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Jika itu dilanggar, tentunya ada sanksi yang harus dia pertanggung jawabkan. Saya rasa... tidak perlu panjang lebar Abi pun sudah paham mengenai hukum." tegasnya kemudian.


 


Semua memperhatikan apa yang dikatakan Adrian. Mutia mengangguk setuju ketika Prima menanyakan kesanggupanya untuk memenuhi permintaan Adrian.


 


"Pak Adrian...Bu Lyvia...saya mohon maaf dengan apa yang telah saya lakukan, saya melakukan itu karena saya terlalu terobsesi dengan Pak Adrian..... saya mulai jatuh hati dan berusaha untuk mendekatinya...."


 


Kata-katanya terhenti tangisnya pecah.


"Saya terlalu berharap Pak Adrian tergoda dengan rayuan saya....tapi perkiraan saya salah, Pak Adrian tidak tergoda sama sekali...." tangisnya semakin menjadi-jadi.


Ucapannya tersendat-sendat. Seperti apapun dia...dia tetaplah seorang perempuan yang mempunyai sisi malu ketika harus mengungkapkan aibnya sendiri.


 


"Saya janji..... tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi...." ucapnya mengakhiri pernyataannya.


 


Tok...tok...


 


"Sore Ndan..." seorang staf menyerahkan satu map kepada Prima.


 


Map itu berisi surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh Mutia.


 


"Silahkan Ndan...mohon dipelajari terlebih dahulu..." kata prima kepada Adrian.


 


Adrian menerima map itu. Setelah dia baca, dia kembalikan lagi kepada prima.


"Silahkan dibaca dulu..." kata prima menyerahkan berkas itu kepada Mutia.


Mutia membaca dan menandatangani berkas itu, sebelum menyerahkan kembali kepada Prima.


 


"Mutia...saya harap, kamu bisa mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi...jagalah kehormatanmu sendiri, karena seorang perempuan akan dihormati jika dia bisa menjaga kehormatannya sendiri..." kata Lyvia yang akhirnya angkat bicara.


"Iya Mbak Via.... maafkan saya...." dia menghambur ke pelukan Lyvia sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


 


Satu lagi masalah terselesaikan. Itulah kehidupan...Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin meniup.


Ini juga salah satu cara Allah menyayangi hambanya. Ujian diberikan karena Allah masih menyayangi kita agar kita senantiasa bersyukur.


Ya..... bersyukur.... Lyvia amat sangat bersyukur, karena dia dikaruniai seorang suami seperti Adrian.


Tidak ada manusia yang sempurna, tapi di mata Lyvia...Adrian sudah lebih dari sempurna, sehingga banyak yang ingin memperebutkannya.


 


"Sekarang kamu tahu... bagaimana aku berusaha mengejar cintamu Lyvia...dan setelah aku mendapatkannya, tidak mungkin aku sia-siakan apa yang sudah aku dapatkan." ungkapan perasaan Adrian yang menenangkan hatinya.


 


~ ---------------------------------

__ADS_1


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------


__ADS_2