
Lyvia masih terisak, dia duduk di sofa yang ada di ruangan Adrian. Adrian bingung, bagaimana caranya menenangkan istrinya.
Dengan kasar dia ambil handphone yang ada di mejanya.
("Prima....kamu di mana, segera ke ruanganku...!")
"Hei....main tutup saja, ada apa lagi ini...." pikir Prima sendiri.
Brraaakkk.....
Dilemparkannya handphone itu ke mejanya kembali.
Mutia....kalau saja dia laki-laki, ingin rasanya dia hajar.
"Sayang.... maafkan aku, tapi aku mohon jangan seperti anak kecil... dengarkan aku dulu..." katanya menenangkan.
Adrian sebenarnya maklum, dia akan sedikit emosi karena memang hati perempuan sensitif ditambah lagi kondisinya yang sedang hamil, orang bilang bawaan jabang bayi.
"Sayang...kalau kamu tidak bisa tenang, bagaimana Mas menjelaskan...?" rayunya lagi.
Lyvia menghapus air matanya, ketika mendengar pintu ruangan Adrian diketuk seseorang.
"Masuk....."
Terlihat Prima memasuki ruangan itu.
Lyvia segera berdiri dari tempat duduknya, dia sambar tas yang ada di sofa.
"Aku akan pulang sementara kerumah Ibu, sampai hatiku merasa tenang..." katanya.
"Tunggu... tunggu sebentar sayang..." cegahnya. Dia pegang erat tangan Lyvia agar tidak keluar dari ruangan ini.
"Prima tolong bantu aku...." pinta Adrian pada sahabatnya itu.
Prima masih belum tahu, dia harus berbuat apa....?
"Apa Mas tidak bisa menyelesaikannya sendiri, sampai-sampai harus meminta bantuan orang lain..." bentaknya memotong ucapan Adrian.
Prima yang belum paham apa yang terjadi, masih bingung apa yang harus dia kerjakan.
"Prima... panggil stafmu yang bernama Abimanyu kesini..." perintahnya tegas.
Tanpa tanya panjang, Prima langsung menghubungi stafnya yang bernama Abimanyu.
Tak berapa lama orang yang dimaksud datang.
"Siap Ndan, ada yang bisa saya kerjakan ?"
Abimanyu nampak kebingungan.
Kenapa dia dipanggil...?
Kenapa istri Pak Adrian menangis...?
Lalu apa hubungannya denganku...?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Abimanyu.
__ADS_1
"Duduklah...." kata Adrian.
Adrianpun duduk bersebelahan dengan Lyvia, tangannya juga masih menggenggam erat tangan istrinya.
"Abimanyu....saya bicara secara pribadi, hal ini berkaitan dengan adikmu Mutia, yang dengan sengaja membuat ulah, bikin onar di ruanganku....jika dalam waktu 2 kali 24 jam tidak ada etikat baik dari yang bersangkutan untuk meluruskan apa yang dia perbuat barusan, saya pastikan akan menuntutnya secara hukum. Dan kamu tahu apa akibatnya pada dirimu...?" Adrian mencoba meluapkan emosinya.
"Siap Ndan... sebelumnya saya atas nama pribadi dan keluarga mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah terjadi..."
"Keluarlah....aku tunggu etikat baiknya untuk menyelesaikan dan bisa menjelaskan kesalah pahaman ini kepada istri saya." katanya sedikit kesal.
"Siap Ndan...mohon izin Ndan, saya akan mencari Mutia sekarang." jawabnya dan segera keluar dari ruangan Adrian.
"Ya Allah.... perempuan...." komentar Prima yang dari tadi hanya diam mencerna apa yang terjadi.
Lyvia masih terdiam, sebenarnya dia malu pada dirinya sendiri. Kenapa dia belum bisa percaya sepenuhnya dengan cinta suaminya.
Padahal sudah banyak yang ditunjukkan Adrian untuk membuktikan cinta tulusnya. Tidak hanya ucapan, selama ini Adrian juga selalu berbuat lebih dari apa yang Via harapkan.
"Lyvia....aku tahu bagaimana sifat suamimu, mulai dari SMP. Jadi jangan ragukan lagi kasih sayangnya." nasehat Prima untuk Lyvia.
Lyvia mengangguk mendengar nasehatnya. Adrian mulai sedikit lega dengan anggukan Lyvia.
"Cuma....satu kesalahan dia yang tidak bisa dimaafkan.... Haaahhhhhh...aku juga kadang heran dengan hal itu..." dengusnya.
Sikapnya yang meyakinkan ditambah lagi dia tepuk-tepuk sendiri kepalanya, membuat Adrian dan Lyvia saling pandang penuh rasa heran.
Terutama Lyvia...apa yang belum dia tahu dari suaminya.
"Apa Mas...?" tanya Lyvia mencoba buka mulut. Sedangkan Adrian hanya terdiam ingin tahu.
"Kalau apa Mas....?"
"Kalau suami kamu itu terlalu ganteng..."
jawabnya menggoda Lyvia.
Adrian sudah tidak kaget dengan apa yang akan Prima katakan. Lyvia yang geregetan dengan sikap Prima, dia lampiaskan kekesalannya pada Adrian.
"Hei...kok jadi Mas yang di cubit..."
"Nahhh....gitu dong, baik-baik ya...aku tinggal dulu, Via...kamu harus maklum, itu resikonya orang ganteng..." kelakarnya lagi.
Kepergian Prima membuat Lyvia kembali canggung. Adrian mengunci pintunya dia peluk istrinya dari belakang.
"Masih marah....?" tanya adrian.
"Menurutmu....? tanyanya kembali.
Adrian memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah istrinya.
"Lyvia...jaga emosimu demi baby kita..."
"Habisnya Mas yang gak bisa jaga hati, bikin Via emosi..." gerutunya.
Adrian semakin gemas dengan sikap istrinya.
"Aku semakin gemas melihatmu cemburu"
Adrian sudah membungkam bibir Lyvia ketika akan mengatakan sesuatu. Dia mencium bibir Lyvia dengan lembut. Dia gigit pelan hingga akhirnya berdiam lama sampai membuat Lyvia tidak bisa bernafas dengan baik.
__ADS_1
"Hhaahhh.....Mas mau bikin aku pingsan...?"
"Hahahaha.....oya, tadi Mas lihat kamu bawa sesuatu...?"
"Iya...aku bawakan makan siang untuk Mas..."
"Mana....? Mas sudah lapar..."
****
*Sementara itu ditempat lain
"Ma.... Mama....!"
"Abi....ada apa teriak-teriak....!"
"Mana Mutia....!" tanyanya dengan emosi yang sudah diubun-ubun.
"Tidak ada....dia belum pulang..." jawab Mamanya mencoba berbohong.
"Mama jangan pernah sembunyikan Mutia, atau Mama akan lihat aku dipecat dari kepolisian...."
Mamanya masih bingung dengan pernyataan Abimanyu.
"Ada apa ini...?" tanya Papanya yang mendengar ribut-ribut dari belakang.
"Pa....Mutia membuat onar di kantor dengan merayu salah satu atasanku dan kepergok oleh istrinya..." katanya menjelaskan.
"Apa....!" komentar Mamanya kaget.
"Dan Mama tahu...dalam waktu 2 kali 24 jam, jika Mutia belum bisa menjelaskan apa yang terjadi dan meluruskannya kembali, hukum yang akan bicara...Papa pasti tahu apa dampaknya untuk Abi..."
"Mutia....keluar....! atau Papa dobrak pintu ini...!" teriak Papanya yang geram mendengar ulah anaknya.
Akhirnya Mutia keluar, Mama yang begitu mati-matian membelanya merasa dibohongi dengan cerita Mutia.
Pllaaaakkkkk.....
"Tidak tau diri....bikin malu keluarga..." bentak Mamanya.
"Ma ...sudah, lebih baik kita bawa dia ke kantornya Abi untuk menyelesaikan semuanya..." saran Papanya.
"Tidak....! aku tidak mau...!"
"Kamu tidak mau...? apa kamu mau dijemput paksa pihak kepolisian...!" ancam Abi tegas.
"Mas Abi tidak tau perasaanku...Mas Abi bisa segalanya sedangkan aku..." protesnya.
"Apa....! apa yang kurang darimu...?"
"Papa dan Mama hanya mengutamakan Mas Abi, tidak pernah ingin tahu apa yang Mutia mau...?"
"Tapi itu bukan berarti kamu bisa mengambil hak orang lain Mutia...."
"Terserah apa kata kalian...aku tidak mau pergi...!"
"Baiklah...kalau kamu tidak mau pergi, aku akan hubungi Pak Prima untuk membawamu secara hukum..."
"Baik-baik....aku akan pergi...puas kalian"
"Ingat...jangan berbuat macam-macam, katakan apa yang seharusnya kamu katakan."
Mutia menangis tersedu-sedu. Akhirnya dia mau ikut pergi didampingi Mama dan Papanya.
~ ------------------------------------
~ ------------------------------------
~ ------------------------------------
__ADS_1