Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Berdua 2


__ADS_3

"Kamu mau kemana Ceasy?" Tanya Tae.


"Aku harus pulang hari ini. Kak Kabir dan aku harus menyelesaikan sesuatu yang kemarin tertunda" Jawab Ceasy.


"Ataghfirullah, nih anak nek kon akting kok yo pinter banget to yo. Kudune masuk ing kelas akting, dudu kelas desain" Kata Kabir dalam hati.


"Ceasy! Apakah laki-laki itu benar suamimu? Kamu ini seorang muslimah, aku sedikit mengerti tentang itu, dengan tidur dengannya semalam, apakah itu tidak akan membuat agamamu terhina?" Kata Arnold.


Tiba-tiba Kabir mencium pipi Ceasy, ia membuktikan bahwa dirinya benar-benar suami Ceasy. Bukan hanya Arnold, bahkan Tae, Yeong dan Ceasy sendiri pun terkejut dengan apa yang dilakukan Kabir.


"Kurang percaya? Atau kau akan tahu apa yang aku lakukan semalam?" Bisik Kabir.


"A, a itu Kak Kabir ayo. Permisi semuannya, bye Tae" Kata Ceasy menarik tangan Kabir.


Diwaktu yang bersamaan, Syakir dan Balqis juga mengalami masa penentuan hati juga. Mereka berdua selalu saja gugup disaat berdua, apalagi Leah seperti sengaja membawa Aminah bersamanya terlebih dahulu.


"Ustad hari ini libur ya?" Tanya Balqis.


"Emm iya, kamu mau pergi? Atau ada acara lain?" Tanya Syakir kembali.


"Emm nggak ada, cuma mau kirim naskah aja, mau bantuin?" Kata Balqis.


Balqis adalah seorang penulis semenjak keluar dari dunia hitamnya, banyak lika liku kehidupannya yang sudah ia ungkap melalui laman pribadinnya. Karena banyak yang tertarik, akhirnya Balqispun mulai menulis dan membuat novel berisikan kisah pribadinya.


Ketika Balqis menulis, Syajir terus saja mengganggunya, dari menoel-noel pipinya, sampai tidur di pangkuannya. Itu membuat Balqis menjadi kaget, entah sejak kapan Syakir mencari lebih manja dari sebelumnya.


"Ustad, kenapa nih? Ustad kalau jatuh cinta seperti ini kah?" Tanya Balqis.


"Nggak tau, saat bersama ibunya Aminah nggak kayak gini. Tapi kok semenjak sama Mamanya Aminah kok gini ya?" Kata Syakir memainkan bros milik Balqis yang ada di bawah lehernya.


"Emm mungkin aku lebih menarik daripada Ibunya Aminah, sehingga Ustadpun merasakan daya tarikku" Kata Balqis sambil melanjutkan nlmenulisnya.


"Bisa jadi, kamu itu udah baik, cantik, sabar, dan solehah lagi. Terima kasih kamu sudah mau menerimaku yang serba kekurangan ini" Kata Syakir.


Seketika Balqis menghentikan pijatan lembut jarinya di keyboardnya. Ia yang seharusnya beruntung, bisa mendapatkan suami yang mampu menerimanya apa adanya dengan semua kekurangannya.

__ADS_1


"Kok berhenti" Tanya Syakir.


"Maaf ya Ustad" Kata Balqis menyentuh kepala Syakir dan mengelus-elusnya.


"Kenapa? Kok jadi murung gitu? Ada yang salah dengan ucapanku tadi ya?" Tanya Kabir menyentuh pipi Balqis.


"Masa kelamku" Kata Balqis.


"Nggak usah dibahas, hal yang mengingatkan dengan luka lama itu tidak baik di ceritakan ulang, biarlah menjadi masa lalumu. Kita jalan-jalan aja yuk" Kata Syakir.


Semantara Syakir dan Balqis jalan-jalan berdua, Kabir dan Ceasy juga sedang menikmati paranoma keindahan alam di negri gingseng itu. Sejak saat keluar Villa, Ceasy terus saja memegangi pipi yang saat tadi di cium oleh Kabir di depan teman-temannya.


"Kenapa? Sakit gigi?" Tanya Kabir.


"Emm enggak," Jawab Ceasy.


"Terus? Kenapa tuh pipi di pegangi mulu?" Tanya Kabir.


"Aku nggak akan cuci muka sampai kapanpun, karena di pipiku ada bekas kecupan dari Kak Kabir" Kata Ceasy dengan cengegesan.


"Cium lagi" Kata Ceasy.


"Enak aja, emang aku cowok apaan" Kata Kabir.


"Ishh gitu amat sih, enak dong. Sejak semalam Kak Kabir di untungin, bisa lihat semua badanku. Terus tadi cium-cium aku, aku dong yang rugi" Kesal Ceasy.


Kabir memberhentikan mobilnya dan meminta Ceasy untuk turun. Ceasy malah lebih ngambek dari sebelumnya. Kabir pun mengenudikan mobilnya lagi dan kembali menuju kota.


-_-_-


Sampai di kota sore hari, tanpa rasa lelah, Kabir mengajak Ceasy untuk jalan-jalan di kota menikmati indahnya malam disana. Bahkan kali ini Kabir mau menggandeng tangan Ceasy. Setelah lama berjalan dengan gandengan tangan, mereka duduk-duduk manis dipinggir taman dan mengobrol banyak hal.


"Kak Kabir" Kata Ceasy.


"Emm" Kata Kabir sambil meminum kopi panasnya.

__ADS_1


"Aku seneng banget hari ini bisa berduaan seperti ini dengan Kak Kabir. Pengen terus kayak gini" Kata Ceasy menyandarkan kepalanya di lengan Kabir.


"Ya udah, mulai besok kita berdua begini aja terus, aku nggak usah kerja, kamu nggak usah kuliah, terus jadi pengangguran dan kita berdua jadi gelandangan berdua, tanpa makan dan minum" Kata Kabir.


"Aihh Kak Kabir nggak romantis deh, serius amat" Kesal Ceasy.


Mereka kembali menatap langit-lagit dan sekitar taman, malam itu banyak sekali pasangan muda mudi yang sedang memadu kasih. Halnya Kabir yang ingin meminta kesempatan untuk bisa mencintai Ceasy selayaknya cinta dari suami kepada istrinya.


"Ceasy?" Kata Kabir.


"Iya Kang Mas" Jawab Ceasy sok manja.


"Ck, apaan sih kamu" Kayta Kabir mencubit pipi Ceasy.


"Aw, sakit" Rintih Ceasy.


"Beri aku kesempatan, bisa?" Tanya Kabir.


Mendengar kata 'kesempatan', Ceasy langsung terbangun dari sandarannya, lalu menatap ke arah Kabir. Ia belum mengerti apa yang Kabir maksut dengan 'beri aku kesempatan'.


"Maksut Kak Kabir apa?" Tanya Ceasy.


"Aku ingin mencintaimu, seperti kamu mencintaiku. Apa aku bisa memiliki kesempatan itu?" Tanya Kabir dengan lembut.


"Tunggu! Lalu perasaan Kak Kabir kepada Kak Nisa bagaimana?" Tanya Ceasy.


"Aku tidak pernah mencintai Nisa, aku belum pernah jatuh cinta Ceasy. Tapi, saat aku melihat Panadol itu di dekatmu, atau bahkan dia selalu perhatian kepadamu, aku merasakan sesak dalam hati aku, apakah itu yang dinamakam jatuh cinta? Tapi aku belum merasakan apa-apa terhadapmu" Kata Kabir menggenggam tangan Ceasy.


"Kak Kabir, kamu jujur banget sih. Aku sama Kak Arnold itu hanyalah sebatas kenal saja, dia Kakak sepupu Tae, dan aku hanya mengenalnya karena Tae memperkenalkanku padanya" Jawab Ceasy membelai pipi Kabir.


"Kamu tau kenapa aku lebih memilih Nisa dari pada kamu dulu?" Tanya Kabir.


"Ya karena Kak Nisa baik hati, solihah, dia juga bercadar, apa lagi? Dia perfect, sedangkan aku? Aku hanyalah anak kecil dimatamu, apa lagi?" Kata Ceasy.


Kabir tiba-tiba memeluk Ceasy, jantungnya juga berdetak sangat kencang. Ia, sebenarnya Kabir sudah jatuh cinta sejak lama, namun ia tidak menyadari perasaannya itu.

__ADS_1


Di pelukan Kabir, Ceasy meneteskan air matanya. Baru kali ini Kabir memeluknya setelah mereka sah menjadi suami istri. Namun, rasa gengsi Kabir masih tinggi, ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Ceasy, karena ia juga belum bisa memastikan diri sendiri tentang perasaannya kepada Ceasy.


__ADS_2