
" Assalamualaikum, Kalian kapan kembali? " tanya Kabir.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, hehehe kami sudah kembali sejak kemarin sih, tapi baru masuk hari ini, sorry, I'm so sorry oke! " seru Jamil.
"Sok Inggris, udah ayo siap-siap. " kata Kabir segera mengambil celemek yang ada di meja kerjanya.
" Kamu dari mana Bir, aku lihat pakaianmu terlalu rapi deh untuk masuk ke Resto? "tanya Yoona.
Kabir pun menjawab pertanyaan Yoona tentang Gu yang masuk ke asrama. Yoona mengerti maksud Kabir itu baik, tetapi jika memasukkan Gu ke asrama, apakah Gu akan tetap bisa mempertahankan kan agama yang ia anut? Karena setahu Yoona, asrama di Korea itu kebanyakan semuanya berasal dari non muslim.
__ADS_1
" Iya sih, aku memang memikirkan hal itu. Tetapi, aku harus bisa memberikan kepercayaan kepada Gu juga dong, ia sudah mulai dewasa kan? Ya maksutku tingkat kedewasaan gitu." jelas Kabir.
"Biarkanlah dia memutuskan apa yang memang ingin ia putuskan, untuk masa depannya nanti, Aku hanya bisa mengarahkan saja sih, Iya aku berharap Gu bisa mempertahankan agamanya. Aku percaya itu! " sambungnya.
Jika dipikir-pikir, kekhawatiran Yoona ada benarnya. Tetapi, itu semua memang sudah keputusan yang Kabir ambil dan bahkan Ceasy pun juga menyetujui hal itu. Itu urusan mereka, jadi Yoona hanya bisa memberikan saran aja.
Yoona pun menyusul Jamil ke dapur, karena memang restoran belum dibuka, mereka berdua malah sedang bersenda gurau berdua. Mereka memang masih tergolong pengantin baru, lagi anget-anget nya dalam mengeratkan hubungannya. Apalagi, Jamil adalah seorang laki-laki yang romantis bahkan saat mereka hendak berciuman, tidak sengaja Kabir memergokinya.
" Kan memang biasanya aku pakai lipstik, gimana sih kamu jadi suami kok nggak peka banget," kesal Yoona memutarkan bola matanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Jamil memeluk Yoona dengan grusa-grusu, bahkan ia menciumi seluruh leher Yoona dengan sangat beringas. Tangannya mulai nakal masuk ke dalam baju dan naik ke gunung yang sangat tinggi, tangan yang satunya lagi masuk ke lembah cinta Yoona, ciuman mereka semakin panas. sampai Jamil sudah tidak tahan lagi. Ketika hendak membenamkan senjatanya, tiba-tiba Kabir muncul.
" Astaghfirullahaladzim Ya Allah Ya Robbi, dapur woi dapur, tempat kerja ini. Nanti di rumah ngapa! Apa-apaan kalian? Jangan mentang-mentang karyawan lain belum masuk, jadi seenaknya aja buat tempat mesum. Pulang sana kalau mau ngelakuin itu, wes to jan, tobat-tobat, ono wae loh cah loro iki." Tegur Kabir.
"Ambyar wes, ambyar." jawab Jamil dengan wajah tanpa dosa.
Kabir eluar dari dapur, ia langsung duduk di meja kerjanya. Ruangan dimana dia bisa santai dan setiap saat istirahat di sana ketika capek bekerja. Mengingat pikiran dan matanya sudah ternodai oleh kelakuan Jamil dan Yoona, Kabir pun menelepon Casey untuk segera menemuinya dirumahnya.
"Pulang sekarang! aku kesakitan! " seru Kabir.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Kabir ditelepon seperti itu, Ceasy langsung pamit ke HRD untuk pulang lebih awal. Bahkan Ceasy sampai naik taksi untuk segera pulang, begitupun dengan Kabir yang tergesa-gesa ingin pulang. Sempat ditegur oleh Jamil, tapi Kabir tak mengiraukannya dan lari begitu saja.
"Woo cah senggleng!" seru Jamil.