
Ceasy terus saja memeluk baju Hamdan, ia sangat sedih dengan hilangnya Hamdan saat ini. Ceasy juga selalu menyalahkan diri sendiri atas hilangnya Hamdan. Kabir menjadi tidak tega, ia juga sedih karena anaknya hilang. Tapi untuk saat ini, jika tidak ada yang saling menguatkan, hubungan mereka sudah benar-benar kacau.
"Istighfar, kita berdoa dan berusaha ya, Hamdan pasti akan segera di temukan." Kata Kabir membelai rambut Ceasy.
"Aku memang nggak becus ngurus Hamdan kak, maafkan aku, aku ibu yang teledor, " Ceasy terus saja menangis tanpa henti.
"Tidak ada yang perlu di salahkan Ceasy, sudah ya, dari pada kamu menyalahkan diri sendiri seperti ini, mending kamu berdoa saja untuk keselamatan Hamdan." Kabir berusaha membuat Ceasy tetap tenang.
Tidak terasa waktu begitu cepat, sudah hampir seminggu baby Hamdan hilang, dan itu membuat Ceasy stres, bahkan tubuhnya sampai kurus dan tidak terawat.
__ADS_1
Ceasy terdiam di kamarnya, ia terus saja memeluk baju baby Hamdan dan terus menyalahkan diri sendiri. Bahkan, Kabir sampai mendatangkan psikolog juga kerumah, Leah juga beberapa waktu lalu datang menjenguknya. Tetap saja Ceasy tidak mau berbuat apa-apa.
Usaha sudah Kabir lakukan, Polisi, sahabat maupun dirinya belum juga bisa menemukan Baby Hamdan. Kabir semakin pusing dengan apa yang ia alami. Anaknya hilang, istrinya mulai tidak bisa diajak komunikasi.
Hari itu, Arnold pulang ke negaranya, tetapi ia pulang di salah satu pedesaan terpencil dan kumuh disana. Itu semua karena tugasnya yang harus ia selesaikan. Saat di desa itu, ia tidak sengaja melihat kranjang yang bergerak-gerak. Arnold mencoba untuk mendekati kranjang itu, betapa terkejutnya Arnold saat mengetahui isinya.
"Astaga, bayi? Bayi siapa ini?" gumam Arnold.
"Tidak salah lagi, ini baby Hamdan. Ya Tuhan, aku menemukan baby Hamdan, siapa yang menaruh mu disini nak. Ayo, pulang dengan Papa nak." Kata Arnold menyelimuti baby Hamdan.
__ADS_1
Arnold membawa pulang baby Hamdan di rumah sederhananya. Ia terus berusaha menghubungi Tae maupun Kabir, jika dirinya sudah berhasil menemukan Baby Hamdan, tetapi, itu di sebuah pedesaan terpencil, sinyal sangat susah disana. Arnold juga tidak mungkin kalau harus keluar desa, karena jika ingin ke kota sangat jauh, dan mungkin butuh waktu lama sampai disana.
"Aku rawat dulu lah Baby Hamdan nya, besok pas aku pulang, aku akan beri kejutan kepada mereka. Hmm ayo Hamdan, ikut paman ke dapur, kita memasak bersama oke?" Arnold sangat semangat saat itu.
Kehadiran Gu juga tidak disambut oleh Ceasy, Kabir sengaja mengajak Gu untuk bermain ke rumahnya, agar Ceasy tidak bersedih lagi.
"Paman, aku rasa Bibi sudah tidak bisa di ajak bermain lagi." tutur Gu.
"Yahh mau bagaimana lagi, kau main saja di sana. Aku akan membuatkan bolu buatmu." ucap Kabir.
__ADS_1
"Wah bolu Paman? Aku rasa itu cocok untuk siang hari ini. Aku sudah begitu lapar Paman! " seru Gu.
Bahkan, Tae dan Zoe mampir saja, Ceasy tidak memperhatikannya. Ia terus saja memandang jendela dengan tatapan kosong. Kabir, Yoona dan Jamil berusaha membujuk Ceasy pulang ke tanah air, agar bisa di sebutkan mentalnya oleh Leah.