Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Terlukanya Ceasy.


__ADS_3

Sepulang dari pelabuhan, Kabir tidak sengaja melihat Siska sedang bersama sua orang lelaki mengenakan pakaian serba hitam, topi dan menggunakan kaca mata. Merasa ada yang janggal, Kabir turun san menyelidikinya.


"Itu Siska, kalian berdua awasi aku dari sini. Aku akan menghampirinya." Kata Kabir turun dari mobil.


"Ah si Kabir, nambah masalah aja deh. Ini makanan juga ngapa nggak enak gini, ishh." Keluh Yoona.


"Kau mau makanan enak?" tanya Jamil.


"Iya lah, makananmu enak ya? Tuker dong!" Yoona memberikan makanannya kepada Jamil.


"Sama aja ini rasanya, maksutku itu, kalau kamu mau makan enak, ya nanti!" Ucap Jamil.


"Ngapain harus nunggu nanti, nggak jelas deh kamu Mil!" kesal Yoona.


"Ya nanti pas di acara resepsi kita lah hahahaha" tawa Jamil membuat Yoona tersenyum, sekaligus menabok pipi Jamil.


Plakkk,


Tamparan keras untuk Jamil dari Yoona. Di samping itu, Kabir menarik tangan Siska dan menamparnya, karena mendengar bahwa Siska akan menyakiti Ceasy dan dua sahabatnya.

__ADS_1


"Wah pasti sakit tuh di tampar dua kali, bayangin aja tenaga mantan TNI bagaimana!" Kata Jamil, sambil mengelus-elus pipinya.


Plak... Plakkk.


Dua tamparan itu di terima oleh Siska.


"Kabir!" Teriak Siska.


"Kenapa? Sakit? Itu yang aku rasakan saat melihat ketakutan di wajah Almarhum Nisa dan Ceasy saat kamu ancam! Satu untuk Nisa, satu untuk Ceasy!" Cengkraman tangan Kabir membuat lengan Siska kesakitan.


"Kamu akan menyesal Bir, dua anak buahku tadi, sudah hampir dekat di apartemenmu, aku pastikan, tidak ada yang bisa memilikimu kecuali aku. Kalau tidak, kamu yang harus mati!" Ancam Siska.


"Astaghfirullah hal'adzim, Jamil ah!" kesal Kabir.


"Mrucut koyo lele e tangane, sepurane!" Kata Jamil merapatakan kedua tangannya.


"Ayo cepat kita kembali!" Ajak Kabir.


Kabir dan Jamil masuk ke mobil dan segera pulang, memastikan Ceasy tidak apa-apa. Di apartemen, Ceasy, Tae dan Zoe sedang menunggu kedatangan Arnold saat itu.

__ADS_1


Arnold sudah berjanji akan segera datang, dan memastikan semuanya baik-baik saja. Ternyata, dari belakang Arnold sudah diikuti oleh dua orang suruhan Siska. Ketika sampai di depan pintu, tangan Arnold langsung di sekap dan dipaksa untuk mengetuk pintunya.


"Tidak! Kalian boleh membunuhku, asal jangan sentuh gadis-gadis yang ada di dalam!" kata Arnold berusaha melepaskan diri.


"Hey nyamuk terbang, bukan kau target kami, cepat ketuk pintunya, atau pasangan dari gadis itu akan celaka diluar sana!" ancam orang itu.


"Jangan macam-macam kalian!" Arnold terpancing.


Setahu Arnold, Kabir hanyalah lelaki biasa, ia takut jika tidak ada yang membantunya diluar sana. Jika ia meminta Ceasy membuka pintu, di dalam ada dua sahabatnya, yang pasti ikut menjagannya. Akhirnya Arnold mengikuti kata orang suruhan Siska itu.


Tae membuka pintunya, Arnold memberi kode kepada ketiga gadis itu untuk bersembuyi ke kamar, tetapi mereka tidak mengerti akan kode itu. Masuklah dua orang jahat itu langsung menarik Ceasy.


"Lepaskan! Lepaskan saya! Siapa kalian!" teriak Ceasy.


"Zoe, panggil keamanan, Tae bantu aku merebut senjata itu," bisik Arnold.


Dengan kecerdikannya, Zoe berhasil kabur dan berlari menuju ruang keamanan, dikerjarlah oleh salah satu orang dari suruhan Siska. Ketika ingin meraih senjata tajam yang di pegang oleh penjahat itu, tidak sengaja Ceasy terluka ketika melindungi Arnold dan Tae.


"Aw!" Rintih Ceasy.

__ADS_1


__ADS_2