Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Kedatangan Jamil.


__ADS_3

"Kak, Kak Kabir peluk aku?" Tanya Ceasy.


Kabir pun melepaskan pelukannya, ia langsung meminum kopinya kembali. Dengan sangat apik Kabir bisa mengontrol emosinya, dan kembali ke Kabir yang lama.


"Cuma ingat sesuatu aja, tentang Nisa gitu. Maaf jika aku langsung memelukmu tanpa izin terlebih dahulu" Kata Kabir.


"Helehhh" Kata Ceasy.


Malam semakin larut, udara juga semakin dingin. Mereka berdua pun mepanjutkan perjalanannya untuk pulang. Ceasy terus saja menggenggam tangan Kabir, seakan-akan takut Kabir akan pergi meninggalkannya.


Dirumah, setelah selesai mandi dan sholat isyak, mereka juga makan bersama, sengaja tidak jajan diluar karena mengetahui susahnya mencari resto halal disana, sedangkan resto milik Kabir sudah tutup jika hampir tengah malam.


"Setelah ini aku mau tidur aja, capek. Besok banyaj kerjaan yang harus aku selesaikan" Kata Kabir.


"Iya Kak, besok aku masih libur. Bolehkan jika aku ke resto membantumu?" Tanya Ceasy.


Kabir menganggukkan kepala, dan tersenyum. Ceasy sangat bahagia, semenjak pulang dari villa, Kabir selelu baik kepadanya. Bahkan malam itu, Kabir tidur tidak memasang pambatas (bantal guling) lagi. Ceasy juga dinperbolehkan memeluk tubuh Kabir.


"Kak" Panggil Ceasy.


"Iya" Jawab Kabir.


"Kakak belum jawab pertanyaanku tadi" Kata Ceasy.


"Yang mana?" Tanya Kabir.


"Yang itu, soal Kak Nisa. Jika Kakak nggak pernah mencintainya, kenapa Kak Kabir mau dinikahkan, dan setia sampai bertahun-tahun gitu?" Tanya Ceasy.


"Ohh, dah ah tidur udah malam, bismika Allahumma, ahya wabismika amut, malam Ceasy" Jawab Kabir.


Kabir sepertinya menghindari pertanyaan Ceasy itu. Iya! Dirinya masih bingung harus jawab apa, karena Kabir hanya perlu melakukan dan menjalankan perjodohan itu. Tak penting ia mencintai Nisa atau tidak, namun Nisa adalah gadis yang sangat baik.


"Kak Kabir sepertinya belum mau cerita deh, ya udah jangan dipaksa. Aku takut malah Kak Kabir berubah lagi" Kata Ceasy dalam hati.


Subuh....


Alarm ponsel Ceasy berdering, bukan hanya alarm Ceasy, ponsel Kabir pun berdering ada yang menelfonnya.


"Kak, ada telfon di ponsel Kak Kabir" Kata Ceasy membangunkan Kabir.


"Jamil? Kenapa dia?" Batin Kabir.


"Assallamualaikum, ada......." Kata Kabir belum selesai.


"Bir aku neng lobby, cepet yo selak katisen aku" Potong Jamil.


"Hah?" Tanya Kabir langsung beranjak dari tidurnya.


"Aduh!" Kabir ini darah rendah, jadi, jika rebahan atau duduk langasung bangun pasti pusing.


"Kenapa Kak?" Tanya Ceasy panik.

__ADS_1


"Aku ke lobby sebentar ya, kamu lanjut tidur aja" Kata Kabir.


"Tunggu!" Kata Ceasy menahan tangan Kabir.


"Apa lagi Ceasy" Ucap Kabir.


"Cium" Kata Ceasy manja.


Karena Kabir terburu-buru, ia pun mencium kening Ceasy, lalu segera menjemput Jamil di bawah. Saat lift, Kabir tak sengaja bertemu dengan seorang perempuan, yang ternyata adalah temannya dahulu di sekolah menengah.


"Kabir ya?" Tanya Perempuan itu.


"Kamu kenal saya? Dan bisa bahasa Indonesia?" Jawab Kabir juga bingung.


"Ya Allah Kabir, aku ini temen sebangku Lani, masak kamu nggak ingat sih. Aku Siska! Coba lihat baik-baik" Kata Perempuan bernama Siska itu.


"Sory, yang gendut itu kah?" Tanya Kabir.


"Hehe kamu kan dulu juga gendut Kabir" Kata Siska.


"Hahah kamu bisa aja, kamu juga tinggal di apartemen sini?" Tanya Kabir.


"Iya hehehe, aku udah lama disini, bareng calom mantan suamiku" Kata Siska.


"Calon suami?" Tanya Kabir.


Tiing..


Suara Lift sampai di bawah, karena Kabir terburu-buru, jadi ia tidak bisa mengobrol lebih lama lagi. Akhirnya Siska memberinya nomor ponselnya. Kabir hanya menyimoan di sakunya saja, ia tidak melihat nama, nomor, ataupun yang tertera disana.


"Opo se Mil? Tekan kene loh?" Tanya Kabir dengan nafas terengah-engah.


"Pitakonmu simpen sek, ayo cepat masuk lah ke apartemenmu, aku kedinginan" Kata Jamil.


Kabir pun membawakan tas milik Jamil dan mengajaknya ke apartemen miliknya. Ceasy juga tidak melanjutkan tidurnya, ia menunggu di sofa depan TV.


"Assallamualaikum" Salam Kabir.


"Waalaikum sallam, Kak Kabir ada apa?" Tanya Ceasy.


"Assallamualaikum Ceasy hehehe" Kata Jamil.


"Astaghfirullah hal'adzim" Ucap Ceasy.


"Emang aku setan opo, mosok istighfar" Kata Jamil menaruh barangnya.


"Kamu silahkan istirahat ya, tuh kamar belum aku beresin, jadi kalau ora kanti mending tidur di sini aja dulu sofa panjang itu. Ok Mil, aku wes ngantuk!" Kata Kabir menarik tangan Ceasy dan masuk ke kamar.


"Hey, aku luwe!" Teriak Jamil.


"Masih ada bahan makanan Kak, masak aja sendiri Selamat malam" Mata Ceasy.

__ADS_1


Dikamar, Kabir duduk di pinggir ranjang masih memegangintangan Ceasy, dan menariknya untuk duduk di sampingnya. Ceasy bahagia sekali, ia salah faham dengan kenapa Kabir menarik tangannya.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Kabir.


"Heheh Kak Kabir narik dan genggam tanganku, aku jadi enak, bahagia" Kata Ceasy cengegesan.


"Mau yang lebih?" Tanya Kabir.


"Mau hehehehe" Jawab Ceasy.


"Ngimpi! Dah tidur, aku ngantuk. Kita bahas si Jamil nanti saja Ok!, tidur!" Ajak Kabir.


Sementara Ceasy kembali tidur, Kabir mengirim pesan kepada Jamil. Apa tujuan Jamil ke mari dan membawa tas besar itu. Jamil berkata bahwa Rifky lah yang menyuruhnya datang ke Korea.


"Minggat po?" Tanya Kabir.


"Nyoh! Woconen!" Jawab Jamil mengirimkan pesan dari Rifky dua hari lalu.


"Paijo payah, wes turuo! Besok ikut aku ke resto" Kata Kabir.


"Sik, aku luwe, lagi mamam enak-enak ning dapurmu" Jawab Jamil.


"Ra nggragas!" Kata Kabir.


"Isih lho wah, sana sambung ena ena nya" Goda Jamil.


"Matamu!" Kata Kabir.


Kabir pun meletakkan ponselnya, dan langsung tidur. Malam kehaditan Jamil malam itu, bersamaan dengan malam kehadiran Siska yang akan membuat Ceasy salah faham di pagi harinya saat ia mencuci pakaian Kabir.


Pagi setelah subuhan dan sarapan, Kabir dan Jamil memang harus bergegas ke resto, karena hari itu juga akan kedatanyan suplayer yang memang sudah di rencanakan dari hari-hari sebelumnya.


"Ces, pie? Wis isi?" Tanya Jamil.


"Apaan sih Kak Jamil, udah sana berangkat!" Kata Ceasy malu-malu.


"Uis ayo Mil. Oh ya, aku berangkat dulu ya, harus ketemu sama orang penting pagi ini, dan jauh banget tempatnya. Makanya harus pagian berangkatnya" Kata Kabir sambil merapikan jaz nya.


"Tunggu!" Kata Ceasy menahan tangan Kabir.


"Wasyem, aku jomblo loh, tak metu sik lah. Aku tunggu di luar Bir" Kata Jamil langsung keluar.


Setelah Jamil keluar, Ceasy menarik tangan Kabir, hingga mereka terjatuh di sofa panjang yang lembut itu.


"Ce-ceasy ka-kamu kenapa sih? Aku harus cepat, su-sudah di tunggu Jamil di luar" Ujar Kabir gugup.


"Peluk cium dulu, aku pengen rasain itu" Goda Ceasy.


"Iya tapi nggak kayak gini, kita bangun dulu Ok!" Kata Kabir.


"Tapi aku maunya dibibir, nggak mau di kening" Kata Ceasy menggoda.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'adzim, apa bedanya Ceasy Lee...." Tanya Kabir.


Melihat Ceasy manyun seperti itu membuat Kabir tak kuasa, ia pun mendorong tubuh Ceasy yang menindihnya, lalu mencium bibir seperti apa yang Ceasy mau, setelah itu mencium kening Ceasy dan langsung pamit.


__ADS_2