
Bertemu dengan orang yang pernah dekat dengan pasangan memang sangatlah menyakitkan, kali ini Ceasy dan Tae kembali bertsmu dengan Siska, yang mengenakan pakaian yang sangat sexy. Dengan tatapan dinginnya, Siska melirik ke arah Ceasy seraya mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.
"Apa kamu bilang? Dasar janda!" Kesal Ceasy.
"Lihat aja nanti, Kabir akan tergila-gila padaku, kan aku mantannya." Ketus Siska.
"Mantan? Hahaha" Tawa Ceasy dan Tae sangat menampar keras wajah Siska.
Tanpa menghiraukan apa yang Siska katakan, Ceasy dan Tae masuk kedalam lift dan meninggalkan Siska di lobby, Ceasy yakin kepada cinta Kabir, tidak akan tertarik dengan wanita seperti Siska. Kabir itu tipe wanitanya seperti Nisa, jangankan Siska, mungkin wanita mulus Korea saja ia tidak akan tertarik.
Sampai di apartemen, Ceasy memanggil Kabir yang tengah duduk santai di samping jendela saat itu, Ceasy membawakan pulang makanan untuk mereka bertiga.
"Assallamu'alaikum, Kak Kabir dimana? Kamu siapin makanan ini Tae," Ceasy membuka pintu langsung mencari Kabir.
"Wa'alaikum sallam, disini Ceas. Kenapa? Kok heboh begitu sih?" Tanya Kabir, ia menutup buku yang baru saja dibacanya.
Tiba-tiba Ceasy memeluk Kabir dengan erat, Kabir menjadi heran dengan Ceasy yang tiba-tiba memeluknya. Karena tidak ingin merusak suasana, Kabir membalas pelukan Ceasy.
"Hari ini aku ada kabar gembira untukmu," Kata Kabir.
"Apa itu? Kak Kabir setuju buat anak sekarang?" Tanya Ceasy.
"Aduh," Kabir mengetuk kening Ceasy.
"Anak terus dalam fikiranmu, Syakir dan Balqis udah sampai bandara beberapa menit lalu, mungkin sebentar lagi sampai. Kamu bantu aku masak ya," Kata Kabir.
"Yah kecewa nggak jadi bikin anak. Emm tapi aku senang Kak Syakir datang, kebetulan ada Tae di dapur, dia juga jago masak, biar aku dan Tae yang masak," Ceasy sangat gembira akan kedatangan Syakir dan Balqis, hingga lupa jika dirinya harus meminta izin harus ke Singapura.
Karena Ceasy dan Tae bekerja di dapur, Kabir membereskan tempat tidur untuk Syakir dan Balqis menginap. Beberapa kali Tae memberi kode agar Ceasy meminta izin untuk itu, tetapi Ceasy masih belum berani memintanya.
Tae merasa gemas dengan Ceasy, akhirnya ia yang bertindak. Setelah memasak, sengaja menjatuhkan surat dari kampus di dekat Kabir. Dan iya, Kabir mengambil surat itu.
"Ceasy, Kak Kabir, aku pamit dulu ya. Masakan juga sudah siap semua, makanan yang aku dan Ceasy beli juga sudah siap, jadi aku mau pamit," Kata Tae mengedipkan mata kepada Ceasy.
__ADS_1
"Nggak ikut makan dulu? Kan udah bantuin?" Tanya Kabir.
"Enggak deh," Tae sudah keburu keluar.
Berulang kali Kabir membolak balikkan surat itu, saat ia membaca, Ceasy diam-diam masuk ke kamar dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut. Kabir mendekati dan duduk di samping Ceasy.
Tiba-tiba ponsel Kabir berdering.
"Assallamu'alaikum, aku udah resepsionis, kutunggu disini cepat!" Syakir menelfonnya.
"Wa'alaikum sallam, tunggu disana," Balas Kabir.
"Kamu segera mandi, dan kita bahas surat jalan ini malam nanti Ok."Kata Kabir meletakkan surat itu di meja rias.
Dengan jalam sedikit pincang-pincang, Kabir menjemput Syakir dan Balqis dibawah. Tetapi ia masih terfikirkan dengan surat jalan ke Singapura milik Ceasy. Di kamarpun Ceasy merasa lega, saat dengar kabar Syakir dan Balqis sudah datang, ia segera mandi dan bersiap-siap menemui mereka.
-_-_-
"Assallamu'alaikum, kemana Aminah? Nggak kalian ajak kah?" Tanya Kabir dengan mata mencari-cari.
"Eh Ustad, kaki ku sedang sakit. Kau tega memberikan tasmu ini?" Kesal Kabir.
"Entahlah adikmu ini Kak Kabir. Akhir-akhir ini juga dia jadi sedikit menjadi bucin, ahhh beliau puber kedua," Balqis berbisik kepada Kabir.
"Ehemm, kalian kesini niatnya mau jenguk aku, atau mau bulan madu ha?" Tanya Kabir.
Basa-basi mereka tak sampai di sana, Kabir membawa Syakir dan Balqis ke apartemen nya. Disana, Ceasy sudah menunggunya dengan senyuman.
"Kak Balqis," teriak Ceasy bahagia, lalu memeluk Balqis.
"Assallamu'alaikum Ceasy, ih main peluk aja deh," Balqis mencubit dagu Ceasy.
"Wa'alaikum sallam Kak Balqis, Assallamu'alaikum Ustadku yang ganteng, pengen cubit bukan mahram hehehe, cubitin Kak Kabir aja deh," Kata Ceasy.
__ADS_1
Pertemuan itu sangat mengembirakan bagi keempatnya, Kabir dan Syakir bisa bertemu lagi setelah 4 bulan tidak bertemu. Ceasy mengantar Balqis ke kamar yang sudah di siapkan oleh Kabir, mereka bercanda ria dan banyak membicarakan semua hal.
"Rencana Kak Balqis mau nginep berapa lama?" Tanya Ceasy.
"Emm nggak tau sih, ngikut sama Mas Syakir aja heheh," jawab Balqis.
"Emm udah Mas, Mas ini manggilnya cie, udah itu....?" Tanya Ceasy penasaran.
"Itu apa? Ih kamu mesum ih, ya namanya suami istri pasti melakukan itu lah, memangnya kamu belum?" Tanya Balqis kembali.
Ceasy menunduk, ia menceritakan semuanya kepada Balqis, ia juga menceritakan saat Kabir menyatakan cintanya. Balqis hanya bisa memberi semangat untuk Ceasy, dan memberinya sedikit penjelasan kenapa Kabir menunda memiliki momongan saat ini.
"Ceasy, yang dikatakan Kabir itu ada benarnya. Sekarang, mumpung masih muda, kamu kejar cita-cita kamu dulu, sebentar lagi kan kamu lulus, aku yakin Kabir itu sudah fikirkan ini matang-matang, kamu turuti saja kemauan dia ya," Kata Balqis menggenggam tangan Ceasy.
"Itu bukannya foto Jamil ya?" Tanya Balqis.
"Sebelum Kak Jamil pulang ke Jogja, ini memang kamar Kak Jamil, Kak Jamil kan memang tinggal disini, dia ikut bisnis Kak Rifky," Jawab Ceasy.
Mereka melanjutkan canda tawanya di kamar itu, sedangkan Syakir dan Kabir ada di ruang tamu, mereka juga sedang membahas bisnis, masalah rumah, serta kabar orang rumah disana.
"Bir, kamu betah amat empat bulan nahan nafsu," Goda Syakir.
"Keluar! Cari penginapan sana," kesal Kabir.
"Ih, dari dulu mah gede ambek nih bocah. Udah sikat ajaz dosa tau kalau kamu nggak memberi nafkah batin," Syakir berusaha membujuk Kabir.
"Aku takut Ceasy hamil sebelum waktunya, dia masih harus kejar cita-cita dulu. Jika punya anak dulu, yang ada dia nanti nggak fokus dengan belajarnya, tinggal sebentar lagi juga lulus kok." Tutur Kabir.
"Ya kan ada pengaman," goda Syakir lagi.
"Sekali lagi bahas ini, ku lempar kamu Kir," kesal Kabir.
"Innalillah, ini kan kita di lantai 8 Bir. Tega amat kamu, ku tendak kakimu hahaha" Kata Syakir menendang kaki Kabir dengan pelan.
__ADS_1
"Ah, kurang ajar kamu Kir, terima seranganku,"
Mereka berdua sekarang sama seperti 20 tahun lalu, sering bertengkar, saling pukul-pukulan kecil. Bahkan mereka saling mengobok-obok wajah mereka satu sama lain.