
“Assallamu’alaikum warahmatullahi wabbarokatuh Ceasy,” Salam Kabir.
“Wa’alaikum sallam Kak,” jawab Ceasy sesenggukan.
‘Hei, kenapa sih nangis gini?” Tanya Kabir.
“Aku fikir Kak Kabir sakit beneran, aku sudah cemas tadi. Kau kelemahanku Kak, jika Kau terluka, atau merasakan sakit juga Kak.” Ucap Ceasy menangis.
Kabir menghapus air mata Ceasy, lalu mengecup kening Ceas untuk kedua kalinya. Ia juga memeluk kembali Ceasy. Menyuruhnya agar segera bersih-bersih dan segera bersama Kabir merayakan ulang tahunnya.
“Apa ini? Kak Kabir ingat hari ulang tahunku?” Tanya Ceasy.
“Bersih-bersih dulu sana, cepat ya! Aku sudah sangat lapar,” pinta Kabir.
Mendengar itu, Ceasy langsung segera ke kamar mandi, bersih-bersih dan berganti pakaian. Ceasy sangat bahagia disambut mesra oleh Kabir seperti itu.
__ADS_1
“Nggak tiup lilin?” Tanya Ceasy.
“Rosullullah ‘Alaihi Wa Sallam bersabda; ‘barang siapa yang menyerupai dengan suatu kaum, maka ia bagaikan dari kaum itu’ [HR. Abu Daawud]”
jelas Kabir.
“Emmm masih nggan ngerti Kak, ada kisahnya nggak dari kisah tiup lilin itu?” Tanya Ceasy.
“Nanti aku ceritain saat mau tidur ya, pokokknya, inti dari kenapa umat islam tidak di perbolehkan mengikuti tradisi meniup lilin dalam acara ulang tahun adalah……” ucap Kabir.
“Pertama, Rosullulah memang tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan tradisi perayaan ulang tahun termasuk tiup lilin. Kedua, pesta ulang tahun itu boleh dilakukan, tetapi pesta ulang tahun yang berlebihan merupakan salah satu sikap pemborosan yang di benci oleh Allah.” Jelasnya.
“Sampai di sini paham kan?” Tanya Kabir.
Ceasy mengangguk, ia paham apa yang Kabir jelasakan. Ceasy pun memotong kue ulang tahunnya, lalu menyuapi Kabir dengan sangat penuh perhatian. Begitupun dengan Kabir, ia membelai kepala Ceasy dengan sangat lembut.
__ADS_1
Malam itu, malam yang penuh kebahagiaan, Kabir memperlakukan Ceasy begitu istimewa, mereka juga makan malam bersama, makanan yang sengaja Kabir masak special untuk penyambutan kepulangan Ceasy kembali.
“Kenapa senyum-senyum gitu? Makan dong, aku buat menu baru, kamu cobain deh. Kalau enak, nanti aku akan menambahkan di daftar menu di resto.” Kata Kabir mengambilkan masakan itu untuk Ceasy.
“Kaka Kabir lakukan ini semua sendirian? Bunga, balon, hiasan, kue dan semua ini?” Tanya Ceasy.
“Bukanlah, ada Yoona, Jamil, Boona dan suaminya juga hehe, kenapa? Kecewa ya? Kamu tau sendiri bagaimana aku kan?” Kabir merasa sok sedih.
“Bukan gitu Kak, aku sangat bahagia, Kak Boona udah kembali? Dan dia memi suami?” Tanya Ceasy.
Kabir menjelaskan semua tentang Boona dan pernikahannya, bahkan kehamilan Boona pun juga Kabir ceritakan. Itu membuat Ceasy menjadi sedih, apapun yang menyangkut masalah kehamilan, keturunan, lahiran, atau anak, Ceasy menjadi sangat sedih.
“Ada apa Ceas? Kok tiba-tiba murung gitu sih?” Tanya Kabir.
“Kak Boona beruntung ya, dia udah hamil, aku nggak seberuntung Kak Boona,” tutur Ceasy memainkan makanannya.
__ADS_1
Kabir berdiri, dan menghampiri Ceasy. Mengusap
lembut pipi Ceas dan mencium tangannya. Kabir ingin memberikan kesempatan kepada Ceasy untuk mencoba apa yang Ceasy ingin.