Menggapai Cintamu

Menggapai Cintamu
Keraguan.


__ADS_3

Jamil dan Kabir sedang menikmati makanan yang Jamil bawa tadi, itu adalah masakan Yoona. Yoona memang sangat pandai dalam memasak, bahkan lebih pandai daripada Rifky yang dulu mengajarinya.


"Ces, sini Ces makan bareng. Aku bawain coklat setoberi beri buatmu......nyuk hahahaha," canda Jamil.


Plakkkkk.


Tamparan kecil Kabir tepat di pada Jamil, mungkin hanya memerah, dan sedikit biru.


"Setoberi opo! Munyuk opo! Saru! Bahasamu Mil, ndak baik itu," Kesal Kabir.


"Loro ora metu getih (Sakit tidak keluar darah), jahat kamu Bir, aduh perih eh." Kata Jamil mengusap-usap.pahanya.


"Ces!" Teriak Jamil lagi.


Keluar Ceasy dengan mulut cemberut, ia sangat kesal kepada Jamil. Karena Jamil datang di waktu yang tidak tempat. Kebetulan suasana siang itu sangat sejuk dan cerah, Ceasy membuatkan minuman dingin untuk Jamil dan suaminnya, melihat Jamil sangat bahagia mendapat surat dari Ibunya, Ceasy pun masuk ke kamar dan menviarkan Kabir dan Jamil berbincang-bincang.


Banyak yang Jamil ceritakan saat membaca surat dari Ibunya, disurat itu, Ibunya mengatakan jika adiknya akan menikah seminggu lagi. Meminta Jamil untuk pulang, tetapi Jamil masih bimbang, karena ia juga baru mulai kerja di Korea.


"Ya udah pulang aja ndak papa, nanti soal ongkos gampang lah," kata Kabir menpuk-nepuk bahu Jamil.


"Bukan masalah itu Bir, insyaallah aku ada kalau ongkos mah. Tapi aku ndak enak e sama Rifky, dia kan yang gaji aku, samare gimana-gimana." Kata Jamil terlihat bingung.


"Santai sajalah, soal itu serahkan padaku, kalau mau pulang, pulang saja ndak papa kok. Laras kan adikmu satu-satunya, masa iya dia nikah kamu ndak ada disampingnya sih." Kabir mencoba membujuk Jamil untuk menghadiri pernikahan Laras, adiknya.


Obrolan itu berganti topik dengan janda muda sebelah, Siska. Jamil tidak menyangka jika Siska adalah teman sekolahnya di bangku sekolah menengah atas. Berbeda dengan Jamil, ia dulu sekolah di sekolahan yang sama dengan Ikhsan.


Mendengar nama Siska, Ceasy langsung keluar melempar Jamil menggunakan bantal kecil. Ceasy sangat kesal jika sudah membahas nama Siska di depannya. Jamil yang tidak tau apa-apa itu langsung bergegas pamit untuk menghindari Ceasy.

__ADS_1


"Wah, Astaghfirullah hal'adzim. Ceasy wah! opo seh? Cemburi? Siska itu mantannya Kabir, jangan cemburu lah ya, Assallamu'alaikum." Jamil langsung kabur tanpa menjelaskan apapun kepada Ceasy.


"Oh, ternyata mantan?" Kesal Ceasy sudah memuncak, sampai mendarah daging, hingga membuat hawa-hawa di sekitarnya menjadi dingin.


Seketika keluar api biru di mata Ceasy, lengan bajunya ia gulung sampai keatas, jilbabnya juga ia sibakkan kebelakang. Tingkat cemburu sudah sampai 278% tertulis di dahi Ceasy.


"Mau marah? Yo wis, ndak jadi bikin anak setelah aku sembuh," Goda Kabir dengan tatapan wajah sinis.


Kecemburuan menurun, menjadi sifat manja nan agresif. Ceasy mengelus-elus pipi Kabir dan menempel pada tubuhnya. Amarah Ceasy langsung menurun ketika mendengar tidak jadi membuat anaknya.


"Jangan gitu dong Kang Mas, aku kan cemburu kalian berdua ngobrilin Siska, apa lagi Kak Jamil bilang bahwa kalian adalah mantan kekasih, siapa yang nggak cemburu coba." Kata Ceasy mengedipkan matanya berkali-kali.


"Pijitin dong lenganku, pegel nih duduk mulu," pinta Kabir dengan manja.


Tanpa basi-basi Ceasy langsung memijat lengan Kabir dengan semangat. Bahkan ia juga memijat dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa (bucin).


Waktu terus berputar, setiap hari, Ceasy merawat Kabir sebelum berangkat pulang kuliah, semua yang Kabir ingingkan dilengkapi oleh Ceasy. Hari demi hari berganti, saru minggu telah mereka lewati dengan adegan-adegan romantis, walaupun hanya sebentar-sebentar saja.


Tepat hari ini, gibs Kabir akan dibuka, sebelum kerumah sakit, Kabir dan Ceasy mengantar Jamil dulu ke Bandara. Ternayata, disana sudah ada Yoona yang menunggunya, kali ini Jamil akan pulang dengan Yoona.


"Kamu disini?" Tanya Yoona.


"Iya, aku mau antar dia ke Jogja, sekalian mau lihat keponakan kembarku, aku juga akan mengunjungi kedua orangtuaku, sudah lama aku kan nggak pulang," Tungkasnya.


"Emm apakah kalian ada sesuatu?" Tanya Kabir.


"Ck, pertanyaan bocah! Udah ah, ayo Mil, kalian baik-baik disini ya, jangan lupa bikin anaknya hehehe, resto aman kok Bir, Assallamu'alaikum." Salam Yoona dan Jamil.

__ADS_1


Kabir dan Ceasy saling menatap satu sama lain, mereka curiga jika Jamil dan Yoona ada hubungan tertentu, kenyataannya tidak! Belum terjadi apa-apa diantara Jamil dan Yoona.


Karena janji temu dengan Dokter sudah hampir waktunya, Ceasy langsung mengajak Kabir cepat-cepat untuk membuka perbanya, karena sudah lepas gibs 2 hari lalu, jadi hari ini Kabir bisa belajar berjalan kembali tanpa menggunakan tongkat.


Dokter bilang, kaki Kabir sudah mulai membaik, kemungkinan akan bisa jalan dengan mudah 2 mingguan lagi dan sembuh total 3 minggu lagi. Itu jika ada keajaiban yang membuat Kabir cepat pulih.


Makan siang Ceasy mengajak Kabir makan diluar, tentunya di restoran halal, semua orang menatap mereka berdua, Kabir mulai tidak nyaman dengan itu, badannya dan istri kecilnya seperti tidak seimbang, apalagi dirinya harus berjalan dengan tongkat.


"Nah, Kak Kabir duduk disini dulu, aku mau pesan makanan dulu. Ok," Ceasy meninggalkan Kabir yang masih terdiam.


"Lihat, kasihan gadis itu memiliki pasangan yang cacat," Kata seseorang menggunakan bahasa Korea.


Dua gadis yang berada dibelakang Kabir terus saha membicarakannya, mungkin Kabir masih butuh waktu untuk memahami bahasa itu, tetapi Ceasy bisa bahasa Korea, ia pun sangat marah.


"Ada masalah apa dengan kalian? Kalian sejak tadi membicarakan keburukan suamiku, aku saja biasa aja, kenapa kalian yang repot?" Tegur Ceasy dengan kekesalan.


"Kami hanya kasihan padamu, kau mengurus lelaki yang cacat. Tinggalkan dia, kau gadis cantik dan baik, kenaoa harus mengurusnya, dia juga terlihat lebih tua darimu jauh," Celetuk gadis itu.


"Ceasy, sudahlah. Kamu duduk saja disini, aku baik-baik saja," pinta Kabir dengan nada yang rendah.


Ceasy memberi peringatan kepada dua gadis itu, ia langsung duduk di samping Kabir dan merangkul lengannya.


"Gadis buta," Kata Gadis itu.


Kabir tau maksut dan perkataan dua gadis itu sejak tadi, ia sedih bukan karena dirinya sedang sakit. Tetapi benar apa yang dikatakan dengan dua gadis itu, Ceasy masih sangatlah muda, dia cantik, masih pantas jika mendapatkan lelaki yang lebih dari Kabir. Itu yang selama ini Kabir ragukan akan hubungan itu.


"Kak Kabir nggak usah dengerin kata mereka ya, mau tua atau muda sama saja, yang penting aku padamu," Ceasy merangkul lengan Kabir lebih erat lagi, dan meletakkan kepalanya dilengan Kabir.

__ADS_1


Ceasy tidak ingin jika Kabir berfikiran macam-macam tentang hubungan mereka. Yang Ceasy ingin, hanyalah hidup damai bersama Kabir dan menyosong masa depan, merencanakan masa depan berdua.


__ADS_2