
Gu memeluk Hamdan, ia bahagia dengan kembalinya Hamdan. Apa lagi sebentar lagi dia juga akan memiliki adik lagi. Gu merasa bahagia bisa hadir di keluarga itu.
Ceasy terus saja memeluk Hamdan dengan erat, ia mencurahkan air mata yang sudah ia tahan sampai saat ini untuk Hamdan. Bagaimana hatinya hancur saat Hamdan diculik, bagaimana ia melewati masa-masa sulitnya ketika kehilangan orang yang ia sayangi. Baru saja sudah bisa move on dan berharap Hamdan kembali, ia diberi kepercayaan lagi dengan kehamilan keduanya.
Namun, Allah begitu sayang dengan umat-Nya. Cobaan berat Ceasy dan Kabir berbuah manis, bukan hanya kehamilan saat ini, tetapi dengan kembalinya Hamdan, dan kehadiran Gu adalah hadiah terindah bagi pasangan yang banyak drama nya ini.
"Ama, apakah kau mengenaliku? " tanya Hamdan Ceasy.
"Appa, kau tidak ingin memintaku tes DNA? Seperti yang dilakukan banyak orang? " tanya Hamdan kepada Kabir.
"Buat apa? Jika kamu benar anakku, rasa ini tidak akan begitu kuat saat melihatmu, sini nak kita duduk disana, kita bahas semua yang ingin kamu ceritakan. " kata Kabir menggandeng tangan Hamdan.
Malam itu, Hamdan cerita banyak hal, ia juga menceritakan kejadian yang menimpa Arnold, dari mulai menjaganya, membesarkannya, merawatnya, lalu mendidiknya dengan baik. Kabir dan Ceasy benar-benar bersyukur memiliki sahabat sekaligus saudara seperti Arnold.
"Panadol, kamu benar-benar membuatku terharu," kata Kabir menepuk bahu Arnold.
__ADS_1
"Aku sudah baik hati padamu, dan kau masih memanggilku dengan sebutan itu? Apa artinya itu? Panadol? " celetuk Arnold.
"Kau tau paman, di Indonesia, panadol itu obat hahaha," sahut Gu.
Arnold langsung melotot kepada Kabir, ia baru tau jika julukannya yang selama ini Kabir berikan kepadanya itu berarti kan sebuah obat.
"Apa pekerjaan Appa sebelum memiliki restoran? " tanya Hamdan (banyak nanya kek emaknya).
"Panggilnya Ayah saja ya, biar sama seperti Hyung," kata Kabir menunjuk Gu.
"Gemoy nya anak Ibu, pengen cium" kata Ceasy mencubit pipi Hamdan.
"Sakit Ibu, Oh ya Appa, eh Ayah belum jawab pertanyaanku, apa pekerjaanmu sebelumnya. Kau dengar dari Bibi Tae, kau dulu seorang Army tentara," tanya Hamdan.
"Iya, Ayah dulu seorang tentara di Indonesia, tapi sudah berhenti karena ingin menikah dengan Ibumu, dan ingin menjadi pengusaha." jawab Kabir.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? " tanya Arnold.
"Aku rasa waktu itu memang Ceasy yang belum siap, pernikahan seorang TNI itu nggak mudah disana. Harus ada kesiapan semua hal, surat-surat yang pasti, dan itu harus lengkap. Kalau sudah ada beberapa tes lagi yang harus dilakukan oleh calon persit (sebutan untuk istri Abdi negara)“ jelas Kabir.
"Apa contohnya? " sahut Tae.
"Emm setahu aku, Mengisi essai seputar pengetahuan soal NKRI, agar memastikan jika istri dan keluarga besar bebas dari paham-paham radikal, atau organisasi tertentu, benar-benar netral & NKRI. Terus, ada wawancara mental dan ideologi. Medical check up (tes darah, urine, gigi, hingga tes perawan). Menghadap kepala rohani sesuai dengan agama yang dianut (jika muslim diuji pengetahuan agamanya, seperti doa mandi wajib atau doa-doa lainnya).
Setelah seluruh tes tersebut dijalani, calon istri bersama calon suami menghadap ke pejabat kesatuan tempat calon suami bekerja. Baru kemudian saat syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi dan dilaporkan, calon istri dan calon suami bisa menikah secara catatan sipil.“
" Setahuku sih, itu kenapa aku berhenti terlebih dahulu, berhenti juga dulu tidak mudah loh, hanya bisa menikah dengan Ibunya anak-anak ini. " Tungkasnya.
"Wah, kau mengorbankan segalanya untuk Ceasy? Aku yakin menjadi Abdi negara bukan jalan yang mulus kan? " tanya Arnold.
Ceasy yang selama ini belum tahu alasan Kabir berhenti menjadi seketika terdiam. Ia terus menatap Kabir penuh dengan keharuan. Tapi pada dasarnya, Kabir lakukan itu, juga karena dulu Nisa sering sakit, jadi tidak lulus medical.
__ADS_1
Mohon maaf jika ada yang salah. silahkan untuk Ibu persit, bisa di koreksi. Hehehe, butuh narasumber sebelum nulis ini authornya. jadi lama upnya. maaf yaaaa